CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 53 – KELUARGA ANGGORO DAN KELUARGA GUMILAR



Prasetyo semakin menundukkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu. Ingin berucap maaf tetapi merasa malu akibat kejahatannya dan kejahatan yang dilakukan oleh Mamanya.


“Bun… istighfar Bun,” suara tenang Ayah terdengar.


Ayah menggenggam tangan Bunda. Memintanya untuk duduk di sampingnya.


“Mereka tamu kita semenjak dipersilahkan masuk oleh Kakak. Adab kepada tamu seperti yang dicontohkan Baginda Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam harus tetap diterapkan, Bun. Semarah apapun kita, sesakit hati apapun kita dengan orang tersebut. Toh mereka datang ke sini dengan baik-baik.”


Bunda menuruti Ayah. Tangannya bergetar menahan emosi.


Ayah menyalami Tuan Hilman dan Prasetyo. Tuan Hilman tampak lega dengan penerimaan Ayah. Daddy mengangguk pada Tuan Hilman.


Ayah mempersilahkan keduanya duduk di sofa yang ia tunjuk dengan ibu jarinya, “Tuan Hilman dan Nak Prasetyo silahkan duduk,” kata Ayah sambil berdiri, “Ma’afkan istri saya.”


“Terimakasih banyak sudah bersedia menerima kami,” Tuan Hilman memandang Ayah dan Bunda sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.


“Sikap Ibu Gumilar yang tidak bisa menerima kami, bisa dimaklumi. Mengingat betapa jahatnya dulu kami kepada Bapak dan Ibu sekeluarga,” Tuan Hilman berhenti sejenak untuk memantapkan diri, “Untuk itu, saya selaku kepala keluarga, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perlakuan kami, atas ketidaksopanan kami, atas kesombongan kami terhadap Keluarga Bapak dan Ibu.”


Bunda mencengkeram lengan Ayah. Ayah menepuk-nepuk tangan Bunda. Ayah mengangguk lalu tersenyum kepada Tuan Hilman, “Sudah kami ma’afkan Tuan Hilman..”


Tiba-tiba Tuan Hilman menjatuhkan dirinya dari kursi. Berlutut pada Ayah dan Bunda. Semua yang ada di ruangan tersebut terkejut.


“Tidak.. jangan begitu, Tuan Hilman..” kata Ayah sambil berusaha membangunkan Tuan Hilman dari posisi berlututnya.


Tapi Tuan Hilman bergeming. Kedua tangannya menggenggam erat lututnya, “Biarkan saya seperti ini, Pak. Biarkan saya berlutut agar merasakan seperti apa yang Bapak dan Ibu rasakan pada hari itu. Agar saya bisa merasakan kesombongan saya sendiri. Dan tolong, jangan panggil saya tuan lagi. Kesombongan saya sudah meruntuhkan harga diri saya. Kesombongan saya sudah menghancurkan empati dan nalar saya sebagai manusia. Kesombongan saya juga sudah menghancurkan keluarga saya.”


Semua tertegun mendengar ucapan Hilman Anggoro. Suara Hilman terdengar pecah menahan Isak, “Ma’afkan saya, ma’afkan istri saya dan ma’afkan anak saya. Tolong ma’afkan kami.”


Prasetyo yang melihat Papanya berlutut, perlahan ikut berlutut juga di samping Papanya.


“Ayah, Bunda.. maksud saya Pak dan Ibu Gumilar,” suara Prasetyo terdengar bergetar, “Sungguh saya meminta ma’af sebesar-besarnya karena saya berulangkali menyakiti Adisti. Ma’afkan saya yang tidak pernah membela Adisti saat dia dicecar oleh keluarga saya. Ma’afkan saya sudah menuduh Adisti hal-hal yang tidak pantas. Ma’afkan saya sudah mengecewakan dan menyakiti Keluarga Gumilar. Sungguh, saya merasa sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi.”


Prasetyo memandang Daddy, “Tuan Alwin Sanjaya, ma’afkan saya telah memfitnah dan menghina putra Anda, Bramasta Sanjaya di depan Adisti.”


Daddy memandang Prasetyo. Dia melihat kesungguhan di mata dan gesture anak muda itu. Daddy mengangguk, “Semoga kamu bisa mengambil hikmah dari ini semua, Prasetyo. Berubahlah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.”


“Betul Nak Tiyo,” Ayah menimpali, “Kami berharap Nak Tiyo bisa menjadi lebih dewasa dan bijaksana lagi. Tata hatimu lagi. Benahi imanmu dan luruskan aqidahmu. Insyaa Allah, Allah akan mudahkan jalan bagi Nak Tiyo untuk berubah menjadi lebih baik lagi.”


“Saya... Saya akan berusaha Pak,” Prasetyo mengangguk sambil menundukkan wajahnya.


“Sudah, ayo jangan berlutut lagi. Pak Hilman, Prasetyo, ayo duduk di kursi lagi..” Ayah menyentuh lengan Tuan Hilman.


Tuan Hilman masih bergeming. Kepalanya tertunduk. Air matanya mengalir di sudut matanya, “Ma’afkan saya..” suara Tuan Hilman terdengar lirih.


“Iya Pak Hilman. Insyaa Allah kami sudah mema’afkan. Kami juga meminta ma’af bila ada sikap atau perkataan kami yang tidak berkenan di hati keluarga Pak Hilman,” kata Ayah.


“Terimakasih Pak Gumilar dan Ibu. Terimakasih sudah mau mema’afkan kami,” Tuan Hilman menoleh pada Prasetyo. Prasetyo mengerti, dia mengambil paper bag kecil yang diletakkan di kursi tempat tadi Papanya duduk lalu menyerahkan kepada Papanya.


“Bapak dan Ibu Gumilar, saya mohon dengan sangat untuk menerima ini,” Tuan Hilman menyodorkan paper bag itu kepada Ayah, “Ini adalah uang kalian yang kami ambil dengan cara jahat. Saya kembalikan lagi, Pak. Demi Allah, uang ini karena diambil dengan cara seperti itu menjadi kehancuran bagi keluarga saya. Tidak ada keberkahan uang itu bagi keluarga saya. Allah murka akan perilaku kami yang sudah mendholimi keluarga Pak Gumilar.”


Bunda memandang Ayah sambil mencengkeram lengannya.


“Kami sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi Pak,” kata Bunda, “Termasuk uang itu.”


“Tidak, Bu. Jangan,” Tuan Hilman meraih tangan Ayah untuk memegangi paper bag itu, “Tolong Pak Gumilar, saya mohon terima uang ini kembali. Saya tidak ingin murka Allah menyertai kami lagi karena perbuatan dholim kami kepada keluarga Bapak.”


Ayah tertegun. Daddy menyentuh lengan ayah. Ayah menoleh. Daddy menganggukkan kepalanya. Bahasa yang tak terucap, terima saja. Ayah mengangguk.


“Apa maksud perkataan Pak Hilman? Apakah ada kejadian buruk yang menimpa keluarga Bapak setelah menerima uang kami?” tanya Ayah dengan hati-hati.


“Istri saya.. saya tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan istri saya. Liliana sudah mengkhianati saya dengan Gunawan Tan, komisaris Buana Raya.”


Agung terperanjat _Jadi itu sebabnya alasan pemecatan tidak bisa disebutkan dalam surat paklaring dan PHK? Hanya untuk memenuhi keinginan kekasih gelap dari hubungan terlarangnya. Damn you Gunawan Tan! Najis!_


“Uang itu dipakai Liliana saat mereka berdua menghabiskan waktu bersama di Thailand tanpa sepengetahuan saya. Uang itu juga dipakai untuk pembayaran eksekutor peristiwa yang menimpa Nyonya Alwin, Adisti dan Ibu Gumilar di teras lobby rumah sakit,” kata Hilman Anggoro lirih.


“Subhanallah.. na’udzubillah mindzaalik,” seru Ayah dan Bunda.


Hilman menatap kedua tangannya yang terangkat dan bergetar, “Saya tidak tahu lagi harus bagaimana kepada istri saya. Saya tidak menyangka akan dikhianati seperti ini.”


Bunda menatap kasihan kepada Hilman Anggoro.


"Pak Hilman sudah berbicara dengan Ibu Liliana?" tanya Bunda.


Hilman Anggoro menggeleng.


"Kami tidak bertemu dengannya saat kami pulang sore tadi. Dihubungi pun tidak bisa. Tapi dari pantauan GPS handphonenya, dia berada di kediaman Gunawan Tan."


"Subhanallah..." seru orang-orang yang berada di ruang tengah tersebut.


Tanpa diketahui semuanya, Hans mengetik pesan chat dengan cepat kepada Tuan Armand.


Hans_Tuan Armand, mohon pantau terus posisi Nyonya Hilman Anggoro. Kapan panggilan pemeriksaan terhadap Nyonya Hilman Anggoro dilakukan?_


Tuan Armand_Siap. Panggilan pemeriksaannya akan dilakukan malam ini juga.


Hans_Bagaimana dengan panggilan pemeriksaan untuk Rita Gunaldi?_


Tuan Armand_Sepertinya besok_


Hans_Pending dulu. Biarkan Ferdi Gunaldi dulu diciduk interpol baru setelah itu ciduk Rita Gunaldi. Efek dominonya akan lebih terasa oleh Rita_


Tuan Armand_Hmm_


Hans_Can you do it_


Tuan Armand_Sure, insyaa Allah _


Hans_Lagi pula Indra tadi berpesan kepada saya, dia ingin pesanan jasnya tidak terganggu karena proses pemanggilan pemeriksaan dari kepolisian. (Emot tawa) Gak mau rugi, katanya_


Tuan Armand_(Emot ngakak) Dasar, anak itu ..._


Catatan Kecil:


Untuk yang masih bingung dengan pemakaian kata subhanallah dan masyaa Allah:


Subhanallah diucapkan saat mendengar kabar, melihat pemandangan ataupun kejadian buruk.


Masyaa Allah diucapkan saat mendengar kabar, melihat pemandangan ataupun kejadian yang baik/indah.


Wallahu 'alam bishowab.


Mohon maaf Author baru bisa up lagi. Laptop rusak berbarengan dengan HP yang gak bisa nge-cas.


🙏🏼🌷