CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 276 –KENANGAN YANG TERSELAMATKAN



Hans menatap Bramasta. Bramasta mengangkat kedua bahunya.


“Turuti saja apa kata Kakak, Pak Raditya. Sebagai tindakan preventif, apa salahnya?” Adisti tampak seperti melamun saat berucap.


“Disti?” Bramasta menyentuh siku istrinya.


“Ya Bang? Kenapa? Ada apa?” pertanyaan Adisti yang beruntun membuat para Kuping Merah menggelengkan kepalanya.


“Ah.. mulai lagi nih Disti..” Indra menggeleng, “Positif, Hans. Seperti yang sudah-sudah. Ikuti saja apa yang Disti bilang..”


“OK.. Anda tidak boleh pulang ke rumah malam ini. Tetaplah di apartemen Agung. WA kan saja ke saya barang-barang yang Anda butuhkan. Nanti anak buah saya yang akan mengambilnya.”


Raditya mengangguk. Kemudian memandang Agung dan Adisti bergantian.


“Kalian berdua ini...?”


“Mereka tidak apa-apa. Mereka berdua normal bukan indigo. Hanya pengalaman pernah berada di antara hidup dan mati membuat mereka jadi sedikit berbeda dengan kita. Sedikit. Hanya sedikit..” Leon memperagakan sedikitnya dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya yang didekatkan.


Raditya mengangguk berusaha mengerti walaupun tidak memahaminya.


Adisti memandang semuanya dengan tatapan bertanya, “Memangnya tadi Disti ngomong apa sih?”


Semuanya tersenyum pada Adisti. Bramasta merangkul istrinya. Mengelus pelan punggungnya lalu mengcup pipinya.


“It’s OK now..”


Adisti masih menatap suaminya dengan pandangan bertanya.


Indra mende sah.


“Laaah mulai lagi deh. Yang kasmaran, dunia serasa milik berdua, yang lainnya ngontrak!”


Hans menatap galak pada Agung dan Adinda.


“Kalian belum boleh ya!”


“Astaghfirullahal adzhiim.. Din, abang kamu kok su’usdzhon banget ya ke kita..” Agung mengusap wajahnya.


Yang lainnya tertawa.


“Ya sudah, sekarang kalian berdua pulang. Tidur cepat supaya besok gak telat bangunnya,” Daddy memandang Agung dan Raditya.


“Bawa makanan buat sarapan nanti. Minta aja ke Mbak Lin di dapur,” kata Mommy.


“Iya Mom..” Agung berlalu ke arah dapur.


Tidak berapa lama, Agung kembali lagi dengan menenteng paper bag.


“Cepat amat, Gung..” Anton menatap paper bag di tangan Agung.


“Semua sudah disiapkan oleh Mbak Lin dan kru-nya. Semua paper bag sudah ada label namanya juga. Lu pulang sekarang aja Ton. Kita semua nebeng mobil Lu. Innova biar di sini saja buat antar Ayah dan Bunda pulang.”


“OK..” Anton mengangguk lalu ke dapur untuk mengambil paper bag.


Anton kembali dengan membawa dua paper bag. Lalu menyerahkan salah satunya untuk Raditya.


"Ini sudah ada namanya Abang,” Anton tersenyum lebar.


“Thanks, Ton.”


Mereka berpamitan pada para orangtua lalu pada yang lainnya. Saat berpamitan dengan Adinda, Agung mengelus puncak kepala Adinda.


“Nanti saya VC ya,” Agung berkata pelan.


“Memangnya kenapa, Om?”


“Gak kenapa-napa.”


“Hati-hati di jalan ya Om.”


“Jangan kemalaman tidurnya.”


“Udah belum, Bang..?” Anton menggaruk lengannya yang digigiti nyamuk.


Raditya terkekeh.


“Kita bukan jadi nyamuk buat mereka yang kasmaran, tapi kita yang dijadiin tumbal buat para nyamuk..”


***


00.10


APARTEMEN BEVERLY DAGO


UNIT AGUNG


Suara bel pintu mengakhiri video call Agung dan Adinda. Agung mengecek siapa yang berada di pintu melalui layar monitor. Ada Hans dan salah satu orang Shadow Team.


Agung membuka pintu. Hans mengucap salam sambil masuk ke dalam ruangan Agung. Anggota Shadow Team menoleh dulu ke kanan kiri lorong sebelum masuk.


Agung bisa merasakan aura tegang pada mereka. Barang bawaan yang dibawa orang Shadow Team diletakkan di atas meja.


“Panggilkan Raditya,” Hans memerintahkan Agung.


Agung bergegas mengetuk pintu kamar Raditya. Raditya keluar dengan memakai baju koko dan peci.


“Ada Bang Hans..” Agung memberitahu Raditya.


Mereka bersalaman.


“Ada kabar buruk. Rumah Pak Raditya terbakar. Tidak terbakar semuanya. Masyarakat berhasil memadamkan api hingga api tidak merambat habis ataupun merambat ke tetangga,” Hans berbicara dengan lugas.


“Pemadam kebakaran?” Raditya bertanya.


“Inilah keanehannya. Mobil damkar tidak pernah datang ke TKP walaupun sudah dipanggil. Kata petugas yang di posnya, mereka sudah mengirim satu unit mobil ke TKP tapi mobil tersebut tidak pernah tiba.”


Agung membuat panggilan telepon.


“Ton, ke unit gue sekarang. Ada Bang Hans dan orangnya. Rumah Bang Radit terbakar.”


Tidak menungggu lama, suara bel pintu terdengar. Anton datang membawa laptopnya.


Agung menjelaskan apa yang terjadi. Anton memandang Hans sambil mengangkat sebelah alisnya. Gerakan samar kepala Hans membuat Anton mengerti, dia disuruh untuk menunggu sebelum bertindak.


Raditya tampak menekuri lantai. Wajahnya murung. Rumah kenangannya bersama Masayu, almarhumah istrinya terbakar. Ruang depan, berarti ruang kerjanya. Foto dan video Masayu sebagai pelipur lara yang masih tersimpan di dalam flashdisk pasti sudah rusak.


Mengingat itu semua membuat beban di pundaknya semakin terasa berat. Matanya mengembun. Mencegah air matanya jatuh, dia menengadah. Menatap lampu utama yang menempel pada plafon.


“Orang saya hanya bisa menyelamatkan laptop Bapak di ruang depan,” Hans membuka tas kresek besar di atas meja.


Menyerahkan laptop berwarna silver dengan sidik jari penuh jelaga tampak menghiasi bagian luar laptop.


Mata Raditya berbinar saat menatap laptopnya.


“Alhamdulillah.. alhamdulillah... Saya masih punya foto-foto dan video-video Masayu. Saya kira saya sudah kehilangan semuanya..”


Agung menepuk-nepuk punggung Raditya.


“Dicek dulu, Bang. Khawatir rusak karena terkena panas,” Anton mengingatkan.


Raditya mengangguk. Segera dia menyalakan laptopnya dengan perasaan tegang. Khawatir laptopnya tidak bisa menyala lagi. Kekhawatirannya hilang saat laptopnya bisa menyala normal.


“Kronologinya bagaimana, Tuan Hans?” Raditya menatap Hans dengan sungguh-sungguh, “Itu apa?”


Telunjuknya menunjuk pada bawaan lain di atas meja. Paper bag warna marun. Dia ingat, dia menyimpan paper bag kosong itu di ruang tengah dekat meja TV.


Raditya mengangguk lalu berterimakasih.


“Kronologinya, kurang dari pukul 22.30, saya memerintahkan orang saya yang wajah dan postur tubuhnya mirip dengan Anda untuk masuk ke dalam rumah. Karena perkataan Agung malam tadi di rumah Tuan Alwin, membuat saya mengambil langkah tersebut."


"Orang saya berada di dalam rumah Pak Radit sekitar 15 menit. Api sudah menyala dan cepat sekali membesar di bagian depan rumah."


“Ruang tamu, kamar depan dan setengah bagian dari ruang tengah ludes terbakar api. Aroma bensin sangat kuat tercium oleh orang saya yang berada di dalam rumah Anda.”


“Sepertinya rumah Anda sudah diintai dan mereka menunggu kesempatan untuk membakar rumah di saat Anda berada di dalmnya, Pak Radit.”


Hans menarik nafas panjang. Menatap Raditya yang menatapnya tak percaya. Dia kemudian berdiri dan memeluk Agung.


"Gung.. terimakasih banyak. Firasat kamu tentang malam ini, benar adanya. Firasat kamu menyelamatkan nyawa saya..”


Agung terpaku. Dia menepuk-nepuk punggung Raditya.


“Bukan saya yang sudah menyelamatkan nyawa Abang. Tapi Allah yang sudah menjaga Abang..”


“Bagaimana dengan kondisi orang Anda, Tuan Hans?”


“Alhamdulillah dia bisa menyelamatkan diri dengan selamat.”


“Bagaimana bisa? Pintu masuk dan keluar rumah hanya bisa melalui pintu depan saja.”


“Dia mengambil bedcover di atas tempat tidur Anda, Pak Radit. Merendamnya dengan air dalam bak kamar mandi. Lalu membungkus tubuhnya untuk berlari keluar.”


“Saat berada di luar, orang sudah banyak berkumpul untuk memadamkan api. Untung saja tetangga banyak yang belum tertidur dan masih berkumpul di rumah warga lainnya untuk menonton bareng pertandingan bola malam tadi.”


“Begitu dia berhasil keluar, oleh orang saya yang lainnya, langsung dibawa pergi dari TKP dengan kondisi masih terbungkus bedcover. Orang-orang menyangkanya itu adalah Anda.”


“Jangan menerima panggilan ataupun menjawab pesan apapun dari nomor Anda,” Hans merogoh saku bagian dalam jaketnya. Dia menyodorkan kartu simcard baru kepada Raditya.


“Pakai nomor ini untuk komunikasi dengan kita. Nomor lama Anda untuk sementara jangan dipakai lagi.”


Raditya mengeluarkan gawainya. Sejak berada di acaranya Agung, gawainya dalam mode silent.


Tanpa membuka gawainya, dia membaca notifikasi yang masuk. Matanya membelalak.


“Ada 40 panggilan tak terjawab dari Pak RT dan tetangga...” Raditya menggeleng, “7 nomor panggilan tak terjawab dari 2 nomor yang tak dikenal.”


Anton menyalin nomor tak dikenal itu.


“AMANSecure bisa melacak pemilik nomor -nomor ini,” kata Anton.


Gawai Hans berdering. Panggilan masuk dari aplikasi pesan chat.


“Assalamu’alaikum. Ya, laporkan,” Hans mendengarkan dengan serius.


Salah satu kakinya digoyangkan secara konstan. Sesekali bergumam.


“OK. Terima kasih. Assalamu’alaikum.”


Hans membuat panggilan.


“Assalamu’alaikum, laporkan TKP..” Jeda.


“Kondisi kamar depan?” jeda agak lama.


“OK. Tolong pastikan tidak ada warga yang mendekati ruangan lain. Sebentar..” Hans menjauhkan gawainya lalu menatap Anton


.


“Ton, lu punya plastik terpal yang gede banget untuk menutupi bagian rumah yang terbakar supaya orang tidak sembarangan masuk ke dalam rumah?”


Anton berpikir sejenak.


“Yang bisa menutupi area depan hingga atapnya, kalau terpal gak ada tapi ada jaring pengaman konstruksi bangunan. Sedang tidak dipakai karena penggunaannya sudah selesai. Ada di gudang site di area Bandung Timur. Mau dipakai?”


“Di site pembangunan kantor cabang B Group?”


Anton mengangguk.


“OK, Pakai itu, Ton.”


“Saya akan meminta Sol untuk membawanya ke TKP sekalian dengan beberapa seng untuk menutup bagian depan ya. Mau dipasang sekarang juga?”


Hans mengangguk.


“OK. Sekalian gue kirim orang buat mengerjakannya malam ini juga.”


Hans mengangguk puas. Dia kembali lagi pada panggilannya.


“Nanti kalian bekerja sama dengan orang dari konstruksi B Group untuk memasang penutup bangunan.” Jeda.


“Satu lagi, hubungi RT setempat dan tetangga kanan kiri untuk meminta ijin kebisingan karena pemasangan penutup bangunan itu.” Jeda,


“OK. Hubungi saya bila ada hal yang baru.”


Hans menutup panggilannya.


Raditya menatap Hans dan Anton bergantian.


“Terima kasih banyak. Kalian luar biasa.”


“Jangan terlalu dirisaukan, Pak Radit.”


“Ada perkembangan baru, Bang Hans?” tanya Agung sambil menuang teh. Dia sudah memberi kabar kepada anggota WAG tentang kejadian malam ini.


“Mobil pemadam kebakaran yang tidak pernah sampai ke TKP ternyata tidak diperkenankan memasuki area permukiman oleh petugas yang memakai mobil patroli."


Raditya menatap Hans dengan pandangan terkejut.


“Dihadang dan disuruh putar balik.”


“Identitas petugasnya?” tanya Raditya.


Hans menggeleng.


“Negatif. Seragam atasnya ditutupi oleh jaket kulit sipil.”


“Nomor mobil patrolinya?”


Hans menggeleng lagi.


“Mereka pergi dengan panik karena diancam dengan senjata laras panjang.”


Raditya memukul pahanya dengan kesal.


“SO D A M N E D!”


.


***


Waduh!


Kan runyam kalau musuhnya Tuan Thakur..


Ada yang masih ingat dengan Sol? Anak buah Anton saat melakukan penyadapan di The Ritz.


Selalu pencet tombol like-nya ya Readers untuk menghitung retensi pembaca. 270 bab lebih Authornya lom pernah gajian nih. Lelah hayati kita... 🐥