
“Kenapa?” Bramasta menatap Agung.
“Kedatangan Prasetyo tadi membuat saya berpikir ulang tentang ini semua. Kesombongan mereka dan bagaimana mereka memperlakukan kami terasa menyesakkan. Tapi saya tidak ingin keluarga saya mengetahui hal ini.”
Bramasta mengangguk lalu menepuk punggung Agung. Lalu melangkah ke dalam lift saat pintu lift terbuka.
“Assalamu’alaikum.”
23.20 saat Bramasta mulai mengemudikan mobilnya keluar rumah sakit. Lalu lintas sudah lengang. Benaknya masih memikirkan kejadian tadi. Sungguh Agung dan Adisti adalah anak-anak yang beruntung mempunyai keluarga yang saling menyayangi. Sama seperti dirinya dan Layla kakaknya. Daddy dan Mommy walaupun sibuk dan jarang bertemu tapi selalu menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya.
Tiba-tiba malam ini, Bramasta tidak ingin pulang ke kediamannya. Dia membelokkan lagi arah mobilnya menuju rumah utama. Kangen Daddy dan Mommy. Bagaimana Bunda mendekap Adisti membuat Bramasta teringat pelukan Daddy ataupun Mommynya.
Lampu-lampu utama di dalam rumah sudah digantikan dengan lampu dinding ataupun lampu tanam pada plafon yang temaram. Bramasta melihat Daddy hendak masuk ke dalam kamarnya.
“Assalamu’alaikum, Dad.”
“Wa’alaikumussalam. Tumben pulang. Jam segini pula. Gimana dinnernya di rumah sakit. Asyik?”
“Ah, Daddy. Jadi Bram gak boleh pulang nih ke rumah utama jam segini? Gak boleh tidur di sini?”
“Kata siapa?”
“Ya udah, Bram pulang lagi…”
“Hey…”
“Dad..”
“Hmm?”
“Kangen..” Bramasta langsung memeluk erat Daddy. Tubuhnya ditopangkan pada tubuh Daddy. Daddy yang tidak siap dengan pelukan mendadak terhuyung-huyung membentur pintu kamar hingga pintu menjeblak terbuka. Mommy yang sedang memakai krim malam menoleh keheranan.
“Daddy? Bram?” Mommy mendekati mereka sambil berkacak pinggang, “Kalian kenapa?”
Daddy memukul lengan Bramasta agar pelukannya terlepas.
“Lepas gak nih? Lepas gak??”
Bramasta melepas pelukannya sambil terkekeh. Melihat ke arah Mommy yang bertolak pinggang, Bramasta mendekati Mommy dengan tangan terentang.
“Mom..lari Mommm!” perintah Daddy.
Telat, Mommy sudah ada dalam pelukan Bramasta. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri karena diayun oleh Bramasta.
“Ih ini ada apa sih? Bram, kamu kenapa?” Mommy bertanya sambil menjauh dari dada anaknya.
“Gak tau tuh. Datang-datang langsung main peluk. Bikin kaget aja. Mana berat banget tubuhnya..” Daddy bersungut-sungut.
“Bram, ih udah dong. Mommy baru saja pakai krim malam, nempel semua nanti ke baju kamu..”
“Biarin.”
“Bram udah dong. Kasihan Mommy tuh. Cerita ada apa tiba-tiba main peluk begitu? Pengen dilamarin anak gadis orang?” Daddy duduk di sofa kamar.
“Tiba-tiba kangen Mommy & Daddy. Tadi ada kejadian di ruang Adisti yang membuat Bram merasa beruntung banget punya orangtua seperti Daddy dan Mommy. Terimakasih sudah jadi orangtua yang baik untuk Bram dan Kak Layla ya Dad, Mom,” kata Bramasta sambil memeluk erat Mommy, “I love you, both_Aku menyayangi kalian berdua_.”
“Love you too, Son,_Sayang kamu juga,Nak_” keduanya kompak menjawab.
Bramasta melepaskan pelukannya. Mommy duduk di samping Daddy.
“Ceritain ada kejadian apa tadi,” kata Mommy sambil menepuk sofa di sampingnya.
Bramasta tidak duduk melainkan berbaring di sofa samping Mommy dengan menjadikan paha Mommy sebagai bantal. Mommy bersandar pada lengan Daddy. Bramasta mulai bercerita tentang kedatangan mantan tunangannya Adisti. Keduanya mendengarkan dengan seksama. Beberapa kali Daddy menghela nafas mendengar kelakuan kolega bisnisnya. Mommy menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya. Suara Bramasta terdengar sengau saat bercerita pertama kalinya Adisti tahu tentang kenyataan yang disembunyikan keluarganya.
“Bagaimana keluarganya saling melindungi, saling menguatkan dan saling menghibur, itu yang membuat Bram sangat bersyukur memiliki Mom dan Dad sebagai orangtua Bram. Kita juga mempunyai keluarga yang solid seperti mereka. Mereka memang tidak sekaya keluarga Hilman Anggoro tapi attitude_tingkah laku_ mereka jauh lebih baik daripada keluarga Hilman Anggoro,” Bramasta mengakhiri ceritanya.
Daddy dan Mommy mengangguk setuju. Pukul 01.22 mereka belum tidur, saling terdiam setelah mendengar cerita Bramasta.
“Tidurlah, sudah dini hari. Besok kita lanjutkan lagi,” kata Daddy sambil menggandeng Mommy ke arah tempat tidur.
“Dad?”
“Hmm.”
“Boleh Bram di sini? Bram masih kangen.”
“Terserah. Tapi di sofa saja, OK?”
“Iya.. iya..”
Bramasta tidak tidur. Hanya berbaring di sofa sambil memandangi aquarium air laut besar di kaki tempat tidur orangtuanya. Memperhatikan hilir mudik ikan terumbu karang berukuran kecil juga gerak anemone sambil telunjuknya menyentuh cuping hidungnya. Berpikir mengenai keluarga Hilman Anggoro.
“Son? _Nak?_” Daddy setengah duduk dengan suara mengantuk.
“Yeah?”
“Get sleep now_Buruan tidur_. Atau Daddy gak jadi lamarin anak gadis orang nih.”
“Dih.. iya..iya..”
Sarapan pagi di rumah utama tampak berbeda dari hari biasanya tanpa Bramasta. Bramasta sarapan dengan mata masih mengantuk.
“Jam berapa Adisti pulang?” Mommy mengoleskan selai jeruk pada roti panggangnya.
“Setelah seluruh visit dokternya. Mungkin saat makan siang, Mom.”
“Bram, thanks a lot ya. Sebelum kamu konferensi pers kemarin, paginya Mommy borong saham rumah sakit. Saat kamu menyebutkan betapa sigapnya pihak rumah sakit saat terjadi kehebohan di lobby bawah, sahamnya langsung naik. Kepercayaan publik meningkat.”
“Untung banyak, dong Mommy.”
“Buat modal mahar kamu ke pujaan hati kamu ya..”
“Gak usah, Mom. Bram udah nyiapin. Itu buat Mommy dan Daddy aja jalan-jalan lihat kebun bunga tulip di Turki atau puas-puasin ke spa minyak zaitun di Maroko.”
“Dad, tuh disuruh honeymoon lagi sama Bram..”
Daddy terkekeh. Dia menyesap kopi hitam tanpa creamer lalu menatap serius.
“Are you falling in love to her_Kamu jatuh cinta padanya_?"
“Fall in love at the first sight_Jatuh cinta pada pandangan pertama_,” Mommy terkekeh.
Bramasta tidak menjawab. Tapi bibirnya melebar malu-malu dengan pipi bersemu.
Bramasta mengangguk, “Thanks a lot, Dad.”
Notifikasi pesan berbunyi. Indra mengirimkan jadwalnya hari ini.
“Bram pamit dulu, Dad, Mom. Assalamu’alaikum,” Bramasta menyalimi orangtuanya.
Seperginya Bramasta, notifikasi pesan di gawai Daddy berbunyi. Dari Hans. Daddy membuka isi pesannya, membacanya dengan alis terangkat.
“Kenapa Dad?”
“Hans memberi laporan tentang Keluarga Adisti. Mereka bukan orang biasa ternyata.”
“Maksudnya?” Mommy mencondongkan tubuhnya ke samping, ikut membaca chat Hans.
“Mereka orang-orang yang berprestasi secara intelektual.Pak Gumilar pensiunan dosen di salah satu perguruan tinggi. Beliau juga menulis buku tentang mineral dan beberapa kali diundang ke perguruan tinggi terkemuka untuk memberikan kuliah terbuka ataupun seminar. Bu Gumilar sendiri praktisi pertanian organik rumah tangga dan sering dijadikan narasumber untuk urban farming. Beliau juga ketua pengajian ibu-ibu di lingkungannya. Agung, dia bekerja sebagai akuntan di PT Buana Raya. S1, lulusan terbaik di perguruan tinggi negeri. Adisti, dia sempat bekerja sebagai staf di Anggoro Putro. Beberapa bulan yang lalu mengundurkan diri. Dia D3 manajemen bisnis dan menjadi lulusan terbaik juga di kampusnya. Beberapa kali mengikuti pameran lukisan. Agung dan Adisti keduanya pemegang sabuk hitam taekwondo.”
“Wow. Keren.”
Notifikasi pesan masuk berbunyi. Indra mengirimkan foto pada Daddy.
Daddy membuka pesan Indra. Foto tulisan tangan yang rapi, caption dari Indra: Ini tulisan tangan Adisti, Om. Foto isi buku diary Adisti. Daddy dan Mommy mengamati foto itu. Lalu tertawa bersama sambil berangkulan.
Bramasta membaca cepat laporan yang ada di tangannya. Tangannya menelusuri tabel-tabel yang ada. Melingkari dengan pensil bila dirasa aneh dan butuh penjelasan. Menyisihkannya lalu mengambil tumpukan laporan yang lainnya. Membacanya lalu menandatangani bila tidak ada yang harus diubah. Melirik arlojinya, 10.45. Dia melepas kacamata bacanya. Menggulung lengan bajunya hingga hampir siku lalu mengambil kunci mobilnya. Berjalan keluar ruangan sambil mengirim panggilan.
“Assalamu’alaikum, A. Semua dokter udah visit?”jeda.
“OK, sampai ketemu di sana ya. Assalamu’alaikum.”
Membuka pintu ruangan Indra, melongokkan wajahnya ke dalam.
“Knock, knock_tok, tok_! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Bentar Bos.. tanggung dikit lagi,” Indra mengetik cepat diatas keyboardnya.
“Gila bener.. kayaknya cuma lu aja deh yang nyuruh bosnya nunggu.”
“Balas email dulu. Bentar lagi.”
Bramasta akhirnya masuk ke ruangan Indra.
“Kita semobil ya. Driver kantor nanti bawa innova ke rumah sakit sekalian ke rumah Adisti.”
Indra mengangguk sambil membereskan mejanya.
“Dra, mantannya Adisti datang semalam.”
“Wah kok bisa? Darimana dia tahu Adisti dirawat?”
“Di video itu motor Adisti terlihat sekilas walau tidak terlihat nomor polisinya. Freeze zoom wajah Adisiti juga tidak jelas tapi dia merasa korban yang jatuh adalah Adisti. Dia datangi rumahnya, rumah kosong karena semuanya sedang di rumah sakit. Tanya ke tetangga juga mereka jawab tidak tahu. Akhirnya dia keliling rumah sakit untuk mencari Adisti,” Bramasta melemparkan kunci ke arah Indra, “Semalam Gue tanya ke Agung sewaktu di jalan.”
“Terus gimana?” Mereka berdua ada di dalam lift.
Bramasta menceritakan semuanya. Indra mendengarkan sambil mengemudi. Berulang kali dia menggelengkan kepala mendengar cerita Bramasta.
“Keterlaluan ya keluarga Hilman Anggoro.”
“Gue pengen mereka balikin semua uang keluarga Pak Gumilar.”
“How–Bagaimana_?”
“Kita pakai chat yang dikirimkan istrinya Hilman Anggoro kepada Adisti.”
“Penghinaan, perbuatan tidak menyenangkan, pengancaman, intimidasi, pemerasan,” Indra membuat daftar, “Wow.”
“Dra, berhenti dulu di toko itu,” Bramasta menunjuk sebuah plank nama toko florist.
Indra terkekeh, “Baru nyadar, selama ini kita nengokin Adisti tapi gak bawa apa-apa?”
Butuh waktu 15 menit, Bramasta keluar membawa hand bouquet besar berisi anyelir pink dan baby breath. Diletakkan dengan hati-hati di jok tengah.
“Assalamu’alaikum,” Bramasta dan Indra membuka pintu.
“Wa’alaikumussalam.”
“Wah, udah siap-siap pulang nih?” Bramasta melihat beberapa tas pakaian dan paper bag sudah rapi siap dibawa.
“Udah gak sabar pengen pulang, ya Dis?” tanya Indra yang dijawab dengan senyuman Adisti.
Adisti turun dari bednya. Berjalan ke arah sofa bed.
“Lho, udah bisa turun dari tempat tidur?” tanya Bramasta.
“Udah dari kemarin. Tapi belum bisa berdiri atau jalan lama. Masih lemes,” Adisti duduk di sofa, “Pak Bram, Bang Indra, terima kasih banyak ya sudah menolong saya.”
“Eh?” Bramasta mengangkat sebelah alisnya dengan padangan heran tapi terlihat terpukul.
“Kenapa Bos?” tanya Indra.
“Kok manggilnya Pak?”
Bunda yang sedang membuat teh mengangkat wajahnya heran. Agung yang sedang mengambil peralatan mandi menoleh dengan cepat ke arah Adisti.
“Yaiyalah dia manggil lu Pak. Kakaknya aja manggil lu Pak. Masa adiknya harus manggil lu Sayang?”
Adisti menutup mulutnya menahan tawa. Agung dan Bunda terkekeh geli.
“A,” panggil Bramasta.
“Iya Pak?” tanya Agung menghampiri.
“Mulai sekarang jangan panggil Bapak lagi ya. Saya gak setua itu. Saya bahkan lebih muda 2 tahun dari Indra,” matanya melirik Adisti yang masih menutupi mulutnya dengan geli, “Panggil saja Abang.”
Indra tertawa hingga matanya berair, “Oh my.. this is very LOL_Ya ampun, ini benar-benar konyol_.”
“Udah ah,” wajah Bramasta merah padam, “Ndra, lu urus administrasi kepulangan ya.”
Bramasta mengeluarkan kartu kreditnya lalu menyerahkan kepada Indra. Indra mengangguk.
Kepulangan Adisti berjalan lancar tanpa insiden menghebohkan. Mereka keluar melalui jalur VIP yang langsung terhubung dengan parkiran VIP. Pihak direksi rumah sakit ikut mengantar hingga di tempat penjemputan pasien. Mereka sangat berterimakasih sekali kepada Bramasta dan keluarga terkait naiknya nilai saham rumah sakit mereka.