CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 153 – GERIMIS MALAM INI



“Mau makan apa?” tanya Bramasta saat mereka berada di dalam mobil menuju apartemen.


“Nasi. Lapar banget.”


Bramasta mengangguk.


“Bang, berhenti di depan..”


Adisti menunjuk rumah makan Padang favorit keluarganya.


“Makan di sini?” tanya Bramasta.


Adisti menggeleng, “Bungkus saja ya.”


“Minta bantuan pengawal saja untuk membelinya. Abang tidak mau kejadian Kupat Tahu Gempol terulang lagi,” Bramasta mengambil gawainya.


Seorang pengawal mengetuk jendela kemudi. Bramasta menurunkan kaca jendelanya.


“Minta tolong belikan Nasi Padang ya Pak.”


Adisti menyodorkan dua lembar uang kertas berwarna merah.


“Abang mau makan pakai apa? Ayam, rendang atau ikan?”


“Rendang, dobel ya.”


Pengawal mengangguk.


“ Nasi ayam bakar 1, nasi rendang dobel 1. Bapak dan lainnya sekalian ya Pak,” kata Adisti.


Pengawal mengangguk lagi, "Baik, Nona .."


“Kok rasanya hari ini capek banget ya?” Bramasta mengecilkan volume audio mobil.


“Pasti karena serangan adrenalin sore tadi sewaktu mendengar kabar Bang Indra kesurupan..”


Bramasta melirik Adisti. Kemudian terkekeh pelan.


“Isssh Bang.. plis deh gak usah ngikutin Bang Indra.. Awas ya kalau sampai Abang Bramasta kesurupan. Abang harus puasa bikin bayi selama 40 hari!”


Bramasta mendadak berhenti terkekeh.


“Dih!” Bramasta meringis, “Mana ada itu. Aturan darimana?”


“Dari Disti lah..”


“Gak bisa kaya gitu dong..”


“Pokoknya Disti gak mau.”


“Reasons, please?”


“Nanti pas lagi bikin bayi kambuh kesurupannya gimana? Pokoknya harus bersih, benar-benar bersih dari pengaruh demit baru boleh bikin bayi..”


“Tapi gak 40 hari juga kali..”


“Biarin.”


“Kayak yang kuat aja 40 hari gak diapa-apain sama Abang..” Bramasta tergelak.


“Dih Abang!” Adisti mencubit lengan atas suaminya.


“Sayang....!” teriak Bramasta, “Sakit tahu!”


Jendela diketuk lagi. Bramasta menekan tombol bagasi. Nasi Padang mereka diletakkan di dalam bagasi oleh pengawal.


Pengawal menekan tombol di pintu dalam bagasi. Bagasi tertutup otomatis dari luar.


“Mau apa lagi, Sayang?”


Adisti menggeleng.


“Pengen cepat sampai rumah,” Adisti menatap gerimis yang menerpa jendela mobil, “ Bang, beli pintu ajaibnya Doraemon dong..”


“Gak sekalian minta beliin tongkat sihirnya Harry Potter?” Bramasta mencibir.


“Suami akoooh menggemaskan banget siiiiiih.”


“Awas, jangan cubit!” Bramasta melirik jutek pada istrinya.


Adisti tergelak.


“Sakit ya? Ma’af..” Adisti memeluk lengan suaminya. Menciumi di bekas tempat cubitanya tadi.


"Eh?" Bramasta merasa merinding. Dia bergidik dengan kelakuan istrinya.


"Disti.. jangan begitu. Abang sedang nyetir. Jadi gak konsentrasi nih."


“Isssh Abang diajak mesra-mesraan kok gak mau sih?” Adisti mencebik.


Bramasta menoleh cepat pada istrinya sebelum akhirnya tatapannya kembali ke jalan di depannya.


“Gerimis bikin romantis, tahu..” Adisti kembali memberi alasan.


“Ya... Abang kan belum terbiasa, Sayang. Sedang menyetir ditempel dan diciumi lengannya seperti itu oleh Disti. Merinding,” telapak tangan kirinya menangkup pipi kiri Adisti untuk ditempelkan lagi pada lengan kirinya.


“Begini saja, jangan diciumi. Geli. Kecuali kalau kita pakai driver. Kita mau gabruk-gabrukkan tipis-tipis atau tebal-tebal juga boleh..” Bramasta menoleh sambil tersenyum lebar.


“Eh, tapi tergantung mobil juga ding,” kata Bramasta lagi, “Hanya Lexus Abang yang ada sekatnya.”


“Kedap suara juga gak Bang?” Adisti tengadah menatap suami.


Bramasta mengangguk. Dia memutar roda kemudinya memasuki pelataran apartemen. Gerimis membuat suasana luar apartemen tampak sepi. Jarang orang berlalu-lalang.



Tapi air hujan juga membuat pemandangan malam hari yang tersaji di depan mata menjadi cantik. Cahaya lampu terbiaskan. Berpendar dengan romantis. Pantulan dari air yang tergenang membuat malam itu dipenuhi oleh cahaya lampu.


Bramasta menoleh sambil tersenyum.


“Malam ini kita tidur dengan gorden terbuka ya. Disti belum pernah kan, tidur serasa di bawah langit dengan pemandangan hamparan cahaya kota di bawahnya?”


Adisti menoleh dengan mulut membentuk O. Kedua alisnya terangkat heran.


“Kamar kita? Memangnya bisa?”


Bramasta mengangguk sambil mengarahkan mobilnya menuju teras lobby apartemen. Dia menghentikan mobilnya.


Ada naungan atap di teras lobby hingga tidak khawatir kebasahan saat hujan deras sekalipun. Bramasta membantu membuka seatbelt istrinya.


Pintu mobil dibuka dari luar oleh para pengawal. Begitu pula barang-barang yang ada di bagasi sudah ada di tangan pengawal.


“Biar saya bawa sendiri, Pak,” kata Adisti.


Bramasta menyerahkan kunci mobilnya pada pengawal.


“Terimakasih untuk hari ini ya. Selamat beristirahat,” kata Bramasta.


Ketiga pengawal membungkukkan badannya pada Bramasta.


Bramasta berbalik lagi saat sudah melangkah, “Tolong antarkan kuncinya ke atas ya.”


“Baik Tuan.”


Bramasta dan Adisti menjawab sapaan petugas lobby penthouse. Mereka memasuki lift. Hanya ada mereka berdua di dalam lift. Seperti biasanya. Karena memang jarang sekali mereka berpapasan dengan orang lain di dalam lift penthouse.


Adisti melingkari pinggang suaminya dengan kedua tangannya. Bramasta memandang ke bawahnya menatap istrinya. Kedua tangannya penuh membawa kantong belanjaan istrinya hari itu.


“Gak malu begini di dalam lift?” tanya Bramasta sambil tersenyum.


"Gak ada orang ini.. hanya kita berdua,” Adisti mengetatkan pelukannya.


“Ada kamera CCTV di dalam lift loh.. Bisa merekam audio dan visual dengan baik.”


“Hah?” Adisti melepaskan pelukannya.


Bramasta terkekeh. Membungkukkan tubuh jangkungnya supaya bisa mengecup kening istrinya.


“Menggemaskan sekali sih istri Abang ini..”


Mereka menyantap Nasi Padang sambil ditemani siaran berita di TV.


Masih didominasi oleh penangkapan Tuan Thakur dan penemuan buku hitam pembukuan praktik money laundry di The Ritz.


“Bang, kira-kira polisi akan menemukan buku hitam customer prostitusi online yang dijalankan Rita tidak ya?”


“Entahlah. Kalau buku tersebut ditemukan, Abang yakin akan terjadi guncangan besar di negeri ini. Guncangan moral di tengah krisis moral negeri ini.”


“Atau jangan-jangan memang sebenarnya sudah ditemukan tetapi tidak diungkap ke publik. Untuk melindungi orang-orang yang memang harus dilindungi citranya? Dan bisa dipakai untuk menekan orang-orang yang bisa mereka tekan terkait namanya tercantum sebagai pemakai jasa?” Adisti mencuci tangannya di bak cuci piring.


Bramasta mengikutinya. Bergantian mencuci tangan di bawah keran.


“Nyonya Bramasta ini cerdas sekali ya. Sek si amat sih otaknya?” Bramasta tersenyum lebar.


“Isssh apaan sih Abang ini,” Adisti melangkah menuju pintu kaca balkon.


Dia baru membukanya sedikit tapi kemudian segera menutupnya kembali.


“Kenapa?”


“Anginnya kencang banget, Bang.”


Bramasta terkekeh, “Yaiyalah. Kita di lantai paling atas gedung ini.”


Adisti mematikan TV, menggantinya dengan sholawatan dari aplikasi musik. Suara Maher Zain terdengar memenuhi ruangan, Rahmatun Lil ‘Aalameen. Mengatur volumenya agar tidak menganggu percakapan mereka.


“Ngomong-ngomong, Adinda bagaimana ceritanya hingga penampilannya menjadi berhijab?”


“Kemarin saat konferensi pers, Bunda dan Adinda mengobrol bersama. Banyak nasehat yang Bunda berikan. Terutama tentang kewajiban menutup aurat bagi muslimah yang sudah akil baligh.”


Bramasta mengangguk. Dia membawa 2 mug berisi air putih hangat ke sofa. Adisti duduk sambil melipat kakinya. Bramasta meraih remote lalu menekan tombol, gordyn ruang tengah berikut vitrage-nya tersibak ke tepi.


Hamparan Kota Bandung di malam hari dengan cahaya lampunya tampak indah di tengah gerimis. Sesekali tampak ada petir ataupun cahaya kilat di langit. Indah.


“Terus?” ia menoleh pada Adisti.


“Bunda juga mengatakan, kalau Adinda sayang pada Papanya, sebaiknya segera menutup aurat. Karena menjadi tanggung jawab orangtua laki-laki dan saudara laki-laki apabila ada anggota keluarga yang sudah akil baligh tiidak menutup auratnya.”


Bramasta mengangguk.


“Untung dia punya kerudung warna coklat tua yang sesuai dengan seragam Pramukanya ya”


“Itu kerudung Bunda,” Adisti terkekeh.


Bramasta mengerutkan keningnya.


”Kok bisa?”


“Dinda cuma punya kerudung putih untuk dipakai saat di sekolah atau di lingkungan rumahnya sedang ada acara kegiatan Islam.”


Bramasta cuma ber ooh.


“Adinda cerita pada Bunda, besok dia pakai seragam Pramuka. Kebetulan seragamnya memang lengan panjang dan rok pajang. Bingung dia gak punya kerudung coklat. Bunda langsung mengambil kerudung dari tas baju ganti Bunda.”


“Untung saja Bunda bawa ya?” Bramasta meneguk airnya.


Adisti mengangguk.


“Mau mandi dulu ya..”


“Pakai shower, jangan berendam.”


“Iya, Sayang..” Adisti melangkah menuju kamar mereka sambil membawa paper bag yang belum ia dan suaminya bongkar.