
“Mengemban tugas sosial dari B Foundation,” suara Hans terdengar santai.
“Saya mencemaskan efek kunjungannya,” terdengar helaan nafas panjang.
“Why?” Hans menyandarkan punggungnya di kursi sambil menatap semuanya.
“Kejadian beruntun akhir-akhir ini membuat kami babak belur dan terpecah menjadi dua kubu,” Raditya terdengar mendesah panjang.
“Maka berpihaklah kepada kubu yang lurus dan benar. Karena kebenaran tidak akan dikalahkan oleh kemungkaran, sebobrok apapun sistemnya.”
“I did,” suara Raditya tegas.
“Jadikan ini sebagai katalis untuk melakukan bersih-bersih di tempat kalian.”
“Ya, tentu saja. Sekarang jadi semakin terang benderang siapa berpihak di kubu mana,” Raditya terdengar lebih santai.
“Ingat, tidak ada kubu abu-abu. Hitam dan putih itu berbeda. Abu-abu bukan berarti netral tapi sebagai bentuk muka dua yang bermain di dua kaki. Kaum oportunis. Karena abu-abu sebenarnya adalah hitam.”
“I Know. Tentang warna abu-abu...” Raditya terdengar penuh beban, “Ini adalah bagian tersulit dalam memilah. Beberapa bermain cantik sehingga warna abu-abunya terlihat membingungkan.”
“You know what you must to do_Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan_” suara Hans begitu tenang saat berucap.
“Sure.._tentu saja.._” jeda sejenak, “Tuan Hans..”
“Ya?”
“Tentang flashdisk...”
“Ah ya. Agung sudah memberi pesan pada Prince Zuko. Tapi belum ada tanggapan..” Hans memandang Agung yang tersenyum miring.
“Bagaimana? Bagaimana Agung memberi pesan pada Prince Zuko?”
“Dia yang sedang diamati oleh Prince Zuko, pasti akan mudah terlacak diamati di tempat umum kan?”
“I don’t get it_Saya tidak mengerti_”
“Agung cukup mengacungkan flashdisk ke arah kamera CCTV publik area, secara mencolok.”
“Efektif kah?”
“I don’t know. Sampai saat ini belum ada tanggapan.”
“Semoga segera ada titik terangnya. Ini akan jadi titik balik.”
“Semoga saja..” Hans mengatupkan ujung-ujung jarinya.
Bila sudah seperti ini, wajah Italianya terlihat jelas mendominasi.
“Pak Raditya..”
“Ya Tuan Hans?”
“Saya minta, apapun desas-desus di kalangan Bapak, lindungi Adisti.”
“Saya sedang melakukannya sekarang. Insyaa Allah, saya akan melindunginya.”
“Terimakasih banyak Pak Raditya.”
“Sama-sama Tuan Hans. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Panggilan berakhir.
“Artinya Adek dalam bahaya?” Agung berdiri tapi ditahan oleh Indra untuk duduk kembali.
Gawai Hans berdering lagi.
“Assalamu’alaikum. Ya Joe. Laporkan!” Jeda.
“OK. Semua aman terkendali?” Jeda.
“OK. Assalamu’alaikum.” Panggilan berakhir.
Bramasta berdiri.
“Mau kemana Bram?” Hans bertanya dari kursinya.
“Ke Sanjaya Group. Jemput Disti.”
“Jangan bawa heli sendiri..” nada bicara Hans seperti nada seorang kakak kepada adiknya.
“Iya.. Indra sudah mengatur semuanya.”
“Jangan langsung turun di Sanjaya atau B Group...” Hans menatap Bramasta.
“Sekalian gue mau ajak Disti pacaran ke The Cliff. Khalid bawa Thunder. Ba’da Ashar janjian di The Cliff. Mau diajakin main di tebing The Cliff.”
“Wuih keren tuh..” Indra menatap Bramasta, “Videoin ya Bram.”
“Siapa Thunder?” Agung dan Anton bertanya bersamaan. Mereka berdua tahu Khalid karena dikenalkan sewaktu acara resepsi di The Cliff.
“Elang gurun. Piaraannya Khalid,” Hans menjawab.
Semua menjawab salamnya.
“Fii amanillah, Bang..” Agung melambai ke arah Bramasta.
“Jadi bagaimana dengan Raditya?” pertanyaan Indra mengembalikan ke topik utama mengapa mereka berkumpul di markas Shadow Team siang ini.
“Kroscek kita pada tanggal transaksi terhadap nama-nama yang ada pada list, benar adanya,” Anton mengusap matanya yang terlihat lelah.
“Bang Agung juga sudah memeriksa flashdisk catatan keuangan The Ritz yang diberikan oleh anak buah Bang Hans..” Anton memandang Agung yang mengangguk.
“Positif money laundry untuk beberapa rekening Tuan Thakur yang lebih banyak menggunakan nama keluarganya. Juga untuk nama-nama yang terdapat di list yang diberikan Raditya, walaupun mostly bayar pakai uang cash supaya tidak terlacak tapi ada yang menggunakan kartu debitnya untuk pembayaran transaksi di tanggal selang sehari dengan tanggal transaksi. Sepertinya, kewajiban klien untuk membayar 24 jam sebelum memakai jasa mereka,” Agung berbicara sambil menyandarkan punggungnya.
Semua mengangguk mengerti. Lalu serentak menatap Hans.
“Tentang Raditya, setelah hari ini kita telaah dan kroscek hasilnya adalah seperti yang kita harapkan bersama. Dia adalah Inspektur Vijay dalam kasus versus Tuan atau Inspektur Thakur.”
“Fiuhh!” Indra berseru lega.
“Kenapa, Ndra?” Hans terkekeh.
“Setidaknya kita tahu siapa yang bisa kita pegang omongannya dan bisa kita percaya.”
“Bang Leon sudah selesai meetingnya belum? Kita beri goodnews tentang Inspektur Vijay,” Agung mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu dengan aksen resin cyan yang menyala redup karena lampu-lampu kecil di dalamnya.
“Sepertinya belum, Bro. Nanti dia yang akan menghubungi kita,” Anton memakai headsetnya lagi.
Hans tengah sibuk dengan gawainya. Berbicara melalui bluetooth headset, memberi perintah-perintah kepada orang-orangnya juga mendengarkan laporan mereka.
Mendadak tubuhnya tegak saat mendengarkan salah satu laporan anak buahnya.
“Guys, Raditya dalam bahaya besar. Kita beritahu dia atau bagaimana?” Hans memandang semuanya.
Semua saling berpandangan kemudian mengangguk.
“Kita jaga keselamatan Inspektur Vijay,” Anton mengetik sesuatu di laptopnya. Laptopnya tersambung pada layar proyektor.
Peta Kota Bandung terpampang di layar proyektor. Sebuah titik merah berpendar di salah satu bangunan yang ada di dalam peta.
“Dia ada di GOR Saparua?” Anton menatap penuh tanya, “Apa yang dilakukannya di sana?”
Telapak tangan Hans terarah ke Anton. Meminta Anton untuk menahan diri. Tangan satunya lagi memegangi headsetnya.
“OK!” Hans mematikan panggilannya dan segera membuat panggilan pada Raditya.
Panggilannya terhubung dan diterima.
“Pak Raditya, Anda percaya dengan saya? Darurat Pak. Segera keluar dari gedung tempat Bapak berada sekarang ini.”
“Ada apa? Cepat jelaskan!” suara Raditya terdengar berbisik.
“Keluar dari GOR Saparua sekarang. Apapun yang terjadi. Segera lari ke mobil Bapak. Tinggalkan tempat itu. Sekarang juga. Jangan putuskan sambungan ini."
"Baik. I trust you a lot!" Raditya masih berbisik, kemudian terdengar suara nafasnya yang agak terengah. Sepertinya dia sedang berlari.
Nafasnya terdengar semakin terengah.
“D4 mn!!” Raditya memaki.
Terdengar gesekan suara logam. Sepertinya kunci yang dimasukkan ke dalam lubang kuncinya. Kemudian suara starter elektrik ditekan.
“Anda memakai motor?” raut wajah Hans terlihat tegang.
“Ya. Mobil saya di bengkel akibat kejadian kemarin,” suara Raditya terlihat terburu-buru, “Oh my God! Saya harus kemana sekarang?”
Hans mengamati peta dengan titik merah yang terus bergerak menjauh dari GOR Saparua.
“Arahkan ke Pasar Bunga Wastu Kencana, beli bunga di sana. Seolah-olah untuk istri..”
“Ma’af, saya duda.”
“Kalau begitu untuk pacar Anda.”
“Tuan Hans,” suara Raditya terdengar penuh tekanan.
“Ya?” Hans menanti kalimat berikutnya dengan cemas.
“Saya jomblo!” suara Raditya terdengar jengkel. Bunyi raungan gas khas motor matic terdengar di audio ruang rapat Shadow Team.
.
***
Mereka ngapain sih???
Singgah ke Mr. Secretary ya.. Bab Indra sudah ketemu dengan pemilik suara anak-anak dalam mimpinya sudah tayang ya..
Jangan lupa subscribe dan like di setiap babnya. Dukung Author ya.. 🙏🏼