
“Hyung Anton sudah menyuruh orang untuk mengubah layout ruangan satu lagi di unit Kakak,” Adisti memandang Raditya, “Jadi nanti Pak Radiya bisa menempati kamar tersebut.”
Raditya menatap Adisti dengan kening berkerut.
“Kenapa sampai harus repot-repot seperti itu sih? Padahal saya tidak keberatan tidur sekamar dengan Agung.”
Adisti menggeleng dan tersenyum.
“Pak Raditya pasti butuh privacy dengan banyaknya kejadian yang dialami Bapak. Tadi... Kakak cerita, Pak Radit kagetan karena banyak melamun..”
Radit terkekeh malu.
“Iya.. Tadi pagi saya betul-betul kaget. Saya sedang di meja pantry minum kopi. Sementara robot penyapu mondar-mandir di lantai membuat mata saya penasaran untuk mengikuti pergerakannya. Tiba-tiba kepala Agung muncul di pintu balkon untuk mengajak sarapan di rumah Pak Gumilar,” Raditya terkekeh geli, “Benar-benar kaget saya tuh. Melihat kepala Agung di pintu geser dengan latar langit pagi yang masih gelap di ketinggian 4 lantai... Berasa masuk dalam adegan film horor..”
Semuanya tertawa keras mendengar kejujuran Raditya.
“Ya Allah... Untung kita sudah selesai makan. Kalau nggak bisa keselek kuah soto yang pedes..” Indra mengusap sudut matanya.
“Lagian Lu, Ndra. Gak kira-kira nyendokin sambelnya. Itu sih sama saja dengan numpahin wadah sambal ke mangkok soto Lu..” Hans bergidik ngeri melihat wadah sambal yang tersisa sedikit.
“Tadi pagi telat gak?” Bramasta menyesap jus melonnya.
“Alhamdulillah nggak. Pengawalnya Agung hebat banget bawa motornya. Tapi motornya Agung memang keren sih..” Raditya tersenyum lebar.
Bramasta menatap Hans. Indra juga menatap Hans. Raut wajah mereka begitu serius.
Raditya memperhatikan perubahan raut wajah ketiganya. Dia menegakkan posisi duduknya.
“Demi keamanan Pak Radit, usahakan selalu memakai alat transportasi acak. Hingga saat pelantikan nanti dan Pak Radit bisa bergerak untuk meringkus mereka.”
Raditya menatap tidak mengerti pada Hans.
“Maksudnya?”
Hans mengambil tabletnya. Mencari di file video lalu melakukan double click. Tablet diberikan pada Raditya.
“Semalam saat menjemput Pak Radit, orang saya memasang CCTV di beberapa tempat di rumah Bapak. Ini hasil rekaman dini hari tadi.”
Raditya menatap Hans, Bramasta dan Indra bergantian dengan wajah tegang. Dia menekan tombol play.
Raditya mengenali halaman rumahnya yang kecil. Dia bisa menebak dimana CCTV luar rumahnya di pasang. Dahan Magnolia kesayangan Masayu yang ada di pojok kanan rumahnya.
Jam pada rekaman CCTV tertulis 02.07 saat dua sosok pria terlihat di terasnya. Mereka berperawakan sedang. Memakai busana celana hitam dan jaket hitam. Keduanya memakai topi. Yang satu berwarna hitam, satunya lagi coklat.
Si Topi Coklat mengambil sesuatu di saku jaketnya. Dia memamerkan barang yang diambilnya kepada temannya sambil tersenyum lebar.
Si Topi Hitam terlihat jengkel. Dari gestur tubuhnya meminta si Topi Coklat untuk bergegas membuka pintu.
Pintu terbuka. Keduanya masuk ke dalam ruang tamu yang gelap. Cahaya samar didapat dari lampu akuarium di ruang tengah.
Motor Raditya ada di ruang tamu. Si Topi Hitam mengambil sesuatu dari saku jaket bagian dalam. Sesuatu yang terbungkus kotak. Terlindungi dengan baik.
Dia membuka kotaknya. Mengeluarkan isinya ke telapak tangannya. Si Topi Coklat mengambil benda lainnya dari dalam kotak.
Dari CCTV terlihat seperti lembaran tebal berbentuk persegi kecil berwarna hijau tua. Topi coklat melepas pembungkus benda persegi pipih itu lalu mengambil benda bundar pipih berwarna hitam dari telapak tangan Topi Hitam.
Topi Hitam menghentikan pergerakan Topi Coklat dengan telapak tangannya. Dia mendekatkan benda berwarna hitam itu dengan matanya lalu menekan salah satu tepi dengan ujung kuku kelingkingnya. Benda bundar pipih hitam itu mengeluarkan kedip lampu kecil berwarna merah sekarang.
Dia memberikan lagi benda itu ke Topi Coklat. Menggerakkan dagunya menunjuk pada motor Raditya.
Topi Coklat mengangguk. Dia membuka bungkus plastik ladi di bagian belakang benda yang diberikan oleh temannya. Dengan hati-hati, meetakkan benda itudi bawah lampu depan motor Raditya.
Topi Hitam mengetes kekokohan benda yang dipasang temannya. Dia mengoyangkan stang motor ke kiri dan ke kanan dengan keras. Topi Coklat mengacungkan kedua jempolnya.
Mereka berdua lalu meninggalkan ruang tamu Raditya setelah mengunci lagi pintunya dari luar.
Raditya mengerjap lalu mengusap wajahnya. Dia menggelengkan kepala tidak percaya.
“Yang topi hitam, dia anggota. Pernah beberapa kali saya ajak dalam tim saya. Saya tidak menyangka..” Raditya menggeleng lagi.
“Yang topi coklat, saya tidak mengenalnya dan belum pernah melihatnya. Sepertinya dia orang sipil.”
“Tentang anggota tim Pak Raditya, terutama tim inti, Bapak masih bisa mempercayai mereka. Merekalah yang langsung mengamankan pria berkaos polo yang tampak di CCTV pelataran parkir GOR Saparua. Langsung diringkus oleh anggota tim inti Bapak malam itu juga setelah tayangan Prince Zuko,” Hans berbicara sambil mengangguk kepada Raditya.
“Sebenarnya apa yang mereka lakukan?” Raditya memutar ulang rekaman CCTV tersembunyi. Mempercepat beberapa bagiannya.
“Mereka meletakkan alat pelacak di motor Anda. Ini cara yang sama mereka gunakan kepada mendiang istri Anda sebelum kejadian. Itulah sebabnya istri Anda bisa mereka eksekusi di daerah yang memang terkondisi tanpa saksi dan tanpa CCTV,” Hans menerangkan.
Raut wajah Raditya menggelap. Tangannya terkepal.
“Orang-orang saya sudah menginterogasi eksekutornya.”
“Saya ingin bertemu dengannya,” sorot mata Raditya mengeras.
Hans menggeleng.
“Bersabarlah. Belum saatnya. Dia pemain lama dan dianggap profesional oleh timnya. Masih banyak yang kami korek darinya.”
“Hans, orang dengan ransel kuning itu..” Indra mengingatkan.
“Ah ya.. saya lupa memberitahu Anda. Pada saat eksekutor berhasil kami ringkus, orang saya sudah mengikuti si pria beransel kuning yang ada pada CCTV GOR Saparua hingga ke Semarang. Kami juga sudah berhasil meringkusnya.”
Raditya terperangah dengan mulut yang terbuka.
“Secepat itu?”
“Barang bukti yang dipersiapkan untuk menjebak Anda, masih berada di dalam ransel kuning yang dipakainya. Saat Anda dilantik nanti, segeralah langsung bergerak cepat. Geledah ruangan kerja rekan sejawat Anda.”
“Siapa?”
Hans menyebut nama dan jabatannya. Mata Raditya melebar.
“Subhanallah... saya tidak menyangka sama sekali.”
“Kembali lagi ke pelacak di motor Pak Radit...” Hans memandang pada Raditya dengan tatapan meminta ma’af, “Orang saya masuk ke dalam rumah Pak Radit untuk mengambil alat pelacak tersebut, Dan supaya mereka tidak curiga, alat tersebut ditempelkan di mobil angkot yang kebetulan melintas pada saat itu.”
“Tidak berbahaya buat angkotnya?”
Hans menggeleng.
“Orang saya sudah memastikan itu hanya alat pelacak. Tidak ada bahan peledaknya.”
“Oleh karena itu, kami meminta Pak Raditya untuk mengacak alat transportasi yang Bapak gunakan,” Indra mengambil gelas jusnya, “Mereka bisa menempelkan alat pelacak, bagaimana kalau yang mereka tempelkan itu bahan peledak?"
"Memangnya tadi Pak Raditya ke sini pakai apa?” tanya Adisti sambil menopangkan pipinya dengan tangannya.
“Dijemput oleh orangnya Tuan Hans..”
Bramasta mengambil tangan yang menyangga pipi istrinya, lalu digenggamnya. Dia menepuk lengan atasnya sebagai tempat bersandar istrinya. Adisti menggeleng.
Raditya tampak masih mencerna aneka informasi yang ia terima.Dia menggelengkan kepala beberapa kali.
“Memilah kaki tangan Tuan Thakur dengan anggota yang bersih itu seperti memisahkan air dan minyak,” Raditya menggeleng lagi, “Terlihat mudah dipisahkan tetapi sebetulnya sulit.”
“Tidak sulit memisahkan minyak dengan air bagi kami yang terbiasa di dapur,” Adisti menyandarkan punggungnya.
.
***
Cerdasnya Adisti pasti bikin Bramasta makin bucin nih... 😁