
“Dinda.. istighfar..” Agung mendekat.
Adinda beringsut mundur menggesek dinding.
“Papa orang baik. Kami tidak pernah berbuat jahat pada orang lain. Kami tidak pernah berbuat yang melanggar hukum!” mata Adinda menyiratkan hati yang sangat terluka, “Tapi kenapa ada yang menjahati kami? Yang tega memisahkan saya dan Papa?! Kenapa Om??!”
“Dinda.. tenangkan diri kamu dulu ya, baru kita bicara. Kamu tidak akan bisa diajak bicara kalau kondisi kamu seperti ini.”
“Bawa saya ke kantor polisi, Om. Pertemukan saya dengan perempuan itu! Akan saya buat dia menderita seumur hidupnya. Kalau perlu, akan saya binasakan dia!!”
“Dinda..”
“Om! Pertemukan juga saya dengan laki-laki itu, pacar si Ibu. Akan saya hancurkan tangannya yang sudah lancang menjamah saya. Akan saya butakan matanya yang selalu menatap saya dengan penuh nafsu. Ayo Om. Sekarang juga!!”
Agung melangkah mendekat. Tubuh Adinda bergetar hebat.
“Ssssh... Dinda...” Agung memegang lengan Adinda langsung menyentakkannya ke arah dadanya.
Adinda menangis dalam pelukan Agung.
“Kamu yang kuat, kamu yang sabar ya” Agung membelai kepala Adinda yang tertutup bergo krem.
Isakannya semakin keras.
“Mereka membunuh Papa, Om! Mereka membunuh papa!”
Agung semakin erat memeluk Adinda. Dia menyelipkan lengan kanannya di belakang lutut Adinda lalu membawa Adinda ke dalam gendongannya.
Membawanya ke bed. Bunda membantu menyibakkan semua tirainya. Ayah membuatkan teh manis hangat untuk Adinda.
“Dinda, minum ini dulu ya..” bujuk Ayah.
Adinda tidak bereaksi. Tubuhnya masih menyender pada dada Agung. Tangannya menggenggam erat lengan dan punggung Agung.
Bagi Adinda, Agung itu satu-satunya pegangannya. Satu-satunya yang dipercaya hatinya. Seperti Papa dan Mama yang mempercayai Agung. Menitipkan dirinya pada pemuda yang baru dikenalnya dengan usia yang terpaut jauh.
Bunda menyuapi air teh pada bibir Adinda. Mata Adinda terlihat kosong. Merawang jauh. Sesekali isaknya terdengar.
“Dinda.. Nak, istighfar Nak.”
Agung meninggikan bagian kepala dari bed untuk menjadi sandaran punggung Adinda. Dengan hati-hati melepaskan cengkeraman tangan Adinda pada lengan dan punggungnya.
Dia mengernyit. Tangan Adinda mengenai luka jahitan operasinya. Menahan nyeri dengan mendesis dan menghembuskan nafas kasar. Ayah dan Bunda menoleh pada Agung.
“Kenapa Kak?”
Agung memejamkan matanya rapat untuk meredakan sakitnya.
“Luka operasi yang sebelah kanan..”
Ayah menyingkap kemeja yang dikenakan Agung.
“Kak.. ada darah yang merembes di kain kassa..”
Agung berusaha melihat kain perban yang menutupi lukanya. Setengah perbannya berwarna merah sekarang.
Pergerakan Agung menarik perhatian Adinda. Dia ikut melihat pada kain perban pada sisi kanan tengah punggung Agung.
Tangannya yang ada dalam genggaman Agung mendadak ia tarik. Ia terkesiap lalu menutupi mulutnya. Menatap Agung dengan tatapan bergetar dan bersalah.
“Om.. Om.. ma’af..”
Semuanya menatap Adinda sekarang.
“Alhamdulillah, Dinda sudah kembali lagi..” kata Bunda sambil mengelus paha Adinda yang tertutup selimut.
“Sssh.. tidak apa-apa,” Agung tersenyum pada Adinda.
"Saya.. saya tidak sengaja Om. Saya membuat Om terluka. Ma'afkan saya..”
Agung menyentuh kepala Adinda.
“Bila hal ini bisa membuat kamu tersadar dari keadaan kamu tadi, saya ikhlas kok kalau harus berdarah-darah.”
Adinda menatap Agung dengan tidak berkedip.
“Apapun yang terjadi, kamu harus kuat, harus tabah. Dan ingat, kamu tidak sendirian lagi sekarang. Karena kamu punya kami.”
Bunda menyodorkan cangkir teh pada bibir Adinda. Posisi tubuh Bunda yang agak jauh membuat Agung meraih cangkir tehnya, menggantikan Bunda memegangi cangkir.
Adinda menyesap tehnya. Kemudian menoleh ke arah pintu masuk. Sorang perawat datang.
“Assalamu’alaikum, kita cek dulu keadaan pagi ini ya..”
“Dinda dulu, Sus..” kata Agung sambil menatap mata Adinda.
Perawat itu mengangguk. Lalu mulai mengukur tensi darah Adinda. Keningnya berkerut.
“Kok tekanan darahnya melonjak ya?” tanya perawat itu sambil menatap Adinda dan Agung.
“Nona merasa pusing?” tanyanya.
Adinda mengangguk.
Perawat itu menyibak punggung baju pasien yang dikenakan Adinda. Memeriksa memar parah di sana.
Agung tidak sempat memalingkan matanya saat perawat menyibak baju Adinda. Matanya terbelalak menatap punggung Adinda.
“Astaghfirullah.. separah itu memarnya?” jemari Agung mengepal.
“Sebelum tidur diolesi salepnya kan?” tanya Perawat itu.
Adinda mengangguk.
“Diolesi oleh Bunda,” kata Adinda.
Perawat itu mengangguk. Perawat itu menuliskan sesuatu pada papan klipnya.
Agung memberi kode pada Bunda untuk berbicara dengan perawat di luar kamar. Bunda mengangguk mengerti.
“Yuk, sekarang Tuan Agung..”
Agung naik ke bednya. Agung sedikit menarik tirai pembatas dengan Adinda.
“Ma’af, saya tutup sedikit ya. Malu sama kamu..” Agung tersenyum lebar.
Adinda terkekeh kecil. Ayah dan Bunda hanya menggelengkan kepalanya.
“Lho, tensinya kok masih rendah? Tidak bisa tidur semalam?” tanya Perawat itu yang dengan cekatan menyibak kemeja yang dikenakan Agung.
“Wah.. kok bisa begini? Ini bagaimana ceritanya?” Perawat itu dengan segera membuka perban yang sudah basah oleh darah.
“Tadi saya mencoba berolahraga, Sus..”
Ayah tersenyum lebar mendengar ucapan Agung.
“Jangan dipakai untuk beraktivitas fisik berlebihan dulu, ya. Walau kalian keluarga Avengers, tapi kalau ada luka jahitan apalagi luka bekas operasi, harus berhati-hati. Bagaimana kalau jahitan di dalam sana juga terbuka?” Perawat tadi membersihkan luka Agung.
“Memang sih, kalian itu seperti team avenngers ya. Nona Adisti dengan tendangan berputarnya, Tuan Bramasta dengan kemampuan rescuing-nya, Tuan Agung juga berkelahi dengan kemampuan super hero...” Perawat dalam mode mengoceh ceria, “Ditambah lagi berita di TV pagi tadi... Tuan Hans dan pemuda jangkung berwajah Taehyung itu.. Luar biasa..”
Ayah dan Agung terkekeh. Di tirai sebelah, Bunda dan Adinda pun terdengar terkekeh.
“Hmmm,” kening Perawat itu berkerut, “Ini ada 3 jahitan yang terlepas. Kabar baiknya, tidak perlu dijahit kembali karena jaringan ototnya sudah menyambung...”
Perawat tersebut mengoleskan salep antiseptik, “Berita buruknya, jaringan kulitnya robek, itu yang menyebabkan berdarah. Dan saat sembuh nanti akan meninggalkan bekas.”
Agung mengangguk.
“Tidak apa-apa.. Untuk kenang-kenangan,” Agung tersenyum.
Perawat membuka sarung tangannya, lalu memasukkannya pada sampah medis berikut perban kotor.
“Tuan Agung, saran saya, jangan berolahraga dulu ya. Tubuh Anda sudah bagus, proporsional. Istirahat dulu..”
Perawat membuka tirai pembatas dengan bed Adinda.
“Nona Adinda, ingatkan calon suaminya supaya beristirahat yang cukup dan jangan berolahraga dulu. Perutnya sudah kotak-kotak kok..” Perawat itu mengedipkan sebelah matanya pada Adinda sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Semuanya terkekeh melihat aksi Perawat yang ceria itu. Adinda memerah wajahnya.
Agung menatap Adinda yang mulai cerah lagi wajahnya. Melihat senyumnya lagi membuat dirinya lega.
Apapun akan ia lakukan untuk menjaga Adinda agar tetap tersenyum dan tertawa. Meskipun dirinya harus berdarah-darah sekalipun.
Agung menatap Ayah dan Bunda dengan penuh terima kasih.
“Dinda habis ini mandi ya. Saya mau ajak kamu ke taman. Kamu bisa belajar di sana sementara saya mengerjakan pekerjaan saya,” kata Agung disertai anggukan Adinda.
Bunda berjalan mengikuti perawat. Bukan sekedar mengantarkannya keluar tetapi karena ingin berbicara dengan perawat tentang kondisi Adinda pagi itu.
.
***
Author boleh ikut gak, Bang Agung? Gak ganggu kok... 😁😁🤓