
Bahkan saat sarapan pun Bramasta masih merayu Adisti untuk diperbolehkan ikut mendampingi acara girl time-nya.
“Abang kenapa sih?” Adisti menyeka tangannya dengan hand towel setelah mencuci piring bekas sarapan mereka.
Bramasta masih mencebik. Tangannya memegang mug baru. Untuknya mug hitam sedangkan untuk Adisti, mug putih.
“Nanti Abang kesepian di kantor..” Bramsata melirik Adisti sambil menyesap kopinya.
Adisti terkekeh. Mendekati suaminya, memeluk dari arah belakang, lalu membisiki sesuatu. Bisikannya diakhiri dengan kecupan lembut di pipi suaminya.
Bramasta meletakkan mugnya di atas meja. Lalu menoleh pada istrinya. Alisnya terangkat sebelah.
“Beneran?”
Adisti mengangguk sambil tersenyum simpul.
“Abang boleh request warna?”
“Nope!”
“Request modelnya deh..”
“Double nope.”
Bramasta menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Pokoknya semua terserah Disti. Gimana Disti aja. OK?”
“Iya deh.”
“Jangan rewel lagi ya..”
“Peluk dulu..”
Adisti membiarkan Bramasta memeluknya. Tangannya menyambar remote, diarahkan pada TV. Berita pagi ini dihebohkan dengan Prince Zuko, Tosca Imperial, Tuan Thakur.
Bramasta dan Adisti menonton berita dengan penuh minat. Breaking news saat tayangan berita membuat Bramasta dan Adisti saling berpandangan.
Efek domino dari spill-an video-video rekaman CCTV Prince Zuko membuat instansi tempat bernaung Tuan Thakur melakukan penonaktifan massal untuk para anggotanya termasuk para perwira tingginya yang terlibat dalam pelarian Tuan Thakur dari rumah sakit.
Hingga pagi ini, keberadaan Tuan Thakur belum diketahui. Namun para petugas bersiaga di penyeberangan menuju Siangapura dari pelabuhan dan bandara Batam.
Breaking News diakhiri dengan beberapa adegan dari video spill-an Prince Zuko tentang Tuan Thakur. Video dari CCTV depan kamar jenazah, penampakan Tuan Thakur yang sedang tertawa saat dalam mobil dan video Tuan Thakur saat sedang menghisap cerutu sambil mengamati laptop yang memperlihatkan kejadian langsung peristiwa berdarah di Tosca Imperial berkedok penggerebekan.
“Wah, Tuan Thakur bisa kabur dari Batam gak ya Bang? Mengingat Batam hanya sebuah pulau kecil,” tanya Adisti saat iklan ditayangkan setelah breaking news.
Kabar tentang The Ritz, tuntutan hukum dari para pemilik brand dagang designer dunia kepada The Ritz dengan ganti rugi yang sangat fantastis.
“Rita tragis banget hidupnya ya,” komentar Adisti sambil mematikan TV dengan remote.
Mereka beranjak menuju kamar untuk berganti baju, bersiap hendak ke kantor.
“Mungkin ini buah dari perbuatannya juga. Dia terlibat woman trafficking bersama suaminya, Ferdi Gunaldi,” Bramasta membuka pintu lemarinya, "Do'a orang yang teraniaya itu makbul. Mungkin ini jawaban do'a dari para orangtua yang anak gadisnya diperdagangkan. Juga do'a para gadis yang dijual olehnya."
Adisti mengangguk setuju.
“Disti sudah siapkan baju Abang,” Adisti menunjuk kemeja dan celana panjang yang tergantung di handle lemarinya.
Warna kemeja yang diipilihkan Adisti untuk Bramasta sama dengan warna pashmina yang ia kenakan, sage. Bramasta tersenyum sambil mendekati istrinya.
“Thanks, Bu Istri..”
Bibirnya menyentuh pipi Adisti, lama. Membuat Adisti bergidik.
“Geli, Bang..”
Bramasta terkekeh.
Pukul 08.00, setelah Adisti memastikan apartemen dalam keadaan aman, mereka meluncur menuju Gedung B Group.
“Kelanjutan The Ritz bagaimana ya nantinya?” tanya Adisti saat mereka berada dalam mobil.
Mobil melaju mulus dikendarai oleh driver.
Jemari kanan Adisti ada dalam genggaman jemari kiri Bramasta.
Iseng, Bramasta mengarahkan kamera gawainya pada tautan jemari mereka. Adisti yang sedang menatap jendela samping menoleh mendengar suara kamera gawai.
“Lokasi gedungnya bagus. Strategis ya.”
Bramasta mengangguk.
“Kira-kira berapa harganya?”
“Kalau dijual karena terdesak biasanya sih dibawah harga pasar. Tapi kita tidak tahu kondisi keuangan Rita. Siapa tahu dia punya aset-aset lainnya yang bisa dijual untuk menutupi tuntutan hukum para pemilik brand internasional itu.”
Mereka terdiam. Bramasta mengerutkan keningnya lalu menoleh pada istrinya.
“Kenapa? Disti berminat dengan gedung The Ritz?”
Adisti membelalakkan matanya.
“Are you kidding me? Buat apa beli sarang ular? Banyak tragedi di dalamnya. Anak buah Rita yang ditembak Tuan Thakur, mati di tempat kan? Transaksi gabruk-gabrukan online terjadi di sana walau TKP penggabrukannya di tempat lain. Belum lagi tempat itu jadi tempat maksiat si Medusa dengan para lelaki lain selain suaminya. Disti lihat pakai mata kepala Disti sendiri, langsung di depan mata.”
Adisti menggidikkan kedua bahunya. Bramasta tertawa melihat tingkah istrinya.
“OMG... gabruk-gabrukan online..”
Bramasta menyeka sudut matanya yang basah karena tertawa,
“By the way, Rita itu seorang predator.”
“Maksudnya?” Adisti menatap tidak mengerti.
“Dia pengincar lelaki muda. Yang good looking dan masih polos.”
Mata Adisti membulat.
“Diporotin duitnya?”
Bramasta menggeleng.
“Untuk kepuasan obsesi Rita. Just for fun. Gabruk-gabrukan only.”
“Darimana Abang tahu?”
“Penyelidikan Shadow Team dan Indra. Untuk menekan Hilman Anggoro atas semua perbuatan yang sudah mereka lakukan kepada Keluarga Gumilar.”
Adisti termangu.
Bramasta berdehem.
“Sewaktu Prasetyo datang malam-malam ke ruangan rawat inap Disti, Kakak Ipar meminta bantuan pada Abang. Karena sebelumnya Abang memang sudah menawarkan bantuan untuk mengambil kembali hal yang semestinya tidak perlu Keluarga Gumilar berikan kepada mereka.”
Adisti menoleh menatap suaminya. Lalu memeluknya erat.
“Terima kasih,” suara Adisti tercekat, “Terima kasih sudah membantu kami. Terima kasih sudah membantu untuk mengembalikan kehormatan keluarga kami.”
“Hey.. sudah. Gak apa-apa. Bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan. Sudah.. jangan menangis. Kita sudah melewatinya dengan baik. Allah menunjukkan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.”
Bramasta menyodorkan tisu pada Adisti.
“Jangan menangis lagi. Abang sedih kalau lihat Disti menangis.”
Adisti menyusut air matanya dengan hati-hati.
“Kalau nangis lagi, Abang cium nih sekarang juga.”
“Isssh apaan sih Abang..”
.
***
Update pagi-pagi nih..
Masih ingat saat Prasetyo mengunjungi Adisti di rumah sakit kan?
Hayo yang lupa, scroll up lagi babnya.
Siapa tahu lupa meninggalkan jejak juga di bab yang udah lewat... 😁