
“Di bawah, orang ramai membahas kejadian di The Ritz dan Pak Jenderal,” Indra membuka percakapan.
“TV juga menayangkan Prince Zuko lagi,” ucap Leon dengan suara rendah.
Suasana menjadi serius sekarang.
“Para orangtua tahu aksi Kuping Merah?” tanya Anton.
Leon mengangguk.
“Daddy memberitahu sekilas. Tapi gue sudah mengingatkan semua untuk tidak membahas Kuping Merah di tempat publik. Para orangtua setuju.”
“Jadi besok bagaimana?” tanya Adisti.
“Kita spill Tuan Thakur dari bahan meeting kita di Sanjaya Group sewaktu bahas Rita Gunaldi,” jawab Bramasta.
Semua mengangguk setuju. Bahannya sudah ada dari Shadow Team, jadi tugas Anton menjadi jauh lebih ringan.
“Di medsos juga banjir simpati untuk Agung. Pasca identitas korban peluru nyasar terkuak. The Good Man at the wrong place and time _Orang Baik di waktu dan tempat yang salah_, gelar yang mereka sematkan kepada Agung,” Indra menjelaskan.
“Kita gali lagi simpati publik agar kasus ini tidak berhenti di tengah jalan, kita release saja video CCTV dari gerai donat. Bagaimana?" usul Hans.
"Menggunakan simpati netizen untuk mengawasi jalannya pemeriksaan dan persidangan agar berlangsung adil,” Bramasta mengangguk mengerti.
Semua setuju dengan usul Hans.
“Dengan syarat, Adinda harus dilindungi. Jangan sampai identitas Adinda sebagai korban diketahui publik,” Adisti menegakkan punggungnya, “Para berandalan harus diberi peringatan dulu untuk tidak membuka siapa korban mereka.”
Semua mengangguk.
“Tugas Shadow Team ya Bang,” kata Anton kepada Hans.
Hans mengangguk.
“Lagipula Agung sudah berjanji pada Adinda untuk merahasiakan kejadian yang terjadi dari ibu tirinya,” ucap Hans.
“Kita spill Tuan Thakur di burung biru saja ya?” Anton mengusulkan, “Pasca Prince Zuko mengambil alih siaran TV, pasti orang-orang IT stasiun TV langsung membuat blokade baru untuk mencegah kejadian tersebut terulang lagi.”
“Gak bisa masuk lagi?” tanya Leon.
“Bisa, tapi butuh waktu lama. Tadi Prince Zuko menguasai siaran lebih dari 30 menit, khawatirnya kalau dipakai masuk lagi mereka sudah memasang jebakan mailware ataupun virus,” Anton membuka medsos berlogo burung biru, “Belum lagi dari pihak cyber crime yang pasti langsung turun tangan menyelidiki asal usul Prince Zuko.”
“OK, jadi tadi untuk yang pertama dan terakhir Prince Zuko tampil di TV ya,” Indra berkata dengan suara rendah.
“Keempat berandalan bagaimana?” tanya Leon.
“Lima. Jangan lupakan Ivan, dedengkot berandalan tersebut," Bramasta mengingatkan.
“Oh iya ya.. lima.”
“Beri peringatan kepada mereka sepulang sekolah saja supaya tidak mengganggu waktu belajar mereka. Lebih mudah bagi Shadow Team untuk bergerak juga,” usul Indra.
Hans mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas lututnya, tanda ia sedang berpikir. Kemudian mengangguk.
Dia membuka gawainya. Mengirimkan 2 rekaman CCTV dari gerai donat kepada Shadow Team.
Lalu mengetik chat perintah:
_Cari keempat berandalan ini besok di SMA XX , sekaligus ketua gank mereka yang bernama Ivan. Beri peringatan setelah sekolah usai kepada mereka untuk tidak pernah membocorkan identitas korban kepada siapapun. Pesan peringatan yang jelas untuk mereka_
Tak berapa lama, pesan balasan dari anggota Shadow Team dibaca oleh Hans,
_Mengerti Pak. Laksanakan_
10 menit kemudian, data-data para berandalan berikut data orangtuanya sudah ada dalam laporan Shadow Team kepada Hans lewat email.
Hans tersenyum puas dengan kinerja anak buahnya. Anton yang duduk di samping Hans ikut membaca laporan Shadow Team dan berkomentar, “Wow, keren!”
“Terus malam ini bagaimana?” tanya Leon.
“Ndra, tolong check in kamar yang tempo hari dipakai gue dan Disti ya,” Bramasta memandang Indra yang langsung menganggukkan kepala.
“Yakinkan juga Ayah dan Bunda untuk beristirahat di rumah saja supaya lebih tenang,” Bramasta memandang istrinya, “Malam ini gue sama Disti menginap di rumah sakit.”
“Tadi juga Daddy dan Om Dhani menyarankan seperti itu pada Ayah dan Bunda,” kata Leon.
“Terus Ayah dan Bunda bagaimana?" tanya Adisti.
“Masih belum menjawab.”
“Ayah sedang kurang sehat,” kata Adisti, “Tadi pagi Kakak memberitahu lewat chat.”
“Apalagi Ayah sedang kurang sehat. Nanti malah jadi semakin sakit,” gumam Bramasta.
Indra mengangguk, “Nanti gue bicarakan dengan Ayah dan Bunda.”
“Disti juga..”
Bramasta mengangguk.
***
13.48
Lobby Rumah Sakit
Anton yang tengah membeli kopi di gerai kopi bawah mengernyitkan dahinya saat melihat seorang ber-hoodie kuning dengan rok seragam abu-abu melintas di depan gerai.
Anton meninggalkan antriannya sambil berkata, “Nanti saya ambil ya Mbak. Saya sedang ada urusan dulu.”
Tanpa menunggu jawaban dari petugas kopi, dia berlalu dari gerai kopi mengejar langkah si Hoodie Kuning. Toh kopinya sudah ia bayar saat memesannya.
“Hey kamu, berhenti! Yang pakai hoodie kuning!” seru Anton.
Gadis itu tampak celingukan. Berhenti lalu memutar tubuhnya. Menatap Anton dengan bingung.
Anton mendekat dengan langkah lebar. Dia membungkukkan tubuhnya mengamati wajah si Hoodie Kuning yang menyembunyikan sebagian besar wajahnya di dalam hoodie-nya.
“Kamu Adinda kan?”
“Anak SMA XX?”
“Kakak siapa?”
Anton hampir saja tertawa saat mendengar gadis itu memanggilnya kakak.
“Saya temannya Bang Agung.”
Gadis itu terperangah lagi namun kali ini matanya berbinar.
“Benar Kakak temannya Om Agung?” nada suaranya terdengar gembira.
Anton mengangguk, dia tidak dapat menyembunyikan senyum lebarnya saat mendengar gadis itu menyebut Agung dengan panggilan Om sementara dirinya disebut dengan panggilan Kakak.
“Kakak tahu darimana tentang saya?”
“Bang Agung kemarin menceritakan tentang kamu dan kejadian di gerai donat.”
“Ah.. iya,” Gadis itu menunduk.
“Kamu sakit? Sedang berobat di rumah sakit ini?” tanya Anton.
Gadis itu menggeleng.
“Lalu?”
“Saya ingin tahu kondisi Om Agung. Om Agung orang baik, sangat baik malahan.”
“Kamu mengkhawatirkan Bang Agung?”
Gadis itu mengangguk.
“Hanya keluarga yang boleh menjenguknya. Tapi kita bisa melihatnya dari jendela ruang ICCU. Kamu mau lihat?”
“Mau Kak!” Gadis itu terlihat senang sekali, “Eh, benar Kak?”
Anton mengangguk. Sejenak dia terkesima dengan ekspresi Adinda.
[Itu sebabnya Agung jatuh cinta pada gadis ini. Tapi sayangnya, Agung belum menyadari perasaannya] Anton menatap mata gadis itu.
“Saya ambil kopi saya dulu ya. Kamu mau kopi?”
Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. Dan lagi-lagi Anton dibuat terkesima.
[Ya Allah, kuatkan hamba supaya tidak jatuh cinta juga pada gadis ini]
Saat berada di gerai kopi, Agung mengirim pesan chat di WAG Kuping Merah.
Anton_Gue ketemu Adinda di bawah. Dia ingin tahu kondisi Agung_
Indra_Bawa kemari_
Anton membelikan camilan untuk Adinda karena dia tahu Adinda pasti belum makan siang.
“Yuk,” ajaknya menuju shaft lift. Dia menekan angka 3 pada panel tombol di dalam lift.
Mereka tidak berbicara di dalam lift, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Adinda merasa canggung dengan lelaki tampan mirip personil BTS yang ia baru kenal tadi.
Ruang tunggu ICCU tampak ramai karena memang masih jam bezuk. Anton berjalan menuju sofa yang menempel di dinding. Indra melambai ke arah mereka.
“Siapa yang ada di dalam?” tanya Anton.
“Bramasta dan Adisti.”
“Lu udah ke dalam, Bro?” tanya Agung.
“Udah.”
“Terus?”
“Masih belum bereaksi. Kata perawat yang di sana, terus saja diajak bicara karena Agung masih bisa mendengar kita. Siapa tahu dengan mendengar suara kita dapat mempercepat kesadarannya untuk pulih.”
Adinda yang ada di sebelah Anton terkesiap.
“Om Agung masih belum sadar?” air matanya meloncat keluar dari sudut matanya.
“Eh, gue lupa. Ini Adinda, Adinda ini Bang Indra, sekretarisnya Bos Bramasta.”
Adinda mengangguk. Indra memperhatikan Adinda.
“Assalamu’alaikum Pak Indra. Ma’af saya mengganggu.”
Anton terkekeh saat melihat Indra terperangah dipanggil Bapak.
“Kak, katanya bisa melihat Om Agung dari jendela. Jendelanya di mana?”
Indra meringis menatap Anton. Dia tidak terima Anton dipanggil Kakak sementara dirinya dipanggil Bapak.
“Stay calm, Bro. Umur dan wajah memang tidak membohongi..” gumam Anton pelan kepada Indra. Indra menatap geram kepada Anton.
“Di sana. Tapi sekarang jendelanya ditutup untuk menjaga privasi terutama saat jam bezuk seperti ini,” Anton menunjuk pada dinding kaca.
“Saya tidak bisa melihat Om Agung, dong?” Adinda terdengar sedih.
“Kamu berdiri saja di dekat jendela, nanti saya hubungi Bramasta untuk membuka tirainya,” kata Indra.
“Baik Pak, terima kasih banyak,” Adinda membungkukkan tubuhnya sebelum berlari kecil menghampiri jendela yang tertutup.
Anton mengikuti dari belakang sambil terkekeh.
.
***
Babang Anton, ada rasa juga ke Adinda?
Wiiih.. cakep banget kayaknya ya Adinda..