
“Bos,” panggil Indra kepada Bramasta yang sedang menuang kopi hitam dari coffeemaker.
“Hmm.. bikin sendiri kopi lu, Ndra. Self service_melayani sendiri_,” Bramasta menambahkan tiga perempat sendok gula pada cangkir kopinya. Indra mengambil cangkir pada lemari dinding pantry. Menuangkan satu setengah sendok gula dan satu sendok creamer.
“Gue dan Anton tidak menemukan impostor di lingkaran kita,” Indra mengaduk cangkirnya, lalu duduk di hadapan Bramasta di ruang makan bermeja kaca tebal. Mencicipi kopinya dengan sendok lalu mendesah puas. Rasanya pas.
Bramasta masih menunggu kelanjutan ucapan Indra.
“Anak-anak tahu betul peraturan tentang privacy lu, Bos. Mereka loyal dan menjaga banget. Lu gak usah khawatir tentang mereka. Mereka bisa dipercaya.”
“OK. So_Jadi_?” Bramasta bertanya dengan alis terangkat.
“The impostor is the outsider from our circle_impostornya orang di luar lingkaran kita_,” kata Indra yakin.
“Kemarin Anton share ke Agung. Lu share ke Mom,” Bramasta menganggukkan kepalanya, “Ayo kita ke rumah sakit.”
“Ada kemungkinan Agung share ke keluarganya kan?” tanya Indra saat mereka sudah di dalam mobil. Indra mengemudi mobil Bramasta yang lain, sedan BMW warna silver stone.
Bramasta mengangkat bahunya.
“Dia sudah berjanji untuk tidak menyebarkannya kan? Gue percaya dia.”
“Tapi kan ada kemungkinannya, Bos.”
“Hmmm.”
Mereka memasuki lobi rumah sakit. Dua orang pemuda tampan dengan tinggi tubuh lebih dari 180 cm membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Apalagi mereka datang disaat menjelang jam bezoek siang.
“Lihat, itu Bramasta!” seorang gadis berteriak sambil menunjuk, “Waaaa! Gantengnya! Bram my hero!”
“Hi Bramasta! Save me! Rescue me!”
“Bramasta! Evakuasiin gue dong..!”
“Bramasta yang viral itu loh. Trending topik banget. Eh, itu Indra Kusuma, sekretarisnya? Yang suaranya tadi ada di TV? Wuiihh suaranya aja seksi gitu, pas lihat orangnya, ganteng banget!”
“Indra! Yuhuuu Indra.. lihat gue dong..!”
Bramasta dan Indra tidak menyangka kehadiran mereka bakal menimbulkan kehebohan di lobby rumah sakit. Beberapa orang mendekati Bramasta dan Indra. Menyapa, mengajak salaman, mencolek bahkan mencubit gemas lengan atau pipi Bramasta dan Indra.
Security berlarian ke arah Bramasta dan Indra. Menghalau para fans dadakan, membuka jalan bagi Bramasta dan Indra.
“Lift VIP,” Indra berkata kepada seorang security, dibalas dengan anggukan.
Security mengarahkan mereka ke tempat lift VIP berada. Perawat yang hendak memasuki lift tersebut mundur keheranan melihat kegaduhan. Ia mempersilahkan Bramasta dan Indra untuk masuk ke dalam lift.
Di dalam lift keduanya membisu. Tampak shock dengan kejadian tadi. Berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
Ting!
Lift sampai di lobby VIP. Pintu lift terbuka. Indra melangkah ragu. Dia menahan pintu lift untuk tetap terbuka dengan tangan kirinya. Tubuhnya dicondongkan ke depan. Memeriksa lobby.
“Aman, Bos. Lobby sepi,” kata Indra kepada Bramasta.
“Seharusnya kita tidak datang jam segini,” Bramasta melihat jam tangannya.
“Gue lupa, Bos. Maaf ya. Gue gak nyangka imbas bocornya video jadi seperti ini.”
“Iya sama, gue juga gak nyangka. Telepon Anton, kita butuh Anton buat menghalau mereka.”
“Lu mau pake bodyguard?”
“Terlalu berlebihan gak menurut lu?”
Indra mengangkat bahunya.
“Tapi melihat buasnya mereka, kayaknya emang untuk saat-saat ini lu harus pakai bodyguard. Lu gak bakal bisa aktifitas normal tanpa pengawalan. Pekerjaan bakal banyak yang terhambat.”
Bramasta mengangguk. Mereka sudah sampai di depan pintu kamar Adisti. Bramasta mengetuk pintu. Tidak berapa lama, Bunda membuka pintu.
“Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikumussalam, masuk Nak Bram, Nak Indra..” Bunda mundur mempersilahkan masuk tapi menatap heran pada kedunya, “Kalian kenapa?”
‘Hah?”
“Kalian, kenapa berantakan sekali. Rambut dan baju kalian.. itu juga ada luka berdarah di dekat dagu Nak Bram. Kok seperti bekas kuku?” suara Bunda penuh keheranan, “Di atas siku Nak Indra kulitnya merah seperti bekas cakaran..”
“Hah?”
Indra mengecek sikunya, “Isssh pantesan perih.”
Bramasta menatap pantulan dirinya di cermin dekat pintu masuk.
“Subhanallah.. Gini amat gue,” tangannya menyentuh rahang kirinya.
“Bersihkan dulu, takut infeksi,” Bunda menyodorkan bungkusan itu.
Bramasta mengucap terimakasih sambil menerima bungkusan itu. Alcohol swab. Menyobek pembungkusnya lalu membersihkan luka dan area kulit didekat lukanya dengan kassa beralkohol itu. Agak mengaduh karena terasa perih ketika kassanya menyentuh luka.
Indra tampak keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar dan penampilannya sudah rapi kembali. Dia tertawa melihat Bramasta yang berjengit oleh pedihnya alkohol menyentuh lukanya.
“Malaikatnya Adisti wajahnya coel kena cakar fans yang menggila..” bisik indra di dekat Bramasta.
Bramasta menyikut keras Indra sembari berjalan ke arah kamar mandi. Indra terkekeh.
“Bagaimana keadaan Adisti, Bu?” tanya Indra.
“Alhamdulillah pagi tadi sudah sadar. Sudah diperiksa oleh dokter-dokter juga. Cuma belum bisa ditanyai karena dia lebih banyak diam melamun,” Bunda menjelaskan sambil membuatkan teh untuk mereka berdua.
“Jadi sekarang Adisti sedang tidur, Bu?” tanya Bramasta. Bunda mengangguk.
“Tapi tidurnya tidak tenang. Seperti mengigau sedang jatuh.”
Baru saja bercerita, suara erangan terdengar dari bed Adisti. Sontak mereka bertiga bergegas menghampiri Adisti. Tangan kanan Adisti terangkat ke udara. Seperti berusaha meraih pegangan.
“Haahhh! Allah!” serunya dengan suara tertahan.
Bunda meraih tangan Adisti. Membelai wajahnya dan berusaha membangunkannya.
“Dek.. tenang Dek. Adek hanya mimpi. Bangun, Dek. Adek sudah aman. Adek tidak jatuh lagi,” suara Bunda tercekat, ada air mata di sudut matanya yang dengan cepat dihapusnya.
“Bunda..” suara Adisti terdengar lemah. Matanya masih terpejam.
“Iya Dek, Bunda di sini. Bangun ya Dek..” Bundanya membujuk.
“Bahu kiri… sakit, Bun…” matanya dipejamkan erat, wajahnya mengernyit kesakitan.
“Jangan digerakkan dulu bahunya, Dis. Bahu kamu cedera,” Bramasta merasa linu melihat Adisti berusaha menggerakkan bahu yang terbebat erat.
Suara itu. Suara yang ia dengar saat ia jatuh dan tertahan oleh pohon besar. Suara yang didengarnya di antara sadar dan tidaknya. Matanya masih terpejam tetapi wajahnya diarahkan ke arah datangnya suara. Kelopak matanya terasa berat untuk dibuka. Matanya mengerjap. Menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Pandangan yang mengabur perlahan-lahan berubah fokus. Memandang pertama kalinya dengan sadar wajah yang ia lihat saat melayang jatuh dan menemaninya di bawah sana. Adisti terkejut. Terkesiap hingga tersedak oleh ludahnya sendiri.
Indra menekan tombol pengatur bed. Meninggikan posisi punggung Adisti lebih tinggi. Adisti masih terbatuk. Bunda menepuk-nepuk pelan dada Adisti hingga batuknya mereda lalu menyodorkan sedotan dari dalam botol air mineral.
Adisti menatap heran lagi pada Bramasta. Lalu pada Indra.
“Mereka orang-orang baik yang sudah menolong Adek,” Bunda berkata lembut sambil membelai kepala Adisti yang masih berbalut perban.
“Hai Disti..” Indra menyapa ramah, “Saya Indra.”
“Saya Bram, Bramasta,” Bramasta terlihat salah tingkah saat ditatap lekat oleh Adisti.
“Kalem saja, dia real manusia,” tangan Indra melingkari punggung Bramasta sambil mengguncang tubuhnya, “Bukan malaikat pencabut nyawa apalagi demit tebing.”
Bramasta melepaskan rangkulan Indra, “Hissh, gegabah. Sembarangan kalau ngomong,” kata Bramasta membuat Indra dan Bunda tertawa.
Adisti tersenyum kaku. Pipinya memerah.
Bramasta menoleh kepada Bunda, “Agung dan Bapak kemana, Bu?”
“Ah iya.. Agung mengantar Bapak yang ada urusan. Sekalian Agung singgah dulu ke rumah mengambil baju Adisti dan baju ibu. Harusnya Agung sudah sampai setengah jam yang lalu. Tapi kok sampai sekarang belum sampai juga ya?” wajah Bunda tampak khawatir.
“Assalamu’alaikum,” Agung membuka pintu dan langsung berjalan masuk ke arah sofa bed dan meletakkan bawaannya di atas meja.
“Wa’alaikumussalam..”
“Eh, ada Indra dan Pak Bram. Udah lama?” tanya Agung sambil menyalami mereka berdua.
“Kok lama, Gung?” tanya Bunda setelah Agung salim.
“Sebenarnya sudah dari tadi Bun, tapi Agung tertahan di lobby. Lobby penuh sesak dengan kaum hawa yang meneriakkan nama BRAM. Susah banget buat jalan menuju lift. Lift VIP diblokir petugas security. Hanya yang memegang kartu pass yang boleh naik,” kata Agung kemudian terkejut sendiri dengan ucapannya, “Eh, jangan-jangan yang dimaksud mereka adalah Pak Bram?”
Bramasta menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Kita juga tadi gak bisa masuk, Gung. Gegara salah satu cewek mengenali Pak Bos lalu meneriakkan namanya membuat yang lainnya ikut menggila. Warbiyasah. Buas banget mereka. Gue kena cakar, Pak Bos sampai berdarah tuh kena kuku di wajahnya. Untung securitynya sigap,” Indra menceritakan kejadian siang tadi.
“Pasti ini imbas dari bocornya video di medsos, ya?” tanya Agung lalu melanjutkan dengan cepat, “Bukan saya yang membocorkannya Pak. Tidak ada tamu yang menjenguk Adisti karena kami belum mengabarkan kepada siapapun tentang kecelakaan yang menimpa Adisti.”
Indra menatap Bramasta. Bramasta mengangguk lalu mengajak mereka untuk duduk di sofa U.
“Nak Bram,” Bunda menghampri mereka bertiga, “Kami memutuskan untuk tidak memberitahu kecelakaan Adisti kepada keluarga besar. Karena mereka pasti beranggapan Adisti sedang melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat ke jurang. Apalagi peristiwa ini terjadi tepat di hari H yang tertera pada undangan. Anggapan mereka pasti akan menjadi tuduhan yang semakin memberatkan beban pikiran Adisti.”
“Iya Bu. Saya percaya apa yang dikatakan Agung dan Ibu. Semenjak perjalanan kemari, saya bisa menduga siapa pelaku pembocoran video tersebut.”
Mereka terperanjat mendengar penuturan Bramasta.
“Siapa?” tanya mereka bersamaan.
Bramasta tersenyum.