CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 36– KAMAR CALON PENGANTIN



Indra berlari ke arah UGD. Perawat mengenali Indra dan langsung membawanya ke bed Bramasta. Bramasta masih tidak sadarkan diri, ada selang oksigen yang terpasang dan juga selang infus pada lengan kirinya.


“Tuan Bramasta mengalami shock, saturasi oksigennya menurun, juga sedikit dehidrasi. Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Indra mengangguk dan mengucap hamdalah dalam hati.


“Bram, lu kenapa Bram?” Indra bergumam lirih di dekat telinga Bramasta.


Indra teringat Adisti. Dia bertanya pada perawat.


“Pasien Adisti dimana, Sus?”


Perawat membuka tirai di samping bed Bramasta.


“Bagaimana kondisinya?”


“Luka terbukanya sudah kami tangani. Luka akibat jarum pentul yang merobek kulit kepalanya. Juga ada jahitan lama yang terbuka di bagian kepala dan bahu pasien.”


Indra mengangguk, “Luka dalam?”


Perawat membetulkan letak selimut Adisti, “Kami masih menunggu hasil CT Scan.”


Bagaimana dengan kondisi sendi bahunya?”


“Nanti kita lihat dari hasil CT Scan, ya Pak.”


Pintu geser otomatis UGD terbuka. Pria-pria bertubuh jangkung dan tampan memasuki ruangan. Indra melambai ke arah mereka. Menjelaskan kondisi Bramasta dan Adisti seperti yang tadi dijelaskan oleh perawat.


Perawat mengingatkan mereka, penunggu dalam UGD hanya boleh ditunggui oleh satu orang keluarga pasien. Tuan Alwin tampak gusar. Dia memandang pada Hans. Hans mengangguk.


Dengan gawainya, Hans menghubungi direktur rumah sakit meminta pengaturan khusus bagi pasien keluarga Sanjaya. Direktur rumah sakit menelepon bagian UGD, memberikan pengaturan khusus untuk keluarga Sanjaya. Tuan Alwin mengangguk puas.


Agung memegangi tangan Adisti. Dia tidak bisa menyembunyikan air matanya. Seorang perawat menghampiri mereka. “Tuan-tuan, sepertinya kejadian yang dialami Tuan Bramasta dan Nona Adisti ada pada video di medsos. Dari baju yang mereka kenakan sama dengan baju yang dikenakan di video.”


Masing-masing sibuk membuka gawainya.


“Apa maksud part 1, 2 & 3?” tanya Tuan Alwin.


Mereka menonton videonya. Menggeram marah saat melihat Adisti diserang dari belakang lalu bergumam seru saat melihat tendangan memutar Adisti.


“Masyaa Allah, Adek!”


“Adiklu keren banget, Gung!”


“Calon mantu saya.. Sabuk hitam taekwondo!”


Menonton video part 2, sumpah serapah mereka gumamkan kepada sosok wanita yang keluar dari dalam tong sampah.


“Siapa Gung? Kamu kenal?” tanya Indra.


Agung menggeleng, “Belum pernah lihat. Cek komentar saja. Tingkat kekepoan netizen itu sangat tinggi dan mereka sangat rajin mencari tahu demi memenuhi hasrat kekepoan mereka.”


“Hmmm, gotcha_dapat_!” seru Hans, “Dari salah satu komentar, dia Rita Gunaldi. Owner dari The Ritz Boutique & Salon.”


“Rita??” Agung membelalak.


“Siapa? Kamu kenal?” tanya Tuan Alwin.


“Tidak kenal secara langsung,” Agung mengusap wajahnya dengan kasar, “Dia perempuan yang berzinah dengan mantan tunangan Adisti saat fitting baju pengantin.”


“Subhanallah! Na’udzubillah min dzaalik,” seru Tuan Alwin, Hans dan Indra berbarengan.


“Mantan tunangan Adisti anak Hilman Anggoro itu?”


Agung mengangguk.


“Hubungi Leon, hasil identifikasi rekaman CCTV sudah selesai belum?” Tuan Alwin berkata pada Hans. Hans mengangguk.


Mereka menonton part 3, Tuan Alwin berkata pada Hans lagi, “Kirim orang untuk memberikan uang sebagai tanda terima kasih dari keluarga Sanjaya kepada gadis penjual minuman itu.”


Hans mengangguk lagi.


“Indra, kamu kirimkan 3 video ini ke Tante ya. Sekalian ceritakan kondisi Bramasta dan Adisti.”


“Baik Om,” Indra bertanya lagi, “Kenapa harus saya, Om. Kenapa tidak Om langsung saja yang berbicara dengan Tante?”


“Isssh,” Tuan Alwin menatap Indra dengan pandangan tidak berdaya, “Kalian satu server dan satu frekuensi. Kalian pasti bisa mengatasi keadaan ini dengan cara kalian. Om gak tahan dengan histerisnya Tante kamu itu…”


Hans menahan tawanya. Indra menatap Agung dengan tatapan tidak percaya.


“Suster, anak saya dan calon istrinya bisa dirawat di ruang yang sama? VVIP President Suite Room. Kamar calon pengantin.”


Perawat itu mengangguk. “Bisa Tuan Alwin. Ruangan ready tetapi sebaiknya menunggu hasil CT Scan untuk pasien Adisti.”


“Baiklah,” Tuan Alwin mengangguk.


“Kenapa mereka ditempatkan satu ruangan, Pak?” tanya Agung.


“Kita tidak tahu seberapa nekat keluarga Anggoro dan Rita Gunaldi itu. Saya tidak mau mereka dilukai lagi. Lebih mudah pengawasannya bila mereka berada di ruangan yang sama,” Tuan Alwin menunjuk Bramasta, “Selain itu pasti Bramasta pasti tidak mau jauh-jauh dari Adisti. Bisa mengamuk lagi nantinya.”


Agung mengangguk mengerti.


“Bapak dan Ibu Gumilar sudah dihubungi?”


“Belum Pak. Saya menunggu hasil CT Scan dulu supaya jelas kondisi Adek.”


Tuan Alwin mengangguk.


“Ngomong-ngomong, kok kamu bisa ada di Gedung Sanjaya Group tadi? Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Tuan Alwin.


Agung menatap Indra.


“Papi hari ini merekrut Agung untuk menggantikan salah satu manajer di divisi papi yang resign,” Indra menjelaskan.


“Oh?”


“Really_Sungguh_?” tanya Tuan Alwin dengan alis terangkat. Indra mengangguk.


“Masyaa Allah… masyaa Allah, mabruk..” Tuan Alwin berjalan mendekati Agung dan merangkulnya. Menepuk-nepuk punggungnya, “Selamat bergabung di Sanjaya Group ya.”


Agung mengangguk tersenyum, “Terimakasih banyak Pak.”


Seorang dokter dan perawat yang membawa map besar bertuliskan CT Scan mendekati mereka.


“Saya Dokter Felix, internis, kebetulan saya yang menangani Pasien Adisti sewaktu jatuh di jurang.”


Agung mengangguk. Dia masih mengingat dokter tersebut.


“Kondisi Adisti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Malah cedera pada bahunya terlihat membaik dan sendinya sudah berada di posisi semula. Mungkin karena gerakan tendangan berputarnya ya? Keren banget. Saya saja sampai menonton berkali-kali video tersebut. Luar biasa. Taekwondo ya?”


Agung mengangguk.


“Mengenai luka terbuka, sepertinya disebabkan oleh jarum pentul yang menusuk kulit kepalanya akibat serangan wanita itu. Ujung jarum masuk ke kulit kepala kemudian disentak ke belakang, menyebabkan kulit kepalanya koyak. 7 jahitan berbentuk C. Sedangkan untuk jahitan yang terbuka pada bahu, sepertinya akan meninggalkan bekas parut permanen. Bisa kita perbaiki dengan bedah plastik rekonstruksi di rumah sakit ini. Ada 2 jahitan yang terlepas pada bahu dan kepala, sudah kami jahit kembali.”


Gawai Indra berdering. Tertera nama Tante Al pada layarnya. Dia memperlihatkan pada Om Alwin. Tuan Alwin menyuruh Indra menjawabnya di luar ruangan dengan gerakan kepalanya. Indra mengangguk. Dia berlalu dari ruang UGD.


“Alhamdulillah, semoga Adek dan Abang Bramasta bisa pulih dengan cepat,” kata Agung yang diamini oleh semuanya.


“Jadi bisa kita pindahkan mereka berdua ke ruang inapnya sekarang?”


“Bisa Tuan,” kata perawat.


“Saya pamit dulu,” kata Dokter Felix, “Kita observasi dulu Pasien Adisti ya selama 2 hari. Kalau untuk Pasien Bramasta, besok pagi juga dia sudah bisa pulang.”


Bramasta dan Adisti dipindahkan ke ruang inap masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


“Tidak apa-apa mereka belum sadar?” tanya Hans pada perawat.


Perawat tersenyum ramah, “Tidak apa-apa, Tuan. Ini sebagai proses alami tubuh untuk beristirahat pasca mengalami shock.” Hans mengangguk.


Bed mereka diletakkan berdampingan. Ada tirai pembatas di antara mereka untuk menjaga privasi. Agung duduk di kursi samping bed Adisti. Indra duduk di kursi samping bed Bramasta. Daddy dan Hans duduk di sofa menunggu kedatangan Mommy sambil memeriksa pekerjaan lewat gadget mereka. Suara erangan tertahan terdengar dari bed Bramasta. Indra mendekat, menyentuh tangan Bramasta.


“Hey Bram. Wake up_Bangun_!” guman Indra, “Lu gak pengin lihat keadaan calon bini lu?”


Bramasta menoleh ke arah suara Indra, matanya masih terpejam.


“Ndra.. gue ceroboh Ndra. Gue bersalah pada Disti,” ada air mata yang mengalir di sudut matanya. Agung berjalan mendekati bed Bramasta, “Gak semestinya gue tinggalin Disti di mobil. Gak semestinya…”


Bramasta terisak. Daddy dan Hans mendekati bed.


“Gue seharusnya ajak Disti menemui Iqbal di tokonya. Gue seharusnya gak ninggalin Disti sendirian. Ya Allah.. Disti..”


“Bang,” Agung menyentuh lengan Bramasta, “Adek tidak apa-apa. Dia masih belum sadar tapi kata dokter, dia tidak apa-apa. Adek kuat..”


Bramasta menoleh pada Agung. Kepalanya terasa sakit sekali.


“Gue lihat bagaimana perempuan itu menarik kerudung Disti. Gue lihat bagaimana dia menerjang kepala Disti dan menyentakkannya ke belakang,” Bramasta terisak keras,”Gue lihat darah merembes di kerudungnya. Darah Disti.. Ya Allah..”


“Son, she is OK now_Nak, dia baik-baik saja sekarang_” kata Daddy.


“I can’t protect her. I’m useless!_Aku tidak dapat menjaganya. Aku tidak berguna!_”Bramasta larut dalam isaknya.


“Sssssh… you’ve protected my sister very well since both of you met_Ssssh… kamu telah melindungi adikku dengan sangat baik semenjak kalian bertemu_” kata Agung.


“Abang minta maaf, A..”


Mommy sudah berada di dalam ruangan. Mendengarkan semua perkataan Bramasta dengan air mata berlinang. Dia mendekati bed Bramasta.


“Bram, you have to be strong_Kamu harus kuat_,” Mommy membelai lengan Bramasta.


Indra mengubah setelan bed Bramasta menjadi setengah duduk.


“Look at beside you, Bram. Who is sleeping there?_Lihat di sebelahmu, Bram. Siapa Yang sedang tertidur di sana?_” kata Indra.


Agung menggeser tubuhnya agar Bramasta bisa melihat bed sebelahnya.


“Disti!”dia begegas hendak turun dari bednya, Agung dan Indra menahannya.


“Woiy..woiy.. tahan dulu, Bos,” kata Indra, “Biarkan Adisti beristirahat dulu. Tubuh lu juga belum bisa bergerak tiba-tiba seperti ini..”


Bramasta memegangi kepalanya yang terasa nyeri dan berdenyut.


“Disti, bagaimana dengan dia?” tanya Bramasta.


“Tidak ada cedera serius. Hanya luka sobek akibat jarum pentul yang mengoyak kulit kepalanya. 7 jahitan untuk luka barunya. 2 jahitan untuk luka lama yang terbuka lagi pada bahu dan 2 jahitan untuk luka lama di kepalanya. Dan kemungkinan besar, jahitan yang terbuka akan menimbulkan bekas permanen di kulitnya. Dokter menyarankan bedah plastik. Tapi saya gak yakin Adisti mau. Bagi Adisti, setiap bekas luka ada kisahnya. Setiap kisahnya membuat dia kuat dan semakin dewasa.”


“Adik kamu itu memang luar biasa, Gung. Gak salah Bramasta memilihnya menjadi istri,” kata Daddy mengangguk.


“Setelah makan siang tadi, kami bertemu Prasetyo Anggoro. Tepatnya dia yang menemui kami saat kami sudah di dalam mobil hendak ke butik,” Bramasta menatap Adisti.


“Apa yang dia katakan, apa yang dia lakukan?” Indra bertanya cepat.


Bramasta menceritakan semuanya. Wajah Agung merah padam menahan amarah mendengar adiknya dihina seperti itu. Mommy memegang lengan Daddy erat-erat.


Dering notifikasi pesan chat pada gawai Hans berdering terus menerus. Pesan chat berurutan masuk ke dalam aplikasi hijaunya. Hans menunduk membaca pesan chat yang banyak berisi foto. Dia membelalakkan matanya.


***


Seseorang baru saja turun dari mobil sedan hitamnya menenteng tas tangan puluhan juta rupiah dengan penuh gaya. Meninggalkan supir yang tengah memarkirkan mobilnya di garasi. Ketukan sepatunya terdengar jelas di ruangan yang sepi. Di sudut ruangan dengan dinding krem dan banyak pajangan berwarna emas, dia membuka gawainya. Duduk dengan santai, menonton video yang tengah viral. Lalu terkekeh senang.


“Akhirnya, tanpa aku harus bersusah payah, ada yang membalaskan dendamku. Tuhan memang Maha Adil,” dia tertawa terbahak hingga mengeluarkan air mata.


“Si Miskin Tak Tahu Diri itu terluka sementara si Sund*l Jal*ng terhina begitu rupa. Puas rasanya! Perempuan-perempuan brengs*k!!”


***