CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 209 - BOCORAN HASIL OTOPSI



“Pagi ini Kakak Ipar mulai berangkat kerja ya?” Bramasta meletakkan potongan mentega pada croissant sosia yang masih panas. Potongan mentega itu meleleh dengan cepat. Aroma wangi tercium memenuhi ruang makan.


Adisti mengangguk. Matanya mengamati mentega yang meleleh di atas croissant suaminya.


“Adinda juga mulai masuk pagi ini.”



Bramasta mendongak. Menatap wajah istrinya yang masih serius mengamati mentega yang meleleh.


“Really?”


Adisti mengangguk lalu menyesap jus apel dari gelasnya. Matanya masih mengamati mentega yang perlahan lenyap.


“Disti mau?” Bramasta tersenyum memandang istrinya.


Adisti menatap mata suaminya. Lalu menggeleng.


“Bang, pasca launching semalam, apakah semuanya akan baik-baik saja?”


Bramasta tersenyum, “Insyaa Allah.”


“Burung biru ramai, semua medsos membahas Prince Zuko..” Adisti menatap gawainya.


“Sayang, would you please, letakkan dulu HPnya? Our quality time, please...” tatapan Bramasta pada Adisti terlihat menegur.


“Ma’af..”


Gawai Bramasta berbunyi berturut-turut. WAG Kuping Merah.


Hans_Pak Raditya mengabari, konferensi pers hasil otopsi akan digelar jam 9 pagi ini. Tapi sebelum itu, Pak Raditya bersedia memberikan bocorannya kepada kita_


Leon_Spill, Hans.._


Hans_Racun yang dipakai sama seperti yang disampaikan oleh ibu tiri Adinda, yaitu sianida. Mengenai bilur merah di tengkuk, setelah pemeriksaan intensif selama maraton hingga pukul 22, akhirnya teman pria si ibu tiri itu mengakui, dia menginjak leher belakang Pak Adang Rahmat saat dia tersungkur jatuh dari kursi makan setelah muntah. Tujuannya untuk mempercepat kematian korban_


Agung_Innalillaahi.. Jahat betul!_


Anton_Biadab!_


Indra_Bagaimana Adinda kalau mengetahui kabar ini?_


Bramasta_Sampaikan dengan perlahan, Kakak Ipar. Pagi ini hari pertama kalian berangkat bersama kan?_


Agung_Iya.. ini sedang di jalan menuju sekolahan Adinda_


Hans_Lu gak usah turun dari mobil, Gung. Biar Adinda diantar oleh driver saja ke dalam sekolah_


Agung_Gak bisa Bang. Gue harus bicara dengan para gurunya_


Anton_Mode penyamaran sederhana, Bro Agung. Masker dan topi. Sunglasses kalau perlu_


Agung_OK. Thanks Ton.._


Bramasta_Prince Zuko bagaimana? Sudah mulai ada gangguan?_


Hans_Laporan anak-anak IT Shadow Team, serangan dimulai 38 menit setelah launching. Mostly dari Jerman dan Belanda_


Indra_Bisa ditangani?_


Hans_Alhamdulillah, banyak hacker yang ikut membantu memblokade_


Anton_Bang Hans, nanti saya gabung ke markas agak sorean ya. Sepulang dari Garut bersama Ayah_


Hans_It’s OK. Kerjakan tugas utama dulu. 2 boss Lu ada di WAG ini, Ton.._


Emot ngakak bertebaran .


Leon_Cek TV.. semua heboh dengan Prince Zuko. Dan Agung, Hans, Bramasta, Adisti. Indra dan Anton pun beberapa kali disebut.._


Bramasta_Lu siap-siap Ton dengan masuk dalam daftar bujangan yang paling diinginkan di +62..(emot ngakak)_


***


SEKOLAH ADINDA


Adinda melirik Agung yang duduk di depan tengah sibuk menjawab pesan di gawainya.


“Om..”


Agung bergeming. Dia tengah menjawab chat di WAG.


“Om..” kali ini Adinda menyentuh lengan atas Agung.


Agung menoleh, menatap Adinda yang tengah menatapnya. Adinda dalam balutan seragam SMAnya dan hijab putihnya membuat Agung terkesima.


“Ya?”


Adinda terdiam. Dia juga terkesima dengan penampilan formal Agung. Kemeja lengan panjang slimfit warna biru muda dan celana warna navy membuat Agung terlihat berbeda.


“Kenapa?” Agung mengangkat sebelah alisnya.


Adinda tergagap. Matanya mengerjap beberapa kali. Pipinya merona. Imut sekali. Agung menahan diri untuk tidak mencubit pipi Adinda.


Agung tertawa, “Kamu kenapa?”


“Kamu gugup dengan hari pertama kamu ke sekolah?”


Adinda mengangguk.


“Jangan khawatir.. nanti saya antar kamu ke kelas sekalian saya bertemu dengan walikelas dan guru yang lainnya.”


“JANGAN OM!”


Agung terhenyak kaget. Bahkan driver di samping Agung pun ikut terlonjak.


“Kenapa?”


“Bisa heboh satu sekolahan melihat kehadiran Om Agung di sekolah. Video Prince Zuko yang jelas-jelas menyebut nama Om Agung..”


Adinda menghela nafas panjang.


“Lagian juga Om Agung terlalu ganteng. Para abege cewek itu selalu histeris kalau melihat cogan lewat..”


“Cogan?” alis Agung berkerut.


“Cowok Ganteng.”


“Termasuk kamu?”


“Ya nggaklah Om..”


“Terus kenapa? Kamu takut mereka naksir saya? Kamu cemburu?” Agung mengeluarkan cengiran jahilnya.


Adinda memandang Agung dengan jengah.


“Dih! Siapa lagi yang cemburu..”


“Beneran nih?” Agung terkekeh.


“Pak Agung.. kita sudah sampai,” suara Driver menghentikan obrolan tidak jelas antara mereka.


“Kamu sudah siap?” Agung mengeluarkan masker dan mengenakannya.


“Insyaa Allah, Om.”


“Baca basmalah dulu.”


Adinda mengangguk. Membaca basmalah sambil membuka pintu mobil.


Agung mengenakan topi warna krem dengan logo merk motor besar.


Adinda menatap sepintas Agung dengan gugup.


“Dinda..” panggil Agung saat Adinda berjalan mendahului, “Kita jalan bareng. Antarkan saya ke ruang guru. Saya belum pernah ke sekolah kamu dan saya gak mau buang waktu untuk mencari ruangan di tempat yang belum pernah saya kunjungi.”


Adinda mengangguk.


“OxygenCan sudah kamu bawa?”


Adinda mengangguk lagi.


“Ingat, itu cuma untuk 2-3 kali hirupan ya.”


Agung berhenti sebelum melewati gerbang sekolah. Beberapa siswa yang lewat memperhatikan mereka. Tubuh Agung dihadapkan pada Adinda.


“Berjanjilah pada saya, kamu untuk tidak memaksakan diri. Jangan membuat saya cemas dan khawatir. Rasanya menyakitkan kalau melihat kamu sedang kesakitan, menangis, ataupun terkena serangan panik lagi.”


Adinda menatap tidak berkedip pada Agung. Dia tahu Agung menyayanginya dengan segenap hatinya.


“Terimakasih Om karena mengkhawatirkan saya. Saya janji untuk tidak memaksakan diri saya hingga saya terlalu lelah,” Adinda tersenyum.


“Sepulang sekolah, kamu mampir ke kantor ya. Kita makan siang bareng.”


Adinda mengangguk dengan senyum dikulum.


Mereka berjalan lagi. Beberapa teman Adinda menyapanya. Adinda tersenyum dan melambaikan tangannya.


Seorang siswi berlari ke arah Adinda sambil menjerit heboh.


“Dinda! Lu kemana aja? Gile Lu.. lagi ujian praktek juga.. pakai sakit lama pula. Sekarang bagaimana? Sudah sehat?"


Adinda tertawa lalu mengangguk.


“Om, Dinda langsung ke kelas aja. Gak apa-apa? Ruang guru nanti belok kanan, dekat tangga..”


Agung mengernyitkan dahi karena tidak menyukai Adinda yang tiba-tiba mengubah rencana yang sudah disusunnya. Belum sempat Agung membuka mulut untuk menjawab, Adinda sudah melesat pergi bersama temannya itu.


Agung hanya bisa menghela nafas kesal lalu berjalan sesuai arahan Adinda.


“Dasar bocah!” gumam Agung.


***


Abege mah gitu, Gung ..


Begitu ketemu kawan sefrekuensinya langsung cabut.. 😁😁🤭


Babang Agung yang sabar ya punya calon istri masih abege..🤭