CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 123 – AKSI THE SHADOW TEAM



Adinda pamit kepada para orangtua.


“Saya pulang dulu, Daddy, Mommy, Ayah, Bunda, Om dan Tante Dhani. Terima kasih sudah membuat saya merasa punya keluarga lagi yang perhatian kepada saya,” Adinda salim kepada semuanya.


“Kamu tadi ke sini naik apa?” tanya Bu Dhani.


“Tadi naik angkot, Tante. Dari sekolah langsung kemari.”


Ibu Dhani mengangguk.


“Nanti pulang diantar supir saja ya. Kami cemas kalau kamu harus naik kendaraan umum di jam seperti sekarang ini.”


“Gak apa-apa Tante. Saya sudah terbiasa,” Adinda tersenyum.


“Sudah, menurut saja, Dinda. Supaya kami semua tidak cemas,” sergah Daddy.


“Tapi... saya... khawatir..” Adinda tampak gugup.


“Kenapa Sayang?” tanya Bunda.


“Saya khawatir Ibu sudah pulang dan melihat saya turun dari mobil mewah, nanti akan ada interogasi yang panjang dari Ibu dan teman laki-lakinya. Saya tidak mau nanti akan timbul hal-hal yang tiak diinginkan.”


“Seperti?” tanya Mommy.


“Menuduh saya terlibat dengan Om-om,” Adinda tertunduk.


“Astaghfirullah aladziim,” kata Bunda.


"OK deh. Boys..!” Mommy berseru kepada anggota Kuping Merah.


“Yes Mom..” kompak mereka menjawab.


“Kalian pakai mobil apa ke sini?”


“Saya pakai yang biasa saya pakai, Nyonya,” jawab Hans.


“Indra tadi nebeng Anton, Tante.”


“Aku pakai BMW putihnya Layla, Mom,” jawab Leon.


“Bram pakai Lexus.”


“Ah gak bisa pakai mobil kalian..” Mommy mengibaskan tangannya.


“Sudah saja pakai mobil yang dipakai kami saja, Mom,” kata Bunda, “Innova dan warnanya juga tida mencolok, hitam.”


“Nah.. akhirnya ada solusi..” Mommy tersenyum senang.


“Adinda mau pulang sekarang?” tanya Bunda.


Adinda mengangguk.


Bunda langsung membuat panggilan dengan supirnya.


“Assalamu’alaikum.. Pak, naik ke VIP 2 ya. Minta tolong antarkan Adinda pulang. Nanti Adinda membryitahu alamatnya ke Bapak. Sekarang ya Pak. Assalamu’alaikum..”


“Sana, pamit ke Abang-abang kamu, ke Teteh dan Om kamu..” kekeh Bund kepada Adinda.


Mommy dan Bu Dhani ikut terkekeh mendengar ucapan Bunda.


Adinda mengangguk lalu berjalan menghampiri bed.


“Abang semua, Teh Disti, dan Om Agung, saya pamit dulu..”


Adisti menghampiri Adinda, memeluk lalu mencium pipi kanan dan kirinya.


“Baik-baik ya. Ingat, jangan merasa sendiri lagi. Ada kami. Kamu punya keluarga baru sekarang.”


Adinda mengangguk dan tersenyum lebar. Dia berjalan menghampiri Agung. Mengulurkan tangannya kepada Agung.


“Mau apa?” tanya Agung menatap tangan Adinda.


"Mau pulang. Pamit. Salim dulu..”


“Iya.. tapi gak usah salim.”


“Kenapa?”


“Bukan mahram.”


“Tapi kan tadi katanya kita menjadi keluarga sekarang.”


“Iya.. tapi bukan berarti kita jadi mahram sekarang.”


“Gak boleh salim ya?’


“Iya..”


“Terus bagaimana pamitannya?”


“Ya pamit saja. Ngomong saja. Dadah-dadahan.”


“Udah gitu aja?”


“Iya.”


“Gak rame dong.”


“Biar rame, pas dadahnya lemparin mercon banting, Din,” kata Indra disambut tawa yang lainnya.


“Ya udah.. itu Pak Supirnya Bunda juga sudah ada. Saya pamit dulu Om. Istirahat ya Om, jangan banyak ketawa dulu nanti sakit lagi lukanya.”


“Iya. Thanks ya.”


“Adinda, nih,” Anton menyodorkan bungkusan kresek berlogo apotik di lantai bawah, “Ini salep untuk mengobati memar-memar kamu. Dipakai ya sebelum tidur.”


“Terimakasih banyak, Kak.”


“Adinda..” panggil Agung.


“Iya, ada apa Om?” Adinda berbalik menghadap Agung.


Adinda mengangguk sambil tersenyum lebar.


“Besok insyaa Allah saya akan kemari lagi, Om. Jangan bosan dengan saya ya.”


Agung tersenyum lebar.


Indra menyikut Hans dan Leon dengan senyum lebar. Anton, Bram dan Adisti tersenyum melihat Agung dan Adinda.


Sepeninggal Adinda, Indra langsung menepuk Hans.


“Suer, gue penasaran. Tapi tadi berhubung ada Adinda dan gak mau dia jadi punya imej yang jelek tentang kita, mending gue tahan..” Indra langsung berbicara nyerocos.


“Apaan?” Hans keheranan.


“Tuh berandalan lu apain aja? Cerita yang lengkap, Bro!”


Yang lainnya mengangguk setuju.


“The Shadow meringkus mereka saat mereka sedang berkumpul di warung yang menjadi base camp mereka. Formasi lengkap. Keempat berandalan dan ketua ganknya, Ivan. Juga para mantan yang berlagak seperti dayang-dayangnya,” Hans bercerita sambil menggosok rahangnya yang ditumbuhi cambang pendek.


“What?? Mantan jadi dayang-dayang?”


“Gue aja muak melihatnya. Masih berseragam putih abu tapi gayanya seperti raja minyak yang dikelilingi para gadis,” Hans bergidik, “Mereka duduk mengelilingi Ivan sambil menempelkan tubuh mereka ke Ivan.”


“Really? OMG!” Bramasta meringis.


“Kok bisa ya ada perempuan yang merendahkan dirinya sebegitu rendah kepada laki-laki yang pintar nggak, dewasa nggak, songong iya,” Adisti berkata dengan mata menerawang.


“Kebanggaan pastinya. Beberapa remaja labil yang memang tidak terdidik dengan baik di rumahnya mempunyai pemikiran yang somplak terhadap proud, solidarity and braveheart,” kata Anton.


“Contohnya, para remaja cewek, akan menjadi bangga apabila dipacari oleh ketua suatu kelompok, bahkan apabila diminta untuk gabruk-gabrukan juga mereka gak akan menolak. Gue yakin, gaya pacaran mereka itu udah kelewat batas,” Anton meringis memandang Indra, “Sorry, Bro. Gue pinjam istilah Lu, gabruk-gabrukan.”


“Lah, tapi kan mereka para mantan,” sergah Leon.


“Abang pernah dengar tentang “jatah mantan”, gak? Di Burung Biru sempat tuh heboh kicauan tentang jatah mantan. Beberapa hari si cewek mau menikah, kalau mantannya pengen gabruk-gabrukan lagi dengan dia sebagai kenang-kenangan, ya si ceweknya bakal ngasih jatah mantan. Tanpa sepengetahuan si calon suaminya tentu saja. Bahkan ada yang melakukan praktek jatah mantan hingga saat keduanya menikah,” Anton bersidekap.


“Na’udubillah mindzaalik,” semuanya bergumam.


“Iya.. gue juga pernah baca,” kata Indra.


“Gue juga..” kata Agung.


“Serusak itu ya anak muda jaman now?” Hans mengerutkan keningnya.


“Jangan mengeneralisir, Bang,” kata Adisti, “Tidak ada angka yang pasti tentang jumlah remaja yang brengs3k dengan remaja yang baik-baik. Mudah-mudahan yang jelek tidak menjadi fenomena gunung es.”


“Waduh.. nanti saat Andra abege bagaimana ini..” Hans terlihat cemas.


“Selalu do’akan yang terbaik dan dilindungi dari pengaruh buruk pergaulan dan teknologi,” kata Bramasta sambil menepuk pundak Hans.


“Lanjut lagi, Hans,” pinta Indra.


Hans mengangguk.


“Empat berandal itu tadinya tidak mengaku. Tapi setelah salah satu anggota The Shadow menunjukkan foto-foto hasil CCTV, mereka diam tak berkutik.”


“Kalian mengerjai mereka di warung itu?” tanya Anton.


“Ya nggaklah. Kita bawa mereka ke gudang sepi yang jauh dari penduduk.”


“How?”


“Dipancing dengan ajakan casting untuk syuting FTV,” Hans terkekeh.


“Semudah itu?” Indra memandang Hans dengan tidak percaya.


“Abege jaman now, menjadi famous adalah jalan ninja menuju kekayaan dan kemewahan selebriti,” Hans tersenyum lebar.


“Para ceweknya?” tanya Adisti.


“Gak diajak. Ini hanya untuk pemeran pria saja.”


“Terus?”


“Ya setelah sampai TKP, mereka kami intimidasi. Data-data mereka kami beberkan, termasuk keluarganya. Hingga akhirnya pertanyaan siapa yang menyuruh mengerjai Adinda di gang belakang gerai kopi.”


“Siapa?” tanya Agung.


“Bukan Ivan. Bahkan Ivan murka Adinda dilecehkan oleh anak buahnya. Kami menonton Ivan menghajar anak buahnya. Ngeri. Sepertinya ada bakat psikopat tuh bocah. Kalau gak dihentikan oleh anggota Shadow Team, sepertinya bakal parah.”


Hans berhenti sejenak.


“Terus lu nelepon sambil, bercerita tentang Adinda yang ada di ruang tunggu. Dan Anton mengirimkan foto-foto pipi Adinda yang memar. Langsung saja gue tunjukin foto-fotonya kepada Ivan. Dia kaget saat melihat foto Adinda. Lebih kaget lagi setelah diberitahu para pelakunya.”


Hans mengangkat kedua bahunya.


“Sepertinya Ivan punya perasaan khusus terhadap Adinda. Wajahnya terlihat berbeda saat menatap foto Adinda.”


Agung meremat tepian selimutnya dengan kuat. Ada rasa panas yang tidak nyaman di hatinya.


“Terus?” Leon bertanya.


“Gue bilang, Lu urusin sendiri dengan perempuan-perempuan Lu. Jauhi Adinda karena Adinda dalam perlindungan kami. Sekali lagi orang-orang Lu menyentuh Adinda, yang bakal kami kejar itu Lu. Ingat, kami bisa dengan mudah membuat Lu dan keluarga Lu jadi gembel di jalanan. Lu suka dengan Adinda? Pantaskan diri Lu dengan diri Adinda. Dia perempuan baik-baik. Dia cerdas. Lah Lu? Pantas gak?”


“Waah nyelekit, Bang,” seru Adisti, “Sakit tak berdarah tuh rasanya.”


“Ivan gimana ekspresinya Bang?” tanya Indra.


“Seperti orang yang habis ditampar bolak-balik. Terpukul. Shock dan sakit hati.”


“Kalau dia malah jadi semakin menjadi memaksa Adinda bagaimana?” Agung berbicara sambil memejamkan matanya. Terlihat sekali dirinya seperti yang kelelahan.


“Don’t worry, Gung. We’ll be keep and protect her_Jangan khawatir, Gung. Kita akan menjaga dan melindunginya_" Hans berkata sambil memasukkan tangannya di kedua saku celananya, “We knew, she is your princess now. Your soulmate, insyaa Allah_Kita sudah tahu, sekarang dia adalah tuan putrimu. Insyaa Allah, jodohmu_".


“Lah.. Orang yang diajak ngomong malah tertidur... “ Leon terkekeh menatap Agung.


.


***