
Anton tiba bersamaan dengan kurir pengantar makanan.
Kehebohan langsung terjadi. Makanan langsung disantap dari kotak saji tanpa harus dipindahkan dahulu ke piring. Lapar, itu yang jadi alasan utamanya selain lebih hemat waktu.
Selesai makan, Adisti mengeluarkan mangkuk-mangkuk bening dari lemari. Sementara Indra membantu Bramasta membereskan kotak-kotak makanan.
Hans mengelap meja, Anton mengambil meja dari balkon. Lalu keduanya menyiapkan perangkat-perangkat elektroniknya. Kerja sama sebagai Tim Kuping Merah.
Notifikasi pesan chat berbunyi semua. Para lelaki bersamaan menatap layar gawai masing-masing. Bersamaan dengan itu, bunyi dering panggilan masuk dari gawai Adisti.
“Assalamu’alaikum, Dinda..” jeda.
Semua menatap Adisti sejenak lalu kembali menatap layar gawainya masing-masing.
“Gak, gak ganggu kok. Sedang nyantai. Baru saja selesai makan malam. Dinda sudah makan? Ada Ibu?” Jeda.
“Baik-baik saja kan?” Jeda.
“Are you sure?” Jeda.
“Memang sebaiknya seperti itu. Teteh bangga sekali pada Dinda. Beneran mau mulai besok?” Jeda.
“Memang sudah punya perlengkapannya?” Jeda.
“Besok pulang sekolah jam berapa? Teteh jemput ya ke sekolah. Kita langsung jalan. Teteh yang traktir.” Jeda.
“Gak.. gak boleh pakai uang Dinda. Teteh benar-benar ingin traktir Dinda. OK.. besok kita girl time ya. Nanti Teteh kabari lagi besok.” Jeda.
Adisti melirik suaminya yang tengah menatapnya dengan pandangan bertanya.
“It’s gonna be our secret.” Jeda.
Kemudian Adisti tertawa.
“Iya.. sampai besok..” Jeda.
“Wa’alaikumussalam.”
Bramasta menghampiri Adisti. Menyentuh pipinya dengan punggung tangannya sambil duduk di sebelah istrinya.
“Besok Disti mau kemana sama Adinda? Girl time-nya mau ngapain? Terus Abang ditinggal di kantor sendiri?” Bramasta berucap pelan dengan suara memelas.
Adisti meringis menatap suaminya.
“Dih.. segitunya..”
“Disti gak sayang ke Abang..”
“Masih perlu bukti apa lagi untuk membuat Abang yakin dengan perasaan Disti ke Abang?” Adisti menatap intens pada mata suaminya.
Bramasta balas menatap, masih dengan tatapan sedih nelangsa.
“Kalian sedang apa?”
Suara Indra menginterupsi adu tatap penuh makna antara Adisti dan Bramasta.
“Nanti kita lanjutkan lagi ya Sayang..”
Bramasta menatap Indra dengan kesal.
“Apa? Mau bucin-bucinan lagi ya? Tunda dulu!” Indra balas menatap kesal pada Bramasta.
Adisti terkekeh.
Bramasta meleletkan lidahnya pada Indra sambil berjalan ke arah Anton dan Hans yang tengah berdiskusi di depan laptop.
“Video dari Bang Leon, kita upload semua? Perlu kita sebutkan tidak sumber videonya?” tanya Anton.
“Kita upload semua. Buat teks adegan sebagai narasi dan sudut pengambilan gambarnya, Ton. Untuk narasumber, tidak perlu disebutkan. Bang Leon bisa repot nantinya, imbasnya kita juga yang kena.”
“OK..” Anton memberi teks pada video dan mengatur waktunya. Tangan Anton bergerak cepat, bergantian antara menggerakkan mouse dengan mengetik pada keyboard.
“Kita bakal spill apa dulu nih urutannya?” tanya Bramasta.
“Pertama kita sorot dulu tentang Batam Berdarah di Tosca Imperial. Lalu kita selipkan adegan percakapan antara Tuan Thakur dan Rita pada malam hari di The Ritz dan pada saat Peristiwa The Ritz,” Hans menerangkan.
Bramasta mendengarkan sambil bersidekap. Indra ikut mendengarkan sambil berdiri di samping Bramasta.
“Lalu kita spill dari rekaman CCTV depan gerai donat yang diambil dari bangunan di depannya. Kemudian percakapan di dalam gerai donat.”
“Sekaligus profil data keempat anak buah Tuan Thakur?” tanya Bramasta.
Hans mengangguk.
“Ide bagus,” kata Hans.
“Kalau perlu diulang 3 kali, Ton. Menggiring opini publik untuk ikut mengawasi jalannya pemeriksaan, persidangan hingga vonis pengadilan nanti,” Indra ikut menambahkan.
Hans dan Bramasta mengangguk setuju.
Anton bergumam sambil matanya fokus pada layar laptop.
“Baru setelah itu, kita spill video dari Bang Leon tentang korlap Batam Berdarah di Tosca Imperial,” Hans jeda sejenak sambil mengeluarkan gawainya.
Ia menyodorkan gawainya kepada Bramasta dan Indra.
“Ini sebagai video penutup. Gue yakin video ini bakal jadi ledakan besar yang akan membuat bersih-bersih massal di tubuh instansi Tuan Thakur.”
Bramasta dan Indra mengambil gawai milik Hans. Menonton video yang belum dibagikan Hans di WAG.
“Wow! Astaghfirullah..semudah itu dia keluar dari rumah sakit..” komentar Indra pasca melihat video.
“Hans, buat screenshot zoom penampakan Tuan Thakur di bandara juga untuk mempertegas keakuratan data kita berikut jamnya,” Bramasta menatap tajam pada video yang ia putar ulang.
“Nice idea. Ton, Lu dengar gak?”
“Siip Bang!” Anton mengacungkan jempolnya.
“Kira-kira berapa lama lagi, Ton?” tanya Indra.
“Give me 30 minutes. Insyaa Allah it will done.”
Sementara mereka berbincang, Adisti meletakkan mangkuk-mangkuk berisi asinan Bogor yang tadi ia buat. Kerupuk mie kuning dalam kemasan plastik juga dihidangkan.
“Sambil nunggu Hyung Anton, cobain dulu asinan Bogor buatan Disti, Bang..”
Semuanya menoleh. Mata mereka berbinar.
“Wuih... sedap banget dah,” seru Indra.
“Dis, masih ada gak buat dibawa pulang? Hana suka banget tuh..” Hans menatap Adisti dengan cengiran lebarnya.
“Masih.. nanti masing-masing bawa aja. Sudah Disti siapin kok.”
“Weisszz, istri Lu baek banget, Bram. Pengertian banget.”
“Woyyadooong,” Bramasta tersenyum lebar.
“Ton, makan dulu..” Indra mengacungkan kerupuk kepada Anton.
“Tar dulu. Tanggung. Kalian aja duluan..”
20 menit kemudian, Hans sudah berbicara dengan memakai headset bermikrofon sebagai Prince Zuko. Medsos burung biru target mereka malam ini.
Sesuai skenario, potongan-potongan video disajikan sesuai alur yang mereka susun. Semuanya sudah dirapikan oleh Anton.
Video dari Bang Leon adalah video dari hasil CCTV gerai ATM yang berada di pertigaan di dekat Tosca Imperial. Tampak Tuan Thakur dari dalam mobil yang terbuka jendelanya, memantau jalannya penggerebekan dari dalam mobil Toyota Camry hitam melalui laptop.
Sebuah cerutu terselip di bibirnya. Itu sebabnya dia membuka jendela mobil. Beberapa kali dia berbicara dengan headset, mungkin memberi perintah langsung untuk tindakan yang diambil.
Video di bandara, Tuan Thakur dalam penyamaran kacamata hitam, topi pet dan masker. Wajahnya memang tak terlihat tapi postur dan gestur tubuh bisa dipastikan itu adalah Tuan Thakur.
Selain itu, di ruang tunggu bandara, dia menurunkan maskernya saat berbicara dengan selularnya. Sudut kamera CCTVnya pas untuk mengenali sosok tersebut adalah sosok Tuan Thakur.
Video dari Shadow Team, mengambil gambar dari ruang CCTV control di rumah sakit tempat Tuan Thakur dirawat. Rekaman CCTV ruangan Tuan Thakur, sudah tidak ada. Juga beberapa CCTV yang berada di jalur pintu belakang rumah sakit, lenyap. Hanya tersisa satu CCTV yang luput dari perhatian si pengambil rekaman CCTV, yaitu CCTV depan kamar mayat.
Ada iring-iringan mobil Terios hitam dengan mobil APV beige. Pelapis film kaca mobil APV tidak begitu gelap. Wajah Tuan Thakur tampak tengah tertawa sambil berbincang dengan rekannya.
Video di-freeze oleh Anton lalu diperbesar. Wajah Tuan Thakur kian jelas.
Prince Zuko menutup tayangannya dengan kalimat, “Kejahatan, serapi apapun, sehebat apapun direncanakan pasti akan terbongkar juga. Saya, Prince Zuko, dapat dengan mudah menyusup kemanapun saya maui, bahkan laptop dan gawai Anda.”
Prince Zuko tampak mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan sebelum matanya fokus menatap kamera, “Kepada siapapun yang mengirimkan bunga ke Rumah Sakit XXX atas nama saya, Prince Zuko, untuk korban The Ritz yaitu Agung Aksara Gumilar, saya Prince Zuko, masih memberi waktu kepada Anda untuk meminta ma’af melalui media sosial, tunggu saja apa yang akan saya lakukan kepada Anda,” Hans sengaja berhenti sebentar untuk memberi kesan dramatis.
.
***
Ma'af late post.
Sakit gigi atas bawah, menghambat daya halu Author 😌
Selalu dukung Author ya..🙏🏼
❤️