
Semua orang bergumam kagum melihat rekaman video tersebut.
Ayah menggenggam tangan Agung. Lalu menghampiri Bramasta dan memeluk erat sambil terisak.
“Terimakasih, Nak. Terimakasih banyak sudah menyelamatkan Adisti.”
Bramasta tampak tergagap tidak siap menerima pelukan si Ayah.
Anton menyenggol bahu Indra sambil mengode dengan alis yang turun naik. Bibirnya tersenyum lebar. Indra pura-pura tidak melihatnya.
“Saya cuma kebetulan sedang berada di lokasi, Pak.”
“Terimakasih, Nak. Alhamdulillah, Adisti selalu dikelilingi orang baik selama masa sulitnya. Maaf jadi menyusahkan kalian semua.”
“Gak usah sungkan, Pak. Kami hanya menjalankan kewajiban kami untuk menolong,” Bramasta menepuk-nepuk punggung Ayah Agung.
“Nak, bagaimana Adisti bisa terjatuh?”
“Kita ngobrol di kafetaria saja ya Pak. Gak enak kita gaduh di ruang tunggu ini. Kita semua juga sudah lapar kan?” Bramasta mempersilahkan Ayah Agung untuk berjalan ke arah kafetaria rumah sakit. Yang lainnya mendesah lega sambil memegang perut mereka yang keroncongan.
Baru beberapa langkah mereka berjalan. Pintu UGD terbuka, seorang perawat muncul dengan terburu-buru, “Keluarga Adisti..”
Langkah mereka terhenti. Menengok bersamaan ke arah perawat.
“Keluarga pasien yang menunggui pasien Adisti, pingsan.”
“HAH??” suara kaget terdengar.
Agung dan Ayahnya bergegas masuk ke dalam ruang UGD.
“Kalian duluan ke kafetaria. Nanti gue menyusul,” kata Bramasta kepada Indra. Indra mengangguk.
Bramasta berjalan menuju loket rawat inap. Tampak berbicara dengan petugas di sana yang langsung tersenyum ramah setelah Bramasta berbicara sambil memberikan kartu kreditnya. Mengetik sesuatu lalu menyerahkan berkas kepada Bramasta. Bramasta mengangguk lalu mengambil kembali kartu kreditnya. Ia berjalan kembali menuju UGD sambil membawa berkas dari petugas tadi.
“Suster, kamar yang saya pesankan untuk Pasien Adisti saya ganti. Sepertinya sudah siap kamarnya saat ini juga. Ibunya biar dirawat juga di kamar yang sama ya Sus. Bisa kan?” Bramasta berbicara sambil tersenyum.
Suster segera membaca berkas tersebut. Lalu menjawab dengan sigap dan ramah.
“Oh iya Pak. Segera kami pindahkan Pasien Adisti dan ibunya ke ruangannya.”
Bramasta mendekati Agung dan Ayahnya.
“Ibu bagaimana keadaannya?” tanya Bramasta.
“Kelelahan secara emosi, kata dokter jaga begitu,” jawab Agung.
“Adisti sudah bisa pindah ke kamar rawat inapnya sekarang. Ibu supaya beristirahat juga di kamar Andisti ya,” kata Bramasta.
“Nak, terimakasih banyak sudah menolong Adisti hingga sejauh ini,” Ayah memandang Bramasta dengan penuh haru. Kesedihan dan kelelahan di wajahnya tampak makin berlipat.
Bramasta tersenyum ramah kepada Ayahnya Agung.
“Tidak perlu sungkan, Pak.”
“Pak,” suara Agung bergetar menahan emosi. Dia tahu dia tidak bisa ber-elu gue dengan sosok di hadapannya. Berbeda dengan saat ia berhadapan dengan Indra. Mendengar tidak langsung penjelasan Indra tentang Bramasta yang menjadi bosnya dan juga pemilik lahan tempat jatuhnya Adisti, membuat Agung sadar bahwa pria yang ada di hadapannya bukanlah pria biasa.
“Terimakasih banyak, Pak Bram,” tangannya memegang erat lengan Bramasta lalu menarik tubuhnya untuk dipeluk erat. Bramasta tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Agung.
Suara suster membuyarkan mereka.
Seorang perawat pria mendorong bed Adisti dibantu dengan perawat wanita. Ibu Agung sudah sadarkan diri dan didorong memakai kursi roda pasien. Mereka memasuki lift khusus untuk ruang paling atas. Andisti dengan bednya di lift pasien sedangkan yang lainnya di lift pengunjung.
Lift berhenti di hall beratap kaca dan berkarpet tebal. Suasana di sana hening dan tidak ada orang yang berlalu lalang tetapi tidak menakutkan. Beberapa meja lebar berkaki rendah dikelilingi sofa-sofa nyaman. Aquarium besar tampak di beberapa tempat. Bayang-bayang cahaya warna-warni dari sinar matahari yang diteruskan oleh kaca patri warna berpola bunga aneka warna membuat semarak ruang tunggu itu dengan cara yang mewah.
Agung dan Ayah saling berpandangan.
“Gung, kita ada dimana?” bisik Ayah.
“Rumah sakit, Yah,” jawab Agung sambil berbisik juga.
“Tapi kok ini seperti di lobby hotel mewah. Berapa harga kamar per harinya, Gung? Ayah takut kita gak sanggup bayar biaya rawat inapnya,” suara bisik Ayah makin pelan.
“Nanti Agung cek, Yah.”
Ada petugas security berbaju batik tersenyum menyambut. Dia membantu membuka pintu kaca besar ber-frame warna emas mengkilat. Di atas pintu kaca tertulis VIP Area. Ayah menyenggol lengan anaknya dan menunjuk dengan menggunakan dagunya ke arah tulisan. Kedua alis Agung terangkat.
Bed berhenti di sebuah pintu kayu berpelitur indah yang tidak menutupi gurat-gurat kayu. Ada lubang kaca memanjang pada pintunya. Pintu ganda itu dibuka, bed didorong masuk. Ayah, Bunda dan Agung terbelalak melihat isi ruangan. Lebih mirip dengan apartemen daripada ruang rawat inap rumah sakit.
Seorang perawat menerangkan tentang ruang-ruang dan fasilitas dalam ruangan tersebut. Mirip dengan touring room. Ada bed ukuran nomor 3 untuk keluarga. Ada sofa yang bisa dijadikan bed juga. Ruang tamu dengan sofa U yang nyaman juga pantry kecil dengan peralatan modern serba listrik. Kamar mandinya pun modern dengan sanitair yang mewah.
Para perawat meninggalkan ruangan. Lamat-lamat terdengan suara adzan Dzhuhur dari masjid dekat rumah sakit. Ayah mengajak Bramasta untuk sholat berjamaah.
“Di lobby lantai ini ada mushola,” Bramasta menerangkan, “Mau sholat di sini atau di mushola saja, Pak?”
“Di sini saja, Nak. Bapak tidak tenang kalau jauh dari Adisti yang masih belum sadarkan diri,” kata Ayah.
Bramasta mengangguk. Dia menunjuk pada salah satu sudut plafon gypsum, ada stiker berbentuk tanda panah dan bertuliskan arah kiblat.
“Kiblatnya ke sana, Pak.”
Ayah mengangguk sambil tersenyum, “Gung, ayo ambil wudhu.”
Ayah mengajak Bramasta duduk di sofa U.
“Nak, maaf, kamar ini terlalu mewah buat kami. Kami akan pindah ke ruang rawat inap biasa saja, ya,” Ayah menatap Bramasta.
Bramasta tersenyum.
“Saya merasa bertanggung jawab dengan kejadian ini, Pak. Lokasi tempat jatuhnya Adisti berada di property milik saya. Karena baru saya beli sebulan lalu, saya belum sempat berbenah karena masih menunggu legalitasnya selesai. Saya belum membuat pintu gerbang untuk mencegah yang tidak berkepentingan memasuki property saya. Saya juga belum memasang pagar pengaman pada tepi jurang,” raut wajah Bramasta tampak serius dan penuh penyesalan, “Sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai pemilik, semua biaya pengobatan dan perawatan Adisti di rumah sakit ini akan saya tanggung.”
“Masyaa Allah..” Ayah memandang tidak percaya pada Bramasta, “Tapi bagaimanapun ini kesalahan Adisti, Nak. Dia memasuki property orang lain tanpa ijin.”
“Lagi pula rasanya terlalu berlebihan untuk kami dengan ruang rawat VIP ini,” kata Agung sambil duduk di samping ayahnya.
“Tolong terima saja ya A, Pak,” kedua telapak tangan Bramasta menangkup di depan dadanya.
Ayah menghela nafas lega.
“Nak Bram sudah banyak membantu. Omong-omong, apa yang sedang dilakukan Adisti di sana? Dengan siapa dia di sana?” tanya Ayah.
“Dari laporan Indra dan Anton yang membenahi barang-barang Adisti, dia datang sendirian dan datang untuk melukis. Lukisannya belum selesai. Baru membuat sketsa awal dan mewarnai langit sebagai background utamanya. Coba cek tas Andisti yang tadi dibawa Anton,” kata Bramasta.
Agung mengambil buku sketsa yang ada di dalam tas Andisti, lalu menunjukkan kepada ayahnya. Ayahnya mengangguk lalu bergeser gelisah sambil meremat jemarinya,
“Adisti… dia terjatuh atau melompat ke jurang?”