CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 261 – KEBETULAN



“Bunda sudah tahu kamu ke kantor Om?” Agung menatap Adinda saat mereka duduk di kafetaria, di meja dekat jendela besar.


Adinda menggeleng. Wajahnya kusut.


“Kamu kenapa sih? Kok marah-marah terus ke Om? Sedang PMS?”


Adinda mendengak menatap Agung.


“Apaan sih Om Agung ini..”


“Terus?”


“Ujiannya susah banget. Banyak jawaban jebakan betmen...” bibir Adinda mencebik.


“Maksudnya?”


“Pilihan jawabannya banyak yang mirip-mirip..” matanya sudah berkaca-kaca.


“Udah dong. Cuma ujian doang.”


“Tapi ini kan ujian akhir, Om.”


“Pasti lulus..” Agung tersenyum, “Sudah ya, jangan nangis.”


“Tapi nilainya gak sesempurna nilainya Om Agung ataupun Teh Disti.”


“Kata siapa?”


“Semua piala, semua plakat dan semua sertifikat penghargaan yang ada di ruang tengah dan lemari pajangan bikin Dinda insecure, tahu gak?”


Agung tersenyum.


“Kamu gak perlu harus tampil sempurna, harus punya nilai sempurna. Kamu sudah sempurna bagi saya, bagi Disti, bagi Bunda dan bagi Ayah. Tetaplah jadi diri kamu sendiri. Kami tahu perjuangan kamu untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Jadi jangan sedih, OK?”


Pramusaji datang membawa pesanan Agung dan Adinda. Soto Mie Bogor dan Mie Bakso.


“Terimakasih ya Mbak..” kata Agung.


“Makasih Mbak..” Adinda mengangguk kepada pramusaji itu.


“Om gak makan?” Adinda mengernyit saat melihat Agung meraih gawainya.


“Masih panas. Om mau telepon Bunda dulu.”


Saat sedang berbicara dengan Bunda, Agung menepak tangan Adinda yang tengah menambahkan sambal pada baksonya.


"Apa-apaan ini? Berapa sendok sambal yang kamu masukin? Kamu mau makan bakso atau makan sambal sih?” Agung melotot pada Adinda, “Bun.. bilangin tuh Bun. Nyambelin baksonya gak kira-kira Bun..”


“Om, kalau gak pedes gak enak, tahu..”


“Kamu sedang ujian, nanti kalau sakit perut bagaimana?”


Adinda memasang cengirannya.


“Jangan dholim ke pedagang baksonya. Cabe sedang mahal. Kasihan,” Agung berbicara lagi dengan Bunda,”"Bun, udah dulu ya Bun. Setelah makan, Dinda bakal langsung pulang ke rumah. Assalamu’alaikum..”


Seseorang memindahkan saluran TV ke TV berita. Breaking News. Reporter menyebut-nyebut nama Raditya.


Adinda yang duduk membelakangi TV merasa kesulitan untuk menontonnya.


“Pindah ke samping saya supaya kamu bisa nonton TV juga.”


“Ada apa dengan Pak Raditya?”


“Tayangan Prince Zuko semalam sudah membuat perubahan yang banyak dalam tubuh instansinya Pak Radit.”


“Ah ya.. teman-teman juga heboh membicarakan Prince Zuko semalam,” Adinda menatap intens Agung. Matanya dipicingkan.


“Kenapa? Om ganteng banget ya?”


Adinda tidak menjawab.


“Ada apa sih? Ada upil yang menggantung di hidung?” Agung mengambil tisu untuk membersihkan hidungnya.


“Om! Ih jorok amat sih? Lagi makan juga..”


“Terus kenapa kamu lihatin Om sampai segitunya?”


“Saya cuma penasaran, semalam Om Agung jadi power ranger hijau lagi ya?”


Agung yang tengah menyuap soto mie mendadak berhenti dan menoleh.


“Baksonya pedas gak?”


“Be aja.”


“Mau nambah lagi sambelnya?”


“Memangnya boleh?”


“Nggak.”


“Dih!”


Agung tersenyum. Lega bisa mengalihkan topik pembicaraan yang menyerempet bahaya.


“Jadi itu sebabnya Pak Raditya untuk sementara di tempat Om Agung?” Adinda berbisik.


“Ada ancaman serius yang diterima Pak Raditya.”


Mata Adinda melebar.


“Bang Hans yang memerintahkan Pak Raditya untuk sementara tinggal dengan Om. Kamu lihat tayangan rekaman CCTV di tempat parkir mobil GOR Saparua?”


Adinda mengangguk. Menelan makanannya dengan cepat. Masih berbisik pada Agung.


“Sepertinya Bang Hans itu bukan sekedar sekretarisnya Daddy ya Om?”


“Menurut kamu?”


“Dia sama dengan Om Agung. Power Ranger!”


Agung mengerjap.


“Boleh minta banana split lagi Om? Dengan kue-kue kecil di sebelah sana?”


“Kamu lapar?”


“Mood booster Om, setelah diprank soal ujian..”


Agung terkekeh.


“Ya sudah. Tapi kamu yang pesan sendiri ya. Sekalian pesankan cappucino buat saya. Ini uangnya.”


*


“Kalian sedang menonton apa?” tanya Adisti sambil menutup pintu penghubung ruangannya.


“Acara honeymoon kita hari ini batal, Sayang. Abang sudah batalkan reservasinya. Ma’afkan ya..” Bramasta melirik sebentar istrinya lalu fokus lagi ke TV. Tangannya terulur ke arah istrinya, meminta istrinya untuk berdiri di dekatnya.


“Honeymoon apa?” Indra menoleh menatap Bramasta dan Adisti.


“Lunch honeymoon,” jawab Adisti.


“Apaan tuh?” Indra menoleh lagi.


Bramasta menatap Indra.


“Lebih baik jangan tahu deh. Gue mah baik. Khawatir Lu malah makin nestapa..”


“Issh!” Indra memalingkan wajahnya lagi ke arah TV.


Kemudian menunjuk ke arah TV, “Pelantikannya lusa.”


Bramasta terlihat khawatir. Dia memandang kepada Indra.


“Lu berpikir hal yang sama juga dengan gue, Bro?”


Indra mengangguk.


“Mereka akan semakin menggila. Perombakan besar-besaran ini pasti membuat kubu Tuan Thakur marah.”


“Ada apa dengan Pak Raditya?”


“Kenaikan pangkat, jabatan dan kedudukannya dalam hierarki kepemimpinan atas kinerja dan desakan masyarakat juga para anggota dewan.”


“Masyaa Allah..”


“Bang Hans sedang otewe ke tempat Raditya. Kita tunggu kabar dari Bang Hans saja.”


“Kalian mau makan siang di sini? Disti pesanin ya. Mau makan apa?”


“Ingin yang berkuah..”


“Kalau berkuah mending makan di tempatnya saja. Jangan dibungkus. Ribet..” Adisti menyimpan kembali gawainya.


“Ya sudah. Yuk..” Bramasta meraih pinggang istrinya.


“Kemana?” Indra mengangkat sebelah alisnya.


“Soto?” Bramasta tersenyum lebar.


“Tempatnya B Group? Yuk!” Indra bersemangat sekali.


“Sotonya enak?” Adisti berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah kedua pria jangkung itu.


“Enak pakai banget..” Indra terkekeh.


“Satu mobil saja ya Ndra.”


“Tapi pakai driver ya. Gue lagi males nyetir. Betis gue sakit. Semalam kram..” Indra menggulung lengan kemejanya.


Adisti terkekeh.


“Old man..!”


“Bram..!”


*


Cafe & Resto milik B Group penuh saat jam makan siang. Tapi selalu ada tempat untuk para petinggi B Group ataupun Sanjaya Group.


“Ada Tuan Hans di VVIP 3, Tuan,” kata Manajer Cafe.


Indra dan Bramasta saling berpandangan.


“Tuan Hans dengan siapa, Pak?” tanya Indra.


“Tuan Hans dengan Pak Raditya.”


Bramasta langsung mengambil gawainya. Membuat panggilan dengan Hans.


"Assalamu’alaikum.. Hans. Gue, Indra dan Disti ada Cafe & Resto B Group. Is it OK if we’ll join wih you?”


Jeda. Bramasta tengah mendengarkan suara Hans.


“Nggak. Kami baru saja sampai.”


Jeda lagi.


“OK. Thanks a lot ya..”


Bramasta meletakkan lagi gawainya di saku jasnya.


“Well?” Adisti menggamit lengan suaminya.


“Yuk kita gabung mereka,” Bramasta tersenyum lebar.


Indra melangkahkan kakinya sambil tersenyum lebar juga.


.


***


Ini yang dinamakan pucuk dicinta, ulam pun tiba.