
Adisti sedang menyematkan jarum pentul pada pashminanya ketika mendengar suara Bunda menjawab salam.
“Masuk, Nak Bram. Sudah sarapan belum?”
“Belum Bun.”
Mereka berjalan ke ruang tengah.
“Bunda gak masak pagi ini. Makanan semalam masih tersisa banyak, jadi tadi cuma manasin aja. Nanti makan sama-sama, ya. Bunda panggil ayah dulu di samping.”
Bramasta mengangguk sambil tersenyum. Adisti muncul ragu-ragu di ambang pintu kamarnya.
“Assalamu’alaikum, Disti..”
“Wa’alaikumussalam.” Disti menunduk, tidak berani menatap Bramasta.
“Sini.. duduk di dekat Abang. Kok berdiri terus di situ?”
“Abang marah ya?”
“Marah kenapa?”
“Tadi di vicall Disti nyebut nama…”
“Nggak, Abang nggak marah kok.”
“Tapi kok..?”
“Makanya Disti duduk dulu di sini, kita omongin lagi.”
Disti mengangguk.
“Luka jahitan di kepala sudah sembuh?” tanya Bramasta.
“Masih nyeri. Disti belum berani pakai sisir.”
Bramasta mengangguk [pantas, tadi menyisir pakai jari dengan hati-hati].
“Maaf ya, Abang jadi seperti membuka kenangan buruk Disti.”
“Nggak, Bang. Wajar kok Abang bertanya seperti itu, mungkin Distinya yang baper.”
“Abang ganti aja deh pertanyaannya ya. Disti suka warna apa? Bunga kesukaan Disti apa?”
“Kalau dari 12 warna crayon, Disti bakal pilih warna ungu. Tapi pada dasarnya Disti suka warna alam. Adem lihatnya.” Bramasta tersenyum menatap Disti berbicara.
“Untuk bunga, semua bunga Disti suka. Kecuali lilac atau bunga bakung. Disti gak suka baunya. Pusing.”
“Eh, kok sama sih kita?”
“Beneran?” mata Disti membelalak lucu. Bramasta tertawa dan mengangguk.
“Mungkin karena kita jodoh kali ya..”
“Aamiin,” kata Adisti.
Ayah dan Bunda di ambang pintu samping.
“Yuk, makan dulu. Kita sarapan bareng,” kata Bunda.
“Gung.. sarapan dulu!” seru Ayah.
“A Agung di mana?” tanya Bramasta.
“Di kamarnya. Sepertinya tidur lagi,” kata Bunda.
“Biar saya yang ke atas bangunin A Agung, Bun.”
Ada 2 pintu di lantai atas. Bramasta tergelak melihat tulisan pada pintu. A1 dan A2 dalam ukuran besar.
“Kenapa Bang?” tanya Adisti dari bawah.
“Ini kamar atau kelas jurusan jaman SMA sih?”
“Kamar Kakak yang kelas Fisika, Bang,” Adisti terkikik geli.
Bramasta membuka pintu jurusan Biologi. Kamar berdinding ungu muda dengan plafon putih. Lemari, meja tulis dan tempat tidur juga berwarna putih. Bramasta tersenyum. Kamar ini penuh aroma Adisti. Selimut berwarna ungu muda dan putih bermotif daun kecil. Melangkah masuk ke dalam kamarnya, mengamati meja tulis Adisti yang rapi. Ada foto Adisti bersama keluarganya, foto Adisti bersama teman SMAnya, juga foto Adisti yang tengah bermain ayunan sambil terseyum lebar. Ada kaleng permen yang dijadikan vas bunga. Seiikat mawar merah yang dikeringkan.
[Apakah bunga itu pemberian mantannya?] hati Bramasta tercubit.
[Seperti ini rasa cemburu?] segera ia meninggalkan ruangan Adisti.
Bramasta mengetuk pintu kamar Agung. Lalu langsung membukanya karena tidak ada jawaban hanya terdengar bunyi dengkuran halus.
“A.. bangun.. kita sarapan bareng,” Bramasta duduk di kursi yang menghadap meja tulis. Mengamati meja Agung yang sedikit berantakan. Laptop, handphone, beberapa carik kertas struk belanja minimarket dan uang receh berkumpul di sudut meja. Ada yang menarik perhatian pada dinding putih polos. Bramasta mendekat untuk melihat lebih jelas. Coretan spidol berbentuk hati berwarna ungu sebesar telapak tangan, di bawahnya tertulis dengan spidol hitam besar, “Kakak Terganteng Sedunia”, dengan huruf G kecil berbentuk seperti semut. Bramasta terkekeh melihatnya. Disentuhnya huruf G kecil itu dengan ujung telunjuknya.
Agung menggeliat, merasa ada orang lain di kamarnya. Mengusap wajahnya, menatap dengan heran ke arah Bramasta yang tengah tersenyum di depan coretan cinta adiknya.
“Kata Adek, itu coretan cintanya. Gak boleh dihapus, gak boleh ditutupi apapun.”
“Kapan dia bikin ini?”
“Kelas 3 SMP.”
Bramasta terkekeh. “Pigurain aja, A..”
Agung terkekeh lalu bergegas bangun. Mereka turun tangga sambil mengobrol kecil.
Usai sarapan. Ayah dan Bunda kembali ke halaman samping. Bertiga mereka ada di ruang tengah. Bramasta membuka laptopnya. Menunjukkan beberapa gambar dekor pernikahan dan konsep pernikahan. Semuanya mewah dan elegan. Adisti menatap layar laptop dengan mulut melongo.
“Wow!” kemudian terdiam. [Mungkin gambar-gambar seperti ini yang ada di pikiran Nyonya itu]. Mata Adisti merunduk, menatap keyboards laptop. Ingatan bagaimana Nyonya Hilman mengatainya kampungan dan menghina keluarganya sementara Tiyo tidak melakukan apapun untuk melindunginya.
Bramasta melihat perubahan raut wajah Adisti. Sedikit menyentuh lengan baju Adisti, “Kenapa?”
Adisti menggeleng. Matanya sendu, menghindari kontak mata dengan Bramasta. Agung mengamati mereka berdua. Dia menyentuh lengan Bramasta lalu menggeleng. Bramasta mengangguk.
“Kan baru makan tadi?” Bramasta keheranan menatap Agung. Agung menaik turunkan alisnya, memberi kode pada Bramasta.
“Pengen jajan. Nyari kupat tahu yuk di Gempol.”
“Ayo.”
“Ikut..” kata Adisti.
“Abang gak bawa mobil.”
“Lah, emang tadi ke sini pakai apa?” tanya Agung.
“Motor.”
“Hah??” Agung dan Adisti bergegas keluar.
“Ya Allah… Ducati!” seru Agung, “Kebanting deh kalau jalan bareng. Scoopy vs Ducati.”
“Scoopy Adek keren, tau,” Adisti memukul lengan kakaknya.
“Iya..iya.. Scoopy Adek paling keren di dunia. Saking kerennya Abang sampai ditilang Pak Pol gegara lampu depannya ternyata mati.”
“Hah??” Bramasta dan Adisti tertawa.
“Kapan? Terus?” kata Adisti.
“Sewaktu mau ke tempat Abang sepulang kantor,” kata Agung, “Damai dong. Salam tempel, 30 rebu.”
Keduanya makin keras tertawanya.
“Adek ikut ya..”
“Nggak. Gak boleh.”
“Bilangin Bunda nih.”
“Biarin.”
“Bunda…! Kakak nih..”
Bunda dan Ayah tergopoh.
“Ada apa?”
“Kakak sama Abang mau ke Gempol nyari kupat tahu. Adek gak diajakin.”
“Hisssh, kirain ada apa..” kata Bunda.
“Gak usah ikut, Dek, nanti dibungkusin aja. Ayah sama Bunda juga mau…” kata Ayah sambil tertawa.
“Abang… bonceng ya,” Adisti tersenyum lebar pada Bramasta.
“Nggak…nggak… degdegan nanti Abangnya boncengin Disti.”
“Emang kenapa?”
“Abang belum pernah boncengin cewek. Mommy cuma mau diboncengin sama Daddy. Kak Layla gak bisa naik motor, mabok dia kalau naik motor. Muntah-muntah..”
“Ya Allah… ada ya yang mabok naik motor,” Bunda terkekeh.
“Kakak aja bonceng Adek..” Adisti masih gigih merayu.
“Nggak. Kakak lagi gak mau bawa motor. Kakak pengen diboncengin pakai Ducati,” kata Agung sambil mengambil jaketnya, “Maaf ya Dek, ini acara cowok ganteng dan keren. Kita mau sunmory bareng. Yuk Bang.”
“Aa udah mandi belum?” tanya Bramasta.
“Haissh.. Aa sudah mandi sebelum subuh. Tadi habis makan juga sudah sikat gigi dan cuci muka. Gak lihat apa Aa sudah ganteng begini?”
“Ya sudah, ayo,” kata Bramasta sambil tertawa. Dia memakai jaket kulit slim fit yang berwarna putih dan hitam.
“Abang..” panggil Disti.
“Apa?” Bramasta menoleh.
“Abang ganteng deh,” Adisti memberi jari love padanya. Bramasta terkekeh dengan wajah memerah.
“Yaelah.. si Adek udah mulai genit..” kata Agung sambil memakai helmnya.
“Bang, ngebut napah. Sayang banget Ducati-nya gak digeber.”
“Di jalanan komplek? No way_Gak mau_. Nanti saja di track lurus. Lagipula Abang lagi gak mau ngebut. Abang mau naik pelaminan minggu depan,” Bramasta terkekeh.
“A, Adisti kenapa. Tiap kali ditanya keinginan dia tentang konsep dekor kok dia seperti yang gak mau bahas dan banyak melamunnya.”
“Adek pasti teringat bagaimana dia direndahkan oleh ibunya Tiyo. Semua harus menuruti keinginan dan selera Keluarga Anggoro. Kami dianggap kampungan. Pendapat kami sama sekali tidak dihargai. Adek tahu sendiri orangnya kan gak bisa ditekan seperti itu, dia bukan melawan omongan si Nyonya tapi dia hanya mengemukakan pendapatnya saja. Si Nyonya marah besar. Adek ditunjuk-tunjuk sambil dikatai kampungan dan tidak usah ikut campur.”
“Terus Prasetyo tahu kejadian itu?”
“Tahu lah. Dia ada di sebelah Adek. Dia cuma minta Adek untuk ikut kehendak ibunya saja. Tahu beres saja.”
“Gila..”
“Belok kanan, Bang.” Bramasta mengikuti perintah Agung.
”Sebenarnya hubungan mereka seperti apa sih?”
“Nggak tahu. Tiap kali ditanya tentang cinta, Adek bakal mengangkat bahunya. Nanti dia bakal balas bertanya, memang cinta itu seperti apa? Kata dia, kalau gak ketemu, ada rasa kangennya, kalau ada masalah, ada yang bisa diajak curhat, kalau rasa sayang, ya ada sayang karena 2 tahun ini mereka dekat. Tapi tiap kali ditanya cinta, Adek gak ngerti.”
“Loh, terus kenapa mau menikah dengan Prasetyo?”
“Kata Adek, kasihan melihat Tiyo. Ngejar-ngejar terus dari jamannya dia masih sekolah hingga magang. Banyak nolongin Adek saat menyusun skripsi dan magang. Adek merasa berhutang budi..”
Bramasta terdiam. [Apakah Adisti mau menerima pinanganku karena merasa berhutang budi juga?] Bramasta menghela nafas panjang. [Ya Allah, kenapa rasanya menyesakkan seperti ini?]