CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 112 – SORE YANG KELABU



Agung memesan 2 hot americano coffee dan 2 capucino di meja pemesanan. Juga sejumlah donat dan croissant isi sosis.


“Mbak, saya pakai motor, tolong pengemasannya yang aman dan mudah dibawa ya,” kata Agung pada SPG donat yang mengangguk dan tersenyum.


Saat memakai jaketnya setelah sholat Ashar di mushola, Agung merasa lengannya sudah jauh lebih baik. Tidak lagi bengkak dan terasa nyeri saat digerakkan.


[Adinda... ah kenapa pula harus memikirkan bocah itu sekarang ini? Tapi warna matanya memang menakjubkan.] Agung mengenakan helmnya sambil tersenyum.


Dia mengendarai CBR hitamnya dengan santai. Udara tidak sepanas tadi siang. Bahkan ada awan kelabu yang bergayut di langit.


Lalu lintas padat lancar. Suasana weekend terasa sekali. Dia melirik ke sudut perempatan, tampak seorang polantas menilang pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm. Masih ABG dan berbonceng 3 pula.


Melewati boulevard pohon Palem Raja yang tinggi menjulang lalu memutari taman bunga, Gedung The Ritz sudah mulai tampak.


Dia sudah melihat mobil Avanza hitam yang parkir di depan lahan The Ritz. Matanya mencari tempat parkir yang aman. Ada di ujung blok, di depan penjual gorengan.


Motornya melaju pelan ke arah gerobak gorengan. Sebelum mencapai mobil avanza tempat anak buah Anton mengamati The Ritz, punggung sampingnya serasa ada yang melempar.


Sesuatu yang terasa panas, menusuk menembus kulit, masuk kedalam otot. Merobek jaringannya. Dia belum menyadari apa yang terjadi dengan dirinya, hingga aroma besi menguar di indra penciumannya.


Saat itu dia merasa sesak, paru-parunya terasa terbakar. Panas. Pandangannya menjadi kabur. Dia mengerjapkan mata mencoba untuk tetap fokus. Fokusnya hilang. Semua tampak blur sekarang.


Motor Agung oleng, tubuh Agung jatuh telungkup di atas stang motornya saat motornya masih melaju. Keduanya menyentuh aspal dengan suara yang keras.


Kopi tumpah bercampur dengan darahnya membasahi aspal. Orang-orang berteriak. Pandangan yang terakhir yang Agung lihat, awan kelabu yang menumpahkan air ke bumi.



***


(15 menit sebelum Agung terjatuh)


Mobil Avanza Hitam Di Depan The Ritz


“Sol, itu mobil Tuan Thakur!” Joker menunjuk pada layar laptop. Temannya mengangguk.


Dia menekan panggilan pada bosnya,


“Assalamu’alaikum, Pak Anton. Tuan Thakur memasuki pelataran The Ritz,” Joker berkata cepat. Jeda.


“Baik Pak. Assalamu’alaikum.”


Joker memutuskan hubungan.


***


(25 menit sebelum Agung jatuh)


PENTHOUSE LANDMARK APARTMENT


Mereka masih membahas Adinda dan Agung di sofa tengah. Ada Hans, Indra dan Anton. Leon masih di mall bersama Layla dan Eric.


Adisti membuka kotak pizza dan kotak muffin, meletakkannya pada coffee table sofa tengah.


“Dis, Agung mau mampir kemari gak?” tanya Indra.


“Tadi sih bilang ke Disti begitu, Bang. Katanya dia cuma mampir sebentar di The Ritz.”


“Ditunggu saja..”kata Bramasta.


“Kangen lu, Bro?” tanya Anton sambil terkekeh.


Anton semenjak datang, sibuk dengan kabel-kabel laptopnya. Dia membawa 2 laptop dan beberapa alat elektronik dalam kotak pipih.


Hans dan Indra membawa masuk meja kopi dari balkon untuk dibawa masuk sebagai meja tambahan. Supaya aman, meja dari balkon dipakai sebagai mejanya Anton berikut peralatannya sedangkan coffee table sofa khusus untuk makanan dan minuman.


Animasi Prince Zuko sudah dicoba. Saat Anton berbicara, bibir animasi Prince Zuko ikut bergerak. Gerakan huruf vokalnya sempurna. Suara yang terdengar juga suara milik Prince Zuko.


“Keren, Hyung Anton,” Adisti mengangkat kedua jempolnya saat menonton uji coba Prince Zuko dari layar TV big screen.


“Lu punya bakat jadi animator juga, Ton..” Hans menatap kagum pada Prince Zuko di layar TV.


Anton hanya terkekeh. Bramasta dan Indra tersenyum lebar. Senang ada jenius di perusahaan mereka.


Anton mengetikkan sesuatu pada laptopnya, layar monitornya terbagi 2. Layar kiri tampak dalam The Ritz dan layar kanan tampak luar The Ritz. Tampilan layar TV sama dengan di layar monitor laptop.


Area parkir The Ritz tidak terlalu ramai, mungkin karena pemberitaan tentang The Ritz dan ownernya membuat The ritz sepi pengunjung. Sekelompok orang yang sepertinya wartawan tampak berkumpul di bawah pohon di seberang The Ritz.


Keadaan bagian dalam The Ritz, di ruang tunggu butik lebih sepi daripada di pelataran parkir. Jarang terlihat orang berlalu lalang. Hanya para pegawai yang mengganti baju manekin saja yang terlihat.


Saat mereka semua tengah menikmati pizza, dering panggilan dari gawai Anton berbunyi.


“Wa’alaikumussalam, Jok. What’s up?”


“OK, monitor terus. Kalau Pak Agung datang, minta dia langsung ke apartemen ya.” Jeda.


“Wa’alaikumussalam.”


Anton meletakkan gawainya di atas meja. Dia lalu menunjuk pada layar yang memperlihatkan pelataran parkir The Ritz. Sebuah mobil jeep Wrangler warna hitam memasuki The Ritz.


“Tuan Thakur datang...”


“Kata Joker belum. Mungkin sebentar lagi,” Anton memandang Adisti, “Kenapa?”


“Gak tahu. Hati ini kok rasanya gelisah banget ya sejak tadi siang,” Adisti memegang dadanya dengan wajah cemas.


Bramasta membawa Adisti ke dalam pelukannya. Menenangkan istrinya.


“Jangan khawatir, Dis. Tuan Thakur ataupun Rita tidak mengenali Agung. Apalagi kalau dia memakai helm full face-nya,” Indra membantu menenangkan Adisti.


“Agung tahu apa yang harus dilakukannya, Dis,” Hans mengangguk pada Adisti.


“Baca al fatihah saja supaya hati Disti tenang,” bisik Bramasta sambil membenahi kerudung Adisti.


“Tuan Thakur tidak sendirian. Dia membawa anak buahnya,” mata Anton tidak lepas dari layar monitor.


Tuan Thakur turun dari pintu penumpang depan. Sementara dari arah pintu driver, turun anak buahnya yang bertubuh tegap dengan rambut cepak.


Tuan Thakur tampak berbicara dengan anak buahnya kemudian melakukan panggilan telepon dengan gawai di depan mobilnya. Wajahnya tampak kesal. Dia berbicara sambil bertolak pinggang.


Dia melangkah masuk ke dalam gedung The Ritz dengan langkah gusar. Dari arah ruang tunggu butik terdengar suara Tuan Thakur memanggil Rita.


“Rita sayang... I'm coming Babe!”


Kemudian terdengar suara resepsionis The Ritz, “Ma'af Tuan, Ibu Rita sedang tidak dapat menerima tamu hari ini. Kalau ada perlu terkait dengan pemesanan baju dan lainnya silahkan berbicara dengan asisten Ibu.”


Terdengar suara meja digebrak. Lalu terdengar suara Tuan Thakur yang terdengar gusar.


“Saya perlunya dengan Rita, bukan dengan asistennya! Suruh Rita turun!!”


Suara resepsionis terdengar bergetar ketakutan.


“Ma'af Tuan. Ibu sedang sakit. Tidak bisa menemui siapapun.”


Suara Tuan Thakur terdengar lantang.


“Saya tidak peduli! Suruh Rita menghadap saya. TURUN! ATAU SAYA YANG NAIK!!”


Suara benda terjatuh terdengar dari arah foyer tempat resepsionis berada.


“Baik Tuan. Silahkan tunggu sebentar. Saya hubungi Ibu dahulu.”


Suara derap sepatu Tuan Thakur dan anak buahnya terdengar mendekati ruang duduk butik. Tuan Thakur duduk di salah satu sofa berwarna krem. Sementara anak buahnya berdiri di sampingnya, mengamati seluruh ruangan.


Suara detak high heels terdengar nyaring. Terdengar suara Rita bergumam rendah memerintah kepada karyawannya. Lalu jawaban dengan suara rendah dari karyawannya.


Kemudian Rita muncul dari arah tembok yang melengkung. Mengenakan jumpsuit warna ungu polos berleher tinggi. Gesper besar Dior menghiasi perutnya yang ramping.


“Anda sudah kehilangan sopan santun? Ini masih jam buka tempat usaha kami. Jangan menakuti para klien kami,” suaranya terdengar dingin begitupula dengan tatapannya.


“Rita Sayang.. Begini kamu menyambut Abang??” tangan Tuan Thakur terbuka, berharap pelukan dari Rita.


Rita mendengus kemudian tersenyum miring.


“Tidak usah berpura-pura, Bang. Hubungan kita sudah tidak lagi sama sejak kemarin malam!”


Tuan Thakur terkekeh. Begitu pula anak buahnya.


Rita menatap nyalang pada anak buah Tuan Thakur.


“KAMU!” Rita menunjuk pada anak buah Tuan Thakur, “SAYA GAK ADA URUSAN SAMA KAMU!”


Anak buah Tuan Thakur langsung terdiam. Tuan Thakur kian terbahak.


“Galak amat, Babe. Tapi Abang suka. Makin suka.”


“Cih!” Rita berdecih dan membuang muka.


Tuan Thakur kian tergelak. Dia maju mendekati Rita lalu menjawil dagunya, “Cantik.”


Rita mundur dengan tatapan marah.


“Anda salah kalau Anda mengira bisa meneror saya. Saya pemegang kekuasaan tertinggi dunia malam di Pulau Batam sekarang. Jangan kira saya tidak punya anak buah yang bisa melindungi saya.”


Tuan Thakur mendadak terdiam. Matanya nyalang memandang Rita.


“Kekuasaan milik Ferdi.”


“Saya istrinya.”


“Ferdi sebentar lagi mati. Tuntutan hukuman mati pasti dialamatkan oleh pengadilan Singapura.”


“Dan saya akan menjadi jandanya yang mewarisi kekuasaannya.”


.


***


Babang Agung kenapa? Tolongin dong!


Biarin aja Rita dan Tuan Thakur berebut kekuasaan, jangan ada yang misahin!