CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 127 – THE SHADOW TEAM TAK AKURAT?



Lobby B Group masih lengang. Saat ini pukul 07.20 sedangkan jam kerja dimulai pukul 08.30. Bahkan Indra pun belum datang. Indra tidak tahu Bramasta akan ke kantor sepagi itu.


Beberapa karyawan yang sudah datang dan berpapasan dengan Bramasta dan Adisti menyapa dan memberi salam. Bramasta dan Adisti mengangguk dan menjawab salam mereka. Dari mulai turun dari mobil, gandengan tangan mereka tidak terlepas.


Sesampainya di lift, Bramasta menoleh pada Adisti.


“Kenapa?” Adisti berbisik, “Ada yang salah dengan penampilan Disti?”


Bramasta menggeleng.


“Alis Disti tebal sebelah? Atau lipstik Disti belepotan?” Adisti malah berbisik.


Bramasta tertawa pelan.


Bramasta menundukkan tubuhnya lalu berbisik tepat di telinga istrinya, “Kenapa ngomongnya bisik-bisik? Kan di lift ini cuma kita berdua?”


Adisti memegangi telinganya karena merasa geli, “Geli, Bang,” bisik Adisti, “Lah barusan Abang juga bisik-bisik..”


“Abang cuma ngikuti Disti saja..” Bramasta masih berbisik, “Ternyata enak juga ngomong bisik-bisik begini saat sedang berdua..”


Bramasta tersenyum lebar sambil menatap Adisti.


“Ganjen ih,” bisik Adisti sambil mencubit lengan Bramasta.


Lift berdenting, masih satu lantai lagi. Seorang karyawan pria dengan berkas-berkas map di tangannya hendak memasuki lift namun ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam lift.


“Mau ke atas?” tanya Bramasta.


“I...iya Tuan.Tapi nanti saja. Tunggu lift lainnya.”


“Kenapa? Ayo sekalian saja,” Bramasta menekan tombol pintu lift agar tetap terbuka.


“Saya takut mengganggu Tuan dan Nona.”


“Come on.. hurry up_Ayo...buruan_,” Bramasta menyuruh masuk dengan gelengan kepalanya.


Karyawan tadi akhirnya masuk.


Tak berapa lama pintu lift berdenting. Mereka keluar dari lift bersama-sama.


“Jangan bilang ke Pak Indra saya sudah sampai di kantor, ya..” kata Bramasta kepada pria itu.


Pria itu mengangguk dengan wajah bingung, “Iya Tuan..”


“Dia anak buah Bang Indra?” tanya Adisti saat berjalan ke ruangan Bramasta.


Bramasta mengangguk sambil membuka pintu ruangannya, “Assalamu’alaikum..”


Adisti menjawab salam suaminya.


“Wow.. itu kerjaan Abang? Banyak banget..” Adisti menatap tumpukan map yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh Bramasta.


Bramasta meringis menatap tumpukan map berkas di atas meja kerjanya.


“Jadi malas...”


“Eits! Gak boleh malas.. Ingat, Abang membawahi banyak karyawan. Jadi perantara pemberi rejeki dari Allah untuk mereka, Bang. Semangat! Fighting! Ganba te, ne!” Adisti menambahkan kosa kata Bahasa Jepang di akhir kalimat.


Bramasta duduk di kursinya sambil menarik tangan Adisti.


“I like the way you think_Abang suka dengan cara berpikir Disti_.”


Adisti terduduk di pangkuan suaminya. Dia memegang kedua rahang Bramasta.


“Jangan malas untuk mengerjakan tugas Abang. Ingat, Abang sudah punya istri sekarang yang harus dinafkahi. Apalagi kita berencana untuk punya banyak anak.”


Bramasta mengangkat sebelah alisnya. Menatap dalam mata Adisti.


“Bang.. udah deh jangan punya pikiran yang aneh-aneh sekarang. It’s time to do your job. Jangan ngeres!” Adisti menarik hidung suaminya.


Bramasta terkekeh.


“Kok tahu sih?”


“Ya iyalah. Disti sudah hafal dengan wajah omes Abang Bramasta.”


“Wajah omes? Means ganteng?”


Adisti terkekeh.


“You don’t know omes?”


Bramasta menggeleng.


“Omes is Otak M3sum.,” Adisti terkekeh sambil memeluk suaminya.


“Oh My...” Bramasta menggelengkan kepalanya, “M3sumnya kan sama istri sendiri."


“Udah kerja.. kerja.. Disti kasih mood booster nih,” Disti menempelkan dahi mereka. Puncak hidung mereka bertemu.


Pintu tiba-tiba menjeblak terbuka. Indra yang masuk membawa map berkas, seketika menghentikan langkahnya. Wajahnya melongo menatap pemandangan di depannya.


“Eh, ma’af.. ma’af ya.. Kirain kalian belum datang..” wajah Indra memerah. Merasa tidak enak karena menginterupsi adegan romantis.


Bramasta dan Adisti bengong menatap Indra yang tiba-tiba muncul.


“Gue Cuma mau meletakkan ini saja.. Sudah gue rangkum dan gue tandai poin-poin pentingnya..” dengan cepat Indra meletakkan map di atas meja.


“Silahkan lanjutkan lagi.. Ma’af ya mengganggu. Bram, sebaiknya lu kunci dulu pintunya sebelum ngapa-ngapain bareng Disti. Mata suci gue kan jadi ternoda...”


Wajah Adisti memerah karena malu. Tanpa sadar mencubit lengan Bramasta.


“Kami gak ngapa-ngapain kok..” sergah Bramasta.


“Lah itu, pangku-pangkuan segala..”


Adisti langsung berdiri dari pangkuan Bramasta.


“Nggak ngapa-ngapain, Bang..”


“Ya gak gimana-gimana, Ndra...” Bramasta tertawa.


“Ya sudah, silahkan kalau mau dilanjutkan tapi semua berkas harus selesai ditandatangani sebelum kita ke site di Soekarno Hatta ya.”


“Kenapa buru-buru?”


“Supaya bisa langsung dikirimkan sebelum jam makan siang. Sudah beberapa hari terpending kan?”


Bramasta mengacungkan jempolnya, “Thanks udah ngingetin, Bro.”


“Memangnya gak bisa dihandle oleh Bang Indra?”


“Ada beberapa hal yang harus dihandle langsung oleh Pak Bos. Contohnya untuk penandatanganan kontrak kerja sama. Kecuali bila terjadi sesuatu hal yang urgent banget, baru gue yang handle. Selama Pak Bos sehat, ya itu jadi tugasnya Pak Bos lah..”


“Yang urgent itu seperti apa?”


“Salah satunya aja ya.. misalnya Pak Bos lagi honeymoon, kan gak mungkin dong.. gue datangin kalian berdua yang lagi bucin-bucinnya sambil bawa berkas buat ditandatangani..”


“Isssh Abang Indra nih...”


“Kan memang kayak gitu, Dis.”


“Kebetulan Lu bicara tentang honeymoon, gue mau ajak Disti ke New Zealand ya,” Bramasta yang sedari tadi membaca berkas sekarang menatap Indra.


“Kenapa New Zealand?”


“Karena Disti ingin melihat anak-anaknya..”


Adisti menoel lengan atas Bramasta sambil tersenyum lebar.


“Whattt??” Indra mengerutkan keningnya memandang Bramasta dan Adisti bergantian.


“Dia,” Bramasta menunjuk Adisti dengan ibu jarinya, “Penggemar sapi hitam putih.”


“Oh My God! Seperti penggemar Shaun The Sheep?”


Adisti menganggukkan kepalanya berkali-kali masih dengan senyum lebarnya.


“Di sana juga Disti bisa ketemuan dengan sepupunya Shaun The Sheep kalau Disti mau,” Bramasta tersenyum kepada istrinya.


“Gak mau. Bau kambing.”


“Lah kan memang kambing..” Bramasta menatap heran.


“Memangnya sapi hitam putih gak bau sapi, Dis?” Indra tertawa.


“Kata Abang Bram, di sana peternakan sapinya modern. Gak bau...”


“Ya, puas-puasin aja deh berpelukan sama cium-ciumin sapi hitam putih di sana..” Indra tergelak, “Awas nanti ada yang cemburu...”


“Siapa yang cemburu?” Bramasta mencebik memandang Indra.


“Ya sapi betinanya laaah.”


“Al baqoroh dong!” Adisti tertawa.


“Memang ya, anaknya ketua DKM dan ketua pengajian ibu-ibu memang beda..” Indra terkekeh diikuti Bramasta.


“Nah, mumpung diingetin. Disti mau minta ijin ke Abang Bramasta, setiap Jum’at ba’da Dhuhur, Disti harus ke madrasah di masjid komplek.”


“Kenapa?”


“Ada tanggung jawab Disti di sana.”


“Kamu mengajar di sana, Dis?”


“Tadinya.. tapi semenjak Disti sakit lama pasca membatalkan pertunangan dengan Prasetyo, Disti mengundurkan diri dari pengajar madrasah. Tapi Disti masih jadi kepala madrasahnya.”


Bramasta menghentikan pekerjaannya. Dia meletakkan berkas yang dipegangnya. Memutar kursinya perlahan, sekarang dia menatap Adisti.


“Disti mengajar?”


Adisti mengangguk, “Tapi udah nggak lagi, Bang..”


“Disti jadi kepala madrasah?”


Adisti mengangguk lagi sambil memicingkan matanya. Dia khawatir Bramasta akan memintanya untuk berhenti mengurusi madrasah. Egonya terasa tercubit. Dia memandang takut-takut kepada suaminya.


Indra juga tidak turut membantu. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Bramasta.


“Memangnya dilaporan Hans tidak disebutkan, Bram?”


Bramasta menggeleng sambil berdiri. Wajahnya serius. Dia berjalan ke arah dinding panel kayu lalu mendorong dindingnya. Sebuah laci bagian dari panel kayu mencuat. Bramasta mengambil sebuah map berwarna oranye. Lalu mulai membaca sekilas berkas-berkasnya. Indra menghampirinya.



“Beneran tidak disebutkan?” tanya Indra lagi.


Bramasta menggeleng saat berkas terakhir selesai ia baca.


“Ah.. Shadow Team mulai gak akurat nih..”


Indra mengambil gawainya lalu menghubungi Hans.


“Assalamu’alaikum, Hans. Lu dimana?” Indra melirik arlojinya.


“Kalah Lu sama Bram. Dia udah di kantor bahkan sebelum gue datang.” Jeda.


“Tentang berkasnya Adisti, Shadow Team kok tidak menyebutkan Adisti mengajar di madrasah komplek dan menjadi kepala madrasahnya? Mulai kedodoran nih Shadow Team?” Jeda.


Adisti yang mendengar namanya disebut dan mendengar ada berkasnya langsung mendongak.


[Apa salahnya mengajar di madrasah? Apalagi menjadi pemimpin di sana? Aibkah buat mereka?] mata Adisti mulai mengembun.


Wajahnya tertunduk. Dia menutup matanya. Mulai berhitung mundur dari angka 30 untuk meredakan gejolak emosinya. Jemarinya saling mengait. Gelisah dan juga merasa sakit hati.