
Leon menatap pria berwajah tampan itu dari dalam mobilnya. Dia berusaha mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup dan mencurigakan. Selama dia berada di dalam mobil ini dia aman karena mobil ini didesain anti peluru baik kaca ataupun bodinya. Dia menurunkan sedikit jendela kacanya. Jemarinya siaga diletakkan di atas tombol untuk menaikkan kaca sebagai antisipasi pria tersebut melakukan serangan.
“Ada apa? I’m in hurry now_Saat ini saya sedang terburu-buru _,” jawab Leon.
“Saya Ferdi Gunaldi, suami dari Rita Gunaldi,” pria tersebut memperkenalkan diri.
[Eeuleuh.. ternyata suaminya wanita berbaju kunang-kunang kesiangan] Leon merasa dia tidak berbuat yang salah dengan istri pria tersebut. Justru istrinyalah yang menggoda dirinya.
Leon mengangguk, “Saya Louis Dubois.”
“Mobil ini…,” pria tampan itu memandang mobil yang sedang dipakai Leon dengan tatapan takjub dan mendamba, “Mercedes benz yang bullet proof_anti peluru_ itu kan?”
Ekspresi wajahnya seperti bocah lelaki yang melihat mainan mobil-mobilan idamannya di toko.
[Ya ampun, jadi ini tentang mobil?] Leon merasa lega. Kepalanya tidak terasa berat lagi.
Leon mengangguk, “Mercedes-Maybach S600 Guard.”
“Boleh saya lihat interiornya?”
Leon mengangguk lagi. Dia membuka pintu mobilnya. Ferdi Gunaldi tampak senang sekali diperbolehkan melihat-lihat interior mobilnya, eh mobil Daddy. Berkali-kali terdengar kata, “Waaah,” keluar dari mulutnya.
“Sekarang berapa ya harganya?”
[Teuing_Tauk_! Memangnya saya sales Mercedes?] Leon menatap mobil Grandmax yang diparkir tak jauh dari mobilnya.
“More than 470.000 Euro, I Think_Saya rasa lebih dari 470 ribu Euro_.”
“Waaaah,” lagi.
Gawai Leon berbunyi, Leon menerimanya dengan gaya yang dramatis.
“Yeah, I’m on the way now. Don’t worry, everything is OK. We’ll talk about it, K_Ya, saya sedang dalam perjalanan sekarang. Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja. Kita bakal bicarakan tentang hal itu_.”
Leon menutup gawainya.
“Pardon me, I’m in very hurry now_Maafkan saya, saya sedang terburu-buru sekali_,” Leon melihat arlojinya.
Ferdi Gunaldi sadar diri telah menyita banyak waktu pria asing itu. Dia terkejut melihat arloji yang dikenakan Leon. Arloji dengan harga beberapa buah Pajero miliknya. Ferdi semakin terpesona dengan Louis Dubois, lelaki yang baru dikenalnya.
Ferdi mengangguk. “Thankyou so much, Sir,” Ferdi tersenyum ramah kepada Louis alias Leon.
Leon memasuki mobilnya lagi. Mengenakan kacamata hitamnya dengan penuh gaya. Lagi-lagi membuat Ferdi terperangah. Kacamata hitam itu, item dambaannya dalam wish bucket-nya. Leon tersenyum kecil melihat tingkah Ferdi Gunaldi. Dia membunyikan klakson lembut pada Ferdi lalu melambaikan tangan kepadanya. Mobil melaju langsung ke gedung B Group. Beruntung sekali tadi pagi anak buah Anton menempelkan nomor polisi palsu di atas nomor polisi aslinya. Setidaknya saat Ferdi Gunaldi melacak nomor polisi mobinya, tidak akan ada datanya sama sekali alias bodong. Daddy bisa memakai mobilnya dengan aman. Sekarang Leon berdo’a dalam hati agar tidak ada razia lalu lintas.
***
Indra menunggu Leon dengan cemas. Dia mendapat laporan dari anak buah Anton yang memantau di dalam Grandmax putih tentang Leon yang keceplosan, aksi penyanyi dangdut pantura yang memainkan saku depan jas tempat pena kamera disematkan juga tentang suami si wanita itu yang mengejarnya.
Mercedes Maybach memasuki teras lobby. Leon menghentikan mobilnya di drop off. Indra berjalan ke arahnya.
“Tunggu anak buah Anton dulu, Bang.”
Leon mengangguk. Indra menelepon Anton, mengabari kalau mereka akan langsung berkumpul di kamar calon pengantin. Mobil Grandmax memasuki drop off area. Berhenti di belakang Mercedes Maybach. Seseorang turun dari mobil membawa tas laptop. Berbicara sebentar dengan Indra. Indra mengangguk.
Laptop diletakkan di jok belakang Maybach. Dibantu seorang lainnya dari mobil Grandmax, mereka mencopot nomor polisi palsu yang ditempelkan pada nomor polisi asli. Indra duduk di kursi depan memakai sunglassesnya. Leon menutup pintu mobil lalu mulai mengemudi. Menuju Kamar Calon Pengantin. Bramasta sudah dihubungi. Anton juga sedang meluncur ke arahnya.
“Ndra, bilangin ke Bramasta, pesenin makanan. Gila, setelah bertugas jadi mata-mata kok gue jadi laper banget ya.”
“Sama Bang..”
Indra mengirim pesan teks kepada Bramasta.
Mereka tiba di rumah sakit tepat saat jam makan siang. Jalur menuju parkir VIP harus melewati teras lobby. Mereka melongo dengan begitu banyaknya bunga di teras hingga lobby. Ada beberapa bunga papan yang dibariskan di teras, SEMOGA CEPAT SEMBUH BRAMASTA & ADISTI; GIRL POWER, ADISTI; BRAMASTA & ADISTI WE LOVE YOU!
Indra menunjuk salah satu papan bunga yang bertuliskan semoga cepat sembuh, “Itu dari Taekwondo Indonesia dan satunya dari Karate Indonesia.”
“Gila.. dampak videonya seheboh ini ya..” Leon berdecak kagum.
Lift VIP tampak lengang. Bunga-bunga buket dan rangkaian meja dengan kartu nama bertuliskan Adisti ataupun Bramasta dan Adisti hampir memenuhi sudut lobby VIP. Indra dan Leon menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Assalamu’alaikum,” Indra dan Leon memasuki Kamar Calon Pengantin. Semua yang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu sambil menjawab salam. Adisti sedang menyantap makan siangnya di atas bednya karena saat makanan datang dia sedang tertidur.
“Masih sakit?” tanya Indra menghampiri. Adisti menggeleng.
“Pedagang bunga di Wastu Kencana dan petani bunga di Lembang kayaknya sedang banjir orderan hari ini. Jangan-jangan hari ini nanti diperingati sebagai hari bunga?” Indra terkekeh.
“Kenapa Bang?”
“Mulai dari teras sampai lobby VIP, banyak bunga untuk Adisti dan Pak Bos. Banyak penggemar yang kirim bunga.”
“Iya kah?” Adisti menatap tidak percaya.
“Nanti habis makan minta antar Agung atau Bramasta aja ya, nengok lobby VIP sebentar.”
Adisti mengangguk.
Leon begitu memasuki ruangan langsung menghampiri Bramasta.
Agung yang berada di dekat Bramasta menoleh.
“Apaan tuh?” tanya Bramasta.
“Dompet.”
Bramasta mengangguk.
“Bang Leon,” panggil Agung, “Kasih isinya saja jangan sama paper bagnya. Jangan sampai Adisti melihat nama yang tertera di paper bag-nya.”
“Oh iya,” kata Bramasta, “Bener Bang..”
Leon mengangguk. Untungnya pelayan wanita tadi membungkus dompet yang dibeli Leon dengan kotak khusus dengan pita warna emas.
Agung mengambil paper bag. Menyobeknya menjadi serpihan kecil lalu membuangnya di tong sampah pantry.
Leon menghampiri Adisti yang tengah tertawa bersama Indra.
“Adisti, ini buat kamu ya..” Leon menyerahkan kotak berpita satin warna emas di atas bed Adisti.
“Alhamdulillah… Terima kasih banyak. Apaan tuh Bang?” tanya Adisti penasaran.
“Ada deh…” Leon tersenyum, "Cepat sembuh."
"Aamiin.."
Adisti turun dari bednya. Melangkah ringan ke sofa U. Menusuk-nusuk pundak Bramasta dengan ujung jarinya. Bramasta menoleh.
“Ada apa?” tanyanya sambil tersenyum.
Adisti menggoyang-goyangkan kotak berpita satin itu di depan Bramasta.
“Dari Abang Leon,” Adisti tersenyum sumringah. Terlihat imut dan manis sekali. Bramasta menatap tanpa kedip. Terpesona.
“Are you happy_Kamu senang_?” tanya Bramasta.
Adisti mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali.
“Siapa sih yang gak suka diberi kado? Terakhir kali Disti terima kado itu bulan lalu. Dari Bunda. Dibeliin satu set kuas cat air dengan wadah-wadah plastik kecil untuk mencuci kuas. Dibungkus rapi pakai kertas kado Thinkerbell,” Adisti bercerita riang.
“Dek, kamu lupa ya? Hari Minggu lalu Kakak kan ngasih kamu kado..” Agung menatap adiknya dengan wajah serius?
“Kapan? Kado apaan?”
“Kupat tahu Gempol dan jajanan pasar kesukaan Adek? Dibungkus rapi oleh penjualnya kan?” Agung tersenyum jahil kepada adiknya.
Bramasta terkekeh. Adisti menatap sebal pada kakaknya.
“Oh iya.. kue klepon yang isinya muncrat ke dalam hidung Ayah itu ya?” Adisti berkata dengan suara nyaring.
Agung terbahak sementara Bramasta terdiam menatap Adisti. Indra dan Leon yang mendengar cerita tentang kue klepon dari Mommy ikut tergelak.
“Teganya… diungkit terus…” Bramasta bersungut-sungut. Wajahnya memerah karena malu.
Pintu diketuk dari luar, Agung membukakan pintu. Pesanan makan siang mereka datang. Agung memberikan uang tip kepada petugas pengantarnya setelah semua makanan di letakkan di atas meja pantry.
Pintu dibuka dari luar. Daddy masuk sambil mengucap salam diikuti Pak Armand dan Hans yang menenteng paperbag berisi makan siang buat mereka semua. Anton muncul di belakang mereka. Suasana riuh di dalam Kamar Calon Pengantin. Adisti terperangah dengan banyaknya para lelaki tampan ruangannya. Dia perempuan sendiri di ruangan tersebut. Adisti merasa tidak nyaman.
Bramasta mendekati bed Adisti. Dia tahu Adisti merasa tidak nyaman. Dia menarik tirai yang menutupi bed pasien.
“Rame ya? Maaf ya, Disti di dalam aja dulu ya. Disti satu-satunya akhwat di ruangan ini,” Bramasta menatap Adisti dengan tersenyum, “You are my only and my precious_Kamu satu-satunya dan sesuatu yang berharga untukku_.” Adisti mengangguk.
“Kalau butuh apa-apa, tinggal WA Abang aja ya,” kata Bramasta. Adisti mengangguk lagi.
“Abang..”
“Ya?”
Adisti memberi jari love-nya. Bramasta tertawa.
“Disti mau ngapain sekarang?” tanya Bramasta.
“Mau nonton Thinkerbell. Jadi kangen sama Thinkerbell..”
“Gak kangen ke Abang?”
“Ya nggaklah. Dari kemarin bareng Abang mulu. Bahkan tidurnya, bed kita sebelahan. Gimana mau kangen?”
“Issssh gitu amat sih jawabnya..”
Bramasta kembali ke sofa U. Ada makanan dari resto di bawah, ada makanan dari makanan cepat saji resto Jepang bawaan Daddy. Yang lain sudah mulai makan siang. Baru saja duduk, notifikasi pesan chat berbunyi. Bramasta membukanya.
Adisti_Abang Bramasta, kangen…._
Bramasta terkekeh_emot love_