
Tuan Hilman terperangah. Bahunya terkulai.
Hans melanjutkan, “Kita lihat saat mobil keluar dari area gedung ya. Nomor polisinya terlihat, kami harus menghubungi lab forensik CCTV milik Singapura untuk mendapatkan gambar yang jelas.”
Hans menyodorkan foto pembesaran beberapa kali dari rekaman CCTV. Tuan Hilman memandangi foto tersebut dengan tatapan nanar.
“Liliana, apa yang merasukimu?” gumam Tuan Hilman.
“Apa salah istriku pada istrimu, Tuan Hilman?” tanya Tuan Alwin dengan nada dingin, “Apa kau ada kaitannya dengan hal ini? Mengetahui rencana istrimu tapi membiarkannya bertindak sesuka hati?”
“Tidak.. tidak..” Tuan Hilman menggelengkan kepala sambil menggoyangkan kedua tangannya, “Tidak. Demi Tuhan aku tidak tahu apa-apa tantang hal ini.”
“Bagaimana dengan pesan-pesan chat yang dikirimkan dari istri Tuan kepada Adisti dari semenjak keluarganya membatalkan pertunangan hingga kemarin?” Tuan Armand bertanya kepada Tuan Hilman yang tampak terperangah.
“Liliana masih mengirimi Adisti pesan teks? Buat apa?” tanyanya.
“Intimidasi dan ancaman, pelecehan non verbal, rencana jahat, dan lain-lain,” Tuan Armand memandang tajam Tuan Hilman.
“It’s very impossible_Itu sangat tidak mungkin_!” seru Tuan Hilman.
Tuan Armand merasa muak untuk terus menjaga sopan santunnya dengan Tuan Hilman. Dia membuka tas kerjanya. Melemparkan berlembar-lembar cetakan print dari pesan chat yang dikirim Nyonya Hilman.
Tangan Tuan Hilman bergetar saat membaca ancaman perkosaan pada Adisti yang dilakukan oleh istrinya.
“Liliana… kamu sudah gila!” suaranya penuh amarah.
“Ini chat terakhir dari istri Anda, Tuan..” Tuan Armand menyerahkan lembar print.
“Sepertinya istri Anda mempunyai hubungan khusus dengan Gunawan Tan, Komisaris Buana Raya,” kata Tuan Alwin, “Saya rasa, Anda sudah mendengar kabar yang beredar di kalangan pengusaha dan petinggi perusahaan tentang pegawai yang sebenarnya motor penggerak perusahaan tapi dipecat secara sepihak oleh komisaris perusahaan, kan?”
Tuan Hilman mengangguk.
“Nama pegawai pecatan dan nama perusahaan yang memecatnya tidak disebutkan,” kata Tuan Hilman.
“Dia adalah Agung Aksara Gumilar, kakaknya Adisti, Putra dari Bapak dan Ibu Gumilar,” Tuan Alwin memajukan tubuhnya ke arah Tuan HIlman, lalu berbisik, “Tanyakan pada istri Tuan, apa yang membuat seorang komisaris bertekuk lutut memenuhi keinginan yang absurd dari seorang istri pengusaha ternama, Anggoro Group.”
Tuan Hilman terdiam lama. Tidak mampu menjawab. Rasanya sangat menyakitkan saat menghadapi suatu pengkhianatan yang dilakukan oleh istrinya, wanita yang selalu dimanjakannya.
“Anda ikut terlibat dalam pemerasan keluarga Adisti? 150 juta rupiah untuk pembatalan tuntutan kalian yang tidak masuk akal itu?” Hans mencecar Tuan Hilman, Tuan Hilman mengangguk takut-takut memandang pada Hans.
“Seharusnya Adistilah yang mendapatkan ganti rugi karena pengkhianatan anak anda, Tuan. Tapi.. ternyata keluarga Hilman Anggoro terlalu tamak dengan uang hingga tega membuat laporan yang memutarbalikkan fakta. Atau pada saat itu Keluarga Anggoro merasa mendadak miskin karena terkena biaya pembatalan sewa gedung, catering, WO, dekorasi dan bunga, dll?” Hans menatap meremehkan pada Tuan Hilman.
“Itu semua keinginan Liliana. Aku hanya menurutinya saja!”
“Dengan mengorbankan keluarga baik-baik yang ekonominya di bawah kalian hingga menjual semua aset yang mereka miliki? Luar biasa kalian, sudah mirip vampire pengisap darah.”
“Aku tidak tahu mereka akan seperti itu. Aku hanya menuruti keinginan Liliana. Bahkan aku tidak tahu uang pemberian dari Keluarga Gumilar dipakai untuk apa oleh Liliana.”
“Anda betul tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, Tuan? Ini catatan transaksi dari rekening atas nama Liliana Sukma, semenjak dari tanggal ia menerima transferan 150 juta dari Bapak Gumilar hingga kemarin saat insiden di rumah sakit,” Hans mengeluarkan berkas dari tas kerjanya.
Tuan Hilman mengambilnya dengan tangan gemetar.
“Ada tarikan tunai yang dilakukan di luar negeri, Thailand, tepatnya di Pattaya. Juga gesek kartu debit di Phuket,” Hans memandang Tuan Hilman lekat-lekat, “Anda tahu istri Anda berlibur selama 2 hari di Thailand, Tuan?”
Tuan Hilman menggeleng.
Hans berdecak, “Ck.. suami macam apa anda ini, Tuan Hilman?”
Hans memeriksa tasnya lagi untuk mengeluarkan daftar nama penumpang dari salah satu maskapai penerbangan luar negeri, “Tebak dengan siapa istri Anda bepergian ke Thailand?” Hans tersenyum miring, “Yupz. Dengan Gunawan Tan.” Mata Tuan Hilman berkaca-kaca.
“Oh ya, istri Anda mentransfer sejumlah uang untuk pembayaran eksekutor insiden di rumah sakit. Saya yakin itu baru pembayaran awalnya saja, Tuan,” Hans merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kopi.
“Kembalikan saja uang yang kalian ambil dari Keluarga Gumilar, mereka tidak akan menuntut kalian,” kata Hans lagi.
“Pengambilan di atas 75 juta harus mengajukan permohonan sehari sebelumnya,” kata Tuan Hilman.
Hans memandang Tuan Alwin lalu terbahak bersama.
“Ayolah, kita sama-sama sebagai nasabah prioritas. Becandamu kampungan sekali, Tuan,” kata Tuan Alwin, “Saya sih sebagai teman hanya menyarankan saja daripada nama baikmu tercoreng. Ingat, kasus Agung sebagai pegawai pecatan itu sangat viral sekali di kalangan kita, jangan sampai mereka mengendus ada keterlibatan istrimu dibalik pemecatannya, main api di belakang punggungmu. Sangat memalukan sekali, Tuan Hilman. Menjatuhkan martabat laki-laki sebagai seorang suami, kepala rumah tangga, imamnya istri dan anak-anaknya.”
Tuan Hilman terpekur.
“150 juta terlalu banyak bagimu? Jangan mencampur adukkan antara yang halal dan haram. 150 juta yang kalian ambil dari Keluarga Gumilar itu haram hukumnya. Lalu Anda memberikannya pada istri Anda. Lihat hasilnya? Istri Anda menghabiskannya untuk hal-hal yang sia-sia dan haram kan?”
“Saya akan membicarakan hal ini dengan anak saya,” kata Tuan Hilman.
“Mengenai istri Anda, Tuan Hilman,” Tuan Alwin berhenti sejenak untuk memandang Tuan Hilman, “Karena ini sudah masuk ke tindak pidana terhadap istri saya, calon menantu dan besan kami sebagai targetnya, kami tidak akan mengambil jalur kekeluargaan. Kami akan tetap menprosesnya ke jalur hukum.”
Tuan Hilman mengangguk, “Lakukan apa yang sekiranya memang diperlukan, Tuan Alwin. Tapi saya mohon, saat pembuatan laporan perkara ataupun permberitaan pers, tidak disinggung mengenai adanya orang ketiga dalam perkawinan kami.”
Tuan Alwin mengangguk. “Pak Armand?”
Tuan Armand mengangguk, “Itu bisa kita atur, Tuan. Untuk masalah pers, nanti biar saya dan Hans yang menghadapinya.”
Tuan Hilman mengangguk, “Tentang uang Keluarga Gumilar akan saya kembalikan. Saya tahu bahwa kami salah menuntut Keluarga Gumilar. Kami menuntut hal yang bukan karena kesalahan mereka itu semua karena keinginan dari istri saya.”
“Saya merasa gagal menjadi suami, tidak bisa mendidik istri dan anak saya dengan baik. Terlalu mementingkan duniawi. Terlalu memanjakan keinginan istri dan anak,” ada air mata di sudut Tuan Hilman yang menundukkan wajahnya. Dia merasa terpukul sekali dengan kenyataan yang harus dia hadapi.
“Tuan Hilman, menyenangkan istri dan anak termasuk sunnah yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah Shalallahu Alayhiwassallam. Tetapi menyenangkan dan memanjakan istri dan anak juga harus dipertimbangkan baik dan buruknya bagi dirinya dan orang lain,” kata Tuan Alwin.
“Sudah lama sekali saya tidak mendapatkan atau mendengar tausiyah,” Tuan Hilman menundukkan wajah, “Mungkin itu sebabnya saya merasa gersang di dalam.”
“Makanan hati adalah ilmu. Barangsiapa orang mu’min yang selama 3 hari hatinya tidak diberikan makanan, yaitu ilmu agama, maka pasti hatinya akan tertutup. Ini bukan kata saya loh, Tuan Hilman, saya dapatkan kalimat ini dari hasil obrolan semalam dengan Pak Gumilar,” kata Tuan Alwin, “Orang yang hatinya mati akan menolak seluruh kebaikan.”
“Masyaa Allah, Tuan Alwin beruntung sekali akan mempunyai besan yang paham agama. Orang yang dulu saya pandang sebelah mata ternyata lebih mulia daripada kami yang merasa tinggi hati,” Tuan Hilman memandang Tuan Alwin dengan wajah malu.
“Saya akan menyerahkan langsung uang Keluarga Gumilar sore ini juga. Saya akan berkunjung ke rumahnya,” kata Tuan Hilman.
Tuan Alwin, Tuan Armand dan Hans saling berpandangan.
“Mereka tidak ada di rumahnya, Tuan. Mereka ada di di rumah sakit sejak kemarin,” kata Hans.
“Pak Gumilar sakit? Ya Allah..”
“Bukan Pak Gumilarnya tetapi Adisti. Kemarin sore dia diserang oleh Rita Gunaldi. Videonya viral sejak kemarin,” kata Hans, dia membuka file lagi pada tabletnya.
Tuan Hilman terperangah melihat penyerangan yang dilakukan oleh Rita Gunaldi terhadap Adisti.
“Tentang Rita Gunaldi, gunakan DRV CCTV area butik yang kami sita saat kejadian fitting room. Dari beberapa rekaman di beberapa ruang yang berbeda, ada indikasi Rita Gunaldi mempunyai bisnis prostitusi online,” kata Tuan Hilman, “Pakai saja rekaman itu bila kalian ingin menjebloskan Rita. Dia juga penyuka lelaki muda yang menjadi kliennya, bukan hanya Prasetyo saja yang dibuai rayuannya.”
Tuan Alwin, Tuan Armand dan Hans saling berpandangan. Mereka kemudian mengangguk.
Tuan Hilman berjalan menuju mejanya. Lalu menghubungi pegawainya melalui interkom.
“Man, bawa DRV CCTV The Ritz yang kita ambil ke ruangan saya sekarang.”
Sudah jam 11 lewat ketika Tuan Alwin dan rombongan meninggalkan Anggoro Putro. Tuan Hilman langsung memanggil Prasetyo ke dalam ruangannya. Menatap lembaran pesan chat yang dikirimkan oleh ibunya, Prasetyo terisak. Sungguh dia tidak tahu sama sekali kelakuan ibunya yang sudah diluar batas. Sungguh dia merasa kehilangan muka untuk berhadapan dengan Adisti dan keluarganya.
“Pa, mengenai hubungan Papa dan Mama, Tiyo tidak akan menghalangi. Apabila Papa merasa masih bisa membina Mama, lanjutkan saja pernikahan kalian, tapi bila Papa sudah tidak sanggup menghadapi Mama, Tiyo tidak akan menghalangi Papa untuk berpisah dengan Mama,” Prasetyo menatap Papanya yang berlinangan air mata, “Mengenai Dimas, nanti biar Tiyo yang menjelaskan pelan-pelan.”
Tuan Hilman mengangguk. Dia merangkul anaknya. Keduanya menangis.
“Maafkan Tiyo, Pa. Maafkan atas segala tingkah laku Tiyo yang begitu memalukan,” Tiyo terisak lirih.
“Jadilah contoh yang baik buat Dimas adikmu. Dia adikmu satu-satunya,” Tuan Hilman mengelus punggung Prasetyo.
Di dalam mobil menuju Sanjaya Group, Tuan Alwin teringat sesuatu. Dia menepuk keningnya dengan keras.
“Astaghfirullahal adziim,” kata Tuan Alwin sambil menatap Tuan Armand dan Hans.
“Ada apa, Tuan?” tanya Tuan Armand.
“Aku lupa… semalam aku menugaskan Indra dan Leon untuk mencari bukti guna menghancurkan The Ritz!”
“Ya.. lalu?” Hans dan Tuan Armand menanggapi secara bersamaan.
“Rita Gunaldi, dia predator para pria muda,” suara Tuan Alwin terdengar kalut.
“Ya?”
“Indra, bagai anakku. Leon, mantuku,” suara Tuan Alwin terdengar panik, “Hans! Cepat hubungi mereka!”
“Kalian rahasiakan ini dari Layla dan istriku juga maminya Indra ya,” Tuan Alwin menatap mereka dengan pandangan panik dan memelas.