
Mereka makan tanpa ada pembahasan apapun yang serius tentang Tuan Thakur atapun Raditya. Semua menikmati makan malamnya dengan santai dan tenang.
Kecuali Agung. Mendadak dia tidak berselera makan. Beberapa kali dia mendorong makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya dengan air minum.
Adinda memperhatikannya.
“Om kenapa?”
Agung menggeleng.
“Makanannya gak enak?”
“Enak kok..”
“Tapi kok?”
“Sudah kamu makan saja. Gak perlu memperhatikan saya.”
Adinda terdiam. Melanjutkan makannya tanpa banyak bertanya lagi pada Agung.
“Kakak kenapa?” Adisti menatap makanan di hadapan Agung yang masih banyak, “Tumben makannya sedikit..”
“Masih kenyang Dek,” Agung menjawab pendek dengan mata fokus pada gerakan tangannya yang tengah membuka segel botol air mineral.
“Om Agung lebih banyak minum daripada makan..” Adinda melirik pada Agung.
“Beneran?” Adisti memandang Adinda dan Agung bergantian.
Adinda mengangguk. Agung hanya tersenyum memandang adiknya.
“Tadi sebelum ke sini kakak kebanyakan ngemil yang manis-manis makanya jadi kenyang.”
Adisti mengangguk mengerti. Dia tidak bertanya lagi.
Agung merasa gawai di saku celananya bergetar. Dia memakai mode silent semenjak berangkat dari rumah sakit. Segera ia mengambilnya. Ada nama Raditya di layarnya.
“Assalamu’alaikum Bang Radit..” Jeda.
Semua orang dalam ruangan berhenti bercakap. Mereka tidak ingin mengganggu percakapan Agung dan Raditya juga karena ingin tahu percakapannya.
“Saya masih di kafe. Tapi sudah selesai kok. Ada apa?” tanya Agung.
“Oh iya Bang. Saya ke sana sekarang.” Jeda sebentar.
(Padahal Raditya berkata, “Santai saja Gung. Gak usah terburu-buru. Ada Man yang menemani saya di sini..”
“Iya.. gak apa-apa. Tidak merepotkan kok. Jangan sungkan..” Agung terkekeh.
(Raditya menjadi heran dengan kalimat Agung, “Kamu kenapa Gung?”)
“Iya Bang. Wa’alaikumussalam..”
(Raditya akhirnya mengakhiri panggilannya karena merasa dia menelepon di saat yang tidak tepat)
Agung memandang yang lainnya.
“Ma’af ya.. saya duluan cabut. Bang Radit sendirian. Tamu-tamunya sudah pulang..”
Agung mengenakan masker dan topinya.
“Dek, Bang Bram, tolong antarkan Dinda pulang ya. Saya gak sempat. Terlalu jauh jarak rumah Bunda ke rumah sakit. Kasihan Bang Radit..”
Adisti dan Bramasta mengangguk. Anton memicingkan matanya menatap gestur tubuh Agung yang tidak seperti biasa.
“Kalian besok jadi kan berangkat ke NZ?” Agung menatap Adisti dan Bramasta bergantian.
Keduanya mengangguk lagi.
“Fii amanillah ya. Dek, ingat jangan terlalu exciting di sana sampai menurunkan kewaspadaan Adek. Abang, titip Adek ya. Kalau nakal, gabruk aja...” ucapan Agung membuat yang lainnya tertawa.
Agung berbalik menatap Adinda sebentar lalu menunduk memperbaiki tali sepatunya.
"Din, ma'af saya tidak bisa antar kamu pulang. Nanti langsung tidur ya," Agung berucap sambil memasang tali sepatunya.
Kemudian berdiri lagi. Menatap Adinda yang terdiam memandanginya.
Tangannya terulur seperti hendak mengelus kepala Adinda, tapi tidak jadi. Ia berpura-pura melihat arlojinya.
Tersenyum singkat pada Adinda lalu berbalik berjalan ke arah pintu.
“Yuk, semuanya,” Agung memandang ke semua orang kecuali kepada Adinda, “Thanks ya untuk makan malamnya. Gue cabut dulu. Assalamu’alaikum...”
Agung melambaikan tangannya. Saat Agung melihat Adinda balas melambaikan tangannya, Agung menurunkan tangannya. Lalu mengangguk singkat padanya. Kemudian menghilang di balik pintu.
Adinda mengerjap. Tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Tiba-tiba saja dia merasa Agung membuat jarak dengannya.
Dia mengambil gawainya. Mengetik pesan chat pada Agung.
Adinda_Om Agung kenapa?_
Centang 1 abu-abu.
Indra dan Bramasta tengah membahas kunjungan Tuan Armand sore tadi. Semua terkesima saat Indra bercerita Tuan Armand menanyakan masalah pribadinya kepada Adisti.
“Dis... wah.. Disti udah berubah jadi Mama Loreng..” Leon meringis menatap Adisti.
Bramasta dengan gemas melempar bola tisu ke arahnya.
“Gegabah banget..!”
Leon tertawa.
“Sama... kita juga Bang,” Anton mengangguk.
“Masih lama... beberapa tahun lagi. Tuan Armand masih terjebak dengan kisahnya sekarang ini. Kisah semu..” Adisti menatap Hans.
“Itu sebabnya Disti bicara untuk menguji wanita itu dengan uang?” Leon menatap Adisti.
Adisti mengangguk.
“Hans, Lu bisa bantuin Tuan Armand tuh dengan menyelidiki wantanya sekarang. Tentang siapa dia sebenarnya..” Indra menatap Hans serius.
“Entahlah.. Gak ada request dari Tuan Armandnya sendiri..” Hans bersidekap sambil menyandarkan punggungnya. Berpikir.
“Tuan Armand sudah punya anak?” Adinda menatap Indra.
“Nope..” Indra menggeleng, “Pernikahannya cuma sebentar ya. Kurang dari setahun. Istrinya waktu itu CLBK setelah menghadiri acara reunian sekolah.”
“Ck!” Anton berdecak, “Makanya gue paling males ikutan acara reuni sekolah.”
“Idem!” Bramasta dan Hans kompak menjawab.
“Lah, Abang kan gak punya pacar jaman sekolahan?” Adisti menatap suaminya.
“Gak punya pacar bukan berarti gak laku kan? Yang dekatin Abang banyak. Tapi Abangnya yang gak mau. Bahkan sampai menawarkan diri seperti uget-uget juga banyak...” Bramasta menatap Indra lalu terkekeh bersama.
“Bang, kalau ada yang jadi uget-uget lagi ke Abang, Abang cerita ke Disti ya. Harus jujur. Biar Disti yang hadapi pakai cara Disti sendiri..”
“Weiissszz jangan sampai singa betina mengamuk, Bram!” Hans tertawa.
“Kalem Buk Istri.. Pak Suami gak akan tergoda..” Bramasta mengelus punggung Adisti.
“Ini bukan masalah tergoda atau tidak, Bang. Ini sudah masuk ke sikap niradab seorang perempuan yang masuk ke teritori perempuan lainnya yang menjadi pasangan sah dari laki-laki yang sudah digodanya. Harus diajar sopan santun dengan cara-cara khusus...” Adisti berbicara dengan berapi-api.
Adinda tertawa sambil bertepuk tangan.
“Andai para pelakor berhadapan dengan Teteh, sepertinya yang lainnya langsung tobat jadi pelakor..”
Gawai Hans berdering. Hans membaca nama pada layar.
“Assalamu’alaikum. Ya, Man.. ada apa?”
“Apa?” Hans menegakkan tubuhnya.
“Suruh terus ikuti dan amati saja dari jarak aman, jangan sampai ia merasa diawasi.” Jeda.
“Di daerah mana?” Jeda.
“Apa yang dilakukannya di sana? Dia bertemu seseorang?” wajah Hans terlihat tegang.
“Terus amati saja. Turuti saja kemana ia hendak pergi.” Jeda.
“Segera hubungi saya begitu dia bertemu dengan seseorang..” Hans fokus menatap rangkaian bunga di hadapannya.
“Ya.. wa’alaikumusslam.”
Hans memandang semuanya.
“Guys, kita akhiri pertemuan malam ini ya. Selamat beristirahat...”
Mata Hans bertemu dengan mata Adinda yang menatapnya. Hans buru-buru mengalihkannya dengan menatap Anton.
“Ada apa?” Bramasta memajukan tubuhnya.
“Masalah pekerjaan.”
“Ok.. udahan nih?” Indra berdiri diikuti Anton.
“Ton Lu mau kemana habis ini?” Indra melirik Anton sambil memakai jaketnya.
“Langsung ke apartemen. Mau menyelesaikan desain..”
“Setdah. Woiyyy diluar jam kantor nih..”
“Gue hanya buat oret-oretan kasar 3Dnya, Bang. Gambar tehnik dan gambar grafis penampilan ataupun animasinya nanti yang mengerjakan anak-anak.."
"Enak ya jadi bapak buah,” Adinda tersenyum pada Anton.
“Woyyaadooong,” Anton terkekeh.
“Dinda, ingat kata Om Agung ya. Sampai rumah terus tidur..” Hans menatap Adinda.
“Iya Bang..” Adinda mengangguk.
Hans menepuk-nepuk kepala Adinda yang tertutup hijab. Anton melihat interaksi Hans dan Adinda dengan kepala dimiringkan. Kemudian tersenyum pada Adinda yang sedang melihat ke arahnya.”
Hans mencoba menghubungi Agung. Terlihat memanggil bukannya berdering. Saat menggunakan saluran telepon, suara operator menjawab panggilan Hans. Hans menghembuskan nafas kasar.
[What’s wrong with you, Gung?]
.
***
Gung, Lu kenapa?
Mau curhat sama Author?
Jangan lupa pencet like dan minta update, Readers
Love you much
Utamakan baca Qur'an ❤️