CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 252 – KEJENGKELAN SEKRETARIS SANJAYA GROUP



SANJAYA GROUP


RUANG MEETING SANJAYA GROUP


Hans melirik arloji mahalnya. Di depannya, perwakilan dari perusahaan lain, tengah mempresentasikan proposal kerja sama.


Kakinya bergerak-gerak dengan tidak sabar. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama derap kaki kuda. Dia merasa bosan dengan pemaparan yang menjemukan. Tetapi wajahnya seperti biasa, datar dan dingin.


“Ma’af saya interupsi sejenak, Bu. Bisa lebih langsung ke pokok bahasan? Tolong lewati saja semua basa-basinya,” Hans menatap tajam sejenak pada wanita muda yang berdiri dengan rok span jauh di atas lutut berwarna peach.


Wanita itu mendadak limbung lalu menahan tubuhnya dengan bersandar pada meja di belakangnya. Tangannya gemetar. Tidak menyangka dengan reaksi Hans.


Padahal dia jauh hari mempersiapkan penampilannya dengan cermat untuk presentasi hari ini. Baju kerjanya didesain khusus oleh desainer asal Negeri Singa. Make upnya dilakukan oleh MUA terkenal dari Jakarta yang ia panggil khusus ke apartemennya dipagi hari.


“Anda kenapa?” Hans menaikkan alisnya.


Wanita itu cepat menguasai dirinya lagi. Dia tersenyum profesional terlatih. Lalu mengangguk


“Anda sudah sarapan?” Hans bertanya lagi setelah melihat sudut bibir itu berkedut sesaat sebelum dia tersenyum.


“Saya baik-baik saja, Tuan Hans. Dan ya, saya sudah sarapan. Terimakasih atas perhatiannya,” wanita tersebut tersipu dan tersenyum.


Sebelah kakinya digoyang-goyangkan membuat perhatian Hans teralihkan pada kaki jenjang dan mulus. Hans menggelengkan wajahnya sambil beristighfar.


“Bisa kita lanjutkan? Langsung ke topik bahasan ya. Waktu saya tidak banyak. Saya harus menghadiri meeting lainnya juga.”


“Saya mengerti, Tuan Hans.”


“Ya, silahkan.”


Wanita cantik itu mulai berpresentasi lagi. Berbicara sambil menggerak-gerakkan tangannya.


“Ma’af saya penasaran dengan angka-angka prosentase yang terdengar bombastis itu berdasarkan apa?” Hans mengernyit.


“Berdasarkan pendapat saya, Tuan Hans,” wanita tersebut tersenyum bangga.


Telunjuknya menyentuh ujung rambut panjangnya yang tergerai indah dengan ikal-ikal besar di ujungnya. Kemudian telunjuknya melingkar-lingkar dililit rambutnya.


Hans memperhatikan itu semua dengan alis terangkat sebelah. Kemudian menunduk membaca berkas proposal di hadapannya.


“Saya berbicara dengan... Ibu Siska Meylania Santoso, dengan jabatan General Affairs dari Metro Line Co...”


“Itu perusahaan milik Papa,” wanita itu memotong kalimat Hans sambil mengerling.


“Oh.. jadi Ibu Siska ini anak dari Bapak Santoso?” Hans memiringkan wajahnya.


“Tolong jangan panggil ibu. Saya belum setua itu kan?” matanya mengerling lagi.


Hans benar-benar merasa jengah apalagi melihat wanita itu berdiri dengan bertumpu pada satu kaki dan kaki yang lainnya ia goyang-goyangkan.


“Saya akan ajukan nota keberatan kepada perusahaan papa Anda.”


“Nota keberatan??” wajah wanita itu betul-betul mencerminkan rasa keheranan.


“Metro Line Co. saya yakin bukan perusahaan kemarin sore. Dan Sanjaya Group juga bukan perusahaan abal-abal. Sangat disayangkan perusahaan Metro Line Co. mengirimkan utusan yang tidak memiliki kapabilitas untuk presentasi kerjasama sebagai wakil perusahaan.”


Wajah wanita itu mendadak pias.


“Dari gestur tubuh dan penampilan Anda, saya yakin Anda berusaha untuk memikat saya. Tapi ma’af. Anda bukan tipe saya. Anda selaku general affairs tapi berusaha menjalin affair dengan saya?”


Mata wanita itu melebar.


“Saya tidak berm...”


Hans mengibaskan tangannya.


“Sudahlah. Saya lelah mendengar penjelasan presentasi Anda yang berputar-putar seperti obat nyamuk bakar. Sama lelahnya dengan mata saya melihat Anda terus menerus menggoyang-goyangkan kaki Anda.”


“Anda tidak bisa begitu!” Wanita itu berseru marah, “Saya menjelaskan dengan detail. Anda tahu saya lulusan apa? Saya lulusan luar negeri jurusan manajemen bisnis! Angka-angka proyeksi yang saya kemukakan tadi berdasarkan pemikiran matang saya...!”


Hans terkekeh, “Proyeksi angka-angka halu.”


Wajah wanita itu merah padam.


Dia berdiri dari kursinya lalu bersidekap.


“Next time, untuk proyeksi angka-angkanya itu harus berdasarkan sumber yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hasil dari lamunan Ibu sendiri.”


Hans mengacungkan jari telunjuknya.


“Once more, saat mengajukan proposal dan mempresentasikanya tolong berbusana yang sopan. Minimal roknya di bawah lutut.”


“Ini rancangan desainer Singapura!” wanita itu mengepalkan jemarinya.


“I don’t care. That’s my rule _Saya tidak peduli. Itu aturan saya_” Hans menatap wanita itu dengan tersenyum, “Saya rasa cukup sekian saja. Terima kasih untuk presentasinya. Selamat siang.”


Hans melenggang keluar dari ruang meeting di Sanjaya Group diikuti asistennya.


“Tuan Hans!” wanita itu memanggil dengan suara bergetar.


Hans yang sedang memegang handel pintu berhenti lalu menoleh.


“Bagaimana dengan kerjasamanya.”


Hans tidak menjawab. Dia hanya menggeleng lalu keluar dari ruangan. Sebelum pintu tertutup sempurna, dia masih mendengar wanita tadi mengumpatinya. Hans tersenyum lebar.


“Kamu dengar?” tanyanya pada asisten, “Jangan percaya dengan wanita yang berbicara sambil menggoyang-goyangkan kakinya padamu. Apalagi dengan busana kurang bahan seperti itu.”


“Memangnya kenapa Tuan Hans?” asistennya bertanya dengan nada penasaran.


“Dedikasi dan atitudnya minus. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri,” Hans terkekeh.


Asistennya ikut terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


Di ruang tunggu resepsionis depan ruangannya dia melihat Raditya dengan seragam coklatnya tengah menekuri gawainya.


“Assalamu’alaikum Pak Raditya..” Hans menghampirinya lalu bersalaman dan berpelukan.


“Wa’alaikumussalam, Tuan Hans.”


“Ma’af saya baru selesai meeting. Sudah menunggu lama?”


“Lumayan lah...”


“Kita makan siang di ruangan saya saja kalau begitu ya supaya bisa mengobrol dengan leluasa.”


Raditya mengangguk.


Dari arah koridor ruang meeting, muncul wanita tadi yang berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah cemberut ke arah lift. Dia melirik pada Hans dan Raditya.


Hans hanya meliriknya sekilas. Tetapi Raditya meliriknya dengan wajah keheranan nyaris melongo hingga Hans harus menepuk pundaknya.


“Dia kenapa?”


Hans mengangkat kedua bahunya dengan acuh.


“Anak manja yang menjadi wakil perusahaan papanya untuk presentasi tapi presentasinya ditolak.”


Raditya tertawa, “Oh.. merajuk?”


Hans ikut tertawa.


“Mau makan apa? Kafetaria kami masakannya enak-enak loh.”


Hans membuka pintu ruanganya lalu mempersilahkan Raditya masuk.


“Asam lambung saya sedang naik. Saya ingin yang berkuah tapi tak bersantan saja..”


Hans menghubungi resepsionis di depan ruangannya dengan interkom, “Pesankan Soto Bandung 2 ya. Ekstra lobak untuk Pak Raditya. Jus mangga dan alpukat.”


Matanya beralih ke Raditya, “Saya pesankan ekstra lobak untuk mendinginkan lambung. Kenapa asam lambungnya naik? Stres dengan perkembangan yang terjadi?”


Raditya terkekeh sambil mengusap wajahnya. Wajahnya terlihat sangat lelah.


“Dunia maya mengguncang dunia nyata. Prince Zuko semalam betul-betul mengguncang para pejabat dan kroco yang dekat dengan Tuan Thakur.”


“Saya juga membaca pendapat para netizen di Burung Biru. Bahkan hastagnya membahana hingga internasional...”


Raditya mengangguk-angguk.


“Website kami dibajak semenjak dini hari tadi. Hingga sekarang tidak bisa dioperasikan..”


Hans mengangkat kedua alisnya heran.


“Oleh siapa?”


“Dia menyebut dirinya Netizen Indonesia.”


“Di-hack bagaimana?”


“Tiba-tiba halamannya blackout dan muncul banner pecat para kaki tangan Tuan Thakur.,” Raditya tertawa getir, “Andai mereka tahu siapa saja para pejabat yang menjadi kaki tangannya...”


Raditya tiba-tiba berhenti tertawa. Dia mendongak menatap Hans dengan serius.


“Semalam dalam penampilan Prince Zuko, saya menangkap ada sesuatu yang tidak biasa..”


“Maksudnya?” Hans memasang wajah datar.


“Di ujung penampilannya, ada tulisan I GOT YOUR MESSAGE,” Raditya menatap Hans dengan berbinar, “Apakah ini artinya Prince Zuko sudah melihat pesan Agung ?”


Hans tercenung agak lama. Raditya menunggu dengan harap.


“I don’t know... Agung tidak berkata apa-apa pada saya. Keluarganya dan Keluarga Tuan Alwin memercayakan keamanan Agung pada AMANSecure. Jadi, dia berada dibawah tanggung jawab saya. Apapun yang mengancam keselamatannya menjadi perhatian AMANSecure.”


“Ah.. saya kira.. saya sudah berharap banyak tadi,” wajah Raditya terlihat kecewa.


“Nanti kalau ada perkembangan, Agung pasti akan memberitahu saya. Akan saya kabari Pak Raditya.”


Raditya mengangguk setuju.


“Bagaimana dengan kejadian penyergapan palsu kemarin?” Hans mengalihkan pembicaraan.


Raditya menggeleng.


“Nomor yang masuk untuk meminta saya memimpin penyergapan itu nomor palsu. Bahkan saat saya bertanya kepada tim saya, mereka tidak tahu menahu tentang kejadian Gor Saparua. Semuanya terkejut saat saya menceritakan hal itu kepada mereka. Setelah itu, saya dijaga dengan ketat oleh mereka..”


“Beruntung Anda memiliki tim yang sollid dan bisa dipercaya, Pak Radit.”


Raditya mengangguk setuju dengan ucapan Hans.


Pintu diketuk. Asisten Hans masuk bersama seorang wanita muda berseragam merah marun membawa troli makanan.


“Kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan tadi.”


15 menit kemudian saat mereka masih berbincang, gawai Hans berdering. Panggilan masuk dari Tuan Alwin.


"Assalamualaikum Tuan Alwin..."


"Saya sudah membaca laporan kamu tentang Raditya. Dia harus dipersiapkan.."


"Saya sedang bersamanya. Saya akan mempersiapkannya, Tuan."


"You know exactly what did I mean, right_Kamu benar-benar pahamkan dengan maksud saya_?"


"Yes I do, Sir_Ya, Tuan_."


"OK. Just do and make it_Baiklah. Ayo wujudkan."


Tuan Alwin mengakhiri panggilannya.


Raditya sudah selesai makan. Dia menyesap jus alpukatnya. Alisnya terangkat sebelah saat melihat Hans meletakkan gawainya lalu menatapnya sambil tersenyum lebar.


"Pak Raditya, ada sesuatu yang penting yang akan saya bicarakan dengan Bapak."


"Ya??" Raditya meletakkan gelas jusnya.


.


***


Daddy dan Hans ngomongin apa sih tentang Raditya?