CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 90 – KIRIMAN BUNGA



“Lu aja ngatain dia bocah, wajar aja kalau dia nyebut lu Om!” Hans tergelak.


“Bagi dia, lu tua, Bro. Tabahkan dirimu ya..” Indra menepuk-nepuk punggung Agung.


“Isssh!”


“Kalau dipikir-pikir dengan kejadian pagi tadi dan sewaktu di rumah sakit, kayaknya dia bakal jadi jodoh Kakak Ipar...” Bramasta berkata dengan telunjuk menyentuh cuping hidungnya.


“Apa tuh?” tanya Indra penasaran.


“Di rumah sakit, gue dengar, Disti mendo’akan kakaknya supaya mendapat jodoh yang lebih muda umurnya dari Disti supaya Agung jadi awet muda,” Bramasta memandang Agung, “Yang tadi lebih muda dari Disti kan. Anak SMU.”


“Tadi pagi saat Agung sudah berada di atas motor, Disti mendo’akan kakaknya supaya bertemu dengan jodohnya saat memakai motor. Pagi tadi Agung salah tanggap mengira Disti menyuruhnya jadi tukang ojek, lah tadi Kakak Ipar disangka sebagai Kang Ojek kan oleh anak SMU tadi?”


Agung mengangguk lalu bengong.


“Ah.. gak mungkin,” Agung menepis tangannya di udara, “Itu kan cuma omongan guyon Adek aja.”


“Lagian yang dapat bouquet bunga pengantin kan gue, bukannya Agung atau Anton,” Indra tersenyum penuh kemenangan, “Berarti urutan berikutnya gue. Gue gak bakal dilangkahi lagi.. huahahahaha...”


Hans meringis mendengar tawa Indra, “Emangnya sudah ada calonnya, Ndra?”


“Belum..”


“Next time kalau mau ngomong urutan merid, harus punya calon yang pastinya ya,” ucap Hans sambil menepuk-nepuk punggung Indra disambut tawa semuanya.


Indra cemberut menatap Hans.


“Jodoh Bang Indra itu orangnya harus dewasa. Karena Bang Indra tidak menyukai wanita yang kekanakan, manja gak jelas apalagi cengeng. Tipikal keibuan buat mengimbangi gaya pecicilannya Bang Indra,” ucap Adisti sambil merem@s jemari suaminya.


Bramasta tersenyum lebar, “Dengerin baik-baik, Ndra. Nanti jadi kenyataan juga loh ucapan Disti...”


“Kriteria wanita yang Abang inginkan kok Disti bisa nebak sih?” tanya Indra dengan serius.


“Eh?” Adisti kaget, “Berarti benar ya? Padahal tadi Disti cuma asal ucap saja loh.”


“Kalau masalah urutan merid, tetap gue pede, Hans. Secara, bakal calonnya Agung itu anak SMU...” Indra membusungkan dadanya.


Anton mengetikkan sesuatu pada laptopnya, kemudian terdengar reff lagu lama dari alm. Chrisye, penyanyi legendarisnya Indonesia.


“Engkau masih anak sekolah, satu SMA


Belum tepat waktu 'tuk begitu-begini


Anak sekolah datang kembali


Dua atau tiga tahun lagi”


“Woiyy itu lagu lama banget. Judulnya apa sih?” tanya Indra.


“Anak SMA by Chrisye,” jawab Anton.


“Kok pas banget ya lagunya,” Bramasta terkekeh.


“Isssh kalian nih ya, gegabah mengatakan dia calon jodoh gue. Namanya aja gue gak tau siapa. SMU kelas berapa dan SMU mana juga gue gak tahu...” Agung mencebik, “Gue juga gak ada perasaan apa-apa sama dia selain merasa dongkol aja.”


“Kalem Bro, yang penting lu tahu nama bokapnya kan? Tahu alamatnya? Gampang kalau buat ngecek nama anaknya dan sekolahan anaknya. Gue bisa nyuruh team gue buat nyelidikin,” Hans tersenyum lebar.


“Tentang rasa, mungkin sekarang belum ada, Kakak Ipar. Tapi begitu udah ada, bucinnya setengah mati..” Bramasta terkekeh diikuti yang lainnya.


“Dih!”


Suara tawa terdengar lagi dari ruang meeting.


***


LOBBY LANDMARK APARTMENT


“Selamat malam, Tuan Bramasta dan Nona Adisti, “ sapa petugas security.


Bramasta hanya mengangguk.


“Malam Pak..” sahut Adisti.


“Maaf Nona, ada kiriman bunga untuk Nona. Datang sore tadi,” petugas tersebut menunjuk pada tanaman bunga anggrek bulan putih di dalam pot keramik di atas meja front desk.



“Dari siapa?” tanya Bramasta.


“Di kartunya tertulis “Fans Berat Adisti”, Tuan,” Petugas tadi memperlihatkan kartu bersampul merah muda.


Bramasta mengerutkan keningnya sambil memandangi istrinya.


“Abang tidak pernah membagi alamat Abang kepada siapa pun. Disti?”


“Disti juga nggak..”


Bramasta menatap petugas tadi.


“Yang menerima bunga ini bukan saya, Tuan. Datang sebelum pergantian shift,” Petugas tampak cemas.


“Bang, barangkali saja dari orang-orang dekat kita. Udah ah, gak usah parno seperti itu..” Adisti menggenggam tangan suaminya sambil menepuk-nepuk pelan.


“Lagi pula bunganya cantik. Bukan bunga potong. Masih lengkap daun hingga akarnya. Ada media tanamnya. Lumayan buat mempercantik ruangan,” kata Adisti.


“OK..” Bramasta mengangguk, “Terima kasih banyak ya Pak..”


Bramasta memegang pot bunga dengan tangan kanannya. Dia tidak mau melepas genggaman tangannya pada Adisti. Jadi dia berjalan sambil memeluk pot bunga. Tangkai bunganya yang tinggi berayun-ayun.


Lampu foyer menyala otomatis begitu pintu apartemen dibuka.


“Assalamu’alaikum,” salam Bramasta saat memasuki foyer.


Dijawab oleh Adisti dan driver. Bramasta meletakkan pot bunga di atas meja foyer.


“Kanvasnya mau diletakkan di mana, Nona?” tanya Driver.


“Mmm.. di dekat mesin treadmill saja. Nanti saya bereskan sendiri.”


“Pak, koper istri saya jangan lupa ya,” kata Bramasta.


“Iya Tuan, nanti saya kembali lagi.”


Adisti duduk di kursi makan dengan tangan menopang kedua pipinya. Matanya diedarkan mengelilingi ruangan.


“Ngapain?” Bramasta mengecup kening istrinya.


“Kok rasanya berbeda ya, tempat ini dengan sewaktu Disti baru kemari.”


“Masa?”


“Ini seperti permainan tebak gambar. Ada yang berbeda tapi gak tahu apa.”


Bramasta terkekeh. Dia gemas sekali dengan tingkah istrinya.


“Setiap 2 hari sekali, ada beberapa asisten dari rumah utama yang membersihkan apartemen kita.”


Alis Adisti terangkat.


“Ciyus?”


Bramasta mengangguk sambil tersenyum.


“Sesultan itu?”


“Apaan sih?”


“Berarti seumur-umur Abang gak pernah nyapu?”


“Haissh. Ya pernah lah. Tapi jarang.”


“Ngelap-ngelap?”


“Abang gak pernah ninggalin rumah dalam keadaan meja ada remahan makanan ataupun tumpahan air di atas meja ataupun ada gelas atau piring kotor di bak cuci piring,” Bramasta memandangi mata Adisti.


“Daebak! Suami Disti keren!” Adisti membenahi rambut Bramasta yang menutupi keningnya, “Abang selalu sarapan di apartemen?”


Bramasta mengangguk.


“Nyiapin sendiri?”


“Nyiapin sendiri, makan sendiri, bersih-bersihin lagi sendiri.”


“Daebak...! But seems lonely_Tapi kayak yang kesepian_. Kacian suami akoooh...” memeluk tubuh suaminya.


Bramasta tertawa.


“Ya gak lonely juga kali. Kan Abang yang ingin sendiri tinggal terpisah dari rumah utama. Tiap sarapan ditemani suara TV.”


“Kartun?”


“Ya nggaklah. Berita aktual. Berita ekonomi.”


“Makanya waktu di rumah sakit, Abang ngomong senang banget ya sarapan bertiga bareng Disti dan Kakak.”


Bramasta mengangguk, “Kalian rame. Bikin hati bahagia berada di antara kalian.”


“Sekarang?”


Bramasta tidak menjawab. Dia menatap mata coklat istrinya. Mata yang selalu membuat hatinya berdebar. Mendekatkan wajahnya pada Adisti. Menyentuh pipinya pada pipi Adisti. Menggesekkannya perlahan.


“Abang bahagia bersama Disti. Menjadi suami Disti sekaligus menjadi pacar Disti juga menjadi sahabat Disti,” Bramasta menyentuh bibir istrinya, “Abang harap Disti juga merasakan hal yang sama dengan Abang.”


Adisti tidak menjawab. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir suaminya. Perlahan, mencium suaminya.


Udara terasa begitu tipis. Udara terasa begitu panas. Rasa yang membuat serasa berada di ruang bergravitasi nol. Ringan. Melayang. Membuat meremang.


Saat gravitasi kembali normal, Bramasta menggenggam erat tangan istrinya. Pipi keduanya bersemu merah.


“Kita belum sholat isya. Sholat dulu yuk,” bisik Bramasta.


“Bang, koper Disti...”


“Biarkan saja di situ. Besok kita rapikan semuanya.”


Bramasta menarik Adisti ke dalam kamar.


Lampu-lampu utama sudah dimatikan digantikan dengan lampu dinding dan lampu tanam pada plafon yang temaram.


Dalam keremangan foyer, ada setitik nyala merah pada penjepit tangkai bunga anggrek bulan dengan kawat penyangganya. Nyala merah yang redup. Namun terlihat.


***


Eh bunga dari siapa sih?


Ada yang bisa nebak?