
Suasana ruang rapat menjadi hening saat semuanya mengecek medsos Burung Biru di masing-masing gawainya.
“Apa kita gak bikin jengkel pihak Burung Biru Indonesia dan Burung Biru Jerman ya? Karena beberapa kali membajak medsos mereka?” Indra tersenyum lebar sambil menatap gawainya.
“Kayaknya nggak deh. Mereka malah mendapat keuntungan. Setiap kali kita selesai bajak, iklan mereka naik 200℅,” Anton mengusap dagunya yang licin.
Dia mengambil sepotong cake yang penuh warna-warni buah kering. Dia menatap cakenya lalu memandang Ayah dan Agung dengan serius.
“Dinda bikin kue terus apa gak mengganggu belajarnya? Senin nanti mulai ujian tertulis kan?”
“Ayah juga gak tahu. Tapi Dinda tetap ngotot bikin kue untuk kita semua,” Ayah ikut mengambil sepotong cake yang sama dengan yang diambil Anton.
“Kata Dinda, nge-baking ataupun bikin kue lainnya sama dengan merilekskan pikirannya. Selama dia enjoy, gue gak melarangnya,” Agung meraih gawainya untuk membalas chat dari Adinda.
“The way to escape from the boring condition_caranya melarikan diri dari situasi yang membosankan_” Bramasta mengamati potongan cake buatan Adinda, “Sama dengan Disti yang langsung melukis ataupun merawat tanaman.”
“Dia berbakat di dunia per-baking-an,” Hans mengamati potongan cake di tangan Bramasta.
“Semua kue buatan Dinda enak-enak..” Daddy mengangguk puas menyuap potongan terakhir ke dalam mulutnya.
Semua setuju dengan kalimat Daddy.
“Dinda masih diganggu dengan anak buah Ivan gak, Gung?” Indra menyangga pipinya dengan kepalan tangannya.
Agung menggeleng, “Ivan memegang kata-katanya.”
“Ivan...” Hans tersenyum miring saat menyebut nama itu. Dia teringat bagaimana ketakutannya Ivan saat berhadapan dengan dirinya. Jujur, dalam dirinya sangat menikmati memandang raut wajah pongah dan merasa berkuasa yang kemudian berubah cepat menjadi ketakutan.
“Loe kenapa Hans?” Leon menatap Hans.
“Gue jadi teringat saat gue bilang Adinda dibawah perlindungan gue.. Wajah sombongnya langsung berubah pias..” Hans tersenyum lebar.
“Anak muda yang salah jalan. Terlalu muda...” Pak Dhani meraih cangkir teh hangatnya.
“Netizen ramai..” Anton membagi dua layar monitornya yang tersambung pada layar proyektor. Netizen Indonesia dan Netizen Jerman.
“Wah.. Politikus Jerman sudah ada yang berkomentar..” Pak Dhani menunjuk salah satu kicauan.
“Apa katanya?” Agung penasaran.
“Ini skandal memalukan bagi Kanselir. Helena dikenal sebagai orang dibalik layar suksesnya Ultricht Muller sebagai Kanselir Jerman. Kita tunggu langkah yang diambilnya. Bisakah dia bersikap adil ataukah tetap melindungi orangnya?” Pak Dhani menerjemahkan isi cuitan politikus Jerman.
“Sepertinya dia dari pihak oposisi ya?” Ayah menunjuk cuitan pada layar proyektor.
“Sepertinya begitu..” Pak Dhani mengangguk.
Hans melirik arlojinya, 23.22.
“Kita akhiri saja malam ini. Biarkan medsos bergolak dulu pasca fakta yang dikeluarkan oleh Prince Zuko.”
Semua mengangguk setuju.
“Anak-anak sudah ada cemilannya belum, Hans?” Pak Dhani menunjuk kru Shadow Team dari balik dinding kaca ruang rapat.
“Cemilan dan makanan berat untuk mereka di sini terjamin, Beh..” Hans tertawa diikuti yang lainnya.
Daddy tahu tentang kiprah Hans dengan Shadow Team-nya. Bahkan Daddy membantu pendanaannya. Keberadaan Shadow Team sangat berguna bagi perusahaan untuk menyelidiki siapa-siapa saja yang akan menjadi partner Sanjaya Group ataupun memantau pergerakan rival maupun musuh Sanjaya Group. Apalagi setelah kejadian yang pernah menimpa Mommy dulu.
Beberapa perusahaan lain juga ada yang memakai jasa Shadow Team. Tapi semua secara rahasia. Dan mereka tidak tahu siapa pemimpin tertinggi dari Shadow Team. Semua bersifat rahasia dan anggotanya mempunyai loyalitas tinggi yang tidak diragukan lagi.
Tuan Dhani hanya mengetahui Shadow Team secara kulitnya saja. Apalagi Ayah yang baru tahu tentang Shadow Team. Makanya kedua orang itu terlihat begitu takjub dengan markas dan orang-orang Shadow Team.
***
KEDIAMAN KELUARGA GUMILAR
SABTU PAGI
Jalanan depan rumah Keluarga Gumilar yang terletak di hook komplek sudah di penuhi mobil-mobil mahal. Sebagian diparkirkan di halaman masjid agar tidak mengganggu warga.
Para pengawal berkumpul di teras rumah dan depan garasi. Makanan dan minuman sudah tersaji sejak tadi. Kecuali makanan utama pagi itu, Kupat Tahu Gempol.
Driver dan pengawal yang berjaga di rumah Keluarga Gumilar bertugas untuk membeli kupat tahu di Jalan Gempol. Untuk lebih mudah, mereka sudah memesan kemarin sore.
Tikar sudah dibentangkan di dekat kolam ikan. Gazebo diisi oleh para orang tua. Langit agak berawan menyebabkan sinar matahari pagi itu tidak terasa terik.
“Ayah.. Ikannya sombong banget sih..” seru Leon saat Ayah melintas.
“Ajak kenalan dulu. Ajak ngobrol juga. Pedekate lah...” Ayah berlalu sambil terkekeh.
Semua ikut terkekeh mendengar ucapan Ayah.
Indra dan Agung diam-diam menyiapkan peralatan audio visual berikut layar proyektor yang dipasang di tempat yang teduh agar visualisasinya terlihat jelas.
Anton menghampiri untuk membantu setting alat. Hans yang tengah menjemur Baby Andra mendekati.
“Siapa yang mau mengisi acara?” tanyanya. Baby Andra menggeliat dalam dekapannya.
“Lu mau nyanyi, Bang?” Anton menoleh diikuti Indra dan Agung.
“What?? No way..” Hana tiba-tiba muncul dari pintu samping.
“Kenapa Mbak?” Agung penasaran.
“Bisa bubar kalian semua kalau mendengar Bunny menyanyi..” Hana terkekeh sambil memainkan tangan Baby Andra.
“Hunny...please...” Hans tersenyum lebar menatap istrinya sambil mengedip-edipkan matannya.
“Jangan ganjen. Banyak orang juga..” Hana tertawa sambil meninggalkan mereka semua.
“Lu gak bisa nyanyi, Hans?” Indra mengangkat sebelah alisnya.
“Bisa...” Hans memperbaiki gendongannya pada Baby Andra, “Tapi di kamar mandi...”
“Gung, kupat tahu masih belum datang juga?” Indra menyenggol Agung.
“Bang, Lu kalau udah lihat innova parkir di depan, berarti kupat tahunya sudah datang..”
“Gue laper..”
“Tuh banyak rebusan yang disiapin Bunda, Bik Nung dan Dinda..”
Indra bergegas menghampiri meja panjang dengan taplak kotak-kotak berwarna merah putih yang terletak di bawah jendela ruang tengah.
“Cek.. cek sound..” suara Agung terdengar mengetes audio.
Anton masih mengulik settingan audionya.
“Bang, Lu ngomong aja terus sambil gue settingin.”
Agung mengacungkan jempolnya.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.. cek sound..”
Semua menoleh pada Agung sambil menjawab salamnya.
Agung menoleh pada Anton yang memberi kode untuk terus berbicara. Kemudian, tanpa di duga semua orang, Agung melantunkan surat al Fatihah saat cek soundnya.
“Gung! Kenapa al Fatihah?” teriak Mommy dari Gazebo saat Agung selesai melantunkannya.
“Supaya lebih afdhol, Mom. Dan diberkahi Allah...” jawab Agung sambil tertawa.
Daddy dan Ayah mengacungkan dua jempol ke arah Agung.
“Out of the box ya Gung!” seru Pak Dhani.
“OK beres..” Anton bangkit sambil mengambil gitar akustik yang ia bawa.
Anton mengambil sebuah kursi plastik yang ada di dekatnya. Mengatur tinggi mikrofon lalu tersenyum lebar sambil menatap Agung dan Indra yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“First appearance from me..._Penampilan pertama dari saya..._” suara Anton terdengar lalu diikuti petikan halus pada dawai gitarnya.
Yang berada di pantry seketika penasaran, berdiri berjejalan di ambang pintu samping masih dengan apron. Menatap dengan takjub pada Anton yang tengah membawakan lagu dari Bebi Romeo, Bunga Terakhir، sambil memetik gitarnya diatara barisan rak pokcoy, caysim dan kangkung.
.
***
Oppa Taehyung-nya B Group bisa nyanyi... 😍