CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 220 – PESAN



Bunda berdiri di belakang Gunawan Tan.


Pengacara yang sedang berbicara dengannya menghentikan pembicaraannya lalu menatap wanita berkerudung di belakang Gunawan Tan.


Gunawan Tan menatap pengacara yang menghentikan percakapannya, lalu mengikuti arah tatapannya. Dia menoleh ke belakang. Terkejut melihat wanita berkerudung kuning muda itu. Dahinya berkernyit.


“Ya? Ada perlu dengan saya?”


Bunda menggeleng sambil tersenyum.


“Bapak tahu siapa saya?”


Gunawan Tan menggeleng. Kernyit di dahinya semakin dalam.


“Saya ibu dari Agung Aksara Gumilar. Karyawan Buana Raya yang Bapak pecat begitu saja karena permintaan pacar Bapak,” suara Bunda terdengar tegas.


Gunawan Tan tampak terperangah. Kakinya bahkan mundur setapak saat mendengar nama mantan karyawannya disebut.


“I..ibu mau apa sekarang?” beberapa titik keringat muncul di pelipisnya.


“Calm down, Pak. Saya tidak akan apa-apain Bapak. Saya tidak dendam kok ke Bapak. Itu hak prerogatif Bapak sebagai komisaris perusahaan. Tetapi tidak begitu juga caranya Pak. Semua ada etikanya..” Bunda memandang puas pada Gunawan Tan yang sedang menyeka keringatnya dengan saputangannya, “Tetapi memang orang yang sedang kasmaran itu menjadi orang bodoh ya hingga mampu dibutakan cinta.”


Pengacara yang tadi diajak bicara dengan Gunawan Tan sekarang berdiri. Tertarik dengan pembicaraan yang ada di depannya. Dia menatap Bunda dan Gunawan Tan bergantian.


“Saya kira, cinta buta itu hanya melanda orang yang masih muda saja karena minim pengalaman hidup. Saya tidak menyangka cinta buta ini melanda orang yang sudah berumur seperti Bapak dan pacar Bapak itu,” Bunda tersenyum lebar, “Keputusan Bapak yang memecat anak saya secara sepihak karena permintaan pacar Bapak menjadi berkah untuk anak saya dan menjadi bumerang untuk perusahaan Bapak, Buana Raya.”


“Trust me, Pak Gunawan Tan Komisaris Buana Raya, hanya orang bodoh yang terlibat dalam cinta buta apalagi di usia yang sudah matang. Dan inilah hasil dari permintaan pacar Bapak, Buana Raya sedang kolaps kan?”


“Ibu bicara apa? Buana Raya baik-baik saja...”


Bunda tersenyum lebar, “Kalau baik-baik saja, bagaimana bisa saham Buana Raya terjun bebas di pasar saham sejak dua minggu yang lalu? Saya juga mengamati bursa saham, Pak.”


“Sebenarnya apa mau Ibu?” suara Gunawan Tan yang meninggi terdengar bergetar.


“Saya hanya ingin mengenalkan diri saya kepada Bapak Gunawan Tan dan mengucapkan terimakasih atas dipecatnya anak saya sehingga bisa bergabung di salah satu perusahaan terbaik di Asia,” Bunda tersenyum lagi, “Oh ya.. saya juga ingin menyampaikan pesan dari anak sulung Pacar Bapak.”


“Pesan? Dari Prasetyo?”


Bunda mengangguk.


“Semalam dia menghubungi saya, meminta saya untuk menyampaikan pesannya langsung kepada Pak Gunawan.”


Gunawan Tan semakin gugup. Dia mengelap lagi keringatnya dengan gemetar.


“Apa pesannya? Kenapa dia menyampaikan pesannya kepada Ibu?”


“Karena dia mempercayai saya. Just as simple as that_sesederhana itu_,” Bunda menatap Gunawan Tan, senyum di wajah Bunda lenyap berganti dengan raut serius, “Prasetyo berpesan kepada Anda, untuk segera menikahi ibunya. Jangan hanya dipacari saja tetapi tidak kunjung dinikahi. Hubungan kalian sudah melukai banyak pihak dan menghancurkan keluarganya. Sudah waktunya bagi kalian untuk bertaubat.”


“Saya...saya tidak..”


“Ma’af Pak Gunawan, saya hanya sekedar menyampaikan pesan dari anak sulung pacar Bapak. Sekarang dia tidak di Indonesia lagi. Pesannya sudah saya sampaikan, saya mohon diri. Selamat siang,” Bunda berjalan meninggalkan mereka berdua.


Mommy dan Adisti menunggu Bunda di dekat pintu dengan tatapan penuh tanda tanya. Mereka bisa mendengar percakapan antara Bunda dan Tuan Gunawan Tan dengan jelas karena ruangan sidang sudah tidak ada pengunjungnya.


Adisti menyodorkan tangannya pada Bunda. Bunda meraihnya. Menggenggam jemari putri bungsunya dengan erat.


“Bunda baik-baik saja?”


Bunda mengangguk sambil memegang dadanya.


“Rasanya sudah plong. Sudah menyampaikan amanat dari Prasetyo dan juga melaksanakan keinginan Bunda untuk berbicara dengan Gunawan Tan yang sudah memecat Kakak..”


“Jadi semalam benar Prasetyo menelepon Bunda?” tanya Mommy.


Mereka bertiga berjalan kembali menuju teras lobby gedung pengadilan. Dua orang pengawal Mommy yang berkemeja hitam mengikuti langkah mereka.


“Iya.. Prasetyo menelepon jam 9 malam..” Bunda mulai bercerita.


***


SANJAYA GROUP


Agung berkedip beberapa kali melihat video yang dikimkan oleh adiknya. Suaranya dari rekaman video itu masih terdengar dengan jelas.


Segera dia membagikannya ke WAG Kuping Merah dengan caption, “Setelah Sidang.”


10 menit kemudian, WAG ramai dengan komentar .


Anton_Bunda keren banget!_


Bramasta_Disti langsung cerita heboh begitu sampai kantor barusan.._


Hans_Sayang Bunda membelakangi kamera ya.. Rasanya puas banget melihat ekpresi Gunawan Tan yang biasanya dingin, kaku dan arogan bisa mati gaya oleh Bunda_


Indra-Hans, ekspresi Lu juga dingin, kaku dan arogan. Bukan gue yang menilai loh, tapi orang-orang.._


Hans_Siapa? Sebutin!_


Indra hanya membalasnya dengan emot ngakak. Yang lain membalas dengan stiker ngakak.


Hans_Memang cuma Bang Leon yang bisa ngertiin gue.. (emot mata love)_


Leon_Please, Hans.. gak usah pakai emot mata love gitu juga. Geli guenya.._


Hujan emot ngakak di WAG


Anton_Terus, dingin, kaku dan arogannya Gunawan Tan itu bagaimana, Bang Leon?_


Leon_Kalau itu sih karena dia merasa lebih tinggi dari siapapun. 11 12 dengan pacarnya, Liliana Sukma.._


Agung_Sejodoh..(emot tawa)_


Indra_Sidang lagi kapan?_


Bramasta_Kata Disti minggu depan. Sabtu jadi kan kita ngupat tahu di rumah Ayah?_


Agung_Jadi. Gue udah ngomong ke Ayah dan Bunda. Mudah-mudahan gak hujan ya supaya kita bisa makan di kebun_


Anton_Siip.. nanti gue bawa biji kopi dari Toraja ya. Ada aroma buah berry liarnya. Enak banget deh._


Indra_Nice! Bram, Lu jadi barista ya. Kopi buatan Lu selalu enak sih_


Bramasta_Assiaaap_


Hans_Ton, paketnya sudah datang?_


Anton_Sudah, nanti sore saya antarkan ke markas Shadow Team_


Indra_Paket Babeh juga sudah sampai. Mau dibawa juga ke markas?_


Hans_Sekalian saja, Ndra._


Anton_Iya di bawa ke markas saja. Shadow Team punya alat playernya._


Agung_Bang Bram, sebaiknya jangan ajak Adek ya. Mengingat kata Babeh kemarin tentang isi rekaman CCTV di ruang VIP nightclub itu_


Hans_Untung Lu ingetin, Gung. It will be an awkward moment kalau ada Disti.._


Bramasta_Kebetulan sore nanti Disti bakal ke The Cliff_


Anton_Gak apa-apa Disti ke The Cliff sendiri tanpa Abang Bram?_


Agung_Dah gede ini, Ton. Lagian juga dia terbiasa apa-apa sendiri. Semenjak nikah doang jadi manja_


Bramasta hanya memberi emot senyum malu menanggapi chat Agung.


Anton_Jangan lupa dengan barang pribadi kalian yang mau dipasang pelacak ya. Yang paling sering dipakai kalian_


Leon_Langsung pasang, Ton?_


Anton_Iya Bang, sekalian kita tes alatnya. Sesuai dengan yang diiklankan tidak_


Hans_Gak lama kan pasangnya? Hana bisa manyun kalau gue gak pakai cincin kawin_


Emot ngakak dan ciyeee ciyeee bertebaran lagi.


Bramasta_Bunny takut gak dikasih jatah oleh Hunny-nya (emot ngakak)_


Hans_Halaaah kayak Lu bisa tidur aja kalau gak dikasih jatah sama bini Lu, Bram.._


Emot tawa lagi memenuhi WAG.


Indra_Bang Leon bagaimana?_


Leon_Apanya? Layla dan gue mah every night dong..._


Indra_Setdah. Terus sewaktu tangan Abang cedera?_


Leon_Ya tetap dong. Kan yang sakit dan cedera bahu gue doang. Anunya gue kan gak kenapa-napa_


Hans_Setdah! Ternyata ada yang lebih parah dari gue..._


Bramasta_Indra, Agung dan Anton gak usah bayangin ya. Dalam hal ini kalian masih terhitung bocil.._


Perang stiker dimulai di WAG.


Agung_Sebenarnya ini WAG apaan sih??_


Stiker ngakak bertebaran lagi.


.


***


Bunda keren ya. Unpredictable.


Btw, cuma WAG Kuping Merah yang rasanya nano-nano...😁🤭