
Bramasta menatap lurus mata Agung. Ada sorot ketegasan, kesungguhan dan ketulusan di sana. Agung terpana menatap matanya.
“Tapi Pak,” Agung menelan ludahnya, “Kami sudah mengikhlaskan semuanya. Kami akan melupakan hal ini. Harta bisa dicari. Yang penting Adisti bisa bebas dari jerat hukum mereka. Karena kami tahu pasti, Adisti tidak bersalah. Justru dia adalah korbannya di sini.”
Bramasta menghela nafas. Dia sadar dia tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk hal seperti ini.
“Baiklah, A. Ayo kita beli kopi di gerai kopi,” ajak Bramasta.
Gerai kopi ada di sayap kanan lobby. Tidak banyak orang yang mengunjungi gerai tersebut. Saat sedang menunggu Bramasta memesan untuk take away, sepintas Agung melihat sosok yang ia kenal dan ia benci selama sisa umurnya. Agung menggeleng, tidak mungkin orang itu. Pikirannya buyar saat Bramasta menghampiri dan menanyakan tentang Adisiti.
“Pasca batalnya pertunangan mereka, apa yang Adisti lakukan kesehariannya?”
“Menganggur. Hampir 2 tahun dia bekerja di Anggoro Putro. 3 bulan menjelang pernikahannya, tunangannya memintanya untuk berhenti bekerja dan fokus dengan rencana pernikahannya saja.”
“Ya ampun.. saya kira Adisti masih kuliah.”
“Dia ambil D3, manajemen bisnis. Lulus dengan nilai terbaik,” nada suara Agung penuh kebanggaan saat menceritakannya.
Pesanan mereka datang diantarkan oleh pramusaji berparas cantik.
“Silahkan Kak, ini pesanannya.”
Berbelok ke arah apotik untuk membeli pesanan Bunda, Agung memeriksa gawainya.
“Ya Allah, astaghfirullah..” seru Agung.
“Ada apa, A?”
“9 panggilan tak terjawab dari Bunda,” Agung menelepon balik Bunda. Tidak ada jawaban.
Setengah berlari mereka berdua menuju lift VIP.
“Perasaan saya kok gak enak ya Pak?” Agung menatap angka yang terus bergerak naik di dalam lift.
Pintu ruangan Adisi terbuka sedikit. Terdengar suara laki-laki muda sedang berbicara dengan nada memohon. Ada sedikit isakan dalam suaranya.
“Dis.. tolong maafkan aku. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku mohon, kita balikan lagi. Mulai lagi dari awal.”
Darah Agung mendidih mendengar perkataannya. Tangannya memegang handle pintu. Bramasta menahan lengannya. Memberi isyarat pada Agung untuk tidak bersuara.
“Biar kita dengar apa maunya,” bisik Bramasta.
Bunda melihat mereka dari dalam tapi mengangguk samar ketika melihat Bramasta memberi isyarat kepada Bunda untuk tidak memberitahukan kehadiaran mereka. Agung membuka pintu perlahan. Mereka masuk tanpa bersuara. Mengendap di depan cermin dengan dinding yang berbelok ke bed Adisti.
Prasetyo Anggoro tampak berlutut membelakangi mereka berdua. Adisti menatap Prasetyo dengan tatapan jengah. Lalu mengalihkan tatapannya pada Bramasta dan Agung. Keduanya memberi isayarat kepada Adisti untuk diam. Adisti mengangguk sambil memegangi kerudungnya di bawah dagu.
“Dis, tolong mengerti aku. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Aku cinta kamu dari dulu.”
“Apa yang dipikiran kamu saat di ruang ganti dengan Rita, Yo?”
“Aku mengaku khilaf. Dia yang merayu aku.”
“Hah!” ejek Adisti, “Kalimat yang klise sekali.”
“Dis, tolong mengerti..”
“Sudahlah, kita gak mungkin lagi bisa bersama. Keluarga kita gak akan merestui.”
“Aku akan meninggalkan keluargaku. Aku tidak peduli dengan perusahaan papa. Aku bisa kerja di perusahaan lain. Perusahaan yang lebih besar dari perusahaan Papa. Sanjaya Group, misalnya.”
Bramasta yang mendengar nama perusahaan Daddy disebut hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Udah deh Yo. Aku tahu banget kamu yang gak bisa lepas dari nama besar keluarga kamu. Kita sudah selesai.”
“Dis.. aku masih cinta dan sayang sama kamu.”
“Saya udah nggak tuh,” Adisti menggunakan kata ganti saya bukannya aku untuk mempertegas jarak antara mereka.
“Dis, aku gak bisa pindah ke lain hati. Aku maunya sama kamu.”
“Kamu mudah banget ngomong kayak gitu, Yo. Saat melakukannya dengan Rita, hati kamu kemana? Cinta kamu ada dimana? Sayang kamu masih tersisa gak?”
“Dis, maafin.”
“Apa yang kamu lakukan saat Rita menghina saya dulu? Tidak ada. Apa yang kamu perbuat saat keluarga kamu mencecar saya dan keluarga saya? Tidak ada. Kamu tidak melakukan apa-apa untuk melindungi orang yang kamu sayangi. Kamu tidak bisa melindungi orang yang kamu sayangi. Berbicara pada mereka untuk tidak menyakiti orang yang kamu sayangi adalah sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan. Bahkan dengan Rita, kamu justru mendukung ucapannya saat mengejek saya,” Adisti berhenti sejenak, “Kamu banyak berubah setelah kita bertunangan, Yo.”
“Aku sibuk. Pekerjaan di kantor sangat menyita pikiran.”
“Jangan dijadikan alasan, Yo.”
“Dis, please..”
“Kamu jenuh dengan saya kan? Pacar yang tidak bisa kamu apa-apain. Pacar yang tidak bisa kamu sentuh. Karena saya menolak untuk bersentuhan fisik dengan kamu,” Adisti menundukkan wajahnya. Lalu menudingkan telunjuknya kepada Prasetyo, “Lalu kamu bertemu Rita, sosok yang seperti mengangsurkan dendeng kepada kucing? Langsung disambar.”
Prasetyo menunduk dalam. Tangannya terkepal.
“Atau sebenarnya Rita bukan yang pertama buat kamu? Bagaimana dengan gadis-gadis kolega keluarga yang dikenalkan oleh mama kamu? Sebagai alternatif calon mantu untuk memenuhi kriteria bibit, bebet dan bobot keluarga kamu? Karena saya dianggap tidak memenuhi syarat.”
Wajah Prasetyo memerah. Bibirnya bergetar.
“Dis! Aku datang kesini untuk memohon kepada kamu untuk menerima lagi diriku!”
“Jangan memaksa, Yo!” Adisti menatap tajam Prasetyo.
Prasetyo berdiri. Melangkah ke arah Adisti, mencengkeram handrail bed.
“Aku datang ke sini bukan untuk dihina seperti ini, Dis. Andai dulu kamu tidak terlalu kaku dengan agama. Kamu terlalu fanatik, Dis. Kamu jadi membosankan.”
Bunda berdiri tidak terima dengan ucapan Prasestyo. Adisti memberi isyarat dengan tangan kanannya agar Bunda tetap di tempatnya.
“Fanatik dalam beragama itu perlu, Yo. Karena hakikat ajaran agama adalah peraturan. Peraturan bagi pemeluknya agar tidak bengkok. Aturan yang dibuat oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah ataupun hasil dari ijtima’ ulama yang lurus,” Adisti menatap sejenak kepada Prasetyo, “Kamu playing victim_berpura-pura sebagai korban_ sekarang, Yo? Berusaha menyalahkan saya. Menimpakan semua kesalahan atas kegagalan hubungan kita kepada saya?” Adisti tertawa sumbang.
“Bahkan tunangan pun belum punya hak atas tubuh tunangannya.”
Prasetyo menatap tajam kepada Adisti.
“Aku tahu sebenarnya kamu masih cinta kepadaku kan? Aku tahu sebenarnya kamu masih ada rasa padaku kan? Itu sebabnya di hari H yang seharusnya jadi hari pernikahan kita kamu lompat ke jurang?”
“Ngaco kamu, Yo. Terlalu besar kepala kamu. Over confidient_Terlalu percaya diri sekali_.”
Agung merasa pembicaraan mereka berdua makin lama.
“Tidak ada yang memintamu untuk datang ke sini, Yo. Sudah malam, waktunya bagi adik saya untuk istirahat.
Prasetyo menoleh cepat ke belakang. Terkejut dia melihat ada Agung dan pria tampan yang wajahnya sering muncul di TV.
“A, tolong beri pemahaman kepada Adisti untuk menerima saya kembali. Memulai lagi dari awal,” Prasetyo berusaha memegang tangan Agung. Agung mengibaskan tangannya.
“Kami tidak pernah meminta kamu untuk merendahkan diri di hadapan kami. Tetapi keluarga kamu sudah merendahkan keluarga kami sedemikian rupa sehingga rasanya sakit sekali hanya sekedar melihat kehadiran kamu di sini. Keluarlah. Kami tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Hilman Anggoro.”
“A, please. Saya bersedia meninggalkan keluarga saya untuk bisa bersama Adisti lagi.”
“Kamu pikir Adisti mau menerima kamu kembali? Belum mengerti dengan ucapannya dari tadi?” Agung menatap jengah kepada Prasetyo, “Lagi pula, kamu tetaplah seorang Anggoro. Kamu pikir keluarga kamu akan berdiam diri saja melihat kamu meninggalkan keluargamu? Kamu tidak berpikir bagaimana nanti keluargamu akan mengejar keluarga kami, memojokkan Adisti, menghina dengan sebegitu hinanya kepada kami?”
Prasetyo menggelengkan kepalanya, “Keluarga saya tidak mungkin berbuat sampai sejauh itu.”
Wajah Agung menggelap, “Perlu saya tunjukkan kepada kamu isi chat ibu kamu kepada Adisti setelah kami membatalkan pertunangan kalian?”
“Jangan mendramatisir, A. Mama tidak seperti itu,” Prasetyo bersikeras.
“Tanyakan lawyer kalian. Apa yang kalian hendak lakukan kepada Adisti!” rahang Agung mengetat, “Kamu ada dimana saat Ayah dan Bunda berlutut memohon di hadapan Tuan dan Nyonya Hilman beserta pengacara kalian agar kalian tidak menuntut secara hukum kepada Adisti atas pasal pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan??!”
Adisti menatap kakaknya dengan tangan menutupi mulutnya. Matanya membulat tak percaya.
“Kalian menarik tuntutan hukum dengan syarat kami harus mengganti rugi atas semua kerugian kalian. Kami orang kecil di hadapan kalian. 150 juta bagi kami bukan jumlah yang sedikit. Seharusnya Adistilah yang mendapat ganti rugi karena ulah kamu, Yo. Dia menjadi korban keegoisan kamu. Jangan harap masih ada rasa yang tersisa di hatinya buatmu.”
Prasetyo membisu. Masih tidak percaya dengan ucapan Agung. Lalu menatap Adisti yang tengah menatapnya dengan tatapan sakit hati dan mata basah.
“Kalian menyembunyikan semua ini dari Adek?” tangisnya pecah, “Kenapa?”
Bunda mendekap Adisti. Menenangkan Adisti.
“Bunda, maafkan Adek,” Adisti memeluk Bunda dengan lengan kanannya, “Kakak, maafin Adek sudah menyusahkan semuanya. Adek tidak menyangka imbasnya seperti ini. Kenapa Adek tidak diberitahu ??”
Bramasta menepuk punggung Prasetyo.
“Pulanglah. Dan jangan pernah mengganggu Adisti dan keluarganya lagi. Kamu dan keluarga kamu sudah menyakiti mereka. Saya kenal betul keluarga kamu, tidak akan begitu saja melepas keluarga Adisti bila kamu masih berhubungan dengan Adisti. Anggap saja kalian tidak berjodoh. Adisti bukan jodoh kamu,” Bramasta memasukkan kedua tangannya di saku celananya, “Adisti dalam perlindungan saya. Jangan temui lagi Adisti. Jangan ganggu lagi Adisti dan keluarganya. Paham?”
Pasetyo menatap Bramasta. Lalu pergi dalam diam sambil menundukkan kepalanya.
Isakan Adisti terdengar memilukan. Berkali-kali dia mengucap maaf.
“Dek, Bunda bangga dengan Adek. Adek mampu menjaga kepercayaan Bunda dan Ayah dengan baik. Adek jangan menangis lagi, mungkin ini perjalanan hidup keluarga kita. Insyaa Allah harta bisa kita cari lagi, Dek..”
“Adek masih tidak dapat menerima Bunda dan Ayah berlutut di depan mereka demi Adek. Bunda… maafkan Adek. Adek anak yang tidak berguna.”
“Sudah tidak apa-apa. Peristiwa itu sudah lewat. Adek anak Bunda dan Ayah yang sangat berharga. Kebanggaan Bunda dan Ayah. Sholehanya Bunda dan Ayah.”
“Kakak tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Adek. Adek adik kakak satu-satunya. Kakak bangga karena Adek begitu dewasa menghadapi semuanya. Adek, sholehanya Kakak,” Agung membelai punggung Adisti.
Tangan Bramasta menggenggam erat handrail bed Adisti untuk mencegah tangannya ikut menghibur dan membesarkan hati Adisti. Padahal ingin sekali Bramasta menghapus air mata Adisti yang membasahi pipinya. Ingin sekali mendekap Adisti untuk meredakan laranya. [Ah, ternyata begini rasanya]. Hati Bramasta terasa dicubit-cubit.
“Kamu hebat, Disti. Menghadapi semua dengan berani. Berpikir jernih dan dewasa. Disti juga beruntung. Disti juga dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi Disti,” Bramasta tersenyum pada Adisti, “You are a smart, brave heart and very nice girl_Kamu seorang gadis yang cerdas, berani dan baik_.”
Adisti menyeka air matanya. Membalas senyum Bramasta.
“That’s better_Begitu lebih baik_."
Senyum Adisti makin melebar.
“Bapak mana, Bu?”tanya Bramasta.
“Bapak sedang ke Garut. Ada urusan yang mendesak di sana,” jawab Bunda.
Bramasta memandang dengan tatapan bertanya kepada Agung. Agung mengangguk samar dengan sorot mata sedih.
“Besok Bapak sudah ada di sini kan saat Adisti pulang nanti?”
“Ibu gak tahu, Nak Bram. Kalau urusannya sudah selesai pasti Bapak usahakan pulang untuk menjemput Adisti. Tapi kalau belum selesai, Ibu dan Agung saja gak apa-apa.”
“Nanti saya kirim kendaraan ya Bu untuk mengantar ke rumah.”
“Jangan merepotkan, Nak. Nak Bram sudah banyak membantu,” Bunda merasa sungkan atas kebaikan Bramasta.
“Gak apa-apa, Bu. Tadi sudah saya bicarakan dengan A Agung di bawah,” Bramasta teringat sesuatu, “A, tadi di bawah A Agung menanyakan tentang konferensi pers ya. Sengaja saya tidak menjawab di bawah karena khawatir ada yang mendengar pembicaraan kita.”
“Oh iya.. sebenarnya ada apa dan bagaimana, Pak?”
“Sebenarnya apa yang terjadi pada saat konferensi itu, setingan. Sengaja di set seperti itu, seolah-olah saya datang terlambat. Tiba-tiba saya harus ngomong. Juga saat saya menunjukkan luka di wajah saya karena kejadian di lobby kemarin. Semuanya dilakukan untuk menghindari pertanyaan tentang identitas korban. Seperti pengalihan perhatian, pengalihan isu. And it works _Dan itu berhasil_,” Bramasta tersenyum, “Semoga kedepannya sesuai yang kami setting dan prediksi agar video tersebut tertutupi oleh berita lainnya. Ada tim IT dan multimedia yang dibentuk untuk menanggulangi video tersebut.”
Semua mendengar penjelasan Bramasta terpana. Hal yang baru bagi mereka.
“Sultan beneran memang beda ya cara menyelesaikan masalahnya..” celetuk Agung yang dibalas kekehan oleh Bramasta. Bunda dan Adisti ikut terkekeh.
“Saya pamit pulang dulu ya Bu, Disti. Sampai ketemu besok, Insyaa Allah. Assalamu’alaikum.”
Agung mengantar Bramasta hingga ke depan lift.
“Pak, saya berubah pikiran,” Agung memegang lengan Bramasta, “Besok insyaa Allah saya akan memberikan handphone Adisti kepada Bapak. Saya terima tawaran Bapak untuk mengambil kembali milik kami.”