
Senin pagi, 07.45 Mommy menjemput Bunda dan Adisti dengan 2 mobil. Mobil besar putih yang dinaiki Mommy dengan asistennya dan mobil SUV warna hitam yang mengawal mobil Mommy. Pengaturan Daddy yang wajib dilakukan Mommy bila hendak keluar rumah. Mulai diberlakukan semenjak 7 tahun yang lalu setelah terjadi usaha penculikan terhadap Mommy yang digagalkan oleh aksi nekat Bramasta dan Indra.
Sepanjang jalan mereka mengobrol. Mommy dan Adisti satu server: ceria dan suka mengobrol. Sedangkan Bunda yang kalem lebih banyak menjadi pendengar yang baik dan tertawa mendengar ocehan mereka. Bunda dan Mommy duduk di tengah. Adisti duduk di belakang. Bangku depan ada asisten Mommy dan driver.
“Mom,” kata Adisti, “Abang Bramasta dan Abang Indra itu teman main dari kecil?”
Mommy memutar tubuhnya menghadap Adisti sambil mengangguk, “Indra itu anaknya pegawai Daddy, di bagian keuangan, Pak Kusuma Wardhani, Bram manggilnya Om Dhani.”
Mommy meraih tissue di depannya, “Pertama kali mereka bertemu, saat Bramasta kelas 5 SD dan Indra kelas 1 SMP. Gak sengaja tuh ketemunya. Pulang sekolah, Bram ingin ketemu Daddy sedangkan Indra juga pulang sekolah sengaja datang ke kantor untuk ketemu Papinya yang ngejanjiin mau traktir pizza karena nilai ulangan Indra 100. Pas mereka datang, rupanya Daddy dan Pak Dhani sedang ada meeting di luar. Mereka menunggu bareng di ruang meeting,” Mommy memperbaiki kerudungnya, “Ya terus gitu deh. Ternyata mereka cocok, kata orang se-frekuensi, ya. Udah deh mereka dekat. Berdua terus. Main bareng, latihan futsal bareng, karate bareng, ngaji bareng juga.”
“Udah seperti kakak adik ya Mom.”
“Iya. Tapi disuruh manggil Mommy seperti Bram, dia keukeuh manggil Mommy dengan tante. Kata Indra, takut ketukar dengan panggilan buat ibunya, Mami, karena Mami tak tergantikan, katanya.”
Adisti dan Bunda terkekeh, “Padahal beda O dan A saja ya Mom.”
1 jam sebelumnya.
Seorang pria berpakaian hitam-hitam berambut pendek dan mengenakan masker hitam, kacamata hitam juga topi hitam menunggu di atas motor di pelataran parkir motor yang terletak di halaman depan rumah sakit. Matanya terus mengawasi gerbang masuk rumah sakit. Sebuah mobil sedan warna hitam masuk. Mata pria itu lekat mengawasi mobil dimana mobil itu terparkir. Tak berapa lama, gawai pria tersebut berdering.
Dia menerima panggilannya dengan menggunakan headset.
“Ya?”_jeda.
“Baiklah, saya ke sana.”
Pria tersebut berjalan dengan langkah tegap mendekati mobil sedan hitam. Seluruh jendelanya tertutup rapat. Saat pria itu mendekat, mesin mobil dimatikan. Pria tersebut mengetuk jendela penumpang di baris belakang. Jendela turun seperempatnya. Pria tadi membungkukkan badannya. Mendekatkan wajahnya ke jendela yang terbuka seperempat.
“Sekitar jam 9 mereka tiba. Bisa kurang, bisa lebih. Tetap awasi pintu masuk. Mobil Alphard putih,” orang di dalam mobil mengeluarkan foto yang dimaksud. Pria tersebut mengambil foto tersebut.
“Ini targetnya. Target utamanya,” orang di dalam mobil menyerahkan sebuah foto ukuran postcard. Foto Adisti yang diambil dengan kamera jarak jauh. Tampak Adisti sedang berdiri di jalan depan rumahnya.
“Tangan gadis ini masih memakai gendongan kain. Mudah bagi kamu buat mengenalinya bahkan dari jauh sekalipun,” pria tadi mengambil foto Adisti. Dia mengangguk mengerti.
“Bila tidak mengenai target utama, kenai saja wanita yang bersamanya, ibu gadis ini. Melihat salah satu dari keduanya terluka itu sudah cukup bagiku. Kamu mengerti?” orang di dalam mobil menaikkan kacamata hitamnya.
Pria tadi mengangguk, “Baik.” Tubuhnya membungkuk hormat.
“Kerjakan dengan cepat dan rapi. Setengah pembayaran saya transfer sekarang,” orang dalam mobil membuka aplikasi M-Banking. Memasukkan nomor rekening pria berbaju hitam tersebut dari salinan chat pesan, menuliskan angka nominal 7 digit pada kolom jumlah transfer. Transfer berhasil. Dia menurunkan lagi kaca jendelanya lalu menyodorkan gawainya ke dekat si pria itu.
Mata pria itu membaca dan memeriksa layar dengan cepat. Kemudian dia membungkuk lagi.
“Terima kasih banyak. Akan saya kerjakan dengan sebaiknya.”
“Separuhnya lagi, akan saya transfer 2 jam setelah eksekusi. Jangan pulang ke rumahmu selama 3 bulan pasca eksekusi nanti. Mengerti?”
“Baik, saya mengerti.”
Gawai si pria berbunyi. Suara notifikasi pesan teks dari SMS banking. Transfer dengan nominal angka 7 digit telah masuk ke rekeningnya.
“Sudah masuk?”
“Sudah.”
Orang di dalam mobil melambaikan tangannya menyuruh pria tersebut pergi. Kaca jendela mobil naik perlahan. Tertutup penuh. Mobil berjalan mundur. Meninggalkan tempat tersebut. Pria tadi melihat jam tangannya. Lalu berjalan ke arah lobby rumah sakit.
***
Mobil putih besar Mommy memasuki gerbang. Berhenti di depan mesin pencatat parkir, lalu melaju lagi memasuki area dalam rumah sakit. Driver menunggu mobil di belakangnya mengambil tiket parkir, kemudian melaju beriringan menuju drop off area.
Penumpang di mobil SUV hitam turun lebih dahulu. 3 pria berbadan tegap dan tinggi, memakai seragam hitam-hitam menghampiri pintu mobil Mommy. Membuka pintu untuk Mommy dan Bunda lalu membantu Adisti untuk turun dari mobil.
Mobil berjalan maju menuju tempat parkir. Pengawal Mommy membentuk blokade di belakang. Mata mereka mengawasi sekitar. Mommy dan Adisti masih asyik berceloteh membahas kejadian kemarin di gazebo, insiden klepon. Berempat dengan asisten Mommy mereka berjalan di teras sambil tertawa, menertawakan kejadian kemarin.
Tanpa bersuara dan tanpa kehebohan, seorang pengawal di belakang tubuh Mommy dan berlari cepat ke arah ramp dari arah UGD. Meloncat sambil menendang ke arah troli makanan yang meluncur kencang menuju Mommy dan Disty. Bunyi troli yang terguling dengan nampan-nampan makanan yang kosong yang terbuat dari logam berkelontang keras menyita perhatian orang-orang di area tersebut. Troli masih meluncur dalam posisi terguling tetapi lebih lambat.
Pengawal kedua mengejar lalu menahannya dengan kaki kanannya. Troli berhenti. Pengawal ketiga yang tadi ada di belakang Bunda berlari ke samping Mommy. Merentangkan kedua tangannya sambil berteriak ke arah security rumah sakit yang berlarian ke arah mereka, “Lindungi Nyonya dan Nona!” Matanya sigap mencari pergerakan mencurigakan dari orang-orang di sekitarnya.
Bunda memegang lengan Adisti. Mommy merangkul Adisti. Asisten Mommy yang berada di depan merentangkan tangannya melindungi mereka. Security rumah sakit mengerubungi mereka. Kepala Security mengenali Mommy. Segera membuat panggilan radio dengan bosnya. Dan berbicara dengan cepat.
“Kode 10-33, Teras Lobby. VVIP Nyonya Alwin Sanjaya dan Keluarganya. Kode 10-33.”
“Diterima. Terpantau jelas di monitor. Laksanakan prosedur evakuasi VVIP.”
Mereka bergerak bersama mengarahkan rombongan Mommy menuju ruang tunggu VVIP. Orang-orang di lobby terkesima dengan kejadian tersebut. Mereka ingin melihat tempat kejadian. Bergerombol di arah pintu masuk. Melihat ramp yang berantakan karena troli yang terguling dan nampan-nampan logam berserakan hingga lantai teras.
“Ada apa?” tanya Mommy.
“Belum diketahui Nyonya, tetapi ada troli yang meluncur tepat di jalur Nyonya dan Nona.”
“Penyerangan?”
“Belum bisa dipastikan, Nyonya. Kami harus mengecek CCTV di beberapa area,” pengawal yang menendang troli tadi menatap ke arah kepala security yang dibalas anggukan, “Antarkan saya ke pusat kontrol kamera.” Dia berjalan sambil menghubungi Hans, melaporkan kejadian yang baru saja terjadi.
“Maafkan atas kejadian tadi, Nyonya. Ini sungguh di luar kebiasaan. Kami masih menyelidiki kenapa ada troli makanan berada di jalur ramp UGD,” seorang direksi wanita dengan name tag dr. Nagita berkata sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.
“Nyonya pasti cemas dan khawatir sekali, ya,” dr. Nagita menambahkan, “Sebentar lagi ada yang membawa minuman hangat untuk meredakan shock.”
“Eh, maaf sebelumnya,” kata Mommy tidak enak hati, “Sebenarnya ada kejadian apa? Kami bahkan tidak menyadari apa yang tengah terjadi.”
Dr. Nagita dan 2 anggota direksi lainnya saling berpandangan. Kemudian salah satunya berkata, “Syukurlah Nyonya tidak menyadari apa yang tengah terjadi jadi tidak mengalami kecemasan dan kekhawatiran. Untuk sementara, Nyonya dan rombongan di ruang tunggu ini dulu ya.”
“Tapi Adisti harus kontrol dan fisio terapi,” kata Mommy.
“Nanti biar dokternya yang ke ruang ini saja,” dr. Nagita tersenyum.
“Bisa?” tanya Mommy, “Maksud saya apakah ruangan ini memadai untuk pemeriksaan?”
“Dinding kayu di belakang sofa ini sebenarnya partisi yang menghubungkan dengan ruang bed pemeriksaan untuk kejadian luar biasa seperti ini, Nyonya. Jangan khawatir, apabila dibutuhkan alat medis untuk pemeriksaan, maka alat tersebut akan dibawa kemari selama alat tersebut portable,” semuanya mengangguk mengerti, “Bisa minta surat pengantar kontrolnya? Nanti biar kami yang mengurus pendaftarannya.”
Bunda menyerahkan surat kontrol. Dr. Nagita membaca sekilas lalu mengangguk. “Gak perlu mengantri, kita pakai jalur khusus. Nanti dokternya langsung kemari begitu sudah siap berpraktek di rawat jalan, ya.”
Seorang petugas pramu saji dari gerai ternama mengantarkan cup-cup minuman dan kue-kue dari gerainya. Dr. Nagita mengangguk, “Silahkan dinikmati sembari menunggu dokternya datang. Kami pamit dulu.” Rombongan dr. Nagita menyalami Mommy dan Bunda. Kemudian berlalu dari ruang tunggu tersebut.
Bersamaan, gawai Mommy dan Adisti bordering, panggilan masuk.
Mommy, “Wa’alaikumussalam. Iya.. gak apa-apa. Malahan kita gak menyadari apa yang sedang terjadi. Tau-tau kita digiring ke ruang tunggu VVIP. Nggak, nggak apa-apa. Semuanya aman. Pengawal dan security bertugas dengan sangat baik sekali. Dewan direksi juga tadi dari sini. Minta maaf atas apa yang terjadi.” Jeda.
“Adisti dan Bundanya gak apa-apa. Gak ada yang shock atau terkejut karena pas kejadian kita lagi asyik ngobrol dan ketawa-ketawa. Daddy gak usah cemas ya.” Jeda.
“Nggak Dad.. gak perlu ke sini. Ini katanya kita gak usah antri periksa, dokter-dokter dan terapisnya yang langsung ke sini.” Jeda.
“Iya.. Bramasta sudah diberitahu ya? Iya itu kayaknya lagi nelepon Adisti.”
“Iya.. Daddy juga hati-hati ya. Love you. Assalamu’alaikum.”
Aditi, “Wa’alaikumussalam, Abang.” Jeda.
“Iya gak apa-apa. Nggak ada yang terluka. Malah kita tidak tahu ada apa. Cuma tadi tiba-tiba ada bunyi klontang keras banget. Terus kita digiring ke ruang tunggu VVIP.” Jeda.
“Nggak.. Mommy dan Bunda gak apa-apa. Tadi posisinya, Mbak Ira jalan di depan. Terus Bunda, Disti dan Mommy di belakangnya. Pengawal ada di belakang kita. Kejadian persisnya Disti gak tahu karena kita lagi ketawa-ketawa bahas klepon kemarin..” Jeda.
“Memang Abang di mana sekarang?” Jeda.
“Ya udah gak usah ke sini. Meetingnya dilanjutin lagi.” Jeda.
“Iya.. Disti tahu, Disti ngerti Abang Bram cemas. Tapi beneran kok kita gak apa-apa.” Jeda.
“Abang…” Adisti berbicara dengan gemas, “Gak apa-apa. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Abang lanjut meeting aja lagi ya. Kerja yang bener, yang fokus. Cari duit yang banyak biar bisa jajanin Disti klepon yang banyak.” Disti terkekeh. Jeda.
Bunda dan Mommy saling berpandangan lalu sama-sama terkekeh.
“Udah deh, Abang Bramasta yang paling baik dan paling ganteng sedunia, calon suaminya Disti anak gadis Pak Gumilar yang selalu baik hati, pintar, rajin dan tidak sombong…udahan dulu neleponnya ya. Abang kerja lagi, OK?” Jeda.
“Ih, kok gitu?” Jeda.
“Bilangin ke Mommy loh.”
“Apa? Bramasta ngomong apa ke Disti?” tanya Mommy cepat.
“Kata Abang, Disti bawel kayak Mommy…” Adisti menjawab sambil terkekeh.
“Emang iya,” jawab Mommy sambil terkekeh geli.
“C Abang baru tahu ya Disti bawel? Kasihan amat…” kata Adisti. Jeda.
“Ciyeeee. Ciyeeeee. Jadi Ge er nih Disti..” jeda.
“Iya Bang. Kita lagi nunggu dokter datang. Diperiksanya di ruang tunggu sini. Jalur khusus karena ada kejadian khusus, kata dokter Nagita tadi. Iya nanti gak akan kemana-mana. Langsung pulang.” Jeda.
“Hmmh. Wa’alaikumussalam. Abang juga hati-hati ya..”
Baru saja Adisti menutup panggilan teleponnya, seorang dokter masuk ke ruangan diikuti suster dan 2 petugas yang memakai baju bertuliskan maintenance. 2 petugas maintenance tersebut membuka partisi ruangan. Menyusun kembali sofa-sofa lalu membungkuk hormat sebelum berlalu dari tempat tersebut.
Ruang Kontrol Monitor CCTV, pengawal yang tadi menendang troli, membuat panggilan lagi kepada Hans.
“Assalamu’alaikum, CCTV setengah jam sebelum kejadian sudah kami copy. Pelaku terekam tetapi wajahnya tidak bisa dilihat. Tersamar oleh masker dan kacamata hitam. 1 jam sebelumnya, pelaku diduga mendekati mobil bosnya. Kualitas videonya kurang bagus, Pak. Nomor polisi mobil susah terbaca karena sudut pengambilan, jarak dan resolusi gambarnya.”Jeda.
“Baik, Pak. Nanti akan kami bawa ke kantor.”
Catatan kecil:
• Ramp adalah lantai miring pengganti tangga yang dibuat landai agar bisa dilalui oleh alat pengangkut beroda, seperti kursi roda, bed pasien ataupun troli.
• 10-33 adalah kode radio komunikasi security untuk kondisi emergency.