CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 88 – ADISTI’S WANT



Sebelum maghrib, mobil Mommy sudah sampai di depan rumah. Driver membantu membawa masuk kanvas-kanvas kosong berikut peralatan melukis Adisti.


Bramasta sudah memberitahu mereka akan mampir dulu ke kantor Daddy. Bunda membekali mereka dengan banyak tempe tepung yang sudah digoreng oleh Adisti.


“Gak nunggu maghrib dulu di sini, Bang?”


“Nggak. Abang sholat di mushola kantor saja.”


Adisti mengangguk.


Mereka tiba di Sanjaya Group saat adzan Maghrib. Gedung sudah mulai lengang karena sudah lewat jam pulang kantor kecuali bagi karyawan yang lembur.


“Disti mau tunggu di ruangan Kakak Ipar atau di ruangan Daddy? Abang mau sholat dulu,” mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


“Disti ikut ke mushola aja kan sekalian mau sholat juga..”


“Eh, udah sholat sekarang?”


“Udah dari Dhuhur tadi.”


“Kok Abang gak tahu?”


“Abangnya aja yang khusyu banget mantengin handphonenya. Sampai istri lagi sholat di sampingnya aja gak kelihatan..”


“Masa sih?”


Kemudian Bramasta menghentikan langkahnya sambil menarik Adisti lebih dekat ke arahnya. Tersenyum lebar sambil membenahi pashmina Adisti.


“Berarti nanti malam... bisa dong..”


“Bisa apa? Gaje banget..”


“Beneran gak tahu atau pura-pura gak tahu sih?”


“Gaje ih.”


“Ya udah.. Gimana ntar aja deh,” Bramasta menggenggam erat tangan Adisti untuk menuju mushola di lantai 3, “Disti bawa mukena?”


“Bawa dong..”


Bramasta mengecup punggung tangan istrinya di depan mushola karena tempat wudhu laki-laki dan perempuan berbeda arah.


“Hati-hati ya. Nanti kalau sudah selesai duluan, tunggu Abang di depan mushola ya.”


Adisti mengangguk, “Abang juga hati-hati.”


***


Ruang Meeting Sanjaya Group


“Sudah sholat maghrib semua kan? Berarti sudah cooling down,” Indra mengawali pembicaraan ruang meeting.


“Daddy mana?” tanya Bramasta.


“Menunggu Tuan Armand di ruangannya,” jawab Hans sambil mengetik di laptopnya.


Proyektor menampilkan wajah Rita Gunaldi dalam balutan atasan warna hitam lengan pendek dengan rok pendek mengembang berwarna fuschia di depan The Ritz. Wajahnya yang angkuh dan meremehkan para wartawan terlihat jelas dalam sorotan kamera.


Bahkan saat dia mengusir para wartawan keluar dari area gedungnya hingga membuat seorang wartawan terjatuh sungguh membuat semua orang menjadi muak dengan kesombongannya.


“Kayaknya reporter TV sengaja ya tidak menyunting rekaman video yang mereka dapatkan di The Ritz,” Indra mengomentari video tersebut.


“Solidaritas rekan seprofesi,” kata Hans.


“Assalamu’alaikum,” Daddy masuk ke ruang meeting diikuti Tuan Armand.


Mata Daddy melirik ke arah tayangan Rita Gunaldi. Tatapannya geram. Apalagi saat Rita mengatakan dirinya salah mulung mantu.


“Mulung mantu?? Sejak kapan ngunduh mantu disebut mulung mantu. Kurang ajar sekali perempuan itu,” Daddy menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, “Dia pikir siapa dia? Sampai merendahkan kita seperti itu!”


“Bukannya dia yang dipulung dari lembah hitam oleh seorang bos kaya untuk dijadikan sebagai istrinya sebelum dia dinikahi oleh Ferdi Gunaldi?” Indra menambahkan.


“Lu tau, Bang?” tanya Agung.


Indra mengangguk, “Gue baca dari laporan anak buahnya Hans.”


“Gue gak terima istri gue dihina seperti itu di media.”


“Media memihak kepada kita, Pak Bos,” kata Anton.


“Iya gue ngerti, perempuan ****** itu benar-benar harus diberi pelajaran. Harusnya dendamnya itu ke mantan istri Tuan Hilman bukannya ke istri gue. Yang tidak mau membayar baju-baju yang sudah dipesannya adalah Nyonya Hilman. Adisti tidak pernah memesan baju-baju tersebut.”


“Hans, kontak Leon. Desak para pemilik merk untuk segera bergerak!” Daddy berkata dengan berapi-api.


“Bang Leon saat ini masih dalam pesawat, Tuan,” kata Hans, “Segera saya akan menghubungi Bang Leon untuk konsolidasi dengan para pemilik merk dagang tersebut.


“Kakak Ipar, Adisti belum tahu tentang ini semua kan?” tanya Bramasta.


Agung yang ditanya tidak menjawab. Matanya terpaku ke arah pintu masuk. Pintu yang sedikit terbuka. Ada sedikit wajah Adisti di celah pintu.


“Itu...” Agung berhenti sejenak, “Sepertinya saat ini Adek sudah mengetahuinya.”


Semua menoleh pada Agung. Lalu bersama-sama memandang pintu masuk yang tidak tertutup sepenuhnya.


Adisti mendorong pintu perlahan. Tangannya memegang kotak berisi tempe tepung buatannya.


“Assalamu’alaikum..”


Semuanya menjawab salam.


“Sudah berapa lama Disti berdiri di sana?” tanya Hans.


Disti mengeluarkan cengirannya.


“Sejak Daddy dan Tuan Armand masuk,” Adisti memandang Daddy dengan pandangan meminta ma’af, “Ma’af bukan bermaksud Disti menguping pembicaraan kalian. Tapi tadi sebenarnya bermaksud menyerahkan kotak ini. Cemilan untuk meeting petang ini. Kalian lapar kan?”


Semuanya mengangguk.


“Ya sudah, ini dimakan ya. Buatan Disti dibantu Abang. Sebenarnya sih karena dihukum Bunda karena Abang nyabutin hampir semua tanaman kucaynya Bunda.”


Adisti membuka kotaknya. Meletakkannya di atas meja. Semua mata tertuju pada isi kotak. Penasaran.


“Iyyyeessh! Masih hangat,” Indra dan Hans langsung mengambil isi kotak karena mereka yang terdekat dengan kotak Adisti.


Kotak bergeser, Agung dan Anton mengambil isi kotak.


“Hmmmm”, Indra mengangkat jempolnya.


“Disti, thanks ya. Enak banget. Suer,” Hans mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kotak bergeser lagi, Bramasta melewatkan kotaknya karena ia sudah memakan banyak di rumah Ayah Bunda. Tuan Armand dan Daddy mengambil isi kotak.


“Tempe goreng tepung,” gumam Anton.


“Bang Bram, bagaimana ceritanya sampai kalian berdua dihukum Bunda?” tanya Agung.


Bramasta tidak menjawab hanya diam menatap Adisti dengan tatapan cemas. Adisti balas menatap suaminya lalu memberikan cengirannya lagi.


“Abang Bramasta gak bisa bedain yang mana rumput dan yang mana kucay.”


Daddy tersedak. Bramasta menyodorkan air mineral pada Daddy. Yang lainnya tertawa mendengar jawaban Adisti.


“Bram, malu-maluin aja ih,” kata Daddy.


“Memangnya Daddy tahu seperti apa tanaman kucay?” balas Bramasta.


“Tahulah... mirip daun bawang kecil-kecil tapi gepeng kan?” Daddy menjawab dengan wajah sombong.


“Kok Daddy tahu sih?”


“Ya iya lah..”


“Semua sudah mencicipi? Sekarang Disti mau bicara ya, sambil kalian habiskan makanannya.”


“Dek?” Agung memandang heran pada adiknya.


“Udah, Kakak dengarkan saja apa yang akan Adek bicarakan.”


Disti berdehem.


“Sebelumnya Disti ucapkan banyak terima kasih kepada Daddy, Suami Disti, Para Abang dan juga Tuan Armand yang hadir di sini untuk membahas penghinaan Rita kepada Adisti dan juga kepada Daddy,” Adisti memandang semuanya dengan tersenyum, “Tapi menurut Disti, gak usah lah terlalu ditanggapi apa yang Rita ucapkan. Maksud Adisti, biarkan saja dia mengoceh banyak karena kelasnya memang seperti itu."


"Ucapannya dan tindakannya recehan, membuat riak sebentar di permukaan kolam lalu terdiam lagi, kolam menjadi tenang kembali,” Adisti mengangguk.


“Karena semakin kita tanggapi dia akan semakin besar kepala. Dia mendapat panggung untuk tampil. Dia tipikal wanita yang suka perhatian orang banyak, perhatikan saja pakaian dan dandanannya,” Adisti mengangkat kedua bahunya.


“Why? Karena sepertinya masa kecilnya begitu buruk. Kurang kasih sayang. Atau tumbuh dalam keadaan lingkungan yang begitu buruk. Disti gak tahu itu. Mungkin kalian semua yang di sini lebih tahu, terutama Bang Hans yang punya anak buah hebat,” Adisti mengacungkan kedua jempolnya pada Hans.


“Pantas saja sih kalau Bang Hans punya anak buah hebat. Secara dia yang paling tua daripada para abang yang duduk di sini,” kali ini Adisti memberikan cengirannya kepada Hans.


Hans menaikkan kedua alisnya, “Mulai lagi nih. Gue kena lagi nih..”


“Wow, Hans, orang yang paling dingin di Sanjaya Group, di-roasting oleh Adisti. Istrinya Bramasta ini benar-benar luar biasa ya,” Tuan Armand terkekeh.


Semua orang terkekeh.


“Jadi, biarkan saja Rita dengan segala kesombongannya tampil sejenak di media. Semakin dia mengoceh, publik jadi semakin tahu siapa dia sebenarnya. Orang dengan emosi seperti Rita, semakin dia meledak, semakin terlihat wajahnya yang sebenarnya. Topeng yang dikenakannya merosot atau bahkan terlepas sama sekali.”


“Jangan khawatir, wartawan dalam hal ini pihak media berada di pihak kita seperti yang dikatakan Bang Anton tadi,” Adisti memandang Anton sambil tersenyum, “Netizen di medsos juga mendukung kita walaupun pasti ada juga para haters tapi jumlahnya sedikit.”


Adisti memandang semuanya lagi.


“Jadi, izinkan Disti, besok pada saat peresmian The Cliff, diberi kesempatan berbicara kepada para wartawan. Wanita seperti Rita, bukan kelasnya Tuan Alwin Sanjaya untuk menghadapinya. Bukan juga kelas Bramasta Reynard Sanjaya. Gak akan sebanding,” Adisti menggerakkan telapak tangannya kemudian memandang pada Daddy lalu matanya beralih menatap lama pada mata suaminya.


Setiap mata memandang penuh atensi kepada Adisti.


“Nama kalian terlalu besar untuk wanita sekelas dia. Publik pasti bakal beranggapan kalian terlalu baper dalam menghadapi Rita. Ibarat kata, menghadapi seekor nyamuk pengganggu dengan menggunakan meriam. Kita tidak akan menggunakan raket nyamuk ataupun semprotan nyamuk untuk menghadapi nyamuk seperti Rita yang terlalu eyecatching menjadi nyamuk. Cukup menggunakan sebelah tangan saja juga sudah bisa kok,” Adisti tersenyum lebar.


“This is my battle. Woman battle. I’ll show her about manner and attitude. It seems nobody teach her about akhlaqul karimah ever_Ini pertarunganku. Pertarungan antar wanita. Aku akan menunjukkan padanya tentang sopan santun dan perilaku. Sepertinya tidak pernah ada yang mengajarkan akhlak yang baik kepada dirinya_,” Adisti tersenyum sambil membungkukkan badannya, “Please, trust me_Percayalah padaku_”


***


Edisi serius ini.


Diijinin gak ya Disti?