CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 83 – TERIMA KASIH KAK!



“Udah Dek, ke rumah sakitnya?” tanya Agung saat Adisti mengunjungi ruangan Agung diantar oleh Bramasta.


Adisti mengangguk sambil menggoyang-goyangkan tangan suaminya yang berada di dalam genggamannya.


Agung berdecak menatap tangan adiknya.


“Ck! Iya Kakak tahu, dari semenjak sebelum kalian masuk ke ruangan ini, kalian sudah bergandengan terus seperti truk gandeng. Terus Adek mau pamer ke Kakak?”


“Ish, Kakak kenapa sih?”


“Gak perlu sevulg@r itu kali ke Kakak buat pamerin Adek lagi gandeng tangan Abang...” Agung mencebik.


“Oooh jadi Kakak misuh-misuh gara-gara ini?” Adisti mengangkat genggaman tangannya.


Bramasta yang tangannya diangkat-angkat oleh istrinya hanya tersenyum.


“Bang, Abang Bramasta dulu sewaktu masih jomblo kalau lihat orang yang lagi mesra-mesraan bawaannya marah-marah juga gak sih?” tanya Adisti.


“Tergantung..” jawab Bramasta.


Adisti menoleh cepat, “Maksudnya?”


“Kalau Abang kenal dengan orangnya secara personal dan status mereka masih belum menikah, Abang bawaannya ingin lempar kursi ke arah mereka,” Bramasta duduk di sofa ruangan Agung sambil menarik tangan Adisti untuk ikut duduk di sampingnya.


“Tuh kan.. Abang juga merasa sama dengan Kakak..” Agung merasa di atas angin.


“Tapi kan kami sudah menikah..” tantang Adisti sambil merangkul suaminya manja.


“Isssh!” Agung mencebik, “Jadi kalian sebenarnya ke sini cuma buat pamer kemesraan saja?”


“Nggak...” kompak suami istri itu menjawabnya.


“Terus?”


“Kami berdua mau ngasih ini...” Adisti mengambil sesuatu dari tas slempangnya. Lalu mengangsurkannya kepada kakaknya, “Mohon diterima ya Kak. Ini Adek beli dari uang hasil penjualan lukisan Adek di Lunar. Harga lukisan Adek naik drastis. Mungkin berkah dari berbagai kejadian viral akhir-akhir ini.”


Agung memandangi kotak pipih dengan bungkus kado berwarna hitam dengan logo Batman kecil-kecil di permukaannya.


“Apa ini?” tanya Agung, “Dan kenapa Batman?”


“Buka aja sendiri. Pakai kertas kado Batman kan karena Kakak penggemar figur Batman.”


“Kata siapa?”


“Adek pernah intip kolong tempat tidur Kakak, ada figur Batman masih dalam kardusnya. Kenapa diumpetin sih Kak? Kan bagus kalau dipajang..”


Agung terdiam, menatap adiknya lama.


“Kok intipin kolong kasur Kakak sih?”


“Waktu itu Adek mau balikin spidol yang Adek pinjam ke meja kakak. Spidolnya malah menggelinding ke kolong...”


Bramasta hanya menjadi pendengar setia. Dia sangat menikmati sekali berada di tengah percakapan kedua kakak beradik itu.


“Adek cerita ke Bunda gak?” tanya Agung.


Adisti menggeleng, “Kan Kakak umpetin di kolong, berarti supaya yang lainnya gak tahu..”


Agung tersenyum pada adiknya, “Adek emang pengertian banget ke Kakak..”


“Kenapa Bunda gak boleh tahu, Kakak Ipar?” tanya Bramasta.


“Karena harganya gak murah. Bisa dicubiti Bunda kalau Bunda tahu Aa beli Batman Figure Action seperti itu..”


“Tokoh idola Kakak Ipar kok gak banget sih?”


“Maksudnya?”


“Pakai CDnya di luar..”


“Kan pakai topeng jadi masih bisa menyembunyikan wajahnya, gak malu-maluin banget,” Agung membela tokoh animasinya.


“Abang gak bisa bayangin, Kakak Ipar saat menikah nanti pakai kostum Batman,” Bramasta tersenyum polos memandang wajak Agung.


Adisti terkikik di sebelahnya.


“Whatttt?” Agung menaikkan kedua alisnya, “Aa mah gak mau seperti kalian kalau menikah nanti..”


“Ih, kelamaan. Buka aja napah?” perintah Adisti.


Agung menurut. Membuka kertas kadonya lalu mendapati ada kotak kecil berwarna abu-abu tua di dalamnya. Dia membuka kotaknya. Ada secarik kertas kecil yang terlipat dua di dalamnya. Tulisan tangan adiknya dengan huruf G kecilnya yang seperti semut dengan lambaian antenanya.


“Assalamu’alaikum,


Dearest Kakaknya Adek,


Terima kasih banyak selalu ada untuk Adek. Terima kasih banyak untuk semua pengorbanan yang sudah Kakak lakukan. Jazakallahu khoir. Terima kasih sudah mempercayai Abang Bramasta untuk menjadi imam Adek dunia akhirat.


Love banyak-banyak,


Adeknya Kakak.”


Mata Agung mengembun membacanya. Meraih adiknya dalam pelukannya. Adisti masih menggenggam tangan suaminya. Dan Bramasta pun enggan melepaskan genggaman tangannya pada Adisti.


Om Dhani masuk ke dalam ruangan Agung. Tapi dia hanya berhenti di ambang pintu saat melihat adegan yang sangat aneh di depannya. Tanpa suara, ia mengambil gambar mereka bertiga lalu mengirimkannya kepada anaknya, Indra, dengan caption: “Sebenarnya mereka sedang apa?” Lalu berlalu dari ruangan Agung.


“Isi kotaknya gak dilihat, Kakak Ipar?” tanya Bramasta.


“Dek, gak salah ini?”


Kunci motor dengan emblem huruh H besar dan logo sayap bertuliskan Honda.


“Nggak..”


“Surat-suratnya ada di dasar kotak, Kakak Ipar..”


Agung membongkar bantalan kunci. STNK dan BPKB atas namanya. Motor idamannya. Honda CBR 250 RR. Warna hitam.


“Beneran nih pakai duit Adek? Memangnya berapa lukisan yang terjual?”


“Beneran lah. Masa Adek bohong. Purple Veil dan Good Morning Dew. Ada 2 lagi yang lagi diminati dan masih dalam tahap negosiasi.”


“Waah... Dek, makasih banyak ya.”


“Maaf Adek belum bisa beliin Ducati idaman Kakak.”


“Issh Kakak mah gak mikirin Ducati, out of range_di luar jangkauan_ itu mah.”


“Gak mau lihat motornya nih?” Bramasta bangkit dari duduknya.


“Kok Aa berasa deja vu ya?” tanya Agung sambil mengikuti mereka berdua dari belakang.


“Kejadian kemarin di Sanjaya Group? Mobil untuk Anton ya?” Bramasta menoleh pada Agung.


Agung terkekeh.


Mereka membawa Agung ke parkiran motor di basement. Sengaja mereka tidak menaruh hadiah dari Adisti di teras lobby agar tidak menarik perhatian para pegawai. Bagaimanapun keberadaan Agung sebagai karyawan baru yang dekat dengan keluarga owner pasti akan menimbulkan kecemburuan.


Agung membuat video call dengan Ayah.


Agung_Assalamu’alaikum Ayah. Bunda mana?_


Ayah_Wa’alaikumussalam. Bunda ada.... nih_


Kamera bergeser menampakkan wajah Bunda.


Bunda_Tumben vicall dari kantor. Belum pulang?_


Agung_Kakak sedang bareng Adek dan Abang di basement parkiran motor..._


Mata Agung mendadak berkaca-kaca melihat pemandangan di depannya. Sebuah motor yang masih ditutupi kain satin warna silver. Tangannya gemetar saat menarik kain yang menutupinya.


Agung_Ya Allah... Adek..._


Bunda dan Ayah yang hanya bisa melihat wajah Agung yang menangis mendadak cemas.


Ayah_Ada apa dengan Adek? Kakak.. Adek kenapa??_


Bunda_Kaaaak, Adek kenapa???_


Agung tersadar lalu menyusut air matanya dengan lengan bajunya. Wajahnya tersenyum lebar sambil air matanya masih mengalir.


Agung_Adek gak kenapa-napa. Tapi Adek bikin Kakak menangis haru_



Agung menekan tombol kamera belakang.


Agung_Ayah, Bunda, Kakak terharu banget. Adek membelikan Kakak motor baru dari hasil penjualan lukisannya_


Ayah_Mana Adek? Ayah kangen.._


“Dek, say hi ke Ayah dan Bunda..” perintah Agung.


Adisti yang tengah memandangi wajah suaminya langsung memerah wajahnya melihat ke kamera kakaknya.


“Ayah.. Bunda.. assalamu’alaikum..” Adisti melambaikan tangannya ke arah kamera.


Bramasta ikut melambai juga sambil tersenyum.


“Pulang yuk Kak. Adek sama Abang pakai scoopy. Kakak sekalian test ride ya.”


“Tar dulu, Kakak harus absen dulu. Jaket Kakak juga masih di atas. Kakak ke atas dulu ya..”


Agung berlari menuju lift.


Bramasta menggenggam kedua tangan Adisti.


“Abang yang bawa motornya ya. Kita pacaran pakai motor.”


Adisti tertawa mendengar ucapan suaminya. Lalu mengangguk senang.


“Gak usah mampir kemana-mana dulu, langsung ke rumah Bunda. Kita makan malam di sana. Ayah mendadak nyerok ikannya tuh..” Adisti mendekat ke arah Bramasta karena tubuhnya direngkuh suaminya.


“Love you,” bisik Bramasta.


***


Author jadi pengen jawab "love you too.." ke Babang Bramastanya tapi takut digaplok Adisti... 🤣


Akhir-akhir ini proses review terasa lebih lama, biasanya sih proses review sekitar 1-2 jam, tapi sekarang berjam-jam padahal tidak ada adegan dewasanya. Mohon bersabar ya...