CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 23 – THE CLIFF



“Hotel?” Agung menebak.


Bramasta menggeleng, “Tidak boleh ada bangunan permanen di tempat ini. Terlalu sempit dan berbahaya untuk bangunan permanen di sini. Mengingat area Lembang adalah area patahan bumi yang aktif. Dan site ini terletak di tebing yang tidak terlalu luas.”


Bramasta membuka gulungan blue print, lalu dilebarkan pada kap mobilnya. Dibantu Agung yang menahan kertas berukuran A2 itu agar tidak menggulung, Bramasta menggunakan handphone dan kunci mobilnya untuk menahan kertas.


“Ini rencana pembangunannya,” kata Bramasta menunjuk gambar tampak muka bangunan. Tidak tampak seperti bangunan pada umumnya. Hanya terlihat garis-garis miring dan konfigurasi baja dan beton. Beberapa bentukan bersudut seperti layar perahu pada bagian atasnya.


Semua menggeleng melihat gambar pada blue print tersebut. Bramasta tertawa. Lalu berseru memanggil Indra. Indra yang sedang berdiri memperhatikan para pekerja memotong baja, menghampiri mereka.


“Bawa laptop gak? Mau lihat gambar 3D-nya.”


Indra mengambil laptop di mobilnya. Lalu menyerahkannya pada Bramasta.


“Susah dimengerti ya gambarnya. Sama. Saya juga awalnya tidak mengerti dengan garis-garis miring seperti itu. Daya imajinasi Anton dan timnya memang luar biasa,” kata Indra.


Bramasta membuka file yang berjudul The Cliff_Tebing_.


Layar laptop dipenuhi tulisan The Cliff dan B Group sebagai pembuka. Ada musik latarnya. Kemudian layar berganti berubah menjadi tampilan seperti peta satelit. Menunjuk lokasi The Cliff pada peta yang semakin membesar dan semakin jelas, lokasi tempat mereka sekarang ini.


Kamera bergerak di atas lahan dengan bangunan beratap putih seperti potongan-potongan kain yang tiap ujungnya ditarik dengan sudut dan ketinggian yang berbeda.


“Itu atapnya. Anton mendesain atap membran tenda untuk kesan ringan, unik dan elegan. Bentukan atap dan tebing yang menjulang di belakangnya nanti akan menjadi ikon The Cliff.”


Kamera menurun. Memperlihatkan tampak muka The Cliff. Semuanya terkesiap.


“Bang, keren banget,” kata Adisti.


“Disti suka?” tanya Bramasta. Adisti tersenyum mengangguk. Indra berdehem sambil tersenyum lebar.


Kamera bergerak mengikuti alur pembagian ruang. Seolah menjadi pengunjung The Cliff, menyusuri entrance, ada kolam kecil bergaya Bali, yang membagi 3 arah untuk memasuki bangunan. Ada undakan kemudian lantai batu luas, ada dinding rendah batu yang melingkar, ada undakan lagi untuk lantai datar berikutnya.


“Konsepnya open space,” Bramasta mengarahkan cursor mousenya, “Ini animasi The Cliff dengan furniture dan lampunya.”


Bangunan The Cliff pada malam hari dengan lampu-lampu berwarna jingga kekuningan dan meja-meja panjang dan meja persegi berikut kursi-kursinya.


“Masyaa Allah, bagus banget. Ini, luar biasa..” Bunda menatap kagum.


“Café & Resto?” tanya Agung.


Bramasta mengangguk. “Rencananya ini café & resto untuk keluarga. Ada tempat nature play ground juga buat anak-anak. Buat remaja dan dewasanya juga kita manfaatkan tebing di belakang untuk belajar panjat tebing.”


“Aman bagi pemanjat pemula?” tanya Ayah.


“Insyaa Allah aman, Pak. Kami sudah cek kemiringan dan bebatuan tebingnya.”


Ayah, Bunda dan Agung masih sangat antusias dengan video animasi. Indra menjelaskan kepada mereka. Bramasta mengajak Adisti ke tempat dulu Adisti duduk berlutut saat pertama kali Bramasta melihatnya.


“Kita kesana lagi. Coba duduk dengan posisi yang sama seperti waktu itu. Dan lihat sekitarnya. Siapa tahu Disti bisa mengingat lagi apa yang membuat Disti nekat menuruni tebing batu,” kata Bramasta.


“Hati-hati ya Dek,” kata Bunda. Disti mengangguk.


“Repot ya tangan kirinya masih digendong begitu,” kata Bramasta sambil berjalan di samping Adisti. Mereka berjalan berdampingan saling menjaga jarak.


“Iya. Susah menjaga keseimbangan tubuh.”


“Hati-hati jalannya.”


Mereka berdua duduk di tepian. Masih dalam jarak aman. Agung memperhatikan adiknya dan Bramasta dari kejauhan. Kemudian melihat layar laptop lagi.


“Apa yang membuat Disti masuk ke dalam site ini pada waktu itu?’ tanya Bramasta.


“Mau jawaban jujur?” Bramasta mengangguk.


“Tapi jangan bilang ke Ayah, Bunda ataupun Kakak ya.” Bramasta mengangguk lagi.


“Disti capek,” Disti memeluk lututnya, dagunya diletakkan di atas kedua lututnya, “Capek diperlakukan seperti orang yang harus dijaga perasaanya. Capek karena dikhawatirkan terus-menerus. Dan capek dikasihani.”


Bramasta tidak berkata apapun. Dia hanya mendengarkan sambil sesekali melirik ke Adisti.


“Sudah takdirnya, pertunangan dan pernikahan Disti batal. Disti gak apa-apa,” Disti menjelaskan,”Maksudnya, Disti sudah menerima itu semua sebagai suratan takdir yang harus Disti jalani. Disti tidak ingin dikasihani dan dianggap lemah. Itu saja.”


Bramasta meluruskan kakinya. Duduk berselonjor. Ujung sepatunya berada di atas jurang.


“Disti butuh tempat untuk melarikan diri dari semua perasaan itu yang membebani Disti. Bayang-bayang kejadian di fitting room itu unforgettable _tak bisa dilupakan_. Belum lagi rasanya dikhianati menjelang hari H. Menerima suratan takdir tapi bayang-bayang tersebut terkadang masih menghantui.”


Bramasta masih diam saja karena dia tidak pernah merasakan apa yang Adisti alami.


“Disti menemukan tempat ini, terpesona dengan pemandangan yang ada. Tempat ini paket komplit untuk refreshing, healing dan escaping.”


“Wah, boleh juga tuh kalimat terakhir. Bisa dipakai untuk jargon tempat ini,” kata Bramasta menatap Disti. Disti menoleh pada Bramasta dan tertawa.


“Waktu itu, Disti berteriak memaki Tiyo dan perempuan itu di sini. Di tebing ini. Rasanya puas banget. Rasanya seperti terbebas dari himpitan bayang-bayang mereka di fitting room.”


Alis Bramasta terangkat sebelah, “Disti bisa memaki?”


“Bila diperlukan Bang. Gebrak meja juga berani.”


“Waduh, Abang jadi takut nih.”


“Takut apa?”


“Disti galak.”


“Kalau gak galak, Disti bakal klemar-klemer dengan Tiyo, Bang.”


Bramasta memalingkan pandangannya dan senyumannya menghilang. Dia tidak suka membayangkan Adisti bersikap klemar-klemer kepada Tiyo.


Mereka terdiam beberapa saat. Disti merasa tidak enak hati pada Bramasta.


“Sepatu Abang bagus. Keren.”


Bramasta menggoyangkan sepatunya, “Oleh-oleh Kak Layla sewaktu dia dan suaminya bulan madu ke Swiss.”


Adisti mengangkat kepalanya. Melihat gunung-gunung yang jauh di sana. Melihat hamparan kebun dan kubah-kubah green house di bawah tebing. Kemudian matanya menyapu sekelilingnya. Tanaman di sekitar tebing. Tatapannya terpaku pada pohon bonsai yang tumbuh di atas batuan yang menjorok ke arah jurang. Matanya terfokus pada retakan batu yang dililit akar bonsai itu. Sensasi déjà vu melanda. Telinganya berdenging keras. Kepalanya terasa sakit luar biasa. Adisti menjerit menahan sakit di kepalanya. Tangan kanannya memegangi kepalanya. Memukul-mukul kepalanya. Tubuhnya merunduk.


Bramasta yang duduk di sebelahnya langsung menyentuh kedua lengan Adisti. Mengajaknya untuk berdiri.


“Kenapa? Ada apa?!”


“Sakit. Sakiiiit!”


“Sakiiiiit. Sakit banget!”


“Sssshh tenang, Disti tenang dulu. Istighfar sambil tarik nafas dalam, buang perlahan.”


“Saakiiiiit,” Adisti menyurukkan kepalanya ke dada Bramasta. Membentur-benturkan kepalanya ke dada Bramasta. Bramasta terhuyung. Dia melihat Agung dan Indra berlari menghampiri. Nafas Adisti tersengal.


“Adek kenapa Bang?”


“Gak tahu, tiba-tiba katanya sakit kepalanya.”


“Adik lu punya asma, Gung? Bawa inhallernya gak?”


“Nggak, Adek gak punya riwayat asma.”


Bramasta memijat di daerah tengkuk Adisti.


“Disti dengar Abang?” Disti mengangguk.


“Bernafas yang benar. Jangan panik. Jangan khawatir. Ada Abang, A Agung, Bang Indra, Ayah dan Bunda di sini. Jangan panik. Ssssh…”


Ayah dan Bunda menghampiri dengan cemas.


“Bawa ke rumah sakit saja, Nak Bram?”


Disti mencengkeram baju bagian depan Bramasta. Dia menggeleng.


“Ini sudah berangsur mereda. Tapi masih sakit. Telinganya juga sakit,” Disti membenturkan kepalanya lagi ke dada Bramasta.


Bramasta memijat titik di belakang telinga Adisti. Menekannya dengan lembut selama 3 detik, lalu dilepaskan. Berulang-ulang.


“Masih sakit?”


“Sudah tidak sesakit tadi,” Adisti memegangi tengkuknya. Dia tersadar ada dalam pelukan Bramasta. Segera dia melangkah mundur dengan wajah memerah, “Maaf..”, memandang Bramasta lalu menunduk.


Bramasta merasa serba salah.


“Disti ingat kenapa Disti turun ke tebing,” Adisti memutar tubuhnya menghadap ke jurang, “Itu. Karena itu.”


“Apa?” semuanya bertanya.


“Pohon bonsai itu. Yang tumbuh di atas retakan batu yang menjorok ke arah jurang. Disti berniat mengambil bonsai itu untuk Ayah,” Disti menoleh ke ayahnya.


“Kenapa Dek? Kenapa Adek membahayakan keselamatan Adek sendiri untuk mengambil bonsai itu?”


“Adek ingin memberikan sesuatu yang indah buat Ayah. Ayah yang selama ini selalu membesarkan hati Adek.”


“Bukan cuma Ayah, Dek. Bunda dan Kakak juga,” kata Ayah.


Adisti memeluk Ayah, “Maafkan Adek, Ayah. Maafkan. Maaf membuat kalian semua susah karena Adek.”


Bunda memeluk Adisti. Dia mengerti perasaan Adisti. Sejak dia lahir, selalu menjadi tuan puteri bagi ayahnya.


“Dek, pohon bonsai itu kan susah diambilnya tanpa alat. Minimal linggis. Kok bisa sih Adek kepikiran buat ngambil bonsai itu?” Agung menatap lekat pohon bonsai itu.


“Waktu itu gak kepikiran buat bawa alat. Kayak yang mudah ngambilnya. Karena tumbuh di retakan batu, kirain tinggal comot aja…” Adisti menatap pohon bonsai itu dengan tatapan sedih.


“Dasar cewek..” Indra bergumam. Adisti menoleh ke arahnya.


“Iya, Bang.. Adisti mengaku salah..” Adisti menunduk.


Bramasta berdehem. Dia berbalik menghadap ke Ayah dan Bunda.


“Pak dan Bu Gumilar, maafkan saya. Saya tadi tidak bermaksud untuk memeluk dan menyentuh anak gadis Bapak dan Ibu.”


Ayah dan Bunda tertegun. Lalu mengangguk.


“Kami mengerti, Nak Bram,” kata Ayah.


“Tapi kejadian seperti tadi sudah beberapa kali terjadi,” Bramasta berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang, lalu menambahkan dengan cepat, “Jadi, tolong ijinkan saya untuk melindungi, menjaga, mengkhawatirkan, membahagiakan dan membimbing anak gadis Bapak dan Ibu.”


Bramasta menatap Ayah dan Bunda dengan pandangan bersungguh-sungguh. Bunda mengeratkan pegangannya pada lengan Ayah.


“Ijinkan saya, Bramasta Sanjaya, menikahi putri Bapak dan Ibu Gumilar, Adisti Maharani.”


Suasana mendadak sunyi. Tidak terdengar suara bor, tidak terdengar suara gerinda pemotong baja, tidak terdengar suara bulldozer, juga tidak terdengar deru mesin genset. Hanya terdengar suara desau angin.


Bramasta memegang dadanya, “Ini hal yang baru bagi saya. Perasaan yang baru saya rasakan. Saya tidak pandai berkata-kata untuk mengungkapkan perasaan saya. Tapi ijinkan saya untuk menghalalkan putri Bapak dan Ibu menjadi istri saya, pasangan saya hingga jannah nanti. Ijinkan saya menyempurnakan separuh agama saya dengan menikahi putri Bapak dan Ibu.”


Ayah menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Melangkah mendekati Bramasta. Memeluk Bramasta dan menangis haru. Bunda mendekati dan memeluk Bramasta. Ikut menangis bersama Ayah. Agung menyeka air matanya. Indra yang berdiri di dekatnya pun sama. Adisti menahan isaknya dengan menutupi mulutnya. Pipinya sudah basah dari tadi. Bahunya berguncang karena isakan.


“Malam ini, insyaa Allah kedua orangtua saya akan datang ke rumah Bapak dan Ibu untuk melamar secara resmi.”


Ayah mengangguk.


“Adek bersedia menerima lamaran Abang Bramasta?” tanya Agung sambil merangkul adiknya. Menenangkan dari isak tangisnya.


Adisti tidak menjawab, dia memandang ke arah Ayah dan Bunda lalu memandang Bramasta yang tengah menatapnya menanti jawaban.


Bramasta melangkah mendekati Adisti.


“Disti, Abang belum pernah jatuh cinta sebelum ini. Abang juga belum pernah pacaran. Orang bilang, Abang itu cupu. Tapi Abang gak peduli dengan perkataan atau pikiran orang, karena Abang tidak mau tergelincir,” Bramasta memandang lekat mata coklat kopi milik Adisti, “Jadi, mau kan Adisti pacaran dengan Abang setelah kita menikah nanti?”


Adisti menyeka air matanya dengan kasar. Dia balas menatap Bramasta sambil menangis dan tertawa bersamaan.


“Abang kenapa kalimatnya ajaib sih?” Adisti menyeka hidungnya.


“Jadi, mau nggak?” Bramasta tersenyum lebar melihat Adisti tertawa.


Adisti menatap Bramasta. Mencari kesungguhan di matanya. Lalu mengangguk.


“Alhamdulillah..” Bramasta mengusap wajahnya.


Semuanya tertawa.


“Hhhh! Lamaran macam apa itu. Aneh banget kalimatnya,” ujar Indra sambil geleng-geleng kepala. Dari kejauhan ia melihat Anton mengacungkan kameranya dan ibu jarinya. Indra balas mengacungkan kedua jempolnya sambil tertawa.


Catatan Kecil:


Deja vu adalah suatu kondisi dimana kita mengalami situasi yang familiar dengan kondisi sekitar kita, seolah-olah kita sudah pernah mengalami hal tersebut. Merupakan frasa serapan dari bahasa Prancis.