
“Abang..” bisik Adisti ketika memasuki ruangan Agung, “Kakak bagaimana?”
“Sini, duduk di sini..” Bramasta berdiri, menyediakan kursinya yang tadi ia duduki untuk dipakai istrinya.
Kursi satunya tadi disingkirkan ke pojok ruangan oleh salah satu petugas medis saat melakukan tindakan kepada Agung.
“Kakak.. tadi kenapa? Jangan buat kita semua cemas, Kak..” Adisti mencium punggung tangan Agung, “Bangun Kak.. Ayah dan Bunda sedang dalam perjalanan kemari.”
Agung tidak bereaksi. Masih terdiam dan bernafas teratur. Adisti merapikan selimut yang dikenakan Agung.
Bramasta meletakkan kursi yang di samping Adisti. Notifikasi pesan chatnya berbunyi. Bramasta membacanya. WAG Kuping Merah.
Indra_@Bramasta, Agung tadi seperti itu setelah Anton menceritakan tentang bekas jari di pipi Adinda. Sepertinya itu memancing Agung untuk sadar_
Bramasta_Jadi harus gue pancing lagi tentang Adinda?_
Anton_Coba saja Pak Bos_
Bramasta_Tapi kata perawat, Agung sekarang dalam kondisi tidur_
Hans_Kita tadi cek video yang direkam Adisti, Agung merespon semua ucapan Adinda. Ada bunyi alarm monitor setiap Adinda berbicara tentang kesedihannya_
Leon_Beri waktu 15 menit untuk dia tidur. Setelah itu ajak bicara tentang Adinda_
Hans_Buka tirainya, Bram. Kita ingin lihat kondisi Agung. Adinda dari tadi nangis terus_
Bramasta_OK_
“Sayang, tolong bukakan tirainya ya.”
Adisti mengangguk. Dia membuka tirai jendela. Anggota Kuping Merah plus Adinda sudah berdiri di depan jendela.
15 menit berlalu. Bramasta memegang lengan Agung.
"Kakak Ipar, kapan mau bangunnya? Apa perlu Abang cium adik Kakak Ipar di sini sekarang?” Bramasta berkata sambil memandangi tetesan infus warna kuning dan bening.
“Isssh Abang ngomong apa sih?” Adisti memukul lengan atas suaminya.
“Supaya jiwa jomblonya meronta-ronta, Sayang..” kekeh Bramasta.
“Gak gitu juga kali!” Adisti mencebik.
“Cobain yuk,” Bramasta tersenyum lebar.
“Gak mau. Jadi tontonan para petugas medis atau itu tuh yang lihatin dari jendela."
“Ah, Hans dan Bang Leon ini.. Udah senior mereka mah..”
“Itu ada Adinda juga!”
“Eh, iya. Ada anak di bawah umur. Cantik ya Adinda,” Bramasta tersenyum lebar menatap Agung.
Sengatan rasa panas menyerang lengan atasnya membuatnya berjengit kesakitan.
“Ya Allah.. Disti. Sakit tahu!”
“Gitu! Di depan istrinya muji cewek lain. Dasar ya laki-laki! Enak cubitannya? Mau nambah lagi??”
“Nggak! Ampun deh. Ma’af..” Bramasta terkekeh.
Suara bip terdengar dari monitor. Bramasta tersenyum senang.
“Tapi Abang jujur loh saat menilai Adinda. Dia memang cantik, anaknya juga polos banget ya.”
Bramasta mengamati Agung lagi.
“Anton dan Indra terlihat terpesona dengan Adinda. Walaupun kata Indra tipenya bukan anak ingusan,” Bramasta terkekeh lagi.
Suara bip terdengar lagi. Bramasta mengacungkan ibu jarinya ke arah jendela. Adisti menatapnya heran.
“Abang kenapa sih? Mau dicubit lagi?”
“Nggak Sayang.. Abang cuma berusaha membuat penilaian obyektif untuk Kakak Ipar.”
“Maksudnya?”
“Abang setuju kalau Kakak Ipar dengan Adinda.”
“Iya kalau Kakak ada rasa, kalau nggak?”
“Kalau nggak, masih ada 2 jomblo yang lain di Kuping Merah.”
Suara bip bip terdengar.
“Tadi sewaktu Adinda menceritakan dirinya, Disti gak kuat Bang. Hidupnya sepertinya berat banget ya. Semuda itu menghadapi semuanya sendirian.”
“Karena dia kuat, makanya Allah mengujinya seperti itu.”
“Disti khawatir dengan teman dekat ibu tirinya. Khawatir suatu saat dia bosan dengan ibu tirinya lalu mulai mengganggu Adinda.”
“Maksud Disti?”
“Disti gak mau Adinda mengalami kejadian buruk oleh teman kencan ibu tirinya.”
“Pelecehan?”
“Banyak kasusnya kan?”
Bramasta mengangguk. Wajahnya juga murung membayangkan hal tersebut.
“Andai saja Disti tidak membelikan motor untuk Kakak... mungkin peristiwa ini gak akan terjadi ya Bang,” tangan Adisti menggenggam tangan Agung.
“Jadi kalau waktu bisa diputar kembali, Disti mau belikan Kakak Ipar mobil?”
Adisti mengangguk, “Walaupun bukan mobil baru karena uang Disti belum mencukupi.”
“Kan ada Abang..”
“Isssh ini kan hadiah dari Disti bukan dari Abang..”
Adisti tersentak kemudian mendongak menatap Agung kemudian menatap suaminya. Wajahnya terlihat tegang.
“Ada apa?” tanya Bramasta.
“Kakak Ipar kenapa?”
“Dia merem@s tangan Disti!" Adisti menatap Agung dan Bramasta bergantian tidak percaya, "Kakak merem@s tangan Disti!”
“Is it true? Bukan perasaan Disti saja?”
“Yes, it’s true! Ini bahkan barusan rem@san Kakak terasa lagi!”
Bramasta langsung sigap menekan tombol perawat.
“Kakak... ayo bangun Kak!”
Seorang perawat datang tak lama kemudian.
“Ya, ada apa Tuan?”
“Barusan, beberapa kali tangan istri saya direm@s oleh kakaknya.”
“Coba saya periksa dulu ya,” perawat tersebut memeriksa mata Agung dengan menggunakan senter kecil. Lalu membaca angka-angka yang terdapat pada monitor.
“Perkembangannya semakin baik, Tuan. Terus ajak Tuan Agung untuk berbicara. Pancing supaya dia meraih kesadarannya sendiri.”
“Kakak.. Kakak dengar kata perawat tadi kan? Coba sekarang Kakak meremat tangan Adek lagi..”
“Bagaimana?” tanya perawat tersebut.
Adisti menggeleng sedih.
Perawat tersebut memeriksa mata Agung lagi.
“Ah.. pantas, dia tertidur. Sepertinya usaha untuk meraih kesadarannya butuh perjuangan yang luar biasa yang menguras energinya,” kata perawat tersebut sambil mencatat sesuatu di papan klip.
“Kira-kira beri waktu berapa menit untuk dir@ngsang kembali supaya Kakak Ipar tersadar, Suster?”
“15-20 menit cukup Tuan.”
Bramasta mengangguk.
“Saya permisi dulu, nanti kalau ada perkembangan sekecil apapun tinggal pencet tombol perawat saja ya.”
Bramasta dan Adisti mengangguk.
“Terima kasih banyak,” ucap Bramasta dan Adisti bersamaan.
Notifikasi pesan chat berdering, WAG Kuping Merah.
Indra_Ada apa Bram? Kenapa wajah kalian kaget begitu?_
Bramasta_Agung meremat tangan Disti_
Leon_Sebelumnya kalian ngobrolin apa?_
Bramasta_Kekhawatiran Disti terhadap keselamatan Adinda yang tinggal dengan ibu tirinya yang selalu membawa masuk teman laki-lakinya_
Leon_Maksudnya?_
Bramasta_Disti khawatir Adinda mengalami pelecehan oleh teman ibu tirinya_
Hans_Kemungkinan itu ada. Apalagi kalau ada kesempatan dalam kesempitan_
Bramasta_Gue gak mau bayanginnya. Gak tega_
Anton_Terus tindakan preventif kita apa? Ungsikan Adinda dari rumahnya sendiri? Impossible_
Bramasta_Shadow Team bisa mengawasi Adinda di rumahnya?_
Hans_Pasang kamera pengintai dalam ruangan rumahnya? Harus meminta izin Adinda dahulu. Dan dilakukan saat ibu tirinya tidak berada di rumah_
Leon_Ide bagus. Tapi seberapa cepat Shadow Team bisa berada di lokasi untuk menyelamatkan Adinda bila terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan?_
Indra_Kita gak bisa terlalu mengandalkan Shadow Team dalam hal ini. Kalau kita libatkan warga sekitar bagaimana?_
Anton_Yakin Bro? Bagaimana kalau warga yang kita mintai tolong adalah teman dari ibu tirinya atau bahkan temannya pacar ibu tirinya itu?_
Indra_Lu yakin mereka pacaran?_
Anton_Gue yakin kalau dengar dari cerita Adinda_
Bramasta_Adinda masih dibawah umur untuk hidup sendirian. Kita minta tolong kepada Ketua RT dan Ibu RT serta tetangga sebelah rumah Adinda, bagaimana? Tentang kekhawatiran Anton, nanti kita lihat saat meminta tolong kepada mereka. Menilai langsung personalnya_
Leon_OK. Siapa yang akan menghadap Pak RT dan tetangga?_
Bramasta_Gue, Disti dan Indra. Indra disukai para ibu-ibu (Emot tawa)_
Indra_Setdah!_
Anton_Mungkin karena Bro Indra mirip Chow Yun Fat ya. Aktor sejaman para ibu-ibu. Kalau Taehyun BTS hanya dikenali oleh para ABG dan Mahmud saja (Emot ngakak)_
Indra_Lu mau ngomong wajah gue itu wajah jadul, Ton?_
Anton_Gak Bro! Ampun Bro (emot ngakak 3x)
Perang stiker ngakak terjadi di WAG.
Hans_Bram, Ayah dan Bunda sudah sampai_
Bramasta_Ajak obrol tentang kondisi Agung juga kenalkan dengan Adinda_
Leon_Sebagai calon mantu?_
Bramasta_Haisszzh! Nggak lah. Itu urusan Kakak Ipar dan Adinda, kita gak punya hak untuk mencampuri terlalu jauh_
.
.
***
Agung bangun dong, jangan pakai lama...