CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 290 – SUBHANALLAH-MASYAA ALLAH



Hans meminta satu kamar VVIP lagi pada pihak rumah sakit. Raditya dipindahkan ke kamar yang baru. Ruangan yang lama tidak boleh dimasuki siapapun hingga tim forensik datang memeriksa.


Mereka mengobrol di sofa bed dekat bed pasien. Kondisi Raditya yang belum pulih benar membuatnya merasa lelah dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tertidur di atas bed barunya.


Pak Budi sudah melaporkan apa yang sudah terjadi pada Pak Ilham. Rekaman video call Agung juga sudah dikirimkan. Setelah rembukan, maka diputuskan, acara pencopotan pangkat dan jabatan Tuan Thakur akan disiarkan secara umum melalui breaking news. Sebagai shock terapi bagi kaki tangannya.


“Sebenarnya bagaimana mereka bertiga bisa masuk kemari? Bukankah ada petugas security di pintu VVIP juga pengawal di depan kamar?” tanya Agung.


Hans membuka tabletnya. Memasang penyangga di belakangnya lalu menghadapkan tabletnya ke arah Agung dan lainnya. Rekaman CCTV di lobby lantai 6, tempat lantai VIP dan VVIP berada.


Pintu kaca menuju lorong VIP dan VVIP berbeda. Masing-masing terdapat meja counter yang dijaga oleh dua orang securty rumah sakit. Meja tinggi berbentuk seperempat lingkaran.


Tampak ketiganya keluar dari lift. Seorang di antara mereka menuju ke meja security VIP. Dua orang lainnya menuju meja security VVIP. Suasana lobby yang sepi memudahkan mereka untuk melancarkan aksinya.


Pria yang seorang diri berbicara dengan security koridor VIP tampak berdiri di depan pintu kaca, berpura-pura bertanya kepada keduanya, sengaja membuat keduanya sibuk sehingga tidak memperhatikan rekannya kerjanya yang bertugas di VVIP.


Dua orang pria langsung bergerak dengan cepat. Memukul tengkuk kedua security dengan gagang senjata hingga pingsan lalu menyembunyikan tubuhnya di lemari bawah meja.


Seorang dari mereka berjalan ke arah security VIP. Tanpa basa-basi ia menggetokkan gagang senjatanya ke arah tengkuk kedua security malang tersebut.


Bergerak cepat mereka melakban tangan, kaki dan mulut keduanya, sama seperti rekannya di VVIP. Mereka dijejalkan ke dalam lemari bawah meja.


Dengan langkah santai, ketiganya masuk ke dalam koridor VVIP. Salah satunya membawa parcel buah dalam keranjang.


Yang membawa parcel buah, si Rambut Gondrong, dia berjalan duluan melewati pintu kamar tempat Raditya dirawat.


Tiga langkah setelah pintu, ia membalikkan tubuhnya lalu bertanya kepada pengawal di depan pintu tentang kamar sambil menunjuk arah pintu kamar yang berseberangan.


Pada saat kedua pengawal teralihkan perhatiannya, Marcel memukulkan gagang senjatanya pada pengawal pertama. Pengawal pertama terkulai.


Pengawal kedua, langsung bereaksi memasang kuda-kuda. Tapi Marcel memegang senjata di tangannya. Pengawal kedua langsung dipitingnya dan dibawa masuk ke dalam ruangan.


Di luar ruangan, Si Rambut Gondrong dan Gesper Levi’s mendudukkan pengawal pertama yang terkulai. Diatur sedemikian rupa, seolah pengawal tersebut tengah tertidur dengan menangkupkan dirinya pada sandaran kursi di depannya.


Saat Marcel sedang berada di dalam ruangan Raditya, seorang perawat melintas membawa berkas-berkas map. Kedua penjahat mengangguk hormat sambil tersenyum kepada perawat tersebut.


Perawat itu berhenti melihat pengawal yang tengah tertidur, lalu berbicara pada kedua penjahat. Gesper Levi’s menjawab dengan jawaban lucu sehingga membuat perawat itu tertawa dan berlalu dari mereka. Gesper Levi’s dan Rambut Gondrong saling berpandangan dan tersenyum lebar.


“Jadi begitu ceritanya..” Agung mengerutkan keningnya.


“Tapi bagaimana security gedung yang berada di pusat kendali tidak menyadari aksi mereka?” tanya Man.


“Mereka profesional. Kedua temannya yang berada di dalam mobil, meretas jaringan CCTV rumah sakit. Mereka memasukkan rekaman lobby lantai 6, 15 menit sebelum aksi ketiga bajingan itu untuk menutupi aksi ketiganya di real time CCTV,” Hans menyesap kopi hitam buatan Man.


Hans mengernyit.


“Kopi buatan kamu, strong banget, Man!”


Man tertawa. Pak Budi dan Agung jadi penasaran dengan kopi buatannya Man. Keduanya sama seperti Hans, mengernyit.


“Jangan sampai Bang Raditya minum kopi buatan kamu, Man. Jantungnya bisa kolaps lagi..” Agung menyesap lagi kopinya dan yang lainnya tertawa.


Hans mengirimkan video call meeting divisi akuntan Sanjaya Group ke WAG. WAG menjadi ramai.


Leon_OK, kita ketemuan di rumah sakit ya siang ini_


Anton_Bang Hans, videonya sudah bocor di medsos tuh!_


Indra_Nah loh! Berarti orang akunting dong yang menyebarkannya.._


Hans_Biarkan saja. Memang sengaja_


Leon_Kenapa?_


Hans_Biar Agung makin ngetop. Tendangannya keren kan?_


Indra_Cuitan di Burung Biru banyak memanggil nama Agung loh!_


Bramasta_Kakak Ipar, Adisti dari tadi ngotot ketemu Kakak Ipar sekarang juga.._


Anton_Loh kok Bang Agung dari tadi gak nimbrung?_


Hans_Agung sedang dibersihkan luka koyak di punggung tangannya oleh perawat cantik.._


Hans mengirimkan foto. Semuanya memberi emot ngakak pada fotonya.


Bramasta_Parah?_


Hans_Cuma 2 jahitan... Buat jagoan sih itu hal kecil..._


Suara pintu digeser dan suara salam yang terdengar lembut membuat Hans menengok ke arah pintu. Dia duduk menghadap ke arah pintu membuatnya dengan mudah melihat sosok yang datang.


“Wa’alaikumussalam.. Masuk Din.”


Perban di tangan Agung sedang diplester oleh perawat. Posisi duduknya yang membelakangi pintu membuatnya tidak bisa melihat wajah Adinda.


“Beneran Dinda datang?” Agung menatap Hans tidak percaya, “Bang Hans sedang nge-prank ya?”


“Lah, memangnya Lu gak dengar suara salam Adinda? Gak dengar pintu digeser dari luar?”


“Suara apa? Salam apa?” Agung kemudian mengucap terimakasih kepada perawatnya, “Gue tadi sedang konsen dengan rasa cenut-cenut di tangan. Heran deh, tadi sewaktu habis kejadian gak berasa sakit sama sekali. Kok setelah dibersihkan dan dirawat malah berasa seperti ada yang gigit-gigit..”


Perawat itu sudah pergi.


“Adrenalin, Bro..” Hans menjawab rasa herannya Agung, “Setelah kejadian, hormon adrenalin di otak Lu masih tinggi, setelah beberapa saat berlalu, hormon adrenalin tadi mulai berkurang. Itu yang menyebabkan Lu merasakan cenut-cenut.”


Sedetik kemudian, mata Hans berbinar jahil.


“By the way tadi itu konsen ke rasa cenut-cenut di tangan atau konsen dengan sentuhan perawat tadi? Cakep ya?”


“Banget Bang!” Agung terkekeh, tidak menyadari Adinda yang berada di pantry untuk merapikan makanan bawaannya tengah berdiri menatapnya nyalang.


“Gung, coba Lu tengok ke arah jam 9 deh..”


Agung menuruti kata Hans. Dia mengengok ke arah kirinya. Matanya bertemu dengan mata Adinda yang marah.


Sontak mata Agung melebar tak percaya. Dia berdiri sambil memegang tangan yang baru saja diperban.


“Astaghfirullahal adzhiim..! Subhanallah..!" dengan spontan Agung melafalkan ayat Kursi.


Giliran Hans yang menatap Agung dengan tatapan tak percaya dengan mata melebar.


“Om!” Adinda gegas menghampiri Agung, “Kebangetan benar memang ya Om Agung tuh!”


Adinda meninju lengan atas Agung beberapa kali. Juga memukuli dada Agung.


“Begitu ya! Melihat perawat cantik Om Agung menyebut masyaa Allah. Giliran melihat Dinda malah menyebut subhanallah!"


Adinda memukuli lagi dengan lebih keras.


“Mana pakai bacain ayat kursi lagi ke Dinda. Tadi ke perawat cantik itu pasti bacain ayat yang diulang-ulang terus di surat ar Rahman kan?” Adinda akhirnya mencubit lengan Agung, “Fabiayyi alaa irrabbikuma tukadzzibaan?!”


“Eh, kok kamu tahu sih Din isi kepala Om?”


“Jadi bener begitu??!”


Adinda memukuli lagi lengan Agung.


“Gak nyangka ternyata calon suami Dinda itu buaya darat, mata keranjang, playboy, suka mainin perasaan perempuan..!”


Air mata Adinda menggenang.


“Eh..hey..stop. Fitnah itu..!” Agung mulai menangkisi serangan Adinda, “Gak ada itu dalam diri Om semua tuduhan kamu..!”


“Om Agung jahat!!”


“Ma’af.. Tadi Om hanya bercanda..”


“Om pakai ayat Allah untuk mainan?!! Dinda bakal bilangin ke Ayah dan Daddy!”


“Nggak. Saat baca ayat Kursi tadi Om gak bercanda. Om nyangkanya melihat penampakan yang menyerupai Dinda..” Agung tampak kelelahan menghindari pukulan Adinda, “Om bercanda tentang konsennya Om. Bercanda ke Bang Hans. Candaan biasa itu mah. Candaan kaum laki-laki..”


“Bang.. bantuin dong jelasin ke Dinda..” Agung menoleh pada Hans, “Yaelah Bang Hans malah merekam! Tega banget sih!”


Hans tertawa.


“Sorry , Bro. Terlalu asyik buat dilewatkan dengan kelakuan kalian ini. It’s very.... srimulat!”


“Hapus gak Bang..!” Agung menangkap tangan Adinda untuk berhenti memukulinya dan sebelahnya lagi berusaha menjangkau gawai Hans.


“Oooops! Already sent!” Hans terkekeh.


Suara tertawa berpadu dengan batuk-batuk terdengar dari bed pasien yang tidak ditutup tirainya. Raditya tengah memandangi mereka bertiga dari atas bednya.


“Sebenarnya kamu punya bakat melawak dari mana sih Gung? Dari Ayah atau Bunda? Perasaan keduanya gak seperti kamu deh...” Raditya tertawa lagi sambil memegangi dadanya.


Keningnya mengernyit nyeri. Tindakan saat CPR kemarin membuat tulang-tulang rusuknya terasa kaku dan ototnya terasa nyeri saat tubuhnya melakukan gerakan di sekitar area dada. Sedangkan tertawa selain menggerakkan otot perut juga menggerakkan otot dada.


Agung bergegas menghampiri Raditya. Membawakan air hangat.


“Diminum dulu, Bang. Jangan ketawa dulu napa?"


"Inginnya sih begitu. Tapi karena ditunggui oleh tim srimulat ya begini deh..” Raditya memegangi dadanya lagi.


Raditya mencoba mengatur nafasnya agar tidak tertawa. Tapi begitu melirik wajah Agung di sampingnya, dia malah tertawa keras. Hans dan Adinda yang ikut menyaksikan percakapan mereka dari sofa bed ikut tertawa.


Terbatuk-batuk lagi sambil memegangi dadanya.


“Bandel ih!” Agung menepuk-nepuk punggung Raditya.


“Memangnya sudah berapa lama Pak Raditya terbangun?” tanya Hans.


“Sejak mendengar suara Adinda mengucap salam..”


“Setdah! Dengar dari awal dong!” Agung terhenyak.


Membuat semuanya tertawa lagi.


.


***


Dah ah..


Srimulat banget pasangan Kanebo Kering ini.


Bab 288 dipending lama oleh mimin, padahal di-upload jam 23 an tapi baru tayang menjelang siang.


Entahlah.


That’s hurt.


Eh malah curcol Authornya.


Happy Reading ya Readers.


Jangan lupa tombol like dan minta uploadnya.


Utamakan baca Qur'an 🪴