
LANDMARK APARTMENT
Bramasta yang turun diteras lobby penthouse melihat pantulan dirinya di kaca dinding lobby. Kusut. Dia tersenyum saat petugas security menyapanya.
Pikirannya masih terbayang adegan rekaman CCTV nightclub. Dia menggelengkan kepalanya berusaha melupakan adegan itu. Suara denting lift menyadarkannya.
Dia berhenti di depan pintu apartemennya. Seorang pengawal menyerahkan tas kerjanya. Bramasta mengucapkan terimakasih lalu memberi perintah-perintah untuk esok hari kepada pengawalnya.
Dia memasukkan kode sandi keamanan pintunya. Dia masuk sambil mengucap salam lalu meyakinkan pintunya menutup sempurna sebelum meninggalkan area foyer.
Adisti yang tengah menunggunya di sofa tengah langsung berdiri dan menjawab salam suaminya.
“I’m home.._Aku pulang.._” suaranya lemah. Terdengar sangat lelah. Bramasta mencoba untuk tersenyum.
“Sayang..” Adisti menghampiri sambil merentangkan tangannya.
Masuk ke dalam pelukan istrinya di saat lelah jiwa raga seperti menemukan oase di tengah gurun yang terik. Bramasta memeluknya erat. Perasaan ini, perasaan yang baru ia rasakan. Ada yang hangat terasa di sudut matanya. Buru-buru ia menyekanya sebelum istrinya mengetahuinya. Malu.
Adisti menengadah. Menatap wajah suaminya yang tinggi. Mata suaminya terpejam. Adisti mengetatkan pelukannya.
“Thankyou..”
“*What for*?”
“This hug..._Pelukan ini... _”
“I'm a home for you. Apapun keadaan Abang: lelah, bahagia, sedih, senang, melambung, tenggelam, ataupun sedang hancur berkeping-keping, Disti selalu ada untuk Abang. Mendampingi Abang. Membersamai Abang. Menyerap semua duka, mengobati semua luka, tertawa bersama.”
“Why?”
“Because i'm your home. Rumah tempat Abang selalu pulang. Rumah tempat Abang melepas penat. Rumah tempat Abang mengisi ulang jiwa Abang untuk menghadapi hari. I’m your home.”
Bramasta mengetatkan pelukannya. Meletakkan bibirnya di atas puncak kepala istrinya.
“I love you more than yesterday.”
Adisti tersenyum. Dia balas mengetatkan pelukannya. Kemudian menggandeng tangan suaminya ke meja makan.
“Disti tadi masak. Abang mau makan sekarang?”
Bramasta menggeleng.
“Abang mau minum saja dulu. Minuman panas.”
“Teh saja ya jangan kopi.”
Bramasta mengangguk.
Adisti dengan cekatan menyiapkan cangkir dan menyeduh teh. Air yang dijerang dalam jumlah sedikit tidak perlu waktu lama untuk mendidih.
Bramasta duduk di sofa tengah. Kemejanya sudah dikeluarkan dari celananya. Lengan bajunya sudah ia gulung semenjak sore. Kakinya diselonjorkan di atas sofa.
Adisti datang dengan membawa cangkir bening yang mengepul.
“Apa itu? Kuntum mawar?” Bramasta mengamati cangkir tehnya.
“Iya.. Cantik ya. Teh mawar dari Turki.”
“Beli online lagi?”
“Nggak. Tadi sepulang dari The Cliff singgah dulu ke toko teh di Setiabudhi. Masih panas ya.”
“Tolong buka tirai gordennya..”
Adisti meraih remote lalu menekan tombol untuk menggeser tirai gorden. Bandung malam ini cerah. Pemandangan titik-titik lampu dan bangunan dalam gelap malam menimbulkan keindahannya tersendiri.
Bramasta menunjuk ke arah kanannya.
“Mungkin di sana ada yang sedang berbahagia. Dan di sebelahnya sedang bersedih hati. Mungkin di sudut itu ada manusia yang tengah berharap pertolongan karena menghadapi siituasi antara hidup dan mati. Dan di sampingnya bangunan itu ada manusia yan bersuka cita karena tengah dilamar.”
Adisti memperhatikan suaminya. Dia berdiri di belakang suaminya yang tengah duduk berselonjor menatap Bandung malam hari. Tangannya bergerak memijat tengkuk suaminya. Otot lehernya terasa kaku di tangannya.
“Is it bad? Video from Lothar?”
Bramasta terdiam beberapa saat.
“Too bad. Very cruel. Brutal.”
Keduanya hening. Adisti masih memijat tengkuk dan pundak suaminya.
“Kapan Prince Zuko beraksi lagi?”
“Kami masih memilah adegan mana yang diambil. Selain masalah durasi, kita juga tidak ingin menayangkan seluruh kesadisan Helena dan Bryan.”
“Kalian jadi tidak baik-baik saja karenanya?”
Bramasta mengangguk.
“Abang berendam air hangat ya? Supaya tubuh Abang relaks.”
“Tapi temani Abang. Abang tidak mau sendirian.”
“Nanti Disti gosokin punggung Abang.”
***
KEDIAMAN KELUARGA KUSUMAWARDHANI
Anton menolak makan malam karena sedang tidak bernafsu makan. Dia hanya memakan buah potong dan puding saja.
Usai makan malam, Indra menghubungi Lothar Schuemaker didampingi oleh Pak Dhani, Papinya.
"Ini, Tante buatin teh khusus untuk kamu Ton. Diminum ya,” Bu Dhani menyuguhkan cangkir berisi teh panas.
“Indra gak dibuatin, Mi?”
Bu Dhani menatap Indra lalu terkekeh.
“Ambil sendiri tuh di meja makan. Sudah Mami buatin untuk kamu. Tapi tehnya beda dengan yangg Mami buat untuk Anton.”
“Kenapa dibedain?”
“Kamu mana mau minum teh lavender? Kamu juga gak ada gangguan tidur kan?”
Anton menghidu tehnya. Aroma lavender membantu membuatnya relaks. Setelah mandi dia mengenakan baju rumahan milik Indra.
“Kok Tante tahu saya punya gangguan tidur?”
“Indra pernah cerita..”
“Kalau sedang gak bisa tidur, kamu ngapain Ton?” Pak Dhani menyesap teh yang disediakan oleh istrinya.
“Menggambar atau berselancar di dunia maya, Om..”
“Dunia mayanya tanda kutip tuh..” Indra terkekeh menatap Anton.
“Issh, kamu pengunjung situs dewasa?” Bu Dhani menaikkan kedua alisnya.
“Eh?” Anton terperanjat sementara Indra terbahak.
“Nggak Tante.. Nggak..” kedua telapak tangan Anton bergerak-gerak untuk mempertegas jawabannya.
“Kita mah cowok baik-baik, Mi..”
“Terus tanda kutipnya apa?”
“Anton suka lihat-lihat gadget berukuran mini bahkan mikron, Mi..”
“What?? Kamu kolektor miniatur, Ton?”
Anton tertawa, “Nggak Tante..”
“Alat pelacak yang ada di cincin nikah Papi dan Mami itu hasil buruannya Anton, Mi..” Indra menunjuk pada cincin nikah yang sudah dipakai lagi oleh Maminya.
“Ooh.. Makasih ya Ton..” Bu Dhani menepuk-nepuk punggung Anton, “Kamu anggap saja ini rumah kamu ya. Gak usah sungkan.”
“Terimakasih banyak Tante..”
“Dibikin betah aja ya Ton. Dienak-enakin aja. Tante senang Indra ada temannya. Jadi berkurang pecicilan dan petakilannya di rumah..”
Anton memandang heran tak percaya pada Indra.
“Dih Mami. Gak usah buka kartu napah?”
“Halah.. Gak usah jaim-jaiman Ndra. Dah gak jaman,” Bu Dhani menuju kamarnya, “Dah ah, Mami masuk kamar duluan. Mau menyelesaikan bacaan tadi siang..”
“Assalamu’alaikum Mam..”
“Assalamu’alaikum Tante..”
“Wa’alaikumusalam. Kalian jangan terlalu larut tidurnya ya.”
“Ton, Lu mau menyelesaikan PR Prince Zuko sekarang?” Indra menatap Anton dengan serius.
Anton menggeleng, “Besok pagi saja setelah Subuh. Malam ini gue ingin tidur cepat. Teh dari Tante Dhani manjur banget. Tubuh rasanya rileks banget. Gue belum pernah merasakan seperti ini, Bro.”
Agung terkekeh, “Ya sudah. Yuk kita naik sekarang.”
“Tadi Lothar Schoemaker ngomong apa sama Om Dhani dan Lu, Bro?” tanya Anton saat mereka naik tangga yang lebar melengkung ke lantai dua.
“Dia berharap Prince Zuko bisa membantunya.”
“Dia tahu Bang Indra bagian dari Prince Zuko?”
“Ya nggaklah. Cuma gue bilang, Agung sedang diamati oleh Prince Zuko. Jadi ada kemungkinan, bukti rekaman itu bisa disampaikan ke Prince Zuko melalui Agung.”
“How?”
“CCTV tempat publik?” Indra balik bertanya, “Buat seolah-olah Agung sedang memberi pesan pada Prince Zuko..”
“Tar dulu nih. Ini untuk publik atau hanya untuk Lothar Schuemaker?” Anton mengernyit.
“Oh iya ya...” Indra memandang Anton sambil terkekeh, “Kenapa gue repot-repot banget menyusun rencana bagaimana membuat Agung seolah-olah bisa mengubungi Prince Zuko...”
Anton ikut terkekeh.
“Jadi, tadi sewaktu Bang Indra terdiam dengan dahi berkernyit setelah menelepon Lothar itu karena memikirkan skenario bagaimana Bang Agung menghubungi Prince Zuko? Rajin amat Bang..”
Keduanya tertawa bersama. Pak Dhani yang baru kembali dari ruang kerjanya menatap keduanya dari bawah tangga sambil tersenyum.
“Bang..” Anton menoleh pada Indra di depan pintu kamar.
“Hmm?” Indra membuka pintu kamarnya. Mempersilahkan Anton untuk masuk duluan.
“Terima kasih ya sudah mengajak gue menginap di sini. Kalau tidak, gue gak bakal tahu bagaimana gue melalui malam ini Bang setelah menonton rekaman CCTV nightclub tadi.”
“Justru karena ada Lu di sini, gue jadi merasa terhibur. Setidaknya ada yang bisa gue ajak bicara tentang semuanya daripada pikiran terbayang terus bagaimana kesadisan dan brutalnya Helena dan Bryan,” Indra menatap Anton sambil menepuk pundaknya.
“Tapi setidaknya kan Lu bisa cerita ke kedua orangtua Lu, Bang...”
“Tetap saja rasanya berbeda, Ton. You know lah. Terkadang ada beberapa hal yang gak bisa kita sharing ke orangtua..”
“I don’t know. Bro. Sepertinya gue udah lupa tentang hal seperti itu. Sudah lama gue hidup sendiri kan? Cuma dengan kalian, gue merasa punya keluarga lagi. Punya orangtua lagi.”
“You have us. Remember it_Kamu mepunyai kami. Ingat itu.._”
“Di rumah Keluarga Bang Bram, Bang Agung dan Indra , gue merasa welcome. Gue merasa berada di rumah gue.”
Indra mengajak Anton ke balkon kamar. Ada 2 bangku rotan dengan meja dengan penutup kaca bundar di antaranya.
“Bang Hans pasti dihibur oleh Mbak Hana. Bram oleh Disti. Agung oleh Dinda.Bang Leon oleh Kak Layla...” Indra menoleh pada Anton sambil terkekeh, “Sedangkan kita sesama jomblo berkumpul di sini. Saling menghibur satu sama lainnya.”
Anton tergelak sambil menggelengkan kepalanya.
“Sesama jomblo harus saling menguatkan..”
.
***
That’s what a friend for.
That’s what a family for.
That's what a pair for.