
Di dalam lift yang kosong, mereka berdiri di sisi yang berbeda. Tidak saling berbicara hanya tekadang saling lirik. Lift berhenti di lantai 3. Seseorang berdiri di depan pintu lift, ragu-ragu hendak masuk ke dalamnya.
“Pak Bos, Adisti?” Anton menatap keduanya dengan heran.
“Masuk aja, Ton,” kata Bramasta.
“Nggak ah Pak. Nanti saja. Takut ganggu..”
“Issh, buruan,” Bramasta menyuruh Anton masuk dengan menggunakan tangannya. Adisti terkekeh.
“Mau naik atau turun?”
“Basement, Pak. Mau ke site.”
“Pesanan gue gimana, Ton?” tanya Bramasta.
Anton tersenyum sambil mengangkat kedua jempolnya, “Sudah dievakuasi. Sekarang sedang dipoles dan dicari penyangganya. Kayu atau logam?”
“Logam.”
“Golden chrome atau silver chrome?”
“Silver chrome.”
Anton menganggukkan wajahnya tanda mengerti.
TING. Lift berdenting di lantai dasar. Bramasta dan Adisti keluar.
“Duluan ya Ton, Assalamu’alaikum..”
“Yuk, Bang Anton.. Assalamu’alaikum.”
Di dalam lift, Anton menghubungi Indra lewat pesan chat.
Anton_Bro, bisa minta tolong gak. Soalnya cuma lu yang punya wewenang ke pusat CCTV_
Indra_Kenapa?_
Anton_Tadi gue denger anak-anak pada ngomongin kejadian heboh saat kedatangan Pak Bos. Gue minta rekaman CCTV teras lobby dong. Sekalian rekaman CCTV lift 4 sekitar 10.30, yang ada Pak Bos dan Adisti di dalamnya.._
Indra_Gila lu. Buat apa? Privasi itu_
Anton_Mau bikin surprise buat Pak Bos dan Adisti sekalian bikin Mommynya Bos nangis kejer lagi (emot ngakak)_
Indra_(emot ngakak) Gila lu!_
Anton_Bantuin ya_
Indra_OK_
Bramasta meminta petugas untuk mengambil mobilnya sementara mereka menunggu di teras lobby. Bramasta menyerahkan berkas-berkas di dalam mobilnya kepada petugas tadi untuk di bawa ke ruangannya. Pukul 10.35 mereka meninggalkan gedung B Group.
Lunar Art & gGallery menempati sebuah bangunan 2 lantai dengan arsitektur kolonial modern. Bagian depannya berbentuk melingkar dengan atap kubah di atasnya.
“Wow, sering lewat gedung ini tapi belum pernah mampir,” Bramasta memutar kemudinya memasuki pelataran parkir. Adisti tersenyum mendengarnya.
Semburan udara dingin menyerbu mereka saat memasuki resepsionis. Seorang gadis berwajah manis menyambut mereka berdua. Seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan dan menyapa ramah.
“Assalamu’alaikum Teteh Geulis…”
“Wa’alaikumussalam Bu Alin.”
Keduanya saling merangkul dan mencium pipi.
“Sakit apa? Eh, tangannya ya..” memandang prihatin pada lengan Adisti. Kemudian menyadari sesuatu, “Eh ada Tuan Bramasta Sanjaya. Kalian ini…” Bu Alin memandang bergantian pada Adisti dan Bramasta.
“Jadi benar berita-berita yang beredar di dumay?” tanya Bu Alin.
“Do’akan saja Bu, agar semuanya lancar dan berkah,” Bramasta tersenyum memandang Bu Alin.
“Tunggu saja undangannya ya Bu,” kata Adisti.
“Kalau begitu, yuk kita temui buyernya di kantor Ibu,” kata Bu Alin.
“Saya tidak ikut ya,” kata Bramasta, “Supaya kalian lebih bebas bicaranya. Saya mau lihat-lihat gallery dulu.”
“Abang tidak apa-apa sendiri?” tanya Adisti.
Bramasta terkekeh, “It’s OK_Gak apa-apa_.”
“Take your time. Enjoy it_Nikmati waktunya_,” Adisti melambaikan tangan pada Bramasta.
Bramasta meminta katalog lukisan yang dipajang pada resepsionis. Dia berkeliling melihat-lihat lukisan yang ada. Ada beberapa lukisan Adisti yang dipajang di sana. Adisti lebih banyak melukis tentang pemandangan dari sudut pandang yang unik. Bukan naturalis tapi lebih ke impresionis.
Adisti tidak menggunakan kuas pada lukisan-lukisannya, dia menggunakan pisau palet. Jejak-jejak pisau paletnya mempertegas tekstur dan isi dari lukisannya.
“Purple Veil” dipajang pada tengah ruangan dan disorot spotlight. Tertulis SOLD pada label merah yang diletakkan di tepi piguranya. Adisti banyak bermain dengan gradasi hitam lalu berangsur ke ungu di bagian tengahnya, siluet seorang gadis berkerudung ungu yang tengah menunduk di tengah hujan. Indah tapi juga menyedihkan.
[Apa yang tengah kamu pikirkan saat melukis ini?]
[Bagaimana kamu bisa membuat orang lain merasakan kesedihan yang dirasakan oleh si Gadis dalam lukisan?]
[Sebenarnya, berapa banyak luka yang kau tutupi?]
[Akankah aku bisa membuatmu membagi lara? Membiarkanku mengobati lukamu?]
Bramasta bermonolog dalam hati.
Bramasta menoleh saat mendengar langkah kaki. Ada Disti dan Bu Alin serta seorang pria tampan berusia tak jauh darinya. Dia mengerutkan kening memandang pria tersebut.
“Hai, saya Alvin Chandra. Saya yang membeli lukisan Nona Adisti,” pria itu mengulurkan tangannya pada Bramasta.
“Hai, saya Bramasta Sanjaya, calon suami Adisti,” Bramasta menerima uluran tangan Alvin, berjabat tangan erat. Tiba-tiba saja, dirinya merasa insecure dengan keberadaan Alvin Chandra.
Adisti menatap Bramasta dengan alis terangkat kemudian tersenyum. Feelingnya sebagai wanita tahu, Bramasta sedang menunjukkan kepemilikannya. Adisti melangkah berdiri di samping Bramasta. Berdiri dengan dekat. Dekat sekali hingga membuat Bramasta meremang.
“Ah ya,” Alvin berkata, “Tadi Bu Alin dan Nona Adisti sudah menceritakannya di dalam.”
[Cerita apa?]_ Bramasta.
“Nona Adisti, boleh saya meminta tanda tangannya di belakang kanvas?”
Adisti mengangguk ramah. Bu Alin menyerahkan spidol yang dia persiapkan dalam saku blazernya. Dia menurunkan lukisan Adisti dari penyangganya, Bramasta membantu Adisti memegangi lukisan. Adisti membubuhkan tanda tangan berikut namanya di bawahnya. Adisti Maharani.
“Terimakasih banyak Nona Adisti dan Tuan Bramasta.”
“Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, Kami pamit dulu, Bu Alin dan Pak Alvin. Karena hari ini ada beberapa tempat yang harus kami datangi,” kata Bramasta.
“Oh iya, silahkan Tuan Bramasta, Teh Adis.. Terimakasih banyak sudah bersedia mampir kemari,” kata Bu Alin.
“Kita makan dulu, ya?” tanya Bramasta sambil berjalan ke arah tempat parkir di bawah pohon Alamanda.
“Abang ingin makan apa?” tanya Adisti.
Bramasta terkekeh. Dia berhenti dan menoleh, “Harusnya Abang yang nanya gitu ke Disti..”.
“Eh, salah ya!” Adisti menatap mata Bramasta. Menatap lama seolah merekam momen kebersamaan mereka di bawah rimbun bunga Alamanda yang menggantung di atas mereka.
Bramasta terdiam ditatap intens oleh Adisti. Membalas menatap. Merasakan denyut jantungnya makin cepat, tekanan darah yang meningkat. Dia merasakan keringat yang mengalir jatuh di punggungnya. Gerah. Dia berdehem, memutuskan saat-saat yang menyusutkan oksigen di sekitar mereka.
“Kenapa ngelihatin Abang sampai segitunya sih?”tanya Bramasta sambil membuka pintu mobil untuk Adisti.
“Abang gak nyadar? Posisi Abang berdiri tadi keren banget view-nya. Warna bunga yang kuning dan hijau daunnya kontras banget, warna kemeja Abang yang coklat juga warna mata Abang. Komposisi warna dan cahayanya indah banget.”
“Hah??” Bramasta berjalan cepat ke arah pintu mobilnya. Meraup wajahnya sebelum membuka mobil.
[Ya Allah, gue gini banget sih. Disaat deg-degan karena setan lewat, kok bisa-bisanya ya gue merasa di-prank calon bini sendiri. Dia ngomongin komposisi warna disaat pikiran sedang travelling kemana-mana…]
“Abang Bramasta kenapa?” tanya Adisti setelah Bramasta duduk, “Wajahnya merah banget?”
“Kita pergi sekarang? Urusan dengan Bu Alin dan Pak Alvin udah beres beneran kan?” Bramasta dalam jaim mode on.
“Udah. Ditransfer 3 hari lagi. Itu hadiah ulang tahun buat istrinya Pak Alvin.”
“Eh? Dia udah menikah? Alhamdulillah..,” Bramasta bernafas lega, “Kirain dia saingan Abang.”
“Ya ampun Abang.. Gantengnya Disti merasa insecure_tidak aman_ begitu..”
“Would you please_Plis deh_?” Bramasta menatap tajam Adisti yang tengah tersenyum, “Jangan mancing-mancing Abang lagi.”
“Mancing apaan?”
“Mancing Abang ingin unyel-unyel Disti,” Bramasta terkekeh.
Adisti menarik seatbelt-nya. Tetapi kemudian membungkuk tiba-tiba sambil mengaduh dan memegangi pundaknya.
“Kenapa? Ada apa?!” Bramasta berseru panik.
“Jahitan di pundak tersenggol seatbelt..”
“Ya Allah, Disti.. berdarah lagi gak? Masih ditutup perban kan?” Bramasta memandang Adisti dengan cemas, “Sakit banget ya? Mau ke rumah sakit?”
“Abang nanyanya borongan..” Adisti meringis, “Masih pakai perban. Gak usah ke rumah sakit, cuma kesenggol dikit..”
“Kalau berdarah lagi bagaimana?”
“Ya merahlah..”
“Disti..”
“Ya Abang?”
Bramasta memberi jari love pada Adisti. Adisti terbahak.
“Eh, Disti. Ingat gak sewaktu turun pakai lift di kantor, kok trauma Disti tidak kambuh ya?” Bramasta mulai menyalakan mesin mobilnya, “Padahal gerakan lift turun kan sensasinya seperti kita terjatuh..”
“Eh, iya. Apa karena pada saat itu pikiran Disti teralihkan oleh kejadian di ruangan Abang?”
“Hah?” [Kenapa harus diingatkan ke kejadian yang memalukan itu sih?]_Bramasta.
“Atau karena ada Abang, jadi alam bawah sadar Disti merasa aman?” tanya Adisti lagi.
“Jadi, Disti boleh naik turun tangga atau pakai lift kalau bareng Abang aja ya.”
“Isssh so sweet tapi lebay deh..”
“Nanti kita coba di tangga rumah ya?”
Adisti mengangguk.
Makan siang mereka lakukan dengan cepat untuk menyelesaikan urusan mereka di hari itu. Matahari bersinar terik. Mereka bergegas masuk ke dalam mobil. Saat sedang mengenakan seatbelt, jendela mobil diketuk seseorang dengan keras. Bramasta menurunkan jendela. Pria yang mengetuk kaca mobil membungkukkan badannya mendekati Bramasta. Prasetyo Anggoro.
“Jadi kamu lebih memilih lelaki ini daripada kembali denganku?!” Prasetyo menatap tajam pada Adisti, “Kamu tidak tahu siapa dia kan? Bagaimana pergaulannya?”
Prasetyo menunjuk pada wajah Bramasta, “Di Singapura, dia diberitakan penyuka sesama jenis. Kamu mau menikahi seorang hom*, Dis?!”
Catatan Kecil:
Impresionisme adalah sebuah aliran dalam seni rupa ataupun seni lukis yang berusaha menampilkan kesan-kesan pencahayaan yang kuat dengan penekanan pada tampilan warna bukan pada bentuk.