
Adisti bergidik ketakutan saat Thunder mengembangkan kedua sayapnya di lengan Khalid. Khalid sendiri memakai pelindung tangan yang terbuat dari bahan rajutan tebal.
Elang Gurun memang bertubuh besar. Rentangan kedua sayapnya membuat Khalid harus memundurkan badannya ke belakang agar tidak mengganggu Thunder.
“May I...” Bramasta meminta ijin untuk mengelus kepala Thunder.
“Tunggu sebentar lagi. Thunder harus terbiasa dulu dengan orang-orang di sekitar saya. Memastikan mereka adalah teman saya,” Khalid tersenyum.
Thunder tampak mengamati Bramasta dan juga Adisti. Kepalanya kadang dimiringkan. Saat Khalid membelai kepala dan lehernya, Thunder memejamkan matanya.
“Bram, mulai dari arah belakang. Jangan ada unsur ragu atau takut saat berinteraksi dengan hewan buas. Karena mereka bisa merasakannya. Bagi mereka, rasa ragu dan takut hanya dimiliki oleh mangsa mereka, buruan mereka,” Khalid memperagakan cara mengelus Thunder.
“Buas? Abang Bram bilang Thunder sudah jinak karena dipelihara sejak bayi..” Adisti memepetkan tubuhnya di belakang Bramasta.
“Thunder memang sudah jinak. Tapi hanya pada saya saja. Yang mengasuhnya. Instingnya sebagai hewan buas tetap ada. Dan tidak akan saya hilangkan. Berjaga-jaga jika dia harus survive di tengah alam sendirian.”
“Kenapa?” Bramasta mengerutkan keningnya.
“Misal terjadi apa-apa dengan saya saat di gurun ataupun saat mendadak dia tersesat maka dia tidak akan kelaparan dan bisa tetap hidup,” Khalid mengelus Thunder dengan penuh kasih sayang.
“Corak bulunya luar biasa ya,” Adisti menatap kagum pada Thunder.
“Memangnya dia bisa tersesat? Bukannya sistem navigasinya keren dan canggih banget?” Bramasta memandang wajah Thunder dengan penuh kekaguman, “Sorot matanya sama dengan sorot matamu, Lid.”
Khalid terkekeh.
“Kata orang, para pemilik hewan yang betul-betul menyayangi dan mempunyai kedekatan emosi, akan saling mempengaruhi, bisa dalam perilaku ataupun wajah.”
“Oh my God... Kasihan banget untuk para pemilik simpanse, gorilla ataupun monyet..” Adisti menatap wajah Khalid sebentar.
Khalid dan Bramasta berpandangan. Lalu terbahak bersama.
“Mata Bang Khalid... Ma'af, kanan kiri tidak sama ya?” Adisti baru menyadarinya.
Bramasta terkekeh, “Disti baru nyadar?”
Adisti mengangguk.
“Heterochromia. Sebelah kiri warna mata Umi sebelah kanan warna mata Babah,” Khalid mengangguk.
“Bukan kekurangan buat Khalid malah jadi kelebihannya. Cewek-cewek justru banyak yang klepek-klepek saat ditatap Khalid..” Bramasta tertawa.
“Terus kenapa masih jomblo?” Adisti.
“Ya Allah.. Istrimu, Bram.. Sakit tak berdarah ini sih...” Khalid tertawa hingga kepalanya mendongak.
Dia merendahkan lengannya.
“You can touch him now_Kamu boleh menyentuhnya sekarang_, “ Khalid memberi kode pada Bramasta untuk mendekat, “Just remember... No fear_Ingat.. Jangan takut_”
Adisti menyiapkan gawainya.
Bramasta mendekati Khalid. Lalu menyentuh kepala Thunder dari arah belakangnya. Menyentuh perlahan lalu menekan dengan menggunakan ujung jarinya seperti menggaruk kecil seperti yang Khalid lakukan.
Mengetahui sentuhannya berbeda dengan tuannya, Thunder menengok. Memandangi Bramasta yang juga tengah menatapnya. Keduanya saling menatap seperti membangun kepercayaan. Kemudian Thunder membuang pandangannya ke arah lainnya.
“Dia sudah mempercayaimu, Bram. Lihat, bagaimana dia membiarkanmu menyentuhnya..”
“Daebak! Masyaa Allah.. Keren Bang..”
Khalid membuka penutup paruh Thunder. Paruhnya meruncing ke bawah. Khalid mengambil potongan daging yang sudah dia siapkan lalu mengambil sepotong dan langsung disambar paruh Thunder.
“Are you ready?” entah Khalid berkata pada Thunder atau pada Bramasta dan Adisti.
Mereka sedang berada di lantai kaca tambahan yang sengaja dibangun yang menjorok di tepi tebing. Tepat di atas lokasi tubuh Adisti tersangkut pohon dulu.
Khalid bersiul lalu menghentakkan lengan tempat Thunder bertengger ke bawah. Sayap Thunder mengepak, terbang bebas di atas jurang. Sesekali terdengar suara lengkingannya.
Beberapa pengunjung The Cliff yang ikut memperhatikan dari awal dibuat terkesima dengan aksi Thunder. Terbang melesat ke angkasa kemudian melayang tanpa mengepakkan sayap di langit lalu berputar di atas jurang, kemudian terbang menukik tajam saat mendengar siulan Khalid dan bertengger di lengannya.
***
Bramasta dan Adisti tiba di markas Shadow Team menjelang Maghrib. Mereka membawakan burger dan spaghetti dari The Cliff.
Setelah sholat berjamaah mereka berkumpul lagi di ruang rapat. Bramasta menyambungkan video aksi Thunder ke layar proyektor. Semua berdecak kagum.
“Cuma kagum aja ke Thunder. Tapi sama sekali gak kepikiran buat ikutan Khalid memelihara burung liar eksotik. Cukup Hana saja dengan piaraannya yang penuh bulu...” Hans berdiri sambil menonton Thunder.
“Binatang apa, Bang?” tanya Adisti.
“Kucing kampung biasa. Sebel gue.. Makin lama tuh kucing makin melunjak. Gayanya sudah seperti majikan saja tiap kali gue di rumah...” Hans mencebik.
Semuanya terkikik.
“Tadi siang seru loh.. Ada lawaknya juga,” Indra terkekeh diikuti Agung dan Anton.
“Raditya tengah diincar lagi oleh Inspektur Thakur,” Hans duduk sambil membaca pesan yang masuk di gawainya.
“Terus?”
Indra, Agung dan Anton bergantian menceritakan semuanya. Bramasta dan Adisti terhanyut dalam cerita. Kadang melongo kadang tertawa.
“Handphone baru sudah dikirimkan ke Raditya?” Bramasta memandang Hans.
Hans mengangguk.
“SIM cardnya juga kita bersihkan dari hardware ataupun software penyadap.”
“Dia curiga gak ya dengan kita?”
Hans menggaruk bakal janggut yang tumbuh.
“Sepertinya tidak. Dia tahu AMANSecure menangani pelayanan keamanan dan pengawalan para eksekutif hingga VVIP. Walau sebenarnya kita, AMANSecure belum melakukan bisnis hardware spy equipment.”
Bramasta menjentikkan jarinya.
“Baru tadi pagi gue obrolkan dengan Anton. Bagaimana kalau Anton menjadi vendor AMANSecure dalam bisnis hardware spy equipment?”
Hans memandang Anton. Kakinya disilangkan dengan jemari mengetuk meja menimbulkan suara seperti derap lari kaki kuda.
Dia tertarik. Meminimalisir kecurigaan orang-orang yang ingin tahu tentang dirinya dengan AMANSecure.
“Ton? Bagaimana?” Hans memandang Anton.
“Apanya yang bagaimana?”
“Are you ready? Gue percaya dengan barang-barang pilihan Lu pasti barang bagus.”
Anton memandang Bramasta dan Indra, karena keduanya adalah bosnya. Bramasta dan Indra hanya memberikan cengirannya pada Anton kemudian memberi dua jempol ke arahnya.
“Dah.. terima saja. Gue yakin gak akan mengganggu kerjaan utama Lu, Ton,” Indra menyandarkan tubuh.
Anton mengangguk sambil tersenyum lebar.
“OK Bang.. I'm ready..”
“Besok Lu ke sini ya. Kita obrolin MoU,” Hans tersenyum lebar sambil menjabat tangan Anton.
“Insyaa Allah..” Anton berseri-seri.
“OK. Tentang Prince Zuko malam ini, mengingat apa yang terjadi belakangan ini sangat menyita perhatian publik, bagaimana kalau kita tampil juga di TV?” Hans menatap semua yang hadir.
Suara gawai Hans berdering. Panggilan masuk.
“Assalamu’alaikum.. Ya Bang?” Jeda.
“OK, via zoom meeting saja ya Bang. Nanti gue buat dulu linknya..” Jeda.
“Wa'alaikumussalam Bang..”
Hans langsung mengetik di atas keyboard cahaya dari atas mejanya.
“Ton.. Bagi layar untuk Bang Leon. Kita pakai Zoom Meeting.”
“Kameranya?” tanya Agung.
“Ada kamera tambahan. Kita letakkan di depan belakang saja ya supaya ter-shoot semuanya,” Anton mengambil tripod untuk meletakkan kamera kecil.
Wajah Leon muncul di layar proyektor. Sementara semua yang hadir juga terlihat di proyektor.
“Assalamu’alaikum Guys and Girl..” Leon menyapa dengan tatapan tengilnya, Gue ketinggalan apa nih?”
“Barusan Hans bilang Prince Zuko akan tampil di TV malam ini. Masih menanyai kita. Setuju atau tidak...” Indra menjelaskan.
“Gue sih setuju..” Leon langsung menjawab dengan sumringah.
.
***
Keburu gak tuh ya bajak TV saat jam prime time?
Catatan Kecil:
Heterochromia adalah kondisi bagian berwarna pada mata (iris) memiliki warna yang berbeda kanan dan kirinya. Hal ini disebabkan karena pengaruh faktor genetik.
Kondisi ini dianggap eksotik bagi kebanyakan orang namun di beberapa suku tertentu di dunia, keadaan tersebut dianggap sebagai aib ataupun kutukan.
MoU kepanjangan dari Memorandum of Understanding yang artinya adalah nota kesepakatan, nota kesepahaman, perjanjian kerjasama, perjanjian pendahuluan.