CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 241 – DEMI PENJAHATNYA PENJAHAT



“Innalillaahi wainnailaihi rooji’uun.”


“Tempat dan waktu dalam range 30 menit yang ditetapkan si pejabat itu,” Agung membaca keterangan waktu dan tempat kejadian saat peristiwa itu terjadi, “Gue share ke WAG ya.”


“Bia dab banget ya mereka!” Ayah menggeleng kepala karena gusar.


Anton menekan tombol enter pada laptopnya. Tayangan kejadian dari CCTV jalan tentang kejadian itu tampak pada layar monitor.


“Mundurkan satu menit ke belakang, Ton. Kendaraan paling depan sebagai pembuka jalan tidak terlihat,” Indra memajukan tubuhnya, menatap serius pada layar proyektor.


Anton memainkan lagi mousenya.


Dari arah kiri, terlihat mobil dan motor menepikan kendaraannya ke sebelah kiri jalan.


“Wow! Apa itu??” Leon membelalakkan matanya sambil menunjuk ke arah layar proyektor.


Hans terkesima sambil bergumam, “Barakuda!”


“Oh my God! Mobil taktikal dipakai untuk mengawal penjahat yang sedang plesiran,” Indra mengusap rambutnya.


“Gila! Kecepatannya!” suara Agung terhenti lalu semuanya berseru ngeri.


Seorang pengendara ojek online yang tiba-tiba berbelok dari arah pertigaan, masuk ke jalur mereka. Bagian depan motornya terlalu dekat dengan laju Barakuda. Tak ayal, bumper Barakuda yang kokoh menghantam bagian depan motor matic ojol.


Motor ojol oleng, kerasnya benturan membuat tubuh ojol terpelanting menghantam bagian belakang Barakuda sebelum akhirnya terjatuh di atas aspal tepat di jalur mobil Pajero di belakangnya.


Ban depan dan belakang Pajero hitam melindas tubuh pengemudi ojol tepat di bagian punggungnya. Pajero yang berada di belakangnya menghindari tubuh pengemudi ojol yang sudah tidak bergerak. Iringi-iringan itu terus melaju tanpa berhenti sekedar melihat korban masih hidup adatu tidak.


Darah membasahi aspal. Warna hijau pada jaketnya berganti dengan warna marun. Helm dengan logo perusahaan ojolnya masih melekat di kepalanya. Orang-orang bergegas menolong pengemudi ojol malang tersebut.


Beberapa pengemudi ojol ada yang mengejar iring-iringan mobil dengan pengawalan Barakuda. Motor ojol yang terjatuh sudah berada di trotoar. Tubuh pengemudi ojol ditutupi dengan kardus. Sepertinya menunggu ambulans datang.


Anton menyudahi tayangannya.


“Sudah Lu rekam, Ton?” tanya Indra, “Kita pakai untuk amunisi Prince Zuko.”


Anton mengacungkan jempolnya. Lalu mengetik lagi di keyboard laptopnya. Lalu meng-klik enter dengan mouse-nya.


Tampak kantor instansi tempat sel Tuan Thakur berada. Bagian depannya dipenuhi pengemudi ojol yang berteriak sambil mengacungkan tinjunya.


“Sepertinya mereka sudah turun dari mobil ya?” Bramasta memandang Hans, “Ton, mundurkan lagi. Kita lihat, Tuan Thakur ada di mobil yang mana?”


Hans mengangguk setuju, “Jadikan ini amunisi Prince Zuko juga.”


Anton memundurkan perkiraan waktu iring-iringan mobil itu tiba. Tangannya yang memegang mouse bergerak lincah.


Gerbang instansi itu dibuka dengan cepat. Barakuda masuk terlebih dahulu. Driver menghentikan mobilnya di tepi pagar. Kemudian Pajero hitam pertama masuk, berhenti di drop off depan. Lalu Pajero hitam kedua, berhenti di depan Barakuda.


Seseorang memerintahkan pagar ditutup. Para pengemudi ojol yang mengejar tertahan di gerbang. Barakuda mundur memblokir pagar.


Penumpang di Pajero pertama turun di drop off area. Posisi CCTV yang tinggi memungkinkan mereka bisa melihat siapa saja yang turun dari mobil tersebut.


“Lihat! Itu Tuan Thakur. Outfit golf lengkap. Dari topi hingga sepatunya,” Hans menunjuk layar proyektor.


Leon memajukan tubuhnya ke arah proyektor.


“Ton, bisa ke adegan penampakan Tuan Thakur tadi? Freeze ya gambarnya.”


“OK..” Anton melakukan apa yang diminta Leon.


Adegan Tuan Thakur tengah memegangi topi golfnya yang menutupi kepalanya memenuhi proyektor.


“Dari atas ke bawah, koleksi terbaru dari Uomo. Sepatunya kurang terlihat,” Leon menggeleng, “Kok bisa orang yang sedang ditahan untuk kasus besar mempunyai barang koleksi terbaru, limited edition pula. Itu masih fresh banget.”


Leon melanjutkan lagi, “Gue ingat banget, malam saat kejadian gue menolong turis lansia dari Amerika itu, gue dapat email penawaran limited edition brand Uomo. Salah satunya golf outfits-nya.”


“Istrinya yang belanja?” Bramasta memandang Leon.


“Tapi masa rekeningnya tidak dibekukan? Atau credit card-nya?” Indra mengernyit.


Anton melepas freezenya. Adegan berjalan normal kembali. Dari arah dalam instansi, terlihat seorang pejabat menyambut kedatangan Tuan Thakur dengan tubuh membungkuk. Berkali-kali terlihat membungkukkan tubuhnya seperti meminta ma’af kepada Tuan Thakur.


Tuan Thakur tampak berekspresi datar. Terlihat berdialog dengan pejabat tersebut lalu berbicara dengan gestur tubuh gusar. Meninggalkan begitu saja pejabat yang masih terbungkuk-bungkuk.


“Inferior sekali ya si bapak pejabat itu,” Bramasta menggelengkan kepalanya.


“Tuan Thakur masih arogan,” Leon bergumam.


“Berarti tadi yang melindas pengemudi ojol tadi mobil yang dinaiki Tuan Thakur ya?” Anton menatap layar proyektor dengan mata nanar kemudian bergidik ngeri.


“Kalian, tampillah malam ini juga. Kejadian pengemudi ojol tadi benar-benar tidak bisa diterima nalar melihat manusia yang hilang nurani dan akalnya hingga tidak bisa melihat benar dan salah, pantas dan tidak,” suara Ayah terdengar berbeda.


Pak Dhani dan Daddy mengangguk setuju.


“Lalu ini bagaimana?” Hans mengacungkan flashdisk titipan Raditya.


“Tangguhkan dahulu. Isinya terlalu sensitif. Akan ada banyak rumah tangga yang hancur sia-sia bila isinya tidak benar,” Ayah memandangi Hans dan lainnya, “Harus berhati-hati dengan efek sampingnya. Seperti kata Nak Hans tadi, kroscek dulu..”


Hans mengangguk mengerti. Gawainya berbunyi. Panggilan masuk.


“Assalamu’alaikum.” Jeda.


“Baik. Kirimkan saja ke nomor saya ya. Sekarang juga.” Jeda.


“OK. Terimakasih banyak.” Hans mengakhiri panggilannya.


Tidak berapa lama notifikasi pesan chatnya berbunyi. Hans memeriksanya lalu menyerahkan gawainya pada Anton.


“Sambungkan ke proyektor. Kita dapat rekaman CCTV lobby tempat plesirnya Tuan Thakur hari ini. Amunisi besar bagi Prince Zuko.”


Dengan cekatan, Anton memasang kabel data pada gawai Hans.


Layar proyektor memperlihatkan ruangan lobby yang mewah dan luas. Jendela besar di belakangnya menyajikan view hijaunya lapangan golf.


Beberapa orang asing tampak sedang membawa tas perlengkapan golfnya. Meja resepsionis dipenuhi oleh para pegolf yang baru datang. Beberapa orang duduk-duduk sambil menikmati juice ataupun minuman lainnya di kursi-kuris yang nyaman dan santai.


Tidak banyak wajah Indonesia di lobby saat itu. Beberapa caddy berjalan masuk dari belakang. Lalu mendampingi para pengunjung yang baru datang.


Rombongan yang masuk dari arah belakang menarik perhatian mereka yng menonton rekaman CCTV dari sofa ruang tengah di kediaman Keluarga Gumilar.


“Itu dia!” Daddy menunjuk layar monitor.


“Wajahnya kok seperti yang gusar begitu ya?” Leon mengaruk dagunya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


“Ya iyalah. Sedang asyik main tiba-tiba disuruh pulang..” semua terkekeh mendengar ocehan Indra.


Seorang bule yang baru saja menyerahkan tas golfnya pada caddy menatap Tuan Thakur dengan kening berkerut. Gesturnya seperti berbicara dengan suara pelan pada caddy-nya sembari menunjuk pada Tuan Thakur.


Orang yang berada di sebelah Tuan Thakur langsung menyodorkan masker untuk dipakai Tuan Thakur. Tuan Thakur menepis tangan orang tersebut dengan kasar. Tetapi orang tersebut tampak berbicara dengan Tuan Thakur. Akhirnya masker yang berpindah tangan. Tuan Thakur memakainya dengan wajah dongkol.


Tuan Thakur dan rombongannya lenyap dari jangkauan CCTV lobby.


Layar proyektor menggelap. Lalu menyala lagi dengan gambar teras lobby. Dua buah mobil Pajero hitam sudah menunggu di teras lobby di area drop off.


Tuan Thakur dan orang yang memberikan masker menaiki mobil yang pertama. Yang lainnya menaiki mobil di belakangnya.


Layar proyektor menggelap lagi. Menyala lagi dengan pemandangan di gerbang golf club. Sebuah mobil Barakuda berada di luar gerbang.


Begitu iringan Pajero terlihat, Barakuda berpindah di depan gerbang. Menjadi pengawal sekaligus pembuka jalan bagi iringan Pajero.


.


***


Tuan Thakur jadi musuh bebuyutan Prince Zuko nih..