
RUMAH KELUARGA GUMILAR
Karena Agung tidak jadi tidur di rumah Ayah Bunda, Bramasta dan Adisti memutuskan untuk menginap di sana. Kasihan Ayah dan Bunda bila rumah tiba-tiba sepi karena Adinda sedang menginap di rumah utama.
Mereka pulang tidak lama setelah Agung dan rombongannya pulang. Adisti meminta Bunda dan Ayah untuk tidur terlebih dahulu. Dia dan suaminya membereskan makanan yang dibawakan oleh Mbak Lin, kepala ART di rumah utama, untuk mereka semua.
“Buk Istri kenapa? Kok malam ini jadi pendiam?”
“Disti mencemaskan keselamatan Ayah dan Bunda besok, Bang. Ibaratnya mereka masuk ke kandang singa.”
“Yakin singa? Bukan buaya? Jokes tentang buaya vs cicak kan berasal dari mereka..” Bramasta terkekeh.
“Ih, Abang tuh ya..”
“Sudah semuanya?” Bramasta memeriksa lagi paper bag yang sudah kosong semua, “Ke kamar yuk. Abang ingin selonjoran.”
“Pegel? Mau dipijat?”
“Gak ah. Abang juga tahu Buk Istri juga sedang capek.”
“Bawa minum, Pak Suami. Supaya gak mondar-mondir ke dapur,” Adisti mengisi pitcher kotak dengan tekstur garis vertikal dengan air dispenser.
“Gelasnya satu aja ya.. Kita berbagi gelas. Seperti sunnah Rasulullah SAW," Bramasta mengambil gelas di rak paling atas dengan mudah karena tubuhnya yang jangkung.
“Pak Suami manis banget sih..” Adisti memeluk suaminya sambil memegang pitcher.
“Woiyyaadoooong.”
Meletakkan gelas dan pitcher di atas nakas, Adisti membersihkan tempat tidur dengan menggunakan sapu lidi.
Bramasta tersenyum melihat tindakan istrinya.
“Yang Buk istri lakukan juga salah satu sunnah sebelum tidur ya..” Bramasta duduk di tepi tempat tidur.
“Pak Suami mau mandi?”
“Gak ah. Pak Suaminya sudah lelah hayati...” Bramasta membuka kemejanya.
“Diih, lelah hayati...” Adisti menertawakan suaminya karena mendengar suaminya memakai bahasa gaul terdengar aneh di telinganya.
Adisti mengambilkan baju rumah untuk suaminya. Tshirt dan celana jogger berbahan kaos yang nyaman.
“Buk Istri gak usah mandi. Dah malam. Temani Pak Suami saja. Ada yang mau Pak Suami bicarakan.”
“Disti mau cuci muka dan sikat gigi dulu. Yuk!” Adisti mengajak suaminya untuk membersihkan diri dulu sebelum tidur.
Setelah berwudhu, mereka duduk kembali di atas tempat tidur.
“Pak Suami mau bicara apa?” Adisti sudah berganti baju dengan mengenakan baju tidur piyama lengan pendek dan celana panjang berbahan katun nyaman dengan motif donat beraneka topping.
Bramasta mengerutkan keningnya melihat baju yang dikenakan istrinya.
“Seharusnya baju motif ini lebih cocok dikenakan Adinda..”
Adisti tertawa.
“Kami beli bareng. Disti yang motif donat sedangkan Adinda motif cupcake juga motif pancake.”
“Mon Dieu!” Bramasta terkekeh.
“Bang, kalau Disti dandan seperti Adinda tadi bagaimana? Barbie Looks.”
Bramasta menatap Adisti dengan bibir mencebik.
“No way!” Bramasta menyilangkan kedua tangannya di dada, “Gak boleh. Abang gak mau kejadian seperti Agung. Saking panglingnya, samapi gak bisa mengenali calon istrinya sendiri. Nanti kalau Abang gak mengenali Istri Abang sendiri, bagaimana?”
“Iya.... iyaaaa,” Adisti menata bantal agar nyaman ditiduri.
Dia menyandar pada bedhead dengan bantal menyangga punggungnya. Bramasta dalam mode manja. Tidur di atas pangkuan Adisti. Tangan Adisti membelai rambut suaminya.
“Tadi mau ngobrolin apa?”
“Tentang peternakan yang Buk Istri inginkan. Kita ubah rencana kita..”
“Eittss! Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah pekerjaan saat hendak tidur ya..”
“Iya. Tahu,” Bramasta menatap mata Adisti, “Abang gak jadi beli.”
Jemari Adisti berhenti bergerak. Berhenti membelai rambut suaminya.
“Kenapa?”
Bramasta memejamkan matanya. Tangannya menyuruh Adisti untuk membelai rambutnya lagi.
“Bang, kenapa?” Adisti mengguncang tubuh suaminya.
Bramasta membuka matanya lalu tersenyum menatap istrinya.
“Kan tadi Buk Istri bilang, kita tidakmembicarakan masalah pekerjaan di atas tempat tidur..”
“Pindah ke ruang tengah yuk!” ajak Adisti, “Supaya kita bisa bcara tentang pekerjaan.”
“Ogah. Kan tadi Abang sudah bilang, lelah hayati..”
“Dih Abang!” Adisti gemas lalu mencubit hidung mancung suaminya.
“English, please..!” Adisti tertawa.
“That’s hurt!” seru Bramasta.
“Ma’af...” Adisti menundukkan wajahnya, mengecup puncak hidung suaminya.
“Masih sakit. Bukan di situ yang sakitnya..”
“Kasihan Pak Suami....” Adisti melepaskan pangkuannya. Dia menunduk dengan menahan tubuhnya menggunakan kedua tangannya di atas wajah suaminya. Lalu mencium lama di pangkal hidungnya, di antara kedua matanya.
“I love you, Pak Suami..” bisik Adisti saat mengakhiri ciumannya.
Dia menelungkup di samping suaminya. Tangannya kembali membelai rambut suaminya.
“Sekarang, Pak Suami cerita, kenapa Pak Suami gak jadi beli peternakan yang Disti inginkan.”
Bramasta terkekeh.
“Jadi, yang tadi itu sogokan supaya Abang bercerita sekarang?"
“Salah sendiri bikin Disti penasaran. Cerita...”
“Iya...” Bramasta mulai bercerita tentang temuan Indra dan tim research data-nya B Group.
Awalnya Bramasta bercerita dengan posisi terlentang sementara Adisit di sebelahnya menelungkup sambil mengelus rambutnya. Tetapi kemudian dia memiringkan tubuhnya untuk bertatapan dengan istrinya saat menceritakan tentang kebaikan Keluarga Jones terhadap para pegawainya selama pandemi.
Seperti yang ia duga, istrinya mempunyai hati yang lembut. Mata Adisti sudah mengembun. Sekarang gantian Bramasta yang membelai rambut istrinya. Dan akhirnya ia berbaring terlentang lagi sambil meletakkan wajah istrinya di atas dadanya.
“Mereka orang baik. Tidak tega rasanya membeli satu-satunya mata pencaharian mereka, walaupun mereka bisa memulai lagi dari awal dengan membuat peternakan yang lebih kecil, tapi rasanya terlalu berat di tengah kondisi perekonomian dunia yang tengah lesu seperti saat ini..” Bramasta mengecup puncak kepala istrinya.
“Lalu, keputusan Abang dan Bang Indra bagaimana?”
“Kita adakan kerjasama. Kita bantu permodalan mereka dan kita kembangkan peternakan seperti yang diinginkan Disti. Para pekerja yang dirumahkan kita minta untuk kembali bekerja, kita juga mempekerjakan para pekerja dari negara kita. Saling transfer ilmu. Mereka dengan pengetahuan teknologi mesin di dunia peternakan sedangkan tenaga kerja kita dengan pengetahuan tradisional warisan leluhur tentang pengetahuan herbal untuk peternakan organik.”
Adisti makin mengeratkan pelukannya.
“Kita punya banyak ahli peternakan dari IPB dan banyak perguruan tinggi lainnya. Juga para herbalis dari perguruan tinggi. Rasanya sangat disayangkan bila mereka tidak bisa memanfaatkan ilmu yang di dapatnya untuk berkarir dan mencari nafkah sebagai tulang punggung keluarga.”
“Mereka setuju? Pihak Keluarga Jones?” tanya Adisti.
“Indra sudah menghubungi anak mereka yang juga menjabat sebagai PR sekaligus direktur. Dia merangkap berbagai jabatan saat perusahaannya tidak mampu lagi membayar pegawai terkait modal.”
“Lalu?”
“Mereka setuju. Mereka menyambut dengan senang hati. Kita diundang ke sana dua hari lagi. Buk Istri siap honeymoon dua hari lagi?” Bramasta mengamati wajah istrinya.
Mata Adisti melebar kemudian memekik senang.
“Dua hari lagi? Honeymoon? New Zealand??!”
Bramasta mengangguk-agguk sambil tersenyum lebar.
“AAAAAAAAAAAAAAK!” teriak Adisti tepat di telinga Bramasta membuat suaminya terlonjak kaget sambil memegangi sebelah telinganya.
“Disti! Isssh!” menggosok daun telinganya yang terasa pekak, “Sudah lewat tengah maam, tahu. Kalau Ayah dan Bunda bangun, bagaimana? Lagipula kamar ini letaknya di depan. Kalau pengawal atau pak satpam yang sedang keliling mendengar Disti berteriak seperti tadi, bagaimana?”
“Eh, ma’af Bang! Saking senangnya Disti sampai teriak seperti itu,” Adisti mulai menciumi dan menggigiti telinga suaminya yang tadi diteriakinya, “Jangan khawatir, Abang sudah membuat kamar ini kedap suara kan? Hitung-hitung ini uji coba kekedapan suara kamar ini...”
“Isssh, geli. Udah..”
“Belum!” Adisti bergerak turun meninggalkan jejak basah di leher Bramasta.
Bramasta terkekeh geli. Dia hanya bisa pasrah. Bahkan saat istrinya menarik lepas Tshirt-nya pun tidak ada perlawanan darinya.
Suara dering notifikasi pesan chat yang terus menerus mengganggu kepasrahan Bramasta. Dia menepuk-nepuk pelan punggung istrinya.
“Disti.. Buk Istri.. sebentar..”
Adisti mengangkat wajahnya dengan bingung menatap suaminya.
“Ada apa?”
“Ada pesan chat masuk berurutan tadi..” baru saja Bramasta berbicara, bunyi notifikasi chat masuk terdengar beruntun berkali-kali.
Bramasta meraih gawainya yang diletakkan di atas nakas. Membuka pesan masuk. Kemudian matanya melebar.
“Innalillaahi wainnaillaihi rooji’uun.. Rumah Pak Raditya terbakar!”
Adisti menatap Bramasta dengan mata melebar juga.
“Firasat Kakak!”
.
***
Muehehehe... kali ini bukan Readers yang digantung oleh Author. Giliran pasangan bucin B Group yang dibikin nge-gantung.
Authornya lagi jahara....😁😁🤣
Jangan lupa tombol like-nya untuk menghitung retensi pembaca.
Love you sekebon, Reader...❤️😉