CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 187 – DISPOSISI



Indra, Bramasta dan Adisti tampak melongo pada sosok yang berdiri menyandar di kusen pintu dengan penuh gaya.


“Lu, jauh-jauh dari Singapura datang kemari hanya untuk berobat ke tukang patah tulang Cimande, Bang?" Indra berdiri sambil menyugar rambutnya.


Bramasta menggeleng-gelengkan kepalanya, “Orang mah berlomba-lomba berobat ke Singapura saat sakit nah Lu malah ke Cimande...”


“Memang Lu tuh ya Bang.. Memang Lu kadang-kadang tuh ya..” Indra akhirnya terkekeh keras.


“Memangnya Bang Leon kenapa? Bukannya Abang semalam menang duel 1 lawan 3?” Adisti ikut tertawa mendengar percakapan Indra yang keluar Depoknya.


“Sini, duduk sini,” perintah Mommy.



(Photographer: Nathalie JN)


“Kamu kenapa sampai harus ke Cimande?” tanya Daddy sambil mengelap ujung matanya.


“Disposisi sendi bahu, Dad. Sudah diperiksa, sudah dirontgen juga,” Leon duduk di kursi yang ditarik oleh Indra dari depan meja kerjanya.


“Halah..disposisi..disposisi.. bilang saja kesleo..” Bramasta mencibir.


Leon memandang kesal pada adik iparnya.


“Whatever lah. But it’s very hurt. I can’t sleep lastnight,” Leon membuka jaket yang disampirkan pada bahunya.


Dia memakai gendongan lengan seperti Adisti dulu.


“Sama dong dengan Disti dulu, Bang.”


Leon mengangguk memandang Adisti, “Ternyata seperti ini sakit yang dulu Disti rasakan. Sebenarnya, Abang sewaktu melihat Disti dibebat seperti itu dalam hati merasa penasaran dengan sakitnya Disti..”


Daddy terbahak keras, “Leon..Leon.. makanya jadi orang jangan pecicilan. Penasaran kok dengan rasa sakit. Sekarang diberi sakit yang sama malah gak bisa tidur.”


“Bang Leon kualat..” Adisti terkekeh.


“Layla dan Eric mana?” tanya Daddy.


“Mereka langsung ke rumah utama. Eric rewel karena gak bisa Leon gendong, Dad.”


“Nanti malam biar Eric tidur bareng Mommy dan Daddy saja. Biar Layla fokus mengurus kamu, Leon.”


“Thanks Mom...”


“By the way, siapa yang nyuruh kamu ke Cimande?” tanya Mommy.


“Abah,” Leon mengelus bahunya yang cedera, “Kata Abah lebih cepat diobati oleh ahli tulang Cimande daripada di rumah sakit.”


“Siapa Abah?” bisik Adisti pada suaminya.


“Ayahnya,” jawab Bramasta juga sambil berbisik.


“Are you kidding me?” Adisti menoleh cepat pada Bramasta.


“Bang Leon manggil ibunya apa?” tanya Adisti lagi.


“Maman.”


“What??!” Adisti membelalakkan matanya.


“Maman, bahasa Perancis untuk ibu.”


“Ooh...” Adisti mencolek lengan suaminya, masih sambil berbisik, “Abah Maman?”


“Hisssh.. kenapa sih?” Bramasta juga berbisik.


“Abah Maman itu nama nama kakek dari Bunda..” Adisti berbisik.


“What??!” giliran Bramasta yang melongo sebelum akhirnya wajahnya dihiasi cengiran.


“Kalian kenapa sih? Mencurigakan?” tanya Indra.


“Kepo...” Adisti terkekeh.


Indra mencebik.


“Besok mau diantar jam berapa, Bang?” tanya Bramasta.


“Pagi-pagi saja supaya cepat kelar dan Lu bisa balik ke kantor juga,” Leon tersenyum senang.


“Jangan lupa bawa pakaian ganti, Bang,” saran Indra.


“Kenapa? Kan gak sampai rawat inap di sana? Cuma disposisi doang.”


“Kesleo, Bang.. kesleo...” Adisti meralat, “Nanti ke orang Cimandenya jangan ngomong disposisi lagi. Keder mereka. Cukup bilang kesleo alias ticengklak.”


“Iya..iya..” Leon mengangguk-angguk.


“Kalau di sana, pakai Basa Sunda aja,” saran Indra lagi, “Biar gak ngegetok harga.”


“Harga gak masalah buat gue, Ndra..” Leon mengibaskan tangannya yang sehat.


“Iya.. gue tahu. Tapi ingat bawa baju ganti.”


“Kenapa sih harus bawa baju ganti?” Leon mengerutkan keningnya.


“Siapa tahu Lu nanti ngompol Bang karena gak tahan dengan rasa sakitnya...” Indra memandang Bramasta.


Leon melongo kemudian meringis.


“Bram, Lu ingat dengan kejadian si Gading yang terjatuh dari ketinggian 4 meter dengan lutut terlebih dahulu membentur tanah saat latihan rappeling?”


Bramasta mengangguk cepat.


“Oh iya. Tempurung lututnya pindah ke belakang ya.”


“Heh?? Serius Bram?” Mommy membelalakkan matanya.


“Saat ditangani orang Cimande, nangis kejer dia Mom.. sampai ngompol sebelum akhirnya pingsan,” Bramasta terkekeh tetapi kekehannya berhenti ketika melihat Leon memandanginya dengan wajah pucat.


“Ndra.. cerita Si Gading itu beneran?” Leon memandangi Indra.


“Ya iyalah. Gue telepon Gading nih biar Abang percaya,” Indra langsung membuat panggilan dengan Gading.


“Hai Ding.. Ngapain Lu Ding?” Indra menyalakan loudspeakernya.


“Woiy Ndra. Gue lagi gawe lah. Tumben Lu nelepon di hari kerja. What’s up?” suara Gading terdengar agak menjauh dari gawainya.


“Lu masih punya nomor kontak tukang urut patah tulang Cimande yang waktu itu gak?”


“Masih ada kalau gak salah. Buat siapa? Lu atau Bram gak cedera kan?”


“Alhamdulillah nggak. Ini buat Kakak Iparnya Bram. Bahunya kesleo..”


“Ntar gue WA-in aja ya.”


“Siip! By the way, Lu masih ingat rasanya?”


Terdengar suara tawa dari gawai Indra.


“Ofcourse. Unforgettable moment. Kapok gue. Gak mau dua kali. Mirip kalian dengan sunat kan? Gak mau dua kali.”


“Memangnya Lu gak disunat, Ding?” iseng Indra menanyakannya.


“Ogah lah yauw! Barang berharga gue!”


Mommy dan Adisti saling berpandangan lalu meringis.


“Eh, bakalan makin berharga tahu kalau udah disunat,” Indra menimpali ucapan Gading.


Bramasta terkekeh.


“Itu suara Bramasta bukan?” Gading terdengar antusias.


“Iya.. gue!” Bramasta menjawab, “Ding, kalau Lu mau disunat, gue ikhlas anterin Lu.”


“Ogah!” Gading bersikeras.


“Ding, ntar gue bawain roti buaya 5 meter, spesial buat Lu,” Indra membujuk.


“Tak mau...!” Gading tergelak.


“Kesan-kesan saat ditangani Ahli dari Cimande bagaimana, Ding?” tanya Indra kembali lagi ke topik awal.


“Gue pulang dikasih sarung. Udah berasa seperti anak sunatan massal ya, pulang-pulang dapat sarung,” Gading terkekeh.


“Bedanya, kalau mereka dapat sarung baru sedangkan gue dapat sarung bekas si Mamang. Gegara celana gue bau ompol. Celananya gue buang. Sarungnya masih sering gue pakai buat tidur. Kenang-kenangan si Mamang Cimande..” Gading tertawa.


“Mau punya sarung baru gak? Gue kasih sekontainer nih kalau mau. Tapi Lu harus mau disunat dulu,” Indra terkekeh.


“No thanks. Gue masih hepi dengan bentuk ori.. Gak usah bujuk-bujuk gue buat sunat. Linu gue..” Gading terkekeh.


Indra dan Bramasta terbahak juga.


“OK Ding.. thanks a lot ya. Jangan lupa nomor si Mamang Cimande di-Wa-in ke gue ya. Have a nice day, Bro. Bye..”


“Your always welcome, Bro. Bye..”


Indra mengakhiri panggilannya.


“OK.. kalau begitu yang anterin gue, Bram dan Indra aja ya. Disti dan Layla gak usah ikut..” Leon terlihat pucat.


“Kenapa?” tanya Daddy.


“Malu Dad. Malu kalau dilihatin lagi teriak-teriak nangis kejer apalagi sampai ngompol. No way. It’s horrible for me.”


Daddy terkekeh.


“Bukan horrible kali..” Indra mencibir, “Tapi too embarrassing.”


Indra dan Bramasta tergelak keras.


“Ndra, besok kantor bisa dikondisikan?” tanya Bramasta.


Indra melihat pada gawainya.


“Meeting pagi dengan petinggi konstruksi nanti diwakili oleh Anton saja ya?”


Bramasta mengangguk, “Hubungi Anton sekarang supaya dia bisa bersiap.”


Indra mengangguk.


“Jadi besok kita berangkat jam berapa?” tanya Leon.


“06.30, kita sudah ada di jalan. Bagaimana?” Bramasta.


“Kita kumpul di rumah utama jam 6.15 an ya..” Indra.


“Besok Disti ke kantor sebentar terus ke rumah sakit ya Bang. Kakak dan Dinda pulang besok,” Adisti menyentuh lengan atas suaminya.


“Mommy ikut ke rumah sakit ya Dis..”


“Hayu Mom.”


“Daddy siangnya aja nanti langsung ke rumah Ayah,” kata Daddy.


.


***


Besok kalian mau ikut Disti ke rumah sakit jemput Babang Agung dan Adinda atau ikut Abang Bram nganterin Babang Leon ke Ahli Tulang Cimande di Cililin?


Langsung komen ya, bab selanjutnya pilihan Readers 😁


🍓