CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 50 – KONFERENSI PERS DI RUMAH SAKIT



Baju Bramasta dan Adisti tampak serasi. Serba putih. Hanya pashmina Adisti yang berwarna navy blue sewarna dengan celana denim yang dikenakan Bramasta. Agung, Indra dan Hans masih mengenakan baju kerjanya ditambah dengan jas. Mereka berjalan bersama ke ruang meeting di lantai paling atas. Mommy dan Daddy sudah terlebih dahulu berada di ruang direktur utama rumah sakit.


Ruang auditorium yang menampung 100 orang terlihat ramai. Meja dan kursi untuk wartawan sudah diatur sedemikian rupa begitupun meja dan kursi mereka yang diatur di tengah menjadi center piece ruangan. Adisti meremat jemarinya. Agung merangkul adiknya, meremas bahu kanannya untuk memberi dukungan.


“Bukan cuma Adek saja yang gugup. Kakak juga. Ini hal baru bagi kita kan?” Agung mengelus-ngelus pundak Adisti.


Adisti mengangguk, “Mimpi pun tidak pernah Kak untuk hal seperti ini.”


Bramasta yang duduk di samping Adisti menatap iri tangan Agung yang mengelus pundak Adisti, “Gugup?” tanyanya pada Adisti.


Adisti mengangguk, “Takut salah ngomong..”


Bramasta tersenyum sambil memandang Adisti, “Jangan takut, ada Abang, ada A Agung, ada Bang Indra dan Bang Hans yang bakal bantu Disti. OK?”


Adisti memandang sebentar pada Bramasta. Mengangguk dan tersenyum. Pipinya merona dipandang dengan jarak dekat seperti itu.


Acara dimulai, seorang wanita yang bertugas sebagai MC sekaligus moderator membuka acara. Hans memberi sedikit sambutan tentang maksud dan tujuan acara. Lalu pihak rumah sakit juga memberi sambutan juga dokter yang menangani Adisti menjelaskan kondisi Adisti.


Kemudian Adisti diminta untuk berbicara oleh MC. Adisti menatap Agung. Agung mengangguk menguatkan. Lalu menatap Bramasta yang tersenyum untuknya. Everything will be OK, kalimat yang tak terucap dari senyum Bramasta.


“Assalamualaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Adisti. Kejadian kemarin diluar perkiraan saya. Saya tidak menyangka akan mengalami penyerangan seperti itu. Dan juga sangat tidak menyangka akibat dari hal yang saya lakukan akan berdampak viral,” Adisti berdiri lalu membungkukkan tubuhnya, “Saya ucapkan banyak terimakasih atas dukungan moril dan kiriman bunga. Saya tidak mengenal orang-orang yang sudah memberikan dukungan moril dan juga yang mengirimi saya bunga. Dan saya yakin mereka juga tidak mengenal saya karena saya bukan siapa-siapa, bukan artis ataupun selebriti. Tetapi empati dan simpati yang kalian berikan kepada saya sungguh menyentuh dan membuat haru. Jazaakallahu khoiron katsiiron, semoga Allah membalas semua kebaikan Anda semua,” Adisti menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Para wartawan bertepuk tangan dan memandang penuh kagum kepada Adisti. Adisti duduk lagi di kursinya.


“Kejadian kemarin kebetulan ada yang memvideokannya dan menguploadnya hingga menjadi viral,” kata Bramasta, “Saya mohon, next time kalau melihat kejadian seperti itu, jangan hanya divideokan tapi juga ditolong. Tidak perlu kan semua orang yang ada di TKP memvideokannya? Beruntung Adisti menguasai bela diri. Bagaimana kalau kejadian kemarin menimpa orang yang tidak bisa membela diri?”


Bramasta menatap seluruh wartawan yang hadir, “Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Teteh Penjual Minuman Boba yang sudah berusaha membantu Adisti hingga lututnya terluka.”


“Bagaimana dengan penyerang Adisti? Apakah akan diambil tindakan hukum?” tanya wartawan.


“Lawyer kami saat ini sedang mempersiapkan tuntutan hukum kepada yang bersangkutan,” jawab Hans.


“Apakah ada celah untuk diselesaikan secara damai?”


“Sayangnya, tidak. Perintah dari Tuan Alwin Sanjaya sendiri untuk menutup jalur damai mediasi apapun untuk hal-hal yang berkaitan dengan ancaman terhadap keluarganya. Untuk masalah ini sebaiknya tidak ditanyakan lebih jauh karena tim lawyer kami sedang mempersiapkan berkas perkaranya.”


“Sebenarnya apa hubungannya Nona Adisti dan Tuan Bramasta?”


“Mereka sudah bertunangan sejak 3 hari yang lalu, tepatnya Sabtu malam,” Indra menjawab yang disambut suara dengungan dari para wartawan.


“Sudah berapa lama Tuan Bramasta mengenal Nona Adisti?”


“Sudah 11 hari yang lalu,” Indra tersenyum memandang para wartawan yang semakin gaduh. Bramasta tersenyum lebar sementara Adisti berwajah tegang.


“Maksudnya bagaimana? Bisa diperjelas lagi?”


Hans memandang Agung. Indra memandang Agung juga. Dan Agung membalas dengan cengirannya sambil mengangguk.


Para wartawan semakin bersuara heboh. Suara tuts laptop yang ditekan dengan cepat terdengar di sela-sela suara wartawan.


“Mereka tidak saling kenal sebelumnya. Tuan Bramasta bahkan baru mengobrol sedikit dengan Nona Adisti pada keesokan harinya karena Nona Adisti belum sadarkan diri pada hari itu,” Indra menjelaskan.


“Jadi intinya, love at first sight,” kata Hans, “Selama ini Tuan Bramasta sangat menjaga pergaulannya dengan lawan jenis untuk menghindari fitnah. Tuan Bramasta mempunyai kriteria sendiri untuk menentukan siapa gadis yang akan dipersuntingnya untuk menyempurnakan separuh agamanya, Alhamdulillah semuanya ada pada Adisti.”


Wartawan berdengung lagi seperti kawanan lebah.


“Pertemuan mereka yang unik pastinya sudah menjadi ketetapan dari Sang Penguasa. Mereka berdua sama-sama jomblo, so why not?” Hans menambahkan sambil tersenyum.


“Kenapa langsung dilamar? Kenapa tidak penjajakan dahulu saling mengenal? Pacaran dulu, misalnya?” tanya seorang wartawan.


Hans sebagai orang yang paling dewasa usianya dan sudah berumah tangga di antara mereka menjawab dengan bijaksana, “ Jangan dzalimi perempuan dengan mengajaknya pacaran. Tapi agungkan perempuan dengan datangi wali nikahnya.”


“Sebelum melamar Adisti, adik saya, Tuan Bramasta terlebih dahulu meminta ijin pada saya apakah boleh dia mempunyai perasaan khusus terhadap adik saya dan boleh melangkah ke jenjang yang lebih serius,” Agung menambahkan, “Saya dengan mata kepala saya sendiri melihat dan mengetahui bagaimana care-nya seorang Bramasta terhadap adik saya, Beliau benar-benar menjaga adik saya dengan baik. Tentu saja saya mengijinkan Tuan Bramasta dan mendo’akan semoga Beliau adalah jodoh yang sebenarnya dari adik saya, dunia dan akherat. Seorang laki-laki yang baik tidak akan bermain-main dengan kata cinta karena dia tahu cinta membutuhkan tanggung jawab.”


Wartawan riuh.


Di lobby bawah yang sengaja dipasang layar proyektor, para pengunjung dan nakes yang ada di sana terkesima dengan penjelasan Agung.


“Kakaknya Adisti keren banget ya..”


“Ish.. mereka semua bukan dari kalangan kaleng-kaleng. Kualitas premium semuanya..”


“Tahu gak tadi sewaktu Adisti dan Bramasta muncul di lobby, lalu Adisti menangis terharu melihat banyaknya bunga dan kalimat-kalimat dukungan yang diberikan untuknya? Bramasta meminta perawat yang mendampingi Adisti untuk memeluknya, menenangkannya karena dia masih belum boleh untuk memeluknya. Bukan mahromnya, katanya. Perawat yang mendampingi mereka itu teman aku loh. Tadi dia bercerita sambil terharu. Hari gini, masih ada pemuda yang seperti Bramasta..”


“Beruntung banget ya Adisti. Entah amalan apa yang dia lakukan hingga berjodoh dengan Bramasta.”


“Lalu bagaimana dengan video 1 jam sebelum video part 1,2 dan 3? Video yang diambil dari kamera CCTV resto dan café XXX?” seorang wartawan bertanya lagi, “Apakah betul Tuan Bramasta memukul pemuda dalam video tersebut?”


Bramasta menatap wartawan yang bertanya lalu tersenyum.


“Betul, dalam video CCTV tersebut adalah kami, saya dan Adisti. Mengenai siapa pemuda tersebut tidak usah ditanyakan karena kami tidak ingin memperlebar masalah ini. Betul pada saat itu saya memukulnya. Karena bagi saya, bila ada orang yang menghina saya maka akan saya diamkan tetapi bila dia sudah menghina wanita saya, maka saya tidak akan tinggal diam. Itu juga yang saya katakan pada pemuda tersebut setelah saya memukulnya. Saya ingin secepatnya agar Adisti ada di bawah tanggung jawab saya, di bawah perlindungan saya, di bawah kasih sayang saya, biidznillah tentu saja. Jadi siapapun yang menghina Adisti, menjahatinya, menyakitinya maka akan berhadapan dengan saya.”


Adisti menoleh pada Bramasta. Menutup mulutnya dengan jarinya yang bergetar. Matanya menggenang. Bramasta tersenyum kepadanya. Menganggukkan kepala untuk menyakinkan Adisti. Agung yang duduk di samping Adisti menepuk-nepuk pundak Adisti sambil tersenyum. Adisti sesunggukan dalam pelukan kakaknya.


Dan cerita Bramasta dan Adisti pun dengan sendirinya bergulir di dunia maya. Tanpa bisa dibendung: +62’s Sweetheart, Inlightning Couple, Inspiring To Be Halaal, The Real Ta’aruf.


Notifikasi chat pesan gawai Indra berbunyi. Dari Bang Leon.


Leon_Ndra, lu muncul di konferensi pers yang ditayangkan langsung di beberapa stasiun TV, terus nanti bagaimana kalau Rita atau suaminya menonton acara tersebut?_


Indra mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu terdiam membeku.