CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 151 – PERKENALKAN: ADINDA



Taman di lantai 6 menjadi riuh oleh suara tawa mereka. Yang tadinya datang ke rumah sakit dengan penuh kekhawatiran berakhir dengan penuh tawa.


“Daddy dan Om Dhani mau teh?” tanya Adisti menawarkan.


“Boleh..” kata Daddy, “Tapi teh seduhan sendiri. Daddy gak mau teh beli takeaway dari gerai. Rasanya aneh.”


“Siiip, nanti Disti buatin.”


“Dis, saya tanpa gula ya,” kata Pak Dhani.


Adisti mengacungkan dua jempolnya pada Pak Dhani.


“Abang mau juga?” tanya Adisti pada suaminya.


Bramasta menggeleng sambil tersenyum.


“Bang Hans dan Hyung Anton?”


Keduanya menggeleng.


“Abang udah pesan kopi buat kami berempat,” kata Indra.


“Dih.. Disti sama Dinda gak ditawari?”


“Kalian juga mau kopi?” kekeh Indra sambil mengeluarkan gawainya.


“Ice mocca latte 2. Ya Din?”


Adinda mengangguk.


“Yuk, Din. Temani Teteh bikin teh.”


Adinda mengangguk lagi.


“Bagaimana? Sudah lega sekarang? Sudah jelaskan bagaimana perasaan Kakak ke Dinda?” tanya Adisti saat mereka berjalan beriringan.


Adinda tersenyum malu sambil mengangguk.


“Next time, jangan mengambil keputusan saat hati sedang dalam keadaan marah atau kecewa ya. Karena otak sedang tidak berpikir jernih,” Adisti menggamit lengan Adinda.


“Iya Teh.. Dinda jadi malu..”


“Gak usah malu. Dari kesalahan kita jadi bisa belajar. Teteh juga dulu begitu kok.”


“Assalamu’alaikum..” Adisti memasuki ruangan Agung. Para tetangga masih bersenda gurau.


“Kenapa Dek?” tanya Bunda.


“Eh, Dinda? Ini Dinda??” Bunda menghampiri Adinda sambil meraih tangannya.


Lalu memeluk Adinda.


“Masyaa Allah... Alhamdulillah. Barakallahu..”


Adinda tersenyum malu.


Ayah menatap Adinda dengan alis terangkat.


“Masyaa Allah.. Barakallahu..” Ayah menghampiri Adinda sambil menepuk-nepuk pundaknya.


“Kakak sudah tahu penampilan baru Adinda?” tanya Bunda, “Kok gak ngasih tahu Bunda?”


“Kan tadi Dinda salim ke Ayah dan Bunda,” jawab Agung.


“Wah.. mungkin karena banyak orang ya? Jadinya Bunda tidak menyadarinya.”


“Siapa, Bu?” tanya seorang tetangga pada Bunda.


“Dia Adinda. Anak barunya Ayah dan Bunda,” Adisti menjawab diikuti kekehan Bunda dan Ayah.


“Tuh, sudah dijawab oleh Adek.”


“Calonnya A Agung nih?”


Agung hanya tersenyum lebar semetara Adinda tertunduk malu.


“Ya.. gak jadi besanan dong Bu, kita..” seorang tetangga terkekeh.


“Issh.. urusan jodoh mah gimana anak-anak saja, Bu,” kata Bunda.


Adinda menatap Agung yang tengah menatapnya juga. Adinda menjatuhkan tatapannya pada lantai. Lalu melihat Adisti yang tengah menunggui air dalam teko listrik mendidih.


“Dinda bantu, Teh..” Dinda mohon diri pada Bunda dan para tetangga untuk membantu Adisti.


Adinda menyiapkan nampan dan cangkir dari laci. Sementara Adisti mengiris kue dan menatanya di piring.


“Kok cangkirnya 4?” tanya Adisti.


“Sekalian buat Ayah dan Bunda,” kata Adinda.


Adisti mengangguk setuju.


Teh untuk Ayah dan Bunda diletakkan di atas meja pantry. Dengan menggunakan nampan, mereka beranjak menuju taman.


“Disti sama Dinda pergi dulu ya ke taman,” kata Adisti kepada semuanya.


“Om Agung, Dinda pergi dulu,” kata Adinda kepada Agung yang tengah memandanginya dengan senyum.


Agung mengangguk.


“Kok manggilnya Om?”


“Memangnya dia keponakan Agung? Masih keluarga?”


Agung terkekeh.


“Ceritanya panjang,” kata Ayah.


Tea time di taman lantai 6 berlanjut lagi. Terkadang mereka berbicara serius tentang pekerjaan terkadang mereka berbicara hal yang ringan.


“Teh, memangnya Bunda menjodohkan Om Agung dengan anak tetangga?” tanya Adinda.


Dedaunan masih basah. Adisti menatap langit sore.


“Teteh gak tahu pasti. Tapi pernah dengar slentingan kalau ada beberapa tetangga yang berminat menjodohkan anak perempuannya dengan Kakak.”


“Terus Bunda bagaimana?”


“Bunda menyerahkan urusan jodoh kepada anak-anaknya. Tidak ada paksakan harus menikah dengan anaknya siapa atau kriteria-kriteria yang bagaimana-bagaimana..”


Adisti menoleh menatap Adinda sambil tersenyum, “Kata Ayah dan Bunda, siapapun jodoh pilihan anak-anaknya, Ayah dan Bunda akan menerimanya dengan tangan terbuka. Selama dia seakidah, sholeh, beradab baik, pengetahuannya baik, mau belajar, sepertinya itu saja.”


“Ayah dan Bunda tidak akan mempermasalahkan dengan latar belakang sosial ekonominya, sukunya, dan latar belakang pendidikannya.”


Adinda mengangguk.


“Tentang perjodohan dengan tetangga, pendapat Om Agung bagaimana?”


Adisti berpikir sebentar kemudian terkekeh kecil.


“Kakak itu orangnya lempeng banget kalau dengan cewek. Hatinya belum pernah tersentuh oleh cewek manapun sebelum bertemu dengan Dinda.”


Adinda tersipu.


“Gak usah dipikirkan, ya omongan tetangga. Sepertinya masalah jodoh-jodohin antar tetangga itu hanya sekedar guyonan saja,” Adisti menepuk lengan Adinda.


Saat mereka tengah berbincang, Bramasta berkali-kali mencuri pandang pada istrinya. Khawatir istrinya bergeser dari tempatnya sekarang.


“Teh, Bang Bram menengok ke arah Teteh berkali-kali..” kata Adinda sambil terkekeh.


Adisti menoleh ke arah suaminya. Lalu tersenyum lebar sambil memberi kiss bye. Bramasta balas tersenyum dengan pipi merona.


“Senangnya dicintai seperti itu..” kata Adinda sambil menyenggol lengan Adisti.


“Abang Bram lagi bucin-bucinnya. Dia juga sama dengan Kakak. Sebelum bertemu dengan Teteh, tidak pernah ada perempuan lain di hatinya kecuali Mommy dan Kak Layla.”


“Teteh yakin, Kakak nanti gak jauh beda dengan Abang Bramasta. Mencintai Adinda dengan begitu hebatnya.”


Adinda menoleh pada Adisti yang tengah tersenyum lebar menatap dirinya.


“Gak tahu ah. Dinda gak mau terlalu mengkhayal. Khawatir kecewa karena tidak seperti yang diharapkan,” Adinda mengangkat bahunya, “Jalani saja apa yang ada.”


Adisti mengangguk.


“Ibu bagaimana dengan penampilan baru Dinda?”


Adinda menggeleng.


“Ibu belum pulang. Mungkin sebaiknya seperti itu untuk selamanya. Dinda sudah tidak tahan melihat benalu yang menempel pada Ibu.”


“Adinda pernah berbicara dengan teman laki-laki Ibu? Maksud Teteh mengobrol?”


Adinda menggeleng.


“Beberapa kali dia mencoba membangun percakapan dengan Adinda, tetapi Adinda hanya menjawab pendek.”


Adisti mengangguk.


“Mudah-mudahan Allah melembutkan hati Ibu ya.”


“Aamiin.”


Notifikasi chat Adisti berbunyi. Adisti membukanya.


Bramasta_Abang kangen... (emot love)_


Adisti menatap suaminya lalu memberi jari love padanya.


Adinda yang melihat jadi terbahak. Kemudian tersadar gawainya ada di pada saku jaket di atas sofa bed ruangan Agung.


“Handphone, Dinda...” katanya sambil berdiri, “Dinda ambil handphone dulu ya Teh..”


Adinda berjalan dengan tergesa. Dia memasuki ruangan Agung. Suasana riuh di sana. Berbeda dengan suasana saat tadi ia masuki bersama Adisti.


Rupanya tetangga yang membezuk sudah pulang. Sekarang yang membezuk adalah teman-teman Agung.


Ayah dan Bunda tidak nampak. Sepertinya mengantar para tetangga ke bawah.


“Weizzz ada anak sekolah. Keponakannya Pak Agung? Cantik banget, Pak. Kenalin dong..” kata seorang pemuda berkemeja lengan panjang garis-garis.


Adinda yang sedang mengambil handphone di jaketnya mendongak. Melihat pada pemuda tersebut lalu sekedar mengangguk hormat. Kemudian menatap pada Agung yang tengah menatapnya.


Seorang teman wanita Agung berdiri di tepi bed sambil memegang bed handrail. Cantik dan anggun. Terlihat dewasa.


“Dinda, sini..” Agung tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Adinda.


Adinda mendekat dengan ragu.


“Sini, gak usah takut..” kata Agung sambil mengangguk.


“Kalem aja, Dek. Kita-kita gak gigit kok..” seloroh seorang pemuda yang berkemeja lengan pendek berwarna biru muda.


Teman-temannya tertawa menanggapinya.


Adinda berjalan mendekati bed Agung. Agung meminta Adinda untuk berdiri di sampingnya.


“Mereka rekan kerja saya di Divisi Akunting Sanjaya Group.”


Agung menatap Adinda. Adinda mengangguk dan tersenyum kepada semuanya.


“Teman-teman, kenalkan. Ini Adinda. Calon istri saya.”


.


***


Nah gitu dong. Jadikan ada kejelasan ya Din.


eh! 😁