CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 64 – H-1 Trouble?



Suasana sunyi saat Adisti keluar dari bilik ruang ganti dengan memakai gaun untuk resepsi nanti dengan memakai penutup mata. Adisti keluar dituntun oleh Umi Khalid dan seorang crew-nya.


Semuanya terperangah menatap Adisti. Takjub dengan gaun yang dikenakannya yang begitu pas pada tubuhnya.


“Kok pada diam sih? Jangan-jangan pada ninggalin Disti..” Adisti terdengar cemas.


“Gak mungkin ditinggalin dong Dek..” kata Bunda.


“Ini sih udah perfect banget ya Umi Khalid.. Gak perlu diubah lagi,” kata Mommy.


“Iya Jeng Alwin. Adisti postur tubuhnya bagus, cocok untuk design gaun seperti itu,” Umi Khalid sedikit merapikan kain yang menjuntai di bagian belakang gaun.


“Layla jadi pengen bikin gaun seperti itu..” Layla menatap penuh damba pada gaun yang dikenakan calon adik iparnya.


“Gampang.. Umi punya banyak ide setelah gaun ini selesai dibuat design-nya. Jadi seperti sequel dari designnya,” kata Umi Khalid.


“Baru tahu gaun pun ada sequel-nya,” kata Layla, “Kirain cuma film, drama atau novel saja yang pakai sequel.”


Umi Khalid tertawa.


“Ceritain dong, warnanya apa, modelnya bagaimana.. Disti kan penasaran,” suara Adisti memohon.


“Kan judulnya surprise, Dek. Nanti saja lihat sendiri saat hari H,” Bunda dan Mommy terkekeh.


“OK.. gaun yang ini sudah fix ya. Mbak, bantu Nona Adisti ya. Penutup matanya jangan sampai dilepas sebelum gaun itu di tempat yang aman,” kata Umi Khalid kepada crew-nya, “Next, Jeng Alwin, Ibu Gumilar dan Layla. Yuk fitting dulu gaunnya..”


Acara fitting baju selesai pukul 10 pagi. Bramasta dan Adisti tidak sempat mengobrol karena mereka berada di ruangan terpisah. Mereka hanya bisa saling menatap dari kejauhan dan saling melempar senyum malu-malu satu sama lainnya.


Saat hendak memasuki mobil, mobil Indra datang diikuti oleh mobil Hans. Hans datang dengan istri dan anaknya untuk fitting baju. Mereka urung memasuki mobil. Mengobrol sebentar di pelataran parkir akhirnya pindah ke dalam butik. Keluarga Gumilar berkenalan dengan keluarga kecil Hans. Agung gemas sekali dengan bayi 4 bulannya Hans. Dia menggendongnya sambil mendekati Leon yang tengah menggendong Eric.


Eric melonjak-lonjak dalam gendongan Leon mengetahui ada bayi yang mendekat.


“Beybi.. beybi..” tangan Eric terulur.


“Hai Eric, ini Baby Andra..” kata Agung.


“Kamu sudah pantas punya anak, Gung,” kata Leon.


“Do’akan saja Bang.. semoga disegerakan jodoh saya.”


“Aamiin,” kata Leon.


“Terus saya bagaimana Bang?” tanya Indra, “Saya belum pantas punya anak?”


“Kamu itu sebelas dua belas dengan Bram. Kalau menghadapi lawan jenis jaim banget. Galak dan dingin pula. Apalagi kalau menghadapi cewek yang genit..” Leon menghela nafas panjang, “Jadinya kan susah dapat jodohnya.”


“Lah, Abang menikahi Kak Layla kan seumuran Bram. Sama juga dong berarti,” Indra tidak mau kalah.


“Abang kan ngejar-ngejar Layla dulu setengah tahun baru akhirnya get married,” Leon membela diri.


“Berarti dulu Bang Leon genit ya ke Kak Layla,” sergah Agung.


“Bukan genit, it’s a strategy. Prinsip Abang: maju tak gentar, pantang mundur sebelum diembat pria lain.”


Agung dan Indra terkekeh.


Semua menoleh ke ambang pintu saat ada yang mengucap salam.


“Assalamu’alaikum,” salam Anton.


Semuanya menjawab salamnya. Anton bersalaman dengan para pria.


“The Cliff ready?” tanya Bramasta.


“Ada material yang sampai hari ini belum ada kepastian datangnya kapan,” kata Anton.


“What is it and how?” Bramasta mengerutkan keningnya.


“Akrilik untuk pengisi pagar pembatas tebing. Perusahaan lokal tidak ada yang sanggup untuk menyediakan sesuai spek yang kita minta dalam waktu singkat. Kita terpaksa impor,” Anton mengusap wajahnya, “Seharusnya hari ini sampai. Tapi kapal kargonya terkendala di perjalanannya, 2 hari yang lalu terhadang badai topan. Ada bagian kapal yang rusak.”


“It’s a bad news,” gumam Indra.


“Memangnya semua bagian pagar belum dipasang akriliknya?” tanya Agung.


“Hanya yang di sayap kiri yang dipasang akrilik, Gung. Nantinya jadi tempat ijab kabul saat hari H,” jelas Anton, “Bagian lainnya tidak pakai akrilik tapi cutting laser plat.”


“Tempat ijab kabulnya gak mepet tebing kan?” tanya Agung.


“Ya nggak dong..” Anton mengeluarkan laptopnya. Dia menunjukkan siteplan The Cliff dan siteplan dan denah The Cliff untuk hari H.


“Kita pakai area glamping untuk tenda ijab kabul. Di sini,” Anton menunjuk pada layar laptop, “Yang ini tebing yang belum ada pagar ber-akriliknya. Kira-kira sepanjang 30 meter.


Leon mendekat. Dia menyerahkan Eric untuk digendong Indra.


“Berapa jarak tenda ijab kabul dengan tebing?” tanya Leon sambil menunjuk pada layar laptop.


“Sekitar 8-10 meter. Karena tepian tebing kan tidak rata, ada yang menjorok ke dalam,” jelas Anton.


“Buat pagar sementara berjarak 1,5-2 meter dari bibir tebing,” kata Bang Leon.


“Materinya?” Anton bertanya balik, “We don’t have time anymore.”


“Material baja ataupun balok beton precast masih ada di site, gak?” tanya Bramasta, “Kita gunakan itu untuk pagar sementara.”


“Buat partisi dari multipleks saja. Pastikan kuda-kudanya kuat dan terbebani dengan baik di tanah karena kita harus mengantisipasi angin tebing,” Leon memberi ide, “Layla beberapa kali pernah diminta untuk men-design ruangan pesta dan pelaminan. Sepertinya dia lebih paham deh untuk mensiasati keadaan ini.”


“Layla ma cherie,” panggil Leon kepada Layla yang tengah mengobrol dengan Adisti dan istri Hans.


“Yes Darl?” Layla menoleh.


“Come here, please,” Leon melambaikan tangannya.


“Aya naon, Darl?” Layla menggenggam tangan suaminya yang terulur padanya.


Leon menjelaskan situasi kondisi kendala The Cliff menjelang hari H. Layla mengangguk-angguk mendengarkan.


“Ya ampun, bahasa jadi campur aduk begini,” kata Agung pelan.


Indra yang mendengar terkekeh, “Ini baru 4 bahasa ya, Indonesia, Perancis, Inggris, Sunda. Nanti besok saat sepupu Layla dan Bramasta datang, bakal ribet lagi dengernya. Nambah 2 bahasa: Belanda dan Jerman.”


“Selain bahasa Inggris, Bang Indra menguasai bahasa apa lagi?” tanya Agung.


“Jerman,Arab dan sedikit Jepang. Masih belajar. Lu?” tanya Indra.


“Arab only. Lu apa Ton?” tanya Agung.


“Jepang,” sahut Anton.


Leon sudah selesai menjelaskan kepada Layla. Layla memperhatikan siteplan dengan seksama. Lau dia mengangguk yakin.


“Yupz, tutup pakai partisi multipleks saja. Setuju dengan Abang Leon, pondasinya harus kuat. Nanti multipleksnya dicat pakai cat akrilik supaya terkesan glowing saat terkena lampu. Pakai warna dasar B Group yaitu coklat kemerahan. Kita buat 3 macam partisi, kita pasang selang-seling,” Layla menjelaskan.


“Coklat kemerahan, apa nanti gak gelap. Acaranya kan petang,” Bramasta menatap kakaknya.


Layla menggeleng, “We use LED Strip, Bram. Partisi coklat polos, kita pasang LED strip-nya di bagian tengah, partisi coklat dengan emblem B Group berwarna silver kita pasang LED strip-nya di bagian bawah sepanjang papan partisi, partisi coklat dengan bunga-bunga terbuat dari karton berukuran besar kita beri LED strip-nya di bagian atas sepanjang papan partisi. 1 partisi berisi 3 baris LED strip memanjang.”


“Materi emblem B Groupnya pakai apa?” tanya Indra.


“Pakai sterofoam saja yang mudah, murah dan mudah dibentuknya. Nanti pakai cat semprot yang dipakai untuk mobil warna chrome metalik,” Layla menggambar dengan cepat pada laptop Anton untuk menjelaskan partisi yang dimaksudkan.


“Anton nanti tinggal hitung panjang area yang akan ditutup untuk tahu jumlah partisi polos, emblem dan bunga. Juga untuk kebutuhan lampu LED strip-nya. Jangan lupa kabel untuk lampu dan fittingnya juga,” Layla memandang pada Anton. Anton mengangguk mengerti.


“OK. Tapi siapa yang mengerjakannya?” tanya Anton.


“Mau pakai crew saya?” tanya Layla.


“Dari Singapur?” mata Anton membelalak.


Layla terkekeh, “Nggaklah. Mereka orang Bandung kok.”


Layla menghubungi crew-nya. Berbicara dengan beberapa orang lalu mengacungkan jempol pada Bramasta.


Bramasta tersenyum pada kakaknya. Lalu memeluknya, “Thanks so much, Kak. Love you more!”


“Hey..c’est ma femme_Hey..dia istriku_” seru Leon.


“C’est ma soeur ainee_Dia kakak perempuanku_” ujar Bramasta.


Sementara itu Anton menghubungi orang-orangnya untuk mempersiapkan membuat partisi dari multipleks.


“Alhamdulillah… at least problem is solved_akhirnya masalah terpecahkan_. Terimakasih ya Kak. Dari kemarin saya kurang tidur mikirin ini,” kata Anton.


“Sama-sama. Nanti malam sudah bisa tidur nyenyak?”


“Belum. Kayaknya baru bisa tidur nyenyak setelah acara sukses,” Anton tergelak.


“Ma’af ya Ton. Kamu jadi orang yang paling sibuk saat ini,” kata Bramasta.


“It’s OK, Pak Boss,” dua jempolnya diacungkan pada Bramasta.


“Bonus..bonus....” Indra berkata sambil menggoyang-goyangkan tubuh Eric. Eric tertawa senang diayun-ayun seperti itu.


“Any problems?” tanya Daddy mendekat bersama Ayah dan Hans.


“Sudah terpecahkan masalahnya. Hasil rembukan rame-rame,” kata Bramasta sambil tersenyum.


“Good, tetaplah seperti itu. Ada masalah dipecahkan bersama. Permasalahan yang berat akan terasa semakin berat dan besar apabila hanya dipecahkan oleh satu kepala. Daddy bangga dengan kalian semua. Team work as family,” kata Daddy.


“Kalian bertiga belum fitting baju kan? Sudah sana segera fitting. Kami pamit dulu ya,” kata Bramasta kepada Hans, Indra dan Anton.


***


Catatan Kecil:


Siteplan adalah gambar dua dimensi berupa peta yang memberikan rencana detail pembangunan dengan semua unsur penunjang di dalamnya, dalam skala batas-batas luas lahan tertentu.


LED strip lamp adalah pita yang berisi lampu-lampu LED berukuran kecil. Karena bentuknya pita maka bisa fleksibel dibentuk ataupun dipotong sesuai kebutuhan.


***


Untungnya problem solved ya.


Daddy memang betul, saat ada masalah yang rasanya sukar banget, omongin bersama, siapa tahu ada yang memberi saran untuk memecahkan masalah tersebut.