
21.20
PENTHOUSE APARTEMEN LANDMARK
Kuping Merah kumpul dengan formasi plus keluarga. Ada Hana dan Baby Andra, ada Layla dan Erick (Erick sudah tidak mau lagi diembel-embeli “baby” pada namanya).
Ada Daddy dan Mommy. Ada Babeh dan MakNyak (Maminya Indra sebenarnya tidak rela dipanggil MakNyak oleh Gank Kuping Merah).
Yang tidak hadir hanya Agung.
Adisti menyambungkan Agung dengan Kuping Merah melalui video call yang dibuatnya. Ayah dan Bunda juga nampak pada frame. Mereka begitu antusias ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Anak-anak sudah tidur, di tidurkan di kamar untuk tamu. Untung saja Layla membawa interkom bayi yang dilengkapi kamera sehingga mereka bisa tenang meninggalkan anak-anak tertidur di ruangan tertutup supaya tidak terganggu dengan bisingnya suara orang dewasa.
Di rumah sakit, Agung mengabarkan Adinda juga sudah tertidur setelah minum obat dan belajar sebentar. Ayah sangat penasaran dengan berita di TV terkait peristiwa di lounge hotel X.
Baru setelah Adinda tertidur, mereka berani menyalakan TV itupun dengan suara pelan.
Suasana di ruang tengah sangat riuh. Banyak gelak tawa. Hana tidak mau jauh-jauh dari Hans. Jemari mereka saling terkait satu sama lainnya. Tidak peduli Indra dan Anton protes ditambah dengan Agung yang ikut mengompori.
Bramasta melarang Adisti untuk membuat camilan. Sudah cukup banyak camilan yang dibawa oleh mereka.
Dia hanya ingin Adisti ada di dekatnya, dalam jangakauan tangannya. Beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini membuat mereka begitu menghargai arti kebersamaan.
“Come on speak up now.._Ayo ngomong sekarang.._” seru Agung dari video call kepada Hans dan Anton yang selalu senyum-senyum saat ditanya apa yang sebenarnya terjadi di lounge hotel.
“Gak usah bicara deh, mending tonton saja. Sengaja kami minta semua pihak untuk menahan rekaman gambar yang terjadi untuk melihat tindakan kedutaan dulu terhadap Bryan,” Hans menjelaskan.
“Gue mulai ya..” Anton menekan tombol enter pada laptop yang siang tadi ia pakai saat di hotel.
Semua terdiam. Mata fokus menatap proyektor yang sengaja dipasang Bramasta dan Indra di ruang tengah. Lampu ruangan diredupkan agar gambar pada proyektor menjadi lebih jelas dan terang.
Kualitas gambar jauh lebih jernih dan sudut pandangnya jauh lebih baik daripada kualitas gambar CCTV hotel. Kamera juga merekam audio.
Adegan dimulai saat view kamera diputar, yang awalnya menghadap tembok menjadi menghadap ke arah meja di depan Anton. Sepertinya saat Hans dan Anton bertukar posisi duduknya.
Dalam frame terlihat Bryan dan asistennya juga ibu tiri dan teman lelakinya. Sedangkan pemeran pengganti Adinda hanya tampak belakang kerudungnya saja.
Bryan berbicara dengan menggunakan Bahasa Jerman. Asistennya bertugas menerjemahkan.
“Kenapa muka kamu?” tanya asisten kepada si Teman Pria ibu tiri Adinda setelah Bryan berbicara sambil menunjuk wajah Teman Pria.
“Saya...saya..” si Teman Pria terbata-bata.
“Dia mabuk semalam dan membuat keributan di bar,” si Ibu Tiri menjelaskan dengan suara bergetar. Ada nada ketakutan dalam suaranya.
Asisten menerjemahkan untuk Bryan.
“Dumm! Einfache dorfbewohner!!_Bodoh! Dasar kampungan!!_” Bryan membentak si Teman Pria.
Si Asisten menerjemahkan sambil menunjuk wajah si Teman Pria. Bryan berbicara lagi lalu diteruskan oleh si Asisten, “Seharusnya kalian tidak membuat keributan untuk tidak menarik perhatian orang!” Bryan tampak sangat jengkel.
Bryan berbicara lagi dengan nada ketus, kali ini sambil menunjuk gadis pemeran pengganti.
“Kenapa dia pakai kerudung? Kamu bilang akan mendandani dia dengan baju terbuka!” Bryan berbicara melalui asistennya.
Si Ibu Tiri meremat jemarinya, “Dia belum tahu apapun tentang ini. Dia hanya tahu menjadi kandidat program beasiswa dari pemerintah Jerman.”
Asisten menerjemahkan dengan cepat pada Bryan. Bryan mengangguk mengerti lalu tersenyum pada si Gadis.
“Ini sebenarnya bagaimana?” si Gadis bertanya.
“Sudah kamu diam saja, ikuti saja apa yang diminta oleh Tuan Bryan,” jawab si Ibu Tiri.
“Kamu mau beasiswa kuliah di Jerman?” tanya Asisten kepada si Gadis.
Gadis itu tampak mengangguk.
“Can you speak Germany?_Bisa berbahasa Jerman?_” tanya Bryan.
“OK. No problem,” kata Bryan lalu berbicara dalam bahasa Jerman.
“Sebenarnya diutamakan siswa yang bisa berbahasa Jerman. Tapi tidak mengapa, Tuan Bryan akan mengusahakan kamu untuk masuk sebagai peraih beasiswa. Tapi setelah dari sini, kamu ikut kami untuk mulai belajar Bahasa Jerman, OK?” si Asisten menerjemahkan.
Si Teman Pria bergerak-gerak gelisah. Membuat Bryan dan asistennya memandanginya dengan curiga.
“Kamu kenapa?” tanya si Asisten memandang si Teman Pria dengan tatapan jijik dan kesal.
“Tentang sisa uangnya, apakah bisa ditransferkan sekarang?” si Teman Pria bertanya dengan ketakutan.
Asisten menerjemahkan pada Bryan. Bryan terlihat tersinggung. Dia menggebrak meja sambil menuding wajah si Teman Pria.
“Itulah sebabnya saya tidak mau berurusan dengan orang kampung macam dia. Selain norak dan tidak berpendidikan juga rakus, tidak sabaran dengan uang!” si Asisten menerjemahkan ucapan Bryan.
Ucapannya membuat Ibu Tiri dan Teman Prianya merah padam wajahnya. Sepertinya tersinggung dengan ucapan Bryan yang diterjemahkan oleh asistennya yang memang cara bicaranya pun sama congkak dan ketusnya seperti Bryan.
“Keun baelah sing ditewak weh duanana. Puas siah. Jelema goreng patut, goreng beungeut ieuh!_Biarin deh dua-duanya ditangkap. Rasain. Dasar orang kelakuannya jelek, mukanya jelek pula!” si Ibu Tiri berkata sambil bersidekap dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menatap penuh amarah pada Bryan dan asistennya.
Asistennya marah, menggebrak meja lalu berdiri dan menunjuk pada Ibu Tiri, “Ari sia maksudna naon ngomong kitu?!_Maksud kamu apa ngomong seperti itu?!_”
Bryan bertanya pada asistennya tapi diabaikan. Asisten tengah berdebat dengan si Ibu Tiri.
“Teu sieun aing mah ka maneh. Abong maneh kerja jeung bule terus bisa sangeunahna ngahina kami! Cuih! Teu sudi aing dihina ku maneh jeung bos maneh!_Gak takut saya ke kamu. Mentang-mentang kamu kerja sama bule jadi bisa seenaknya menghina kami! Cuih! Gak sudi saya dihina oleh kamu dan bos kamu!"_ si Ibu Tiri berdiri dengan posisi menantang si Asisten.
Bryan bertanya lagi dengan suara keras kepada asistennya minta diterjemahkan. Si Asisten menjelaskan dengan cepat. Wajah Bryan memerah.
Bertepatan dengan itu, pramusaji datang mengantarkan minuman pesanan Bryan dan si Asisten. Emosi yang ada di meja tersebut menjadi terjeda.
Si Teman Pria tampak menenangkan si Ibu Tiri, “Sshh, sabar atuh Yang. Keudeung deui ge manehna ditewak ku pulisi_Sssh, sabar dong Yang. Bentar lagi juga ditangkap polisi._”
“Was?? Polizei?!!_Apa?? Polisi?!!_” Bryan berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang.
Dengan cepat ia menyiramkan kopi panas ke arah si Teman Pria tepat di wajahnya. Si Teman Pria mengaduh sambil memegangi wajahnya. Ibu Tiri ikut membantu, membersihkan cairan kopi pada wajah Teman Prianya itu dengan napkin yang dilipat berbentuk lipatan pisang yang diletakkan di atas piring saji.
Gadis Pemeran Pengganti berdiri panik. Kursinya terdorong hingga membentur kursi yang diduduki oleh Hans. Suasana hening lounge terpecah oleh suara si Teman Pria yang mengaduh kesakitan.
Dua orang security hotel datang tergopoh. Saat salah seorang diantaranya bertanya ada apa ini, Bryan mendorongnya hingga jatuh terjengkang. Lounge ricuh.
Beberapa orang pria bergerak membungkuk mendekati meja Bryan.
Bryan melihat pergerakan mereka. Tangannya dengan cepat masuk ke dalam jasnya. Lalu sebuah senjata api laras pendek sudah ada dalam genggamannya.
Hans tampak berdiri dari kursinya, hendak menarik tubuh si Gadis Pemeran Pengganti, tetapi si Asisten melihatnya.
Dia langsung menyergap Hans dari belakang. Perbedaan tinggi tubuh membuat si Asisten harus meloncat agar dapat meraih bahu Hans.
Saat itulah pistol yang ada di genggaman Bryan menyalak (nyaris mengenai Anton yang berdiri menempel tembok, bisa dilihat dari rekaman CCTV yang disiarkan siang tadi di TV).
Pengunjung dan karyawan lounge yang tidak banyak tampak panik berhamburan keluar dari lounge menuju lobby. Suara para wanita yang menjerit ketakutan terdengar jelas.
Bryan tampak menodongkan senjatanya ke segala arah. Si Asisten yang memiting Hans, menyeret Hans untuk mendekati Bryan.
“Er ist die Sekretärin der Sanjaya Group. Wir können es verwenden!_Dia sekretaris Sanjaya Group. Kita bisa menggunakannya!_” Asisten terus menyeret Hans.
“Bring es her!_Bawa kemari!_” Bryan menodongkan pistolnya di pelipis Hans.
Asisten melepaskan tubuh Hans. Bryan dengan tinggi tubuh menyamai Hans, mengambil alih memiting. Wajah Hans memerah karena kesulitan bernafas (Saat menyaksikan adegan ini, Hana memeluk erat suaminya dengan air mata mengalir. Hans balas memeluk untuk menenangkannya).
.
***
Maaf telat upload.
Adegan sudah ada di kepala tapi tetiba saat harus diubah dalam bentuk tulisan, otaknya nge-lag.🤭😁
Maafkan ya..🙏🏼