
Mata Adinda menatap nyalang pada sepasang manusia biadab di hadapannya.
“HARAM JADAH KALIAN!”
Keduanya tertawa penuh kemenangan.
“Hari ini kamu tidak usah sekolah. Persiapkan diri kamu sebaik mungkin. Sore nanti, kamu akan bertemu dengan Tuan Bryan. Bersihkan tubuh kamu sebersih mungkin. Jangan sampai ada daki yang menempel.”
“Gak usah pakai jilbab ya. Pakai stelan yang sudah disiapkan oleh ibu kamu.”
“DIA BUKAN IBU SAYA !” Adinda menjerit putus asa.
Keduanya tertawa bersama.
“Sayang, kamu istirahat saja di kamar. Bocah ingusan ini biar aku yang urus. Aku tidak mau dia menyakiti kamu lagi,” kata si Teman Pria kepada Ibu Tiri.
Ibu Tiri berdiri namun ragu menatap Teman Prianya.
“Kenapa? Kamu tidak percaya padaku?”
Ibu Tiri masih terdiam.
“Bertahun-tahun aku menjagamu, kamu masih tidak percaya padaku?”
Akhirnya Ibu Tiri mengangguk. Namun kemudian menoleh lagi ke belakang, menatap Teman Prianya itu.
“Ingat, jangan diapa-apakan. Dia barang dagangan kita. Perlakukan dengan baik. Pembeli hanya mau menerima barang yang mulus.”
Teman Pria itu mengangguk tak sabaran, “ Ya..ya..ya.. aku tahu. Ngomong-ngomong, dia masih perawan?”
Ibu Tiri memutar matanya dengan jengah pada si Teman Pria, “Lihat saja fisiknya, aku yakin dia masih perawan.”
***
Di dalam mobil, Agung ditahan oleh anak buah Hans. Berkali-kali Agung menerjang pintu mobil untuk dapat keluar dan mendobrak pintu rumah Adinda.
“Pak Agung.. tolong kerjasamanya. Jangan sampai terlalu menarik perhatian warga,” salah seorang anak buah Hans yang duduk di bangku tengah menahan bahu Agung untuk tetap menempel di sandaran kursi penumpang depan.
Pak Andi nampak serba salah. Tapi dia tidak berani melawan perintah Hans.
Bunyi mobil berhenti dengan suara halus di depan mobil innova yang dipakai Agung membuat mereka menoleh ke arah yang sama.
Hans tampak keluar dari dalam mobil dengan rambut berantakan, tidak seperti biasanya yang selalu tersisir rapi dengan gel rambut.
Pak Andi keluar dari mobil. Hans langsung masuk ke dalam mobil Innova di kursi kemudinya.
“Assalamu’alaikum..” sapanya.
Semuanya menjawab salam Hans.
Hans menepuk bahu Agung, “Calm down, Bro. Kita harus mengorek apa mau mereka sebelum kita meringkus sepasang bajingan itu.”
“Adinda..Bang Hans. Dia bisa bonyok di dalam sana!” Agung menunjuk arah pintu rumah Adinda.
“Calm down. Lu dengar sendiri, si Ibu Tiri menyuruh si Teman Prianya itu untuk tetap menjaga Adinda tanpa terluka. Karena Tuan Bryan hanya menerima barang mulus tak ternoda.”
“Lu percaya si Teman Pria ibu tirinya itu akan memegang janjinya?? Gue kagak!” Agung menatap nyalang pada Hans.
Sebuah mobil Mitsubishi Strada berhenti di belakang mobil Innova. Diikuti mobil SUV hitam. Pintu penumpang depan terbuka. Adisti berlari ke arah kakaknya berada.
“Kakak... Yang sabar ya Kak.. do’akan Adinda untuk selalu dalam lindungan Allah," Adisti menepuk-nepuk punggung Agung
“Dek.. Kakak gak sanggup melihat Adinda diperlakukan seperti itu..”
“Kakak harus bersabar. Kita sedang mengorek keterangan lagi dari mereka tanpa harus diinterogasi,” Adisti menepuk punggung kakaknya lagi dengan penuh kasih sayang.
“Percaya sama Adek, Dinda tidak selemah yang Kakak pikirkan. Dia kuat. Dia gadis yang kuat.”
“Bram mana?” tanya Hans pada Adisti.
“Tadi masih menelepon Pak RT,” jawab Adisti.
“Tuan Hans,” Anak Buah Hans menunjuk pada laptop yang menampilkan hasil CCTV ruang tengah Adinda.
Terdengar jeritan Adinda yang ditimpali suara tawa si Teman Pria.
“Oh my God!!” seru Hans.
“That’s enough!” Agung mendorong tubuh Adisti ke samping, sementara dia menerobos menuju halaman rumah Adinda.
“Gung, tunggu!” Hans memerintah dengan suara tertahan agar penghuni rumah tidak curiga.
“Gue gak akan nahan Lu,” Hans merogoh saku celananya. Lalu menyodorkan sebuah kunci kepada Agung.
“Gue cuma mau ngasih ini. Kunci duplikat pintu depan rumah Adinda. Supaya Lu gak perlu susah-susah mendobrak pintu.”
Agung tertegun. Lalu mengambil kunci dari tangan Hans.
“Thanks a lot, Bang!”
“Gung, ingat luka operasi Lu. Jangan melakukan gerakan yang membahayakan luka Lu. Don’t worry, gue bakal back up Lu.”
Agung mengangguk.
Dari kejauhan, Pak RT datang berlari-lari bersama sejumlah warga. Oleh anak buah Hans, mereka diminta untuk tidak bersuara.
Agung memasukkan anak kunci dan memutarnya dengan cepat. Dia bisa mendengar jerit panik Adinda.
Dia berlari ke arah suara Adinda. Hans dan anak buahnya juga anak buah Bramasta mengikuti di belakangnya.
“Mana keberanian kamu yang tadi kamu tunjukkan pada kami, Manis?” suara si Teman Pria terdengar memuakkan.
“Kamu cantik. Saya dari pertama kali menginjak rumah ini sebenarnya tertarik dengan kamu. Ingin menyentuh kulit kamu yang halus juga membelai rambut indah kamu..”
“Ba jingan kamu!” Adinda memaki.
“JANGAN SENTUH SAYA!” Adinda menjerit putus asa.
Adinda berusaha melindungi tubuhnya dari sentuhan si Teman Pria dengan duduk memeluk lututnya. Wajahnya disembunyikan di antara dua lututnya untuk menghindari ciuman-ciuman dari si Teman Pria.
Suara tendangan mengenai tubuh terdengar jelas di telinga Adinda. Diikuti suara mengaduh. Kemudian suara perabot bergeser. Barang terguling di atas meja hingga akhirnya pecah.
Tapi Adinda tidak berani untuk melihat apa yang terjadi. Dia masih memeluk lututnya sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
Suara tendangan terdengar lagi. Kemudian suara pukulan beruntun. Diikuti suara orang terbatuk-batuk dan mengerang kesakitan.
“Ampun..! Sudah.. cukup!” suara si Teman pria terdengar bergetar ketakutan.
“Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa masuk?” dia terbatuk lagi.
“Apa yang kamu lakukan pada Adinda?” suara Agung terdengar dingin dan penuh ancaman.
“Saya tidak ngapa-ngapain.. Saya hanya ingin bermain-main saja dengan dia..” kemudian dia terdiam, lalu memicingkan mata menatap Agung dan Hans.
“Kalian suruhan Tuan Bryan???” suaranya terdengar ketakutan.
“Saya tidak mendahului Tuan Bryan. Tidak... saya tidak berani. Saya tidak selancang itu..”
“Lalu apa yang kamu lakukan? Merobek baju Adinda..”
“Saya.. saya.. hanya ingin melihat tubuhnya saja. Tidak lebih. Benar.. saya tidak bohong!!”
Agung menendang punggung si Teman Pria hingga tubuhnya terjungkal membentur tembok.
“Pak Agung.. sudah cukup Pak..” suara anak buah Hans mengingatkan, “Adinda, Pak!”
Hans yang terdekat dengan Adinda langsung berjongkok menghampiri Adinda.
“Dinda... are you OK?”
“JANGAN SENTUH SAYA!” Adinda beringsut menjauh. Masih dalam posisi tubuh yang sama seperti sebelumnya. Tubuhnya menempel pada dinding sekarang.
“Dinda..” Agung berlutut di depan Adinda. Dia menyampirkan jaket yang tadi ia kenakan pada punggung Adinda.
“Dinda.. ini saya. Om Agung. Dinda.. bisa dengar saya?”
Tubuh Adinda bergetar sekarang. Bahu dan punggungnya tampak berguncang hebat. Nafasnya tersengal hebat.
“Din.. Dinda! Kamu kenapa?!!”
“Gung! Cepat bawa Adinda ke UGD. Dia terkena serangan shock!" teriak Hans.
.
***
Marhaban Ya Ramadhan
Mohon ma'af lahir dan batin ya.
Love you, Readers 🌷