CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 118 – BIP.. BIIP..BIIIIIP



Adisti membantu Adinda memakai baju steril dari rumah sakit. Baju longgar dengan kancing berderet di bagian belakang. Lalu menunjukkan cara membungkus sepatu yang mereka pakai dengan pembungkus berkaret.


“Assalamu’alaikum, Kakak.. Lihat nih Adek bawa siapa..” kata Adisti begitu mereka masuk ke dalam ruangan Agung.


“Bangun, Kak. Ada Adinda di sini. Kata Abang Bram, tadi Hyung Anton bertemu Adinda di lantai dasar.”


Agung masih diam tertidur dengan tenang. Nafasnya terdengar teratur. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Infus berwarna kuning dan bening ada di tiang yang ada di kanan tempat tidur, sementara di sebelah kiri, ada kantung darah yang dihubungkan dengan mesin pengaturnya.


Kabel-kabel monitor tertempel pada dada dan kepala Agung. Adinda tidak sampai hati melihat kondisi Agung. Dia maju mendekat tepi tempat tidur.


Hatinya mencelos melihat perban pada dada kanan Agung.


“Assalamu’alaikum, Om Agung.”


Adinda mengelap air matanya yang jatuh begitu saja. Adisti membelai bahu Adinda.


“Pelurunya tidak mengenai organ vital. Operasi yang dilakukan semalam untuk mengambil serpihan peluru yang tertinggal di dadanya.”


“Alhamdulillah..” Adinda berbisik.


“Do’akan Kakak supaya cepat sadar ya,” Adisti menyeka air matanya, “Kata dokter, ajak Kakak untuk terus berbicara. Karena sebenarnya dia bisa mendengar kita.”


Adinda mengangguk.


“Jangan menangis, karena Kakak pasti sedih melihat Dinda menangis.”


“Teh Disti tadi menangis..” Adinda terkekeh. Adisti juga ikut terkekeh.


“Sedih melihat Kakak seperti ini. Kakak yang biasanya pecicilan dan petakilan, ceria, sekarang cuma bisa terbaring seperti itu.”


Adinda mengangguk.


“Saya juga merasa seperti itu, Teh. Saya mengenal Om Agung sebagai orang yang galak, arogan, kalau bicara seperti petasan renteng tapi sebenarnya orangnya baik, care banget walau dia gak kenal dengan orang tersebut,” Adinda menundukkan kepalanya, “Contohnya saya sendiri, Teh.”


“Dinda tahu darimana Kak Agung kecelakaan?”


“Dari TV semalam, Teh. 2 stasiun TV swasta dibajak hacker yang bernama Pangeran Zuko dari Negara Api. Medsos burung biru juga.”


“Tadinya saya tidak percaya itu Om Agung tetapi setelah melihat helm dan motornya berikut identitas korban, saya langsung speechless, Teh.”


Adinda menggenggam tangannya sendiri. Adisti menganggukkan kepalanya mendengar cerita Adinda.


Terdengar bunyi bip bip bip dari arah monitor. Seorang perawat pria mendekat lalu memeriksa monitor dan kondisi Agung.



“Kenapa, Mas?” tanya Adisti.


“Tidak ada apa-apa, Nona. Sensornya sepertinya terlepas.”


“Kondisi Kakak saya bagaimana, Mas?”


“Masih belum ada perubahan, Nona.”


Perawat itu berlalu setelah mencatat pada kertas berisi kotak-kotak tabel yang digantungkan pada papan penjepit di meja monitor.


“Dinda mengobrol saja dengan Kakak ya. Teteh mau mengaji dulu.”


“Tidak apa-apa saya ajak Om Agung mengobrol sementara Tetehnya mengaji?”


Adisti tersenyum lalu menggeleng.


Adinda tampak bingung dan canggung untuk mengobrol dengan Agung.


“Bagaimana ini, Om.. Biasanya setiap saya bicara dengan Om, Om Agung selalu membalas omongan saya. Sekarang Om Agungnya tidur terus, ngobrolnya jadi gak asyik dong.." Adinda memulai percakapannya dengan Agung.


Obrolan dibuka dengan uneg-uneg apa yang ada di kepalanya.


“Om, buruan bangun dong Om. Gak apa-apa Om tetap jutek dan galak ke saya, asalkan Om Agung bangun. Cepat sembuh, sehat lagi,” Adinda menoel-noel kuku jari Agung.


“Tuh kan, Om.. memar di tangan Om Agung sudah mulai sembuh sekarang. Makanya percaya dengan saya supaya tangannya cepat sembuh,” Adinda berdiri lalu membungkukkan tubuhnya di atas lengan Agung.


“Ayo bangun, supaya saya bisa minta traktir lagi ke Om Agung. Ngomong-ngomong, pie apel yang kemarin kita bagi berdua itu rasanya enak banget ya. Baru kali ini saya makan pie apel dari gerai donat itu, Om.”


“Om kemarin mau mengantar saya ke toko buku, tapi saya tolak karena sudah terlalu sore,” Adinda meletakkan dagunya di handrail tepi bed, “Menyesal saya sebenarnya Om..”


“Coba kemarin saya tidak menolak tawaran Om Agung,” Adinda merundukkan matanya, “Saya pikir, sore itu saya ditunggu oleh Ibu, dikhawatirkan oleh Ibu karena pulang terlalu sore, ternyata saya salah, Om.”


“Kepulangan saya bahkan tidak diharapkan oleh Ibu. Saya curiga dengan orang yang selama ini diaku Ibu sebagai temannya. Saya yakin mereka tidak sekedar berteman. Ah..kok saya jadi curhat masalah rumah sih...” Adinda tersadar lalu duduk tegak, “Ma’af ya Om. Anggap saja saya tidak pernah bercerita tentang keadaan di rumah.”


Adisti diam-diam memperhatikan Adinda yang sedang bercerita. Juga merekamnya dengan video pada gawainya.


“Kemarin Om Agung beliin donat dan croissant untuk dibawa pulang banyak banget. Tadi pagi saya sarapan pakai donat blueberry. Plus minum susu coklat hangat. Sarapannya sambil nangis, Om..” Adinda terkekeh malu, “Nangis karena teringat kita kemarin minum coklat panas sambil berbagi donat keju dan pie apel. Lalu setelah itu, Om Agung tertembak.”


“Tadinya hari ini saya gak ingin masuk sekolah. Moodnya drop. Tapi teringat pesan Papa supaya saya tidak boleh bolos sekolah. Papa pasti marah kalau saya bolos. Atau mungkin Papa sedih,” Adinda menundukkan wajahnya lagi sambil menoel-noel kuku jari Agung.


“Om Agung kuku jarinya bagus ya. Rapi dan bersih. Lebar-lebar pula kukunya, Beda jauh dengan kuku saya yang kecil-kecil...” Adinda menyejajarkan kukunya dengan kuku Agung. Lalu terkekeh sendiri.


“Eh, kuku kelingkingnya kok ada darah matinya? Dulu saya juga pernah. Gara-gara kejepit pagar saat menutup tidak hati-hati. Rasanya, mantap banget! Kalau kukunya Om kenapa?”


Agung masih terdiam tidak bereaksi. Hanya layar monitor berbunyi biip lagi tapi hanya sekali.


“Kemarin Om Agung bertanya tentang rencana saya setelah lulus, ng... sepertinya, mmm saya tidak akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi seperti yang diinginkan Papa, Om.”


Terdengar bunyi biip lagi.


“Saya mau kerja saja untuk mempertahankan rumah peninggalan Papa, tempat saya tumbuh, tempat dulu Papa dan Mama mengharapkan kehadiran saya ke dunia.”


Bunyi biip dua kali dari layar monitor.


“Harus saya pertahankan, Om. Ibu mengincar rumah Papa juga setelah Ibu mengambil paksa surat tanah yang ada di Sukabumi dan Soreang.”


“Ah... hidup saya sekacau ini Om. Apalagi kalau tempo hari saya menerima pernyataan cintanya si Ivan. Apa gak makin babak belur tuh hidup saya, Om?” Adinda tertawa kecil. Tangannya sekarang menoel-noel buku jari Agung.


Adisti diam-diam meneteskan air matanya mendengar celotehan Adinda. Dia berdiri setelah menyusut air matanya terlebih dahulu dengan ujung pashminanya.


“Dinda, Teteh keluar dulu ya. Gantian dengan Hyung Anton. Dia yang belum pernah menjenguk Kakak di dalam sini.”


Adinda mengangguk.


“Kak Anton beneran orang Korea, Teh?”


“Nggak.. Teteh panggil dia Hyung karena dia sedang belajar bahasa Korea.”


“Mirip anggota BTS ya Teh.. Ganteng.”


Suara biip terdengar lagi dari monitor.


Adisti tertawa kecil.


“Julukannya, Taehyung-nya B Group.”


Adinda tertawa juga.


“Kamu temani kakak dulu ya..”


Adinda mengangguk.


.


***


Nah loh, tuh alarm monitornya kenapa?