
Dearest Readers,
Plis jangan jadi silent reader dong. Tinggalkan jejak di setiap bab dengan tombol like ya. Supaya ada mood booster-nya buat nulis ...
😁🙏🏼
-----------
“Kalian mau kemana?” tanya Agung ketika melihat Bramasta menarik lengan baju Adisti ke arah pintu luar.
“Ke bawah, A. Ke gerai kopi.”
“Ngapain?”
“Mau ngopi sambil makan red velvet cake.”
“Gak usah. Udah malam.” [Memangnya gue gak bisa balas yang tadi]_Agung menyembunyikan senyum smirk-nya.
“Tapi…”
“Gak ada tapi. Adek, tidur sekarang.” [Kapan lagi bisa ngerjain CEO B Group. Hehehe…]_Agung memasang wajah dingin.
“Kak…”
“Apa? Kalian mau kencan ya?”
“NGGAK…” kompak Bramasta dan Adisti bersuara.
“Udah, tidur semua.”
Agung bergerak mematikan lampu-lampu besar lalu menggantinya dengan lampu plafon. Bramasta dan Adisti melangkah ke bednya masing-masing. Masing-masing menarik tirainya
“Ditarik full tirainya. Gak usah genit-genitan pakai nongol-nongolin kepala segala…” Agung masih dalam mode dingin.
“Ish, Kakak ini kenapa sih? Nyebelin banget.”
“Su’udzhon aja nih si Aa.”
“Kalian berdua yang nyebelin.”
“Nyebelin bagaimana, A?”
“Aa udah panik tadi sampai nelepon Bang Indra dan Anton karena melihat Abang Bramasta ngambek ke Adek, eh begitu Aa masuk, malah nemuin kalian lagi proklamasi sayang-sayangan. Dih, tidak menghargai banget kejombloan Aa,” Agung menahan tawanya.
Wajah Bramasta dan Adisti langsung muncul dari balik tirai. Saling pandang sebelum akhirnya tertawa ngakak bersama. Agung pun akhirnya tertawa karena tidak kuat lagi menahan tawanya.
“Kalian berdua wajahnya lucu banget saat ke gep tadi. Suer lucu banget. Panik banget. Kaget banget sampai terlonjak begitu…” Agung terbahak.
Bramasta dan Adisti terdiam. Saling pandang dan akhirnya berujar, “Gak lucu!” Keduanya menghilang ke bilik tirai masing-masing.
“Biarin. Ha..ha..ha..ha…”
“Kakak bisa diam gak? Mau tidur nih.”
“Tidur mah tidur aja Dek. Tinggal merem juga. Ha..ha..ha..”
“A Agung,” nada suara Bramasta dalam mode CEO, “Jangan berisik. Calon istri Abang mau tidur. Jangan ganggu.”
“Dih. Sampai segitunya…” Agung terdiam. Dari balik tirai Adisti terdengar suara kikikan tertahan.
Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar saling bersahutan dari balik tirai. Dari balik tirai Adisti dan tirai Bramasta. Agung yang tengah meluruskan punggungnya di sofa bed sontak berdiri. Tangannya berkacak pinggang menghadap tirai yang tertutup.
“Hmmh. Bagus ya. Disuruh tidur malah saling chat. Aa bilangin ke Ayah dan Bunda nih juga ke Om Alwin dan Tante Al.”
“Iyaaaa, iyaaa. Nggak lagi. Nih disimpan di laci nakas. Kalau gak percaya cek sendiri,” seru Adisti.
Bramata terkikik. Bramasta mengetik cepat di gawainya.
_Wudhu dulu sebelum tidur_
Gawai mereka berdua sudah di-silent.
_Yuk_ Adisti menjawab disertai emoji tertawa lebar.
Kedua tirai disibak dari dalam. Bramasta dan Adisti muncul dari balik tirai. Keduanya tersenyum cerah.
“Kalian mau kemana? Mau ngapain?” Agung masih berkacak pinggang.
“Mau wudhu, A. Gak boleh?” Bramasta melewati Agung sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Wudhu sebelum tidur supaya bangun gak kesiangan, Kak,” Adisti terdengar ceria dan bahagia, “Wudhu sebelum tidur supaya besok pagi wajahnya glowing, Kak.”
“Isssh. Yaudah sana buruan.”
Sambil menunggu Bramasta, Adisti duduk di samping Agung sambil menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya.
“Kak,” tangannya menusuk-nusuk lengan atas Agung, “Jangan galak-galak. Nanti cepat tua loh.”
“Hmmmm.”
“Kalo cepat tua nanti gak laku-laku loh. Jadi jomblo terus gimana?”
“Kok Adek do’ain jelek sih ke Kakak? Ucapan adalah do’a, Dek,” Agung cemberut menatap adiknya.
“Yaudah, diralat. Semoga Kakak disegerakan jodohnya.”
“Aamiin.”
“Dapat jodoh yang cakep banget.”
“Aamiin.”
“Yang mau dibimbing Kakak. Gak rewel, gak ogoan_aleman/manja_ seperti Adek.”
“Aamiin,” sambil tersenyum dan melirik adiknya.
“Yang sabar dan tabah saat dijahili Kakak.”
“Aamiin.”
“Yang umurnya lebih muda dari Adek supaya Kakak jadi awet muda.”
“Aamiin..” Agung segera tesadar, “Eh, kok gitu?”
“Ya gak gitu-gitu juga Kak,” menatap kakaknya dengan mata berbinar, “Kan supaya Kakak awet muda. Kata orang, wajah itu mengikuti jodohnya.”
“Iyyyeesh!” seru Bramasta yang dari tadi sudah keluar dari kamar mandi tapi tertahan karena penasaran dengan do’a Adisti untuk kakaknya, “Berarti Abang bakal awet muda ya.. Kan kita beda 10 tahun.”
“Iya, Bang Bramasta awet muda, tapi Adek jadi tua,” Agung terkekeh.
“No..no..no..” Adisti menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan kakaknya, “My cuteness is immortal. Everlasting. No doubt it at all_Keimutanku itu abadi. Awet gak bakal berubah. Gak diragukan sama sekali_!”
“Dih, pede amat!” Agung mencibir, “Dah sana wudhu.”
“Iya..iya. Galak ih,” Adisti cemberut.
“Disti, hafal al Mulk gak?” tanya Bramasta dari balik tirainya.
“Insyaa Allah,” jawab Adisti.
“Baca bareng-bareng yuk,” ajak Bramasta, “Nanti ini jadi ritual wajib kita sebelum tidur ya, Disti. Membaca al Mulk bersama sebelum tidur.”
“Masyaa Allah… Disti jadi makin sayang deh,” Adisti merasa pipinya memanas.
Bramasta dan Adisti terkekeh.
“Ma’afkan Abang, Kakak Ipar. Suasananya jadi mendadak romantis walau terhalang tirai. Mungkin karena pengaruh night lamp di atas kepala tempat tidur,” kata Bramasta sambil menahan tawa.
“Halllagh, alasan,” Agung bersungut-sungut. Adisti terkikik geli.
Tak berapa lama terdengar bacaan surat al Mulk dari balik tirai. Dibaca dengan nada dan ritme yang sama. Agung merasa terharu, tidak salah dia menerima Bramasta untuk menjadi imam untuk adiknya. Berharap semoga keduanya nanti bisa saling menyesuaikan diri. Berharap pernikahan mereka nanti samawa hingga jannah.
Keesokan paginya, pengawal yang berjaga di depan mengantarkan baju ganti untuk Bramasta. Setelan jas warna hitam dengan kemeja abu-abu muda dan dasi warna lavender. Saat Adisti melihat Bramasta mengenakan setelannya, matanya tak berkedip memandang calon suaminya itu.
“Waaah… Calon Suami!” seru Adisti sambil memberi jari love pada Bramasta. Bramasta tersenyum lebar melihat tingkah Adisti.
“Ganjen ih!” Agung menyentil kening Adisti. Adisti mengaduh.
“Isssh sakit tahu.”
“Tundukkan pandangan.”
“Gak bisa, Kak. Dasi Abang Bramasta bikin mata Disti gak bisa berpaling.”
“Beneran cuma dasi Abang?” Bramasta menggoda Adisti.
Adisti salah tingkah. Pipinya memerah. Tidak menjawab dan langsung balik badan untuk menyembunyikan rona pipinya dan senyum simpul di bibirnya.
“Ciyeee, tersapu-sapu ceritanya..” goda Agung.
“Kenapa kita gak ketemuan dan kenal dari dulu sih? Malam dan pagi hari bareng kalian itu bikin mood booster banget,” kata Bramasta, “Pagi jadi lebih hidup dan berwarna.”
“Gak boleh menyalahkan takdir,” Agung meraih gelas kopi yang tadi dipesannya dari gerai bawah, “Suratan takdirnya kan memang begini, bukan begitu..”
“Eh iya.. astaghfirullah..” Bramasta tersadar.
“Memangnya dulu sebelum kenal Disti dan Kakak, paginya Abang seperti apa?” tanya Adisti.
“Ya gitu deh. Monoton. Rutinitas biasa.”
“Kirain paginya Abang itu masih ngumpulin nyawa yang berceceran terbang di alam mimpi. Terus bangun dengan keadaan buta warna, cuma bisa lihat hitam dan putih doang.”
“Kakak Ipar,” panggil Bramasta kepada Agung. Sejak semalam ia mengubah panggilan Aa menjadi Kakak Ipar kepada Agung, “Adik Kakak Ipar nih, semalam udah ngatain Abang butuh dokter THT sekarang ngatain Abang buta warna..”
Agung menyesap kopinya lalu memandang kepada Bramasta dan Adisti bergantian.
“Auk ah lap,” ucapnya acuh sambil matanya memandang pada layar laptop yang berisi angka-angka pada program excel.
Pintu diketuk, pengawal masuk sambil mengucap salam. Ketuganya menjawab salam serempak.
“Ada petugas salon dari bawah katanya sudah dipesan oleh Nyonya Alwin.”
Bersamaan dengan itu, gawai Bramasta bordering. Nada panggilan masuk.
“Assalamu’alaikum, Mom.. Iya ini sudah datang.” Jeda.
“OK..” Bramasta memandang Adisti lalu menyerahkan gawainya pada Adisti, “Mommy mau ngomong.”
“Suruh masuk aja Pak. Siapin aja dulu,” kata Bramasta kepada pengawalnya.
Adisti duduk di samping Bramasta, “Assalamu’alaikum Mommy..” Jeda.
“Iya Mom. OK. Disti percayain ke Mommy aja gimana-gimananya. He he he..” Jeda.
“Udah tadi kami bertiga. Kakak udah mulai di depan laptop, Abang nanti mau nganterin Disti fisioterapi lagi.” Jeda.
“OK. Thanks so much, Mommy. Love you. Assalamu’alaikum.”
“Udah Bang Bram. Hatur nuhun nyaaa, Gantengnya Adisti,” kata Adisti sambil mengangsurkan gawai Bramasta.
Bramasta terkekeh, “Udah mulai berani merayu, nih.”
“Cih.”
“Gak usah julid, Kakak Ipar.”
Adisti dan petugas salon tertawa.
Kursi keramas diletakkan di kamar mandi. Adisti duduk lalu merebahkan diri di bak cuci rambutnya.
“Hati-hati ya Mbak, kemarin sore masih nyut-nyutan jahitannya,” kata Adisti.
“Baik Nona. Tidak perlu khawatir.”
Adisti lega karena rambutnya sudah selesai dikeramas. Terasa segar dan ringan. Tidak terasa perih seperti apa yang dikhawatirkannya. Menutupi kepalanya dengan handuk, dia keluar kamar mandi menuju biliknya yang sudah ditarik tertutup tirainya. Bramasta berusaha tidak melihat Adisti ketika Adisti melintas. Kepalanya tertunduk pada laptop yang berada di atas pangkuannya. Membaca beberapa email untuknya.
Adisti duduk di kursi yang ada di samping bed-nya. Di depannya terdapat cermin besar. Kain pelindung potongan rambut dipakaikan. Bunyi denging hairdryer memecah kesunyian ruangan. Agung dan Bramasta tenggelam dalam pekerjaannya masing-masing.
“Dipotong sesuai pesanan model yang diminta Nyonya Alwin?” tanya petugas tersebut.
Adisti mengangguk.
“Seperti ini, Nona,” petugas tersebut menyodorkan gawainya yang menampilkan model rambut yang dimaksud.
“Wow. Keren. Mauuuuuu,” Adisti antusias.
Petugas salon terkekeh melihat antusiasme kliennya. Dia langsung menggunting rambut Adisti dengan cepat dan professional. Lalu menggunakan electric shaver untuk merapikan dan membentuk rambut di bagian tengkuk dan samping telinganya.
Agung melongokkan kepalanya ke dalam tirai.
“Wow..wow.. Gak terlalu pendek, Dek? Gak apa-apa ditipisin seperti itu?”
Bramasta yang mendengar ucapan Agung langsung mendengakkan kepalanya. Menatap tirai bilik Adisti. Tapi belajar dari kejadian kemarin, ia menahan diri untuk tidak kepo dan berkomentar.
“Nggak.. kata Mbaknya ini supaya nanti tumbuhnya rata gak ceplak-ceplok.”
“Iya Mbak?” tanya Agung pada petugas salon, “Model rambut seperti itu namanya model rambut apa?”
“Iya Tuan. Ini model rambut pixie, Nyonya Alwin berpesan untuk memotong rambut Nona Adisti dengan model tersebut.”
“Dek, jadi imut banget sih dengan potongan rambut seperti itu,” ujar Agung, “Kayaknya masih pantes deh Adek pakai seragam SMP dengan model rambut seperti itu.”
Bramasta semakin penasaran, “Boleh lihat gak?”
“NGGAK,” Agung dan Adisti kompak menjawab. Petugas salon terkekeh geli.
“Dek, tinggal punya bubuk terbang, jadi deh Adek seperti temannya Tinkerbell.”
Adisti terkekeh, “Tuh kan, semalam Adek bilang apa. No doubt it at all about my cuteness.”
“Iya…iya..iya…”
Bramasta mendadak membuka google mencari model rambut pixie. Langsung tersenyum lebar melihat foto-foto yang dipajang _The Fairy Tale goes on…_
.
.
Hayo.. siapa yang auto Googling model rambut Pixie?
😉
Cek Pixie Cut-nya Emma Watson ya.