CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 208 – SIAPKAH?



Indra yang ada di samping Agung tampak terkejut dengan reaksi Agung.


Leon memandang Agung. Lalu menggoyangkan gawainya. Semua gawai sudah di-silent tanpa mode getar agar tidak menimbulkan suara.


Agung mengerti. Dia mengetik di WAG.


Agung_Kenapa Prince Zuko menanyakan siapa gadis itu? Identitas Adinda bisa terbongkar. Ayah dan Bunda tidak akan setuju_


Bramasta_Daddy dan Mommy juga_


Anton_Ikuti alurnya. Kita tidak live. Nanti bila ada alur yang tidak sreg, bisa kita buang. Tapi gue yakin Bang Hans sudah memikirkannya masak-masak_


Leon_Jadi ini tidak live?_


Anton_Gak Bang. Demi keamanan juga_


Indra_Pantesan gue merasa peralatan yang dipakai Anton serasa ada yang kurang.._


Bramasta_OK Kakak Ipar.. calm down.. kita ikuti dulu ya.._


Agung_Baiklah_


Mereka menatap layar monitor lagi.


“Kondisi korban saat dibawa ke rumah sakit dalam keadaan shock berat. Tidak bersedia didekati oleh siapapun bahkan oleh dokter jaga. Korban hanya mau berbicara dan mendengarkan ucapan Agung,” Hans yang mengisi suara Prince Zuko mengambil laporan visum Adinda, “Selain shock, korban mengalami beberapa memar parah di sekujur tubuhnya, luka pada pelipis akibat benturan dengan sudut meja juga pendarahan pada bagian mata akibat pukulan benda tumpul.”


Saat mendengar Hans membacakan hasil visum, Agung mengetatkan rahangnya. Dia ingat betul bagaimana keadaan Adinda pada waktu itu. Adisti menatap iba pada kakaknya. Dia bergerak mendekati kakaknya, lalu menggenggam tangan Agung sambil menepuk-nepuknya.


Adegan video berganti tempat di lounge hotel X.


“Sepertinya Hans, sekretaris Sanjaya Group, bekerjasama dengan instansi terkait untuk membekuk Bryan Almens dan kaki tangannya di sebuah hotel tempat kesepakatannya dengan wanita dan lelaki yang merundung korban. Korban digantikan oleh pemeran pengganti. Video ini sudah beredar di media massa.”


Sambil berbicara, Prince Zuko menyajikan potongan-potongan adegan dari penyanderaan Hans. Video di-freeze-kan pada wajah tersangka wanita dan pria.


“Wanita ini adalah ibu tiri dari korban dan pria ini adalah pacar ibu tiri korban. Keduanya juga menjadi tersangka pembunuhan ayah korban dengan menggunakan racun.”


Adegan video melambat pada wajah Bryan dan asistennya.


“Bryan Almens, tersangka utama untuk kasus woman trafficking, merupakan seorang atase kebudayaan dari Kedutaan Jerman,” suara Prince Zuko terdengar memandu. Ada nada menggiring opini pada suaranya.


“Kita lihat rekam jejak Bryan Almens sebagai diplomat di beberapa negara...” saat Prince Zuko berbicara, layar menampilkan slide-slide jejak Bryan.


“Tetapi sayangnya hingga kini, Bryan Almens tetap bebas. Sebagai diplomat, dia tidak bisa diadili ataupun diperiksa di negara tempat ia berulah karena mempunyai kekebalan diplomatik.”


“Seberapapun banyaknya kecurigaan yang mengarah pada Bryan, tapi dia tetap tidak tersentuh. Alibinya mampu mematahkan semua kecurigaan. Karena Bryan tahu memanipulasi keadaan dan orang melalui kekuasaannya.”


“Dan bukan tidak mungkin, orang-orang yang mempunyai kelainan jiwa semacam Bryan ini saling bekerja sama. Membuat Bryan lolos dari kejahatannya dan membuat keluarga yang sudah kehilangan anak yang dikasihinya tidak dapat menuntut keadilan.”


Slide pada layar proyektor memunculkan artikel berbahasa Tagalog dengan translate Inggris dan Indonesia, tentang surat pengakuan orang yang didakwa dan harus menjalani masa tahanannya, bahwa bukan dia pelakunya. Dia hanya orang yang dibayar oleh kaki tangan Bryan untuk mengaku dan diimingi akan membiayai biaya operasi ginjal untuk anaknya. Sayangnya, Bryan ingkar janji. Anaknya meninggal karena telat penanganan.


Kasus dibuka kembali. Kaki tangan Bryan ditangkap dan diadili namun Bryan Almens dengan kekebalan diplomatiknya lolos dari jerat hukum. Para kaki tangannya diketahui mempunyai orientasi s3ksu4l yang menyimpang juga dengan Bryan. Pedofil.


“Seperti ada pembiaran dari pemerintahnya ataukah memang ada orang dengan kekuasaan besar yang melindungi Bryan sedemikian hebatnya?” suara Prince Zuko sengaja mengantung, memainkan emosi pendengarnya.


“Sepak terjang kebuasan Bryan Almens di Indonesia, ternyata ada kaitannya dengan The Ritz, milik Rita Gunaldi di Bandung dan Tosca Imperium di Batam, milk Ferdi Gunaldi. Sebagai member executive dari bisnis gelap The Ritz, kebejatan Bryan disuplai oleh The Ritz juga Ferdi GunaldI sebelum tempat tersebut ditutup. Ferdi Gunaldi sendiri dari investigasi instansi Singapura dan Indonesia, diketahui melakukan children and human trafficking sejak beberapa tahun yang lalu.”


“Pada malam hari pasca peristiwa penyanderaan Hans, sekretaris Sanjaya Group di Lounge Hotel X, Bryan Almens diekstradisi dengan status persona non grata. Sayangnya, backing Bryan sangat kuat. Bahkan berita tentang Bryan pun tidak ada media yang menulis di negaranya,” wajah Prince Zuko di-zoom in.


“Hanya orang kuat saja yang bisa membungkam berita yang berasal dari luar negeri, bukan begitu, Madame Helena Schmidt? Setiap kebusukan akan terbongkar karena aromanya. Haruskah orang seperti Bryan mendapatkan imun hukum?” Prince Zuko tersenyum ke arah kamera.


Layar proyektor menampilkan foto resto dan kafe di jalanan kota Munich. Tampak Bryan dengan balutan syal wol dan jaket panjang berwarna beige tengah tertawa sambil mengangkat gelas bersulang dengan teman-temannya.


“Ini adalah foto Bryan yang saya ambil dari kota Munich pagi tadi. Wanita berambut emas berjaket marun itu adalah Helena Schmidt. Sungguh sangat akrab sekali hubungannya dengan Bryan Amsel, si penjahat kelamin.”


“Dan ini adalah calon korban Bryan yang dini hari itu berhasil diselamatkan oleh Agung dan teman-temannya. Tidak perlu dicari tahu siapa dia untuk menghargai privasinya dan melindunginya. Dia anak yatim piatu, masih SMA,” suara Prince Zuko terdengar dingin.


“Namun kali ini, Bryan salah memilih target. Dia menargetkan gadis yang mempunyai kekerabatan dengan beberapa keluarga berpengaruh di Indonesia. Lihat saja siapa yang berada di TKP dan aksi penangkapan Bryan,” Prince Zuko tersenyum tipis.


Layar proyektor menampilkan foto Agung yang tengah memangku Adinda di atas bed di depan unit UGD rumah sakit. Bramasta memegang pintu mobil. Adisti ada di belakang Agung. Indra tampak berbicara dengan Agung. Foto diambil dari arah pintu masuk ruang UGD.


Wajah Prince Zuko muncul lagi, “Saya Prince Zuko, mengajak Netizen +62 dan +49, dimohon bantuannya untuk mengawal kasus ini. Kita bongkar kejahatan Bryan Amsel agar tidak jatuh korban lagi.”


“Saya, Prince Zuko, mengucapkan bela sungkawa kepada para kepada keluarga korban, tetaplah berdo’a agar keadilan dapat ditegakkan.”


Layar proyektor menampilkan gangguan digital. Lalu gambar Prince Zuko berkedip dan menghilang.


“Well..?_Jadi..?_”


Leon berdiri lalu mengacungkan kedua jempolnya pada Hans.


“Well done, Bro!”


“Gung, bagaimana? Ada keluhan?”


Agung menggeleng.


“Bang, gak kenapa-napa Helena Schmidt langsung disebut seperti itu?”


Semuanya menatap Hans menunggu jawaban.


“Pastinya bakal apa-apa. Bersiap serangan hacker bayaran dari Jerman dan mungkin beberapa hacker dari negara lain,” Hans menoleh pada Anton, “Di akhir tayangan, buat jeda 2 detik untuk tulisan LINDUNGI ANAK-ANAK KITA DARI PELAKU PEDOFIL. KEMUNGKINAN BESAR SITUS INI AKAN DISERANG DARI PARA HACKER BAYARAN PARA PELAKU DAN PELINDUNG PEDOFIL. BILA SITUS INI LENYAP, TETAP BERJUANG BERSAMA MEMBERANTAS PERILAKU PEDOFIL DI MANAPUN KITA BERADA”


Anton menganguk mengerti. Dia mulai mengetik sambil berbicara.


“Pesan permintaan tolongnya tersamar ya. Tidak menunjukkan bila Prince Zuko meminta bantuan.”


“Hanya perlu menjadi manusia untuk mengerti humanity. Sedangkan perilaku pedofil bukanlah perilaku manusia bahkan tidak dilakukan oleh binatang sekalipun,” Adisti berkata sambil mengiris pempek yang sudah ia goreng terlebih dahulu.


“Nah. Itu, bener tuh kata-katanya,” Indra memandang Hans dan Anton bergantian, “Bisa kalian masukkan di akhir tayangan saat layar menggelap.”


Hans dan Anton mengangguk.


“Menggugah kesadaran sebagai manusia ya..”


Adisti dibantu Layla di pantry. Hana menyiapkan kue buatan Adinda.


“Hunny..” Hans memanggil Hana, “Junior bangun..”


Indra menatap Hans dan Hana bergantian dengan cengiran di wajahnya.


“Junior yang mana nih?”


Semuanya terdiam menatap Indra, Hans dan Hana. Lalu serentak tertawa.


“Payah Lu, Ndra.. Memang sudah waktunya Lu merid!” Leon terkekeh sampai mengeluarkan air mata.


“Woiyy Ndra.. kebangetan Lu mah..” Bramasta melempar Indra dengan gumpalan tisu.


“Ndra.. awas Lu ya..” Hana bergegas ke kamar tidur tamu. Segera meraih Baby Andra sebelum Eric ikut terbangun.


Hans menatap Indra sambil menggelengkan kepalanya dan terkekeh.


“Kalau junior gue yang itu bangun, kalian bakalan bubar saat itu juga..”


“Memangnya Lu mau ngapain?” Bramasta menaikkan alisnya memandang Hans.


“Mindahin Eric ke sofa. Ngamar. Kamar itu kedap suara kan?” Hans menunjuk kamar ruang tidur tamu tenpat anak-anak ditidurkan.


Bramasta mengangguk.


“OK. Siiip. Gue pinjam kamar depan. Bang Leon, tolong pindahin Eric..”


“Wooiiiy!” Adisti berteriak dari dapur, “Bang Hans masih mau empek-empek gak?”


Hans menatap Adisti sambil tertawa, “Mau..”


“Ya udah. Stay aja di situ gak usah koar-koar mau pinjam kamar depan segala..”


Semuanya tertawa lagi.


Besok, mereka semua tahu, semua tidak akan sama lagi.


***


This is about humanity.


2 bab ya malam ini..


Met malam Ahad ya.