CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 232 – AKSI SI KURUS



Agung menarik tubuh Adinda dengan keras ke arah pengawal. Tubuh Adinda terhuyung, langsung menabrak tubuh pengawal. Keduanya terjatuh. Orang-orang bergumam heboh.


Pria tersebut mengacungkan benda logam yang berkilat menyilaukan mata terkena cahaya matahari. Secepat kilat Agung menendang tangan pria tersebut. Benda tersebut terlempar.


Pria tersebut mengayunkan tinjunya ke arah perut Agung. Agung menangkisnya. Menekuk lututnya lalu mengantamkannya dengan keras ke arah dagu kurusnya.


Pria tersebut terjengkang. Dia beringsut ke belakang dengan bantuan kedua tangan dan kakinya. Kemudian saat Agung mendekat, dia berdiri. Tiba-tiba menerjang Agung. Agung yang tidak menyangka pergerakannya menjadi terhuyung.


Pria tersebut berlari. Pengawal sempat menarik kaosnya. Tangannya ditepis dengan kuat oleh pria itu. Dia berlari ke tengah jalan yang padat arus lalulintasnya. Suara klakson terdengar memekakkan telinga. Pengawal mengejarnya.


Orang-orang mengerumuni mereka. Agung menoleh pada Adinda yang berjongkok di belakang mobil. Pipinya basah oleh air mata. Tangannya gemetar.


Agung bergegas mendekati Adinda. Ikut berjongkok di depannya.


“Kamu.. kamu gak apa-apa?” wajah Agung khawatir sekali. Dia memperhatikan apakah ada tanda-tanda serangan panik pada Adinda.


Adinda menggeleng. Dia mengulurkan kedua tangannya. Agung mendekatkan tubuhnya. Adinda langsung memeluk Agung. Erat.


“Om..saya..saya takut sekali..”


Agung mengelus pelan punggung Adinda.


“Sssh.. sudah. Saya tidak apa-apa.”


“Orang itu.. dia bawa pisau. Pisaunya terlempar ke arah sana..” Adinda menunjuk pada semak bunga di pot beton pinggir jalan.


Seorang sekuriti toko menghampiri pot bunga yang dimaksud. Mencari pisau yang dimaksud.


Gawai Agung berdering. Panggilan masuk. Tapi Agung lebih fokus untuk menenangkan Adinda.


“Pak Agung, saya sudah melaporkan apa yang terjadi pada Tuan Hans,” suara Driver menyadarkan Agung akan dering gawainya tadi.


Sekuriti toko datang sambil membawa sebuah pisau kecil dengan hati-hati. Dia tidak menyentuh gagang pisaunya. Dia memegang di area bilah pisau yang tidak tajam dengan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya.


“Ini pisaunya Pak..”


Agung membuka belanjaan Adinda. Membuka salah satu kemasan cetakan silikon yang tadi dibelinya dan mempergunakannya untuk membungkus pisau.


“Terimakasih banyak ya Pak.”


“Bapak coba pastikan dompet dan handphone Bapak masih ada atau tidak? Khawatirnya sudah dibawa kabur oleh penjambret itu..”


Agung mengangguk. Dia mengerti, peristiwa tadi akan terlihat seperti peristiwa penjambretan biasa. Tapi dia tidak yakin akan hal itu. Dia mengenali wajah pria itu.


“Masih ada, Pak. Alhamdulillah semuanya masih lengkap,” Agung tersenyum menatap petugas sekuriti tersebutt.


“Ma’af.. Bapak ini Pak Agung Aksara Gumilar? Kakaknya Nona Adistinya Bramasta?”


Agung mengangguk.


“Wah.. sepertinya penjambretnya salah memilih sasaran ya Pak,” Sekuriti tersenyum lebar, “Syukurlah Bapak baik-baik saja.”


Pengawal yang tadi mengejar pria itu kembali dengan peluh membasahi tubuhnya.


“Pak Agung, orang itu menghilang. Saya tidak berhasil mengejarnya.”


“OK Tidak apa-apa. Saya hafal wajahnya. Kita langsung pulang sekarang.”


Agung menggandeng Adinda lalu membukakan pintu mobil. Dia baru menyadari banyak kamera handphone yang terarah padanya.


“Selebriti bukan tapi kamera dimana-mana...” Agung bergumam sambil membantu Adinda naik ke dalam mobil.


“Bang Agung...” salah seorang dari mereka berteriak, “Bang Agung kakaknya Adistinya Bramasta kan?”


Agung yang hendak naik ke dalam mobil mengeluarkan lagi kakinya. Lalu berbalik menghadap ke arah penanya.


Agung mengangguk dan tersenyum.


“Abang tidak apa-apa?”


“Alhamdulillah, saya baik-baik saja.”


“Gadis itu tidak apa-apa Bang?”


Agung mengangguk.


“Ma’af, saya harus segera pergi. Terima kasih banyak ya..” Agung menangkupkan kedua telapak tangannya.


Gawai Agung berdering lagi. Mobil sudah melaju meninggalkan tempat parkiran dan kerumunan orang yang menonton.


“Assalamu’alaikum. Iya Bang Hans?” Jeda.


“Gue dan Adinda tidak apa-apa. Pisau yang berusaha ditusukkan sudah didapat. Pengawal tidak berhasil mengejar pelaku.” Jeda.


“Terlihat seperti penjambretan. Tapi sepertinya bukan Bang. Dia sengaja mengarah gue. Sebelum menusukkan pisaunya dia sempat menatap gue sambil tersenyum lebar. Ini lebih ke dendam..” Jeda.


“Gue masih mengenali wajahnya. Sepertinya ini ada hubungannya dengan Tuan Thakur.” Jeda.


“Tanyakan pada Anton, masih punya rekaman CCTV lobby lift penthouse tidak sewaktu apartemen Bang Bram disadap menggunakan kiriman bunga Anggrek Bulan?” Jeda.


“Gue yakin banget, pelakunya salah satu dari mereka. Yang bertubuh kurus.” Jeda.


“Iya.. OK Bang Hans. Sampai ketemu di rumah. Kami sudah OTW.” Jeda.


“Dinda?” Agung menatap pada Adinda yang sedang menatapnya juga dengan tatapan cemas, “Dia baik-baik saja. Hanya tadi sempat ketakutan.”


“Kamu terluka?” tanya Agung pada Adinda. Adinda hanya menggeleng. Dia masih memegang erat lengan atas Agung.


“Ma'af ya.. Tadi saya reflek mendorong kamu. Kamu terjatuh ya?”


“Nggak sampai jatuh. Tubuh saya ditahan oleh Pak Pengawal..” Adinda bersuara pelan.


“Kamu beneran gak apa-apa?” suara Agung terdengar cemas, “Nafas kamu sesak gak?”


“Bang Hans, sudah dulu ya. Nanti kita sambung lagi di rumah. Dinda.. sepertinya tidak baik-baik saja.” Jeda.


“Iya Bang.. Wa’alaikumussalam.”


Agung menyimpan gawainya di saku dalam jaketnya lalu bergegas melihat Adinda.


“Kamu kenapa? Jangan diam saja begitu. Jangan bikin saya takut dan khawatir...”


“Om...” Adinda terisak lagi. Dia meraih kemeja Agung, menyembunyikan wajahnya di dada Agung.


“Sssh.. sudah. Tidak apa-apa. Kita aman sekarang..” Agung mengelus pelan punggung Adinda.


“Saya.. saya takut. Tadi saya lihat dia akan menusukkan pisau ke perut Om. Kalau Om Agung tidak bisa menghindar dari pisau itu, saya bagaimana Om?”


“Tapi saya gak apa-apa kan?” Agung memegang kedua bahu Adinda. Menatap matanya yang basah, “Ada Allah yang menjaga kita.”


“Dan kalau tadi saya tidak sempat menghindar, kamu akan tetap aman karena ada Pak Pengawal dan Pak Driver yang pasti akan melindungi kamu.”


Agung meletakkan dagunya di atas kepala Adinda.


Agung mengambil tisu dari kotaknya. Lalu membantu Adinda mengelap pipinya yang basah.


“Jangan menangis lagi. Saya khawatir setiap kali kamu terisak, akan memancing serangan panik. Kamu jadi tidak bisa bernafas dengan benar.”


Agung mengambil gawainya lagi. Lalu mengetikkan pesan pada WAG Kuping Merah.


Agung_Ton, tolong lihat di CCTV toko dan CCTV seberang toko yang mengarah ke jalan. Amati apakah si Kurus datang sendiri atau bersama temannya_


Anton_OK.._


Gawai Adinda berbunyi. Panggilan dari Bunda.


“Assalamu’alaikum Bun..” Jeda.


“Iya Bun. Sekarang sudah tidak apa-apa. Tadi kaget dan khawatir. Apalagi Dinda melihat dengan jelas orang itu akan menusukkan pisau ke arah perut Om Agung.” Jeda.


“Bunda, Mommy dan Mami gak usah khawatir. Om Indra tidak apa-apa...” Jeda.


“Nggak.. Bunda nggak pakai selang oksigen kok. Beneran Dinda gak apa-apa...” Jeda.


“Ini sudah dekat belokan arah komplek kok Bun..” Jeda.


“Iya... Wa’alaikumussalam..”


Adinda menatap Agung yang tengah menatap gawainya.


“Kata Adek, medsos ramai dengan video depan toko barusan..” Agung menscroll layar gawainya.


Adinda ikut melihat video itu dari gawainya. Dahinya mengernyit.


“Om.. apakah Om selalu berurusan dengan orang jahat? Kok sepertinya Om jadi magnet bagi penjahat sih?”


Agung menoleh, dia terkejut dengan pilihan kata Adinda: magnet bagi penjahat.


.


***


Berhubungan dengan Tuan Thakur?


Duh....


Malam ini Author upload beberapa bab ya.


Met rehat, met weekend.


🌷☕🌷☕🌷☕🌷