CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 148 – LUKA



RUMAH SAKIT XXX


RUANG RAWAT INAP VIP


Agung sudah menelepon perawat untuk jam bezuk siang, dirinya tidak meneima kunjungan. Hari ini dia sudah mulai aktif di Sanjaya Group lagi meskipun hanya sebatas online.


Ayah sejak pagi tadi ada jadwal mengajar sedangkan Bunda ada jadwal mengisi acara pengajian di majelis. Tadinya Bunda akan meminta tolong temannya untuk menggantikannya tetapi dicegah oleh Agung.


“Udah, Bunda pulang saja dulu sebentar. Gak enak Bunda jadi sering absen mengisi pengajian karena sering menunggui Adek dan Kakak di rumah sakit.”


“Tapi Kakak nanti siapa yang menemani?”


“Bunda gak usah mengkhawatirkan Kakak. Kakak sudah bisa turun dari tempat tidur, sudah bisa ke kamar mandi sendiri, ambil minum sendiri,” Agung memegang tangan Bunda sambil tersenyum.


“Tapi Kak.. Bunda gak tega ningalin Kakak sendiri di sini.”


“Bun, hari ini Kakak sudah mulai sibuk karena sudah mulai ngantor. Bunda bakal bete karena Kakak bakal fokus kerja. Udah, gak apa-apa. Ada perawat ini yang bisa dipanggil sewaktu-waktu kalau memang Kakak butuh sesuatu.”


“Bunda siap-siap ya. Kakak panggil driver ke atas untuk bantu Bunda bawa baju kotor.”


“Kok Bunda berasa diusir ya?” canda Bunda dengan cengiran khasnya yang mirip Adisti.


“Dih Bunda..”


“Becanda Kak.. serius amat. Kakak mau dibawain apa?”


“Gak.. gak ingin apa-apa.”


Agung sedang mengadakan meeting zoom ketika diinterupsi oleh perawat.


“Ma’af Tuan Agung, cek tensi dulu ya. Obatnya sudah diminum kan?”


Agung menoleh pada perawat yang memeriksa. Dan langsung menyodorkan lengannya pada perawat.


Perawat tadi menoleh pada laptop. Kaget karena ada wajahnya di sana. Kemudian memandang Agung bergantian dengan layar laptop.


“Waduh ma’af.. sedang meeting ya. Ma’af mengganggu.. Saya tidak tahu Tuan Agung sudah mulai bekerja hari ini.”


Agung hanya tersenyum menanggapi ocehan perawat.


Terdengar suara peserta meeting tertawa.


“Pak Agung, perawatnya cantik ya. Jangan-jangan nanti Pak Agung jadi betah di rumah sakit..”


Suara tawa semakin keras ditimpali dengan suara ciyeee-ciyeee.


“Suster jadi tenar di kantor tuh..” kata Agung terkekeh, “Dadahin aja mereka Suster..”


Perawat tertawa sambil menatap laptop lalu melambaikan tangannya. Suasana riuh terdengar di sana,


“Ma’af Tuan-tuan, saya mengerjakan tugas saya dulu ya.”


Perawat tadi membalikkan badannya. Menatap pada Agung.


“Infusnya dilepas ya Pak. Tadi perintah dokter seperti itu.”


“Sekarang?”


Perawat mengangguk.


“Saya harus berbaring atau duduk saja seperti ini?”


“Senyamannya Tuan Agung saja.”


Perawat memakai sarung tangan. Mematikan aliran infus lalu mempersiapkan alcohol swab, plester dan kapas.


Selang infus dilepas. Jarum yang menancap pada pembuluh darah juga dilepas setelah sebelunya menggosok area kulit sekitarnya dengan alcohol swab.


“Tahan ya, bismillahirrahmaanirrahiim..” Perawat mencabut perlahan jarumnya.


Lalu menekan luka bekas jarum dengan menggunakan kapas. Tangan satunya merekatkan plester dengan kuat untuk menjaga kapasnya tidak bergeser.


“OK. Selesai,” Perawat tersebut membereskan semuanya.


“Terimakasih banyak Suster.”


“Kalau ada apa-apa panggil perawat saja ya. Permisi Tuan Agung.”


“Pak Agung, sakit gak?” tanya salah seorang peserta meeting.


“Nggak.. Mau coba?”


Yang lainnya tertawa.


Meeting dilanjutkan lagi. Belum juga 10 menit, suara pak Dhani menginterupsi meeting.


“Gung, tangan kamu berdarah.”


Yang lain berseru kaget dan heboh.


Agung menatap lengan bekas infusannya. darah mengucur, membasahi seprai dan selimut.


“Subhanallah..”


Segera Agung menekan luka dengan jarinya. Tangan yang terluka, ia pakai untuk memencet tombol perawat.


Perawat datang dengan segera.


“Ya, ada apa, Tuan?”


Dia melihat kondisi Agung lalu segera berlari. Mengambil kapas dan plester di laci medis. Lalu segera memlester ulang luka bekas infusan.


“Dibantu tekan dengan tangan satunya, ya.”


Agung mengangguk. Perawat membantu membersihkan lengan Agung yang terkena darah dengan menggunakan tisu basah.


Agung tiba-tiba teringat Adinda. Bocah itu pasti akan segera membantu membersihkan lengannya tanpa permisi terlebih dahulu. Tanpa tahu akibat sentuhan tangannya pada tubuh Agung.


“Biar saya bersihkan sendiri di kamar mandi,” kata Agung.


Perawat itu mengangguk. Perawat meletakkan laptop Agung pada meja beroda yang biasa dipakai pasien untuk makan. Sementara dia dengan cekatan melucuti seprai dan sarung bantal.


Menggantinya dengan yang bersih yang dia ambil dari lemari bawah yang menempel di dinding. Bed Agung sudah rapi dan bersih dengan selimut dan seprei baru.


Seprai dan selimut kotor ia gulung lalu disimpan di lemari khusus laundry di lemari dekat pintu kamar mandi. Sore nanti akan ada petugas laundry yang akan mengambilnya.


Agung menatap wajahnya di cermin washtafel. Tangannya sudah ia cuci. Dia membasahi wajahnya ketika teringat dengan Adinda. Dia merindukan bocah itu. Merindukan celotehnya. Merindukan tingkahnya. Senyumnya dan tawanya yang membuat dekik kecil di bawah matanya.


“Dinda, sedang apa kamu?” gumam Agung pada pantulan dirinya.


Agung membuka pintu kamar mandi. Perawat sudah membereskan peralatan medis ke lacinya. Dia menoleh pada Agung.


“Tuan, laptopnya tadi saya pindahkan dulu. Sekarang bednya sudah siap ditempati lagi. Tekan dulu plesternya selama 15 menit ya. Khawatir lepas lagi nantinya. Saya permisi dulu.”


“Terimakasih banyak, Suster..”


Perawat tersebut mengangguk sambil tersenyum, “Sama-sama, Tuan.”


Kemudian perawat tersebut berbalik, “Ma’af, Ibu kok tidak kelihatan?”


“Bunda sedang ada perlu di rumah.”


“Tuan Agung sendirian?”


Agung mengangguk sambil tersenyum.


“Wah, baru kali ini ada pasien VIP yang sangat mandiri seperti Tuan Agung. Hubungi perawat bila butuh bantuan, ya.”


Agung mengangguk sambil tersenyum. Matanya menatap layar laptop lagi.


“Ma’af.. jadi banyak interupsinya ya,” Agung tersenyum malu pada peserta meeting.


“Gak apa-apa, Pak. Berasa lagi nonton film,” kata seorang peserta disertai suara tawa dari yang lainnya.


“Jarang-jarang kita meeting ada interupsi seperti tadi. Malah baru kali ini, ya.”


Yang lainnya mengangguk setuju.


Suara notifikasi pesan chat Agung berbunyi. Agung mengabaikannya.


“Gung, kamu gak pusing?” tanya Pak Dhani.


“Nggak Pak.”


“Kamu sendirian di situ?” tanya pak Dhani lagi.


“Iya Pak. Gak apa-apa. Saya sudah bisa turun dari bed. Infusan juga sudah dilepas. Perawat juga mudah dipanggilnya.”


“Apa perlu salah seorang anak buah kamu saya suruh ke situ ya?”


“Gak perlu Pak. Saya baik-baik saja. Kita lanjutkan lagi meetingnya.”


“OK. Tapi kamu jangan memaksakan diri ya. Kamu bisa left meeting kalau kamu merasa lelah atau pusing.”


“Iya Pak. Terimakasih banyak.”


Suara notifikasi pesan chatnya berbunyi lagi.


Meeting dilanjutkan. Membahas laporan keuangan bulan lalu. Agung membaca laporan keuangan yang dikerjakan anak buahnya selama dirinya di rumah sakit.


Suara notifikasi pesan chatnya berbunyi lagi. Agung meraih gawainya dari atas nakas. 3 voice note dari Adisti.


Agung_Ada apa Dek? Tumben voice note. Kakak sedang meeting_


Adisti tidak membalas pesan chatnya. Agung kembali pada meetingnya. Meeting berakhir 30 menit kemudian.


Pesan chatnya berbunyi lagi. Agung menatap layar gawainya. Dari Pak Dhani.


Pak Dhani_Indra dalam perjalanan ke rumah sakit. Saya minta dia untuk temani kamu_


Agung mengangkat kedua alisnya.


Agung_Jadi merepotkan, Pak. Padahal saya tidak apa-apa_


Pak Dhani_Saya gak tega lihat kamu sendirian di sana. Sudah jangan merasa sungkan_


Agung_Terimakasih banyak, Pak_


Agung membuka voice note dari Adisti yang tadi diabaikannya.


Sambil menunggu download voice notenya, dia memakai headset. Tubuhnya menegang ketika mendengar suara yang terdengar. Bukan suara adiknya, melainkan suara Adinda.


Ada yang terasa sakit, tapi bukan luka infusan, bukan pula luka operasi.


.


***


Nah loh...