
APARTEMEN LANDMARK, UNIT PENTHOUSE
Bramasta berkali-kali mengerutkan kening saat melihat Adisti yang cekikikan terus dengan mata menatap pada layar handphonenya sambil sesekali tangannya menggosokkan handuk kecil pada rambutnya.
“Sayang...” Bramasta mendekati istrinya yang tengah duduk di depan meja rias.
“Ya..?” Adisti menengadah sebentar lalu cekikikan lagi sambil membaca chat.
“Would you, please..?” Bramasta menatap Adisti tanpa senyum sambil menarik handuk dari tangan Adisti.
Adisti menoleh. Memamerkan cengirannya.
“Pardon me, Hubby..” tangannya memeluk pinggang suaminya. Wajahnya ditempelkan pada pinggul suaminya.
Bramasta terdiam.
Adisti menengadah mengamati wajah suaminya dari duduknya.
“Abaaaaaang, marah ya?”
“Menurut Disti bagaimana?”
“Issssh kok marah sih kesayangan Disti...”
“Abang kok pagi ini gak merasa jadi kesayangan Disti?”
“Kenapa?”
“Istri Abang khusyu banget dengan chatnya, lebih senang lihatin chat daripada lihatin suaminya.." Bramasta mencebik sambil duduk di atas tempat tidur yang sudah rapi.
"Abang iiiiih kok ngambek sih..” Adisti mendusel-dusel dada Bramasta dengan wajahnya.
Diperlakukan seperti itu, Bramasta bertahan dengan ekspresi datarnya. Berusaha tampak cool dengan menahan geli.
“Disti sedang apa sih?” setengah mati Bramasta menahan geli.
“Sedang meminta ma’af dengan cara yang benar...”
Alis Bramasta terangkat sebelah. Hanya sebentar kemudian terkekeh geli.
“Udah.. udahhhhh. Abang geli!”
“Nggak.. belum. Disti belum selesai.."
"Apanya yang belum selesai. Udah.. ini geli banget!”
“Belum.. Disti baru mulai...”
“Udah doooong.”
“Belum udahan sebelum dima’afin Abang."
"Dih! Maksa..”
“Biarin.”
Adisti makin merangsek mendorong Bramasta ke tengah tempat tidur. Bramasta yang sudah berpenampilan rapi menjadi acak-acakan lagi.
“Disti.. udah.”
“Dima’afin gak?”
“Iyaaaa iyaaaaa.”
Adisti mendongak. Menatap wajah suaminya.
"Ah... gak ikhlas. Lanjut lagi...” acara dusel-mendusel berlanjut lagi.
Suara kekehan disertai engahan nafas Bramasta terdengar jelas.
Akhirnya Bramasta memilih untuk memeluk erat Adisti dengan kedua tungkainya mengunci pergerakan kaki istrinya.
“Ah Abang licik deh. Main fisik ini sih. Gak seru..”
Bramasta terkekeh.
“Abang ma’afin.. tapi Abang udah kadung berantakan nih. Kita lanjutin aja yuk..”
“Bahkan rambut Disti pun belum kering benar Bang..”
“Salah sendiri..” Bramasta terkekeh senang.
“09.15 Abang ada meeting di B Group dengan chairman The Frozen Holding Company,” Adisti membuat pola lingkaran-lingakaran besar dengan telunjuknya di dada suaminya yang kancingnya terbuka.
Kemudian dia melanjutkan lagi, “11.15 Abang ada meeting di The Canyon dengan CEO Hotel The Crown...”
Bramasta menghela nafas sambil mengusap wajahnya.
“Disti nanti ikut meeting di The Canyon, ya?”
Adisti menggelengkan kepala, “Disti ada meeting untuk brand busana muslim yang baru dari B Group.”
“I see,” Bramasta terlihat tidak terima.
“Kenapa?”
“Tadinya mau langsung have lunch both of us..”
“Bagaimana kalau diganti candle light dinner di Atmosphere?” Adisti masih membuat pola melingkar.
“Mau reservasi jam berapa?” Bramasta berusaha untuk duduk setelah mengecup lama kening istrinya.
“20.30?”
Bramasta mengerutkan keningnya.
“That will be very late dinner..”
“Kan kita harus mampir ke rumah sakit, Bang.”
Bramasta mengangguk. Lalu melirik jam yang ada di nakas.
“Buruan dandan. Kita harus cepat-cepat sarapan.”
Adisti mengangguk.
“Abang bajunya kusut. Ganti aja ya Bang. Nanti Disti siapin..”
“Disti yang pakaikan juga ya..” kedua alis Bramasta dinaikturunkan.
Adisti terkekeh.
Usai sarapan, Adisti menulis pada kertas note berperekat. Lalu menempelkannya pada pintu kulkas.
Bramasta mengerutkan keningnya saat membaca tulisan Adisti. Sejurus kemudian dia tersenyum sambil menyentuh huruf “G” kecil tulisan Adisti. Tulisan untuk petugas bersih-bersih dari rumah utama.
“Mbak, ma’af kami tidak sempat mencuci piring...” tulisan diakhiri dengan gambar bunga dan hati.
“Jadi, dari tadi Disti membaca chatnya siapa sampai cekikikan sendiri?”tanya Bramasta saat mulai menekan tombol start engine pada mobilnya.
Bramasta memperhatikan spion, mobil pengawal mengikutinya.
“Dari Adinda.”
Bramasta menoleh cepat, “Any trouble?”
“Kalau ada trouble, Disti gak mungkin cekikikan dong, Bang..” Adisti menoleh pada Bramasta dengan cengiran di wajahnya tapi kemudian cengirannya mendadak lenyap.
Menatap serius pada suaminya yang sedang mengemudi dengan menggunakan pilot sunglasses dengan lensa berwarna dark green.
Bramasta menoleh cepat pada istrinya.
“Ada apa?”
“Masyaa Allah.. Abang..”
“Kenapa?”
“Ini siapa sih di samping Disti? Cakep banget. Keren banget. Serpihannya Nabi Yusuf Alayhissalam...”
“Hisssh kirain ada apa..” Bramasta terkekeh.
“Gimme your cheek,” kedua tangan Adisti terangkat ke arah wajah Bramasta.
Bramasta memiringkan wajahnya dengan mata fokus pada jalanan di depan.
Dengan cepat, Adisti meraih wajah suaminya. Memberi kecupan pada pipinya.
“Mmmmmuach! OK, it’s done.”
Bramasta terkekeh senang.
“Apa sih yang diobrolin di chat sampai membuat Disti cekikikan begitu?”
Seperti diingatkan dengan chatnya, Adisti kembali cekikikan.
“Isssh belum cerita juga..” sungut Bramasta.
“Kakak menanyakan kesediaan Dinda untuk dikhitbah dalam waktu dekat ini..”
“Masyaa Allah... Terus?”
“Dinda mau...”
“Alhamdulillah... Terus lucunya dimana?”
“Kakak melamar gak ada manis-manisnya, gak ada romantis-romantisnya..”
“Kanebo kering style?” Bramasta menoleh pada Adisti.
Adisti mengangguk.
“Tapi dulu Abang melamar Disti juga gak pakai romantis-romantisan..”
“Kata siapa? Spontanitas Abang, kalimat Abang, suasananya... semua bikin heart melting, tahu gak?”
“Masa sih?” Bramasta tersenyum lebar mengingat itu semua.
“Lah buktinya, Bang Indra saja sampai nangis bahkan Mommy yang hanya menonton videonya saja sampaii nangis kejer...”
Mereka berdua terkekeh.
“Jadi, romantis tidak semua tentang bunga, cahaya lilin, musik lembut mendayu ya?” Bramasta menghentikan mobilnya saat berada di persimpangan, lampu lalu lintas menyala merah.
Adisti mengangguk.
“Tapi kalau dipikir-pikir, lokasi yang Kakak pilih untuk bicara dengan Adinda itu bisa disebut romantis sih..”
“Memangnya dimana?”
“Di taman lantai 6.”
Bramasta mengangguk sambil terkekeh kecil.
“Eh.. gak berapa lama ngomong kitbah, si Kakak udah bahas anak-anak saja...”
“Anak-anak apa?” alis Bramasta terangkat.
“Ya anak-anak mereka lah... Anak-anak masa depan mereka..” tawa Adisti berderai.
“Oh my God... Kakak Ipar ini..” Bramasta tergelak keras, “Terus Adindanya bagaimana?”
“Ya auto bengonglah...”
“Bener-bener ya.. Kakak Ipar itu..”
“Terus?”
“Udahan chatnya. Terputus.. Ada Bang Indra datang, katanya.”
“Eh, tumben Indra pagi-pagi jenguk.”
“Kata Adinda, Bang Indra tidak seperti biasanya..”
“Maksudnya?”
“Terlihat banyak pikiran.”
Bramasta menoleh sambil mengerutkan kening.
“Ada apa ya?”
Bramasta mengambil gawainya lalu menghubungi Indra sambil menyalakan loudspeaker.
“Assalamu’alaiikum Ndra..”
“Wa’alakumussalam Pak Bos. Gue agak telat ya. Ini masih otewe. Macet parah nih.”
“It’s OK.. Are you fine today?”
“Alhamdulillah. Fine. Eh, tadi Agung beritahu gue, Dinda mau dikhitbah di hari terakhir dia ujian tertulis.”
“Gak lama lagi dong.”
“Iya.. kita bantuin mereka ya, Bram.”
“Insyaa Allah. Tentu saja kita harus bantu mereka.”
“Mereka diperbolehkan pulang besok.”
“Alhamdulillah.. Ciyus Bang?” Adisti ikut menimbrung.
“Iya.. Adinda pulih lebih cepat.”
“Alhamdulillah..”
“Pak Bos, jadwal hari ini udah gue serahin ke Disti ya..”
“Iya.. thanks ya. Sampai bertemu di kantor. Fii amanillah. Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam..”
Panggilan berakhir.
Adisti memiringkan duduknya, menghadap suaminya.
“Well?”
“Gak enak menanyakan by phone. Kita gak bisa lhat ekspresi Indra.”
Adisti mengangguk.
“Ada apa ya?”
.
***